
Aku gelisah. Lebih tepatnya, egoku.
Bukan hanya untuk satu kali,
namun dalam kesekian kalinya,
kahdiranku, hampir menjadi tidak bermakna.
katanya, menjadi kurang bermakna
langkahnya, tidak terasa maju
geraknya, tanpa ada perubahan
diam
bahkan, cenderung tenggel...