Just another free Blogger theme

Senin, 21 Desember 2020

 


"Tampak, ada beban mental dalam dirinya".

Itulah beberapa kata yang terlontar, saat menyaksikan, orang yang dijagokan, dan dipandang memiliki rasa percaya diri untuk bisa bertanding dalam event itu. 

Di pertandingan tenis meja, di ruang pertandingan itu, semula kami berupaya percaya dan  mendukung secara serius terhadapnya. Ke pundah mereka itulah, kami menggantungkan harapan dan cita untuk bisa mendapatkan medali terbaiknya. 

Bukan karena kami sombong, tetapi karena kami pun, merasa perlu untuk memberikan kepercayaan kepada atlit yang didukung, yang juga mampu menunjukkan sikap rasa percaya diri, berlebih sebelumnya. Dengan alasan, dan karena alasan serupa itulah, maka tidak salah, bila kami memiliki rasa percaya diri untuk bisa meraih kesuksesan di event kali ini.

Rabu, 16 Desember 2020

 


Secara pribadi, saya tidak tahu, harus bicara apa, dan kepada siapa, terkait hal ini. Hendak dibilang, kejadian ini, sebagai masalah pribadi, masalah, yang rasa-rasanya, kurang pas atau kurang pantas, bila orang lain tahu tentang hal ini. Tetapi, andai tidak diungkapkan di sini, bagaimana dengan masalah ini, apa solusinya dalam memecahkan masalah ini ? lagi pula, jika perlu disampaikan kepad aorang lain, lantas, apakah orang lain, mau mendengarkan keluh kesah diri ini ?

entahlah...

Tapi, andai, tidak diungkapkan, apakah, masalah ini, akan segera berakhir ? atau malah, alih-alih bisa hilang, kemudian malah membesar dan membiak menjadi masalah krusial dalam hidup ?

Terngiang-ngiang dalam pikiran ini, "masalah hidup itu, bukan es balok, bila dibiarkan akan menguap hilang tanpa bekas. Masalah itu, ibarat bangkai, bila dibiarkan, akan membusuk, dan melahirkan masalah lain yang tambah rumit...?"

Waduh. takut juga dengan dugaan serupa itu ...

 

Pernah dengar istilah rentenir ?

Ya, betul. Rentenir adalah sebutan kepada orang yang suka meminjamkan uang, dengan menerapkan anturan pembungaan yang ditentukan sepihak, sehingga menyebabkan orang yang punya utang tercekik, dan terkuras kekayaannya. Ada juga yang menyebutnya dengan istilah tengkulak.

Tapi, pernah terpikirkan gak, ada rentenir sosial yang jauh lebih bahaya, dibandingkan dengan rentenir finansial ?

Dalam tulisan ini, kita bisa sampaikan bahwa, renten uang, biasa dibayar. Andaipun, tidak dengan uang sendiri, bisa pinjam kepada saudara, untuk kemudian digunakan membayar utang yang dipinjam dari lembaga keuangan tidak resmi tadi. Jika, sudah mampu membayarnya, kendati pun, sumber dananya, dari mana-mana, maka selesailah sudah, ketergantungan kita  kepada orang lain.

Kondisi ini, akan berbeda, dan sangat berbeda jauh, bila kita mendapatkan utang jasa, yang hasil kerja kerasnya itu, Anda rasakan sampai sekarang. Andai saja, hendak melupakannya, maka, kelakuan Anda akan dijadikan bahan cerita, sebagai sebuah cacat moral, sedangkan, bila Anda tetap pegang teguh, maka Anda akan terus terjebak pada utang tersebut. 

Apa itu ?

"ya, itu tadi, utang jasa !!"

Senin, 30 November 2020


Pengalaman hidup dan menjalankan tugas pendidikan di masa pandemi, memberikan pengalaman penting bagi kita, khususnya dunia pendidikan.

ya, sudah tentu, kalangan orangtua pun, memiliki kenangan khusus terkait dengan pengalaman hidup di masa pandemi ini. Gara-gara pandemi, para orangtua, cukup massal merasakan, bagaimana trik, tip dan juga intrik dalam mengkondisikan putra-putrinya di rumah.

Kalau saja, wacana, refleksi, komentar, tanggapan, opini, dan kajian mengenai hiruk pikuk pendidikan dan pembelajaran selama pandemi ini, dibukukan, rasanya akan terkumpulkan ribuan halaman bahkan bisa sampai jutaan halaman. Hampir di setiap harinya, di media sosial, kita membaca, mengirim, mengulas atau membuat catatan-catatan mengenai pembelajaran di masa pandemi ini.

Selasa, 24 November 2020

 

Bukan untuk yang pertama kalinya. Antri sudah pernah dijalani berulang kali. Bukan hanya di rumah, tetapi juga di ruang public. Antri, pernah juga teralamai dan terjalani. Tetapi, mengapa, masih juga ada perasaan kesal, saat kita menjalani antrian.Antri Panjang Nggak Masalah, Asal Kamu Lakukan 11 Tips Ampuh ...

Mengapa ?

Sebuah pertanyaan sederhana, namun menyasar pada pikiran, perasaan dan nurani yang kini dirasakan. terbayang sudah, saat menjalani antrian. Antrian panjang, yang dilakukan selama hampir tiga kali, dalam tiga hari terakhir.

Jumat kemarin antri. Antri disatu tempat.  Berangkat agak siang dengan maksud, supaya rileks, santai saja, dan tak usah terburu-buru, atau diburu-buru. Sampai ke lokasi pun, cukup siang. Tidak sepagi, yang orang lain sarankan dan juga lakukan.

Senin, 02 November 2020

 Kita sering melakukan selfi, atau welfie (foto bareng teman-teman) menggunakan kameri pribadi. Maksud dan tujuand ari pengambilan gambar itu, bisa beragam, tetapi salah satu diantaranya adalah bermaksud untuk mendokumentasikan atau mengabadikan momentu pengalaman kita di lokasi dimaksud, sehingga menjadi sebuah alat promosi kepada yang lain, atau media kenangan kelak kemudian hari.


Mari cermati foto yang disajikan di sini. Ini adalah cara pengambilan gambar (foto) yang bisa melahirkan banyak tafsiran. Lahirnya tafsiran itu, bukan disebabkan karena objeknya yang menarik (saja), melainkan karena potensial melahirkan gagal fokus para pengamat terhadap hasil fotografi tersebut.

Senin, 05 Oktober 2020

 Hubungi 021-1500164 buat Urus Pemakaman

Kematian adalah satu fakta. Tidak ada orang yang mengingkari kenyataan ini. Manusia sebagai makhluk hidup, dihadapkan pada ancaman kematian. Siapapun, dan apapun keyakinan kita, kematian akan menjadi bagian dari sejarah kehidupannya. Hal yang membedakan diantara kita, lebih terkait dengan persepsi dan respon kita terhadap kematian tersebut.

Selama pandemic, muncul femenona pengambilan paksa oleh keluarga terhadap anggota keluarga yang meninggal karena COvid-19. Mereka mengambil secara paksa anggota keluarga tersebut, dengan alasan hendak dimakamkan sesuai dengan tradisi dan budayanya, kendati harus dihadapkan pada ancaman penularan Covid-19.

RS Keliling Lampung Jangkau Pasien Hingga Pelosok | FajarSumatera.co.id 

Pengalaman kita kali ini, sangat mengerikan. Pandemi Covid-19, benar-benar membuat situasi dan kondisi kita, dipaksa harus mengubah berbagai hal. Kelakuan kita selama ini, yang biasa dianggap biasa-biasa, kini menjadi darurat luar biasa. 

Dulu kita terbiasa kumpul-kumpul. Nongkrong. bersendagurau. kali ini, menjadi sesuatu hal yang luar biasa risih dan berresiko. Perlu ada semacam perubahan dan adaptasi kebiasaan baru, untuk bisa selamat dari ancaman virus ganas yang merebak sejak akhir Desember 2019.

Hal yang lebih memprihatinkan lagi, sebagai diantara kita terjebak dan dipaksa ada di dalam rumah sendiri. Berdiam, diri, sendiri, atau dengan keluarga, untuk maksud supaya bisa selamat dan terselamatkan dari ancaman virus ganas tersebut.

Untuk kawasan yang kami tinggali. Minggu kemarin. Tidak jauh dari kompleks tempat tinggal. Muncul sebuah ambulan. Memang tanpa sirene, seperti biasanya. Dia bergerak, tanpa suara, namun pasti, tampak jelas, karena warna dan identitasnya sudah jelas dan mudah dikenali. Bergerak menuju satu kawasan, entah di mana dan kepada siapa.

"aha, dia baru pulang menjemput atau hendak menjemput seseorang?" itulah pikiran para penyaksi, di tepi jalan, melihat kendaraan yang tak seorang pun berniat untuk menjadi penumpang di dalamnya.

Dalam situasi serupa itu, saya merasa ada sesuatu yang baru.

Pertama, ambulan, kendaraan khusus kesehatan ini, tidak menimbulkan kegaduhan kepada masyarakat. Tak ada sirene, tak ada tanda yang membuat orang lain, panik atau tertarik perhatiannya.

Kedua, mereka melakukanb tradisi jemput dan antar pasien. Menjemput pasien dan mengantarkan pasien ke lokasi yang dianggap aman da nyaman baginya.

Entah mimpi atau tidak, apakah tradisi ini akan menjadi sebuah bentuk layanan prima di era normal nanti ? akankah, ada tradisi pasien yang membutuhkan bantuan itu, tidak bersusah-susah untuk datang ke poliklinik, puskesmas atau rumah sakit dan berantri panjang-panjang ?

Gagasan rumah sakit berjalan, mobile hospital, menarik untuk dirancangkembangkan di negeri ini ! Ya, setidaknya, untuk jenis rawatan kesehatan dasar !

Kamis, 13 Agustus 2020

 Cek, 10 Tanda Anda Pemikir yang Sangat Rasional - Health Liputan6.com

Di sini. Aku termenung. Dalam situasi yang entah untuk berapa lama, atau untuk masalah sedalam apa. Saat ini, aku termenung. Dalam situasi yang entah untuk berapa jauh, atau seluas apa. Namun, nalar, nurani, dan ego, dipaksa untuk menyelam ke dalam lembah yang tak pernah diketahui sebelumnya.

Kau yang ada di alam sana, tersidang oleh ego yang ada di alam ini. Kau yang sedang terlelap istirahat menunggu giliran, tersidang ego yang juga menunggu giliran lain di alam ini. Kau yang tengah terbaring bisu, tersidang oleh ego yang tegak berdiri tegak di alam ini. Kau yang sudah lama membisu, tersidang oleh ego yang masih banyak bicara dan wacana.

Minggu, 28 Juni 2020


Kontroversi Visi Misi dan Debat Capres yang Menyudutkan KPU ...

Debat. Adalah salah satu cara yang mungkin banyak dijadikan tontonan oleh masyarakat kita saat ini. Di sejumlah media elektronik, tayangan tentang debat dan perdebatan menjadi acara penting, dan juga banyak menyedot perhatian banyak orang. Tidak terkeculia, masyarakat banyak pada umumnya. Artinya, debat dan perdebatan ini, bukan hanya dikonsumsi oleh mahasiswa atau akademisi, tetpi juga oleh kalangan masyarakat lain pada umumnya.
Tidak banyak yang tahu, mengenai ilmu atau cara melatih kemampuan berdebat. Di tengah masyarakat, setidaknya, penulis merasakan bahwa kadang kala ada orang yang pintar menulis, tetapi kurang terampil berbicara atau berdebat, begitu pula sebaliknya, ada orang yang terampil berargumentasi, namun tidak cakap dalam menulis.
Kenyataan ini, banyak dirasakan di alami oleh banyak orang.
lantas, bagaimana duduk persoalannya ?
Baru saja, terbuka, eh. maaf, baru tahu, Anthony Weston (2017) mengeluarkan karyanya, dengan tema panduan berargumentasi. Kita tidak akan mengulas isinya, kita hanya mengulas satu pertanyaan yang dia lontarkan dalam wacana ini.
Bukunya itu, disebut sebagai sebuah panduan terkait "seni membuat argumentasi". Eh, argumentasi disebut sebagai sebuah Seni (art). Pernyataan ini menarik.
Argumentasi di sebut sebagai seni, itu artinya, berargument itu terkait dengan kemampaun rasa dan perasaan setiap orang. Setidaknya, setiap orang akan memiliki gaya dan seninya sendiri-sendiri.
Bisa jadi, karena adanya perbedaan gaya debat itulah, kemudian debat atau berargumentasi itu, disebut sebagai sebuah seni atau art.
Kedua, sisi penting lain yang tak boleh dilupakan, jika memang argument atau membuat argumentasi itu adalah sebuah seni, hal ini menggambarkan bahwa kemampuan ini lebih merupakan sebuah keterampilan, dibanding bawaan. kemampuan berargumentasi adalah sebuah keterampilan, yang bsia dilatih, dibina dan dikembangkan !

Sabtu, 06 Juni 2020

Ribuan demonstran George Floyd diminta tes Covid-19Saya termasuk orang yang belum bisa menarik kesimpulan baku. Sebuah peristiwa, memang tidak bisa dijadikan contoh atau cermin untuk menggambarkan sebuah peristiwa. Tetapi, sebagai bagian dari usaha kita untuk merenungkan kehidupan berbangsa dan bernegara, di negeri yang kita cintai ini, layaknya kita bisa manfaatkan kasus yang tengah terjadi di negara yang sempat menyandang gelar SuperPower, Amerika Serikat.
Sekedar informasi, tragedi itu bermula saat George Floyd ditangkap karena diduga melakukan transaksi memakai uang palsu. Uang yang ia gunakan senilai US$ 20 (Rp 292 ribu). Menurut laporan media massa yang kita baca di sini, prosedur penangkapannya yang dilakukan Derek Cauvin termasuk malpraktek yang dilakukan polisi yang kemudian menyebabkan hilangnya nyawa korban.
Hal uniknya, kasus ini kemudian menguat, menjadi sebuah isu sensitif di negeri itu, yakni isu rasisme, dan sejak 25 Mei itu, menjadi energi besar yang terus bergelombang menjadi sebuah gerakan kritis terhadap Pemerintahan AS, Donald Trump saat ini.
Lantas apa pelajaran penting dari peristiwa itu ? apa yang menarik dari peristiwa itu, cermin apa yang dapat kita kenali dari peristiwa yang kini menyedot perhatian banyak media di dunia ?
Pertama, kita melihat nyawa manusia adalah modal-asasi manusia yang harus dilindungi. Bukan soal jumlah, tetapi perlakuan kita terhadap manusia akan menjadi standar kualitas kemanusiaan kita dihadapan bangsa dan negara. Negara AS, negara liberal dalam pandangan kita, ternyata begitu menjunjung tinggi modal asasi manusia, yakni nyawa.
Kedua, kita memang melihatnya, bahwa isu rasis di negeri Barat, sama kuatnya dengan isu teroris atau SARA di negeri kita. peristiwa yang berbau pada isu-isu sentral ini, amat dengan mudah menyulut emosi politis dari warga negaranya. Demo solidaritas dan keprihatian terhadap tragedi yang terjadi pada George Floyd ini, begitu memancing banyak perhatian, dan meluas ke berbagai negeri di AS.
Ketiga, gejala yang kita bicarakan ini, sesungguhnya adalah fenomena kematian akibat tindakan keliru oleh negara atau aparatur negara.Di negeri kita pun, memiliki banyak contoh kejadian serupa ini. Misalnya saja, kematian Munir yang fenomenal dan sampai kini masih menyisakan 'kegelapan'. Kemudian kematian wartawan Bernas, Udin, pun demikian adanya.
Wajar. peristiwa kematian yang disebabkan karena ada 'unsur pelanggaran' kekuasaan, akan memancing emosi publik. Tetapi, apakah wajar, jika kemudian, membedakan kualitas nyawa manusia satu dengan yang lainnya ?
sekedar contoh, di tahun 2018, pernah ada berita, ada seorang guru yang meninggal dunia karena di pukuli oleh muridnya. Kemudian, tahun 2019, ada seorang guru yang dianiaya oleh oknum orangtua siswa. Masalahnya, kenapa peristiwa ini tidak mengundak simpatik nasional ? apakah, karena isu ini tidak menarik, atau memang harga nyawa itu berbeda-beda ?
Dari pengalaman kejadian di AS ini, para pejuang HAM, bisa menunjukkan sikap yang jelas, standar dan tegas dalam melindungi modal asasi manusia, yang disebut nyawa. Bukan nyawa aktivis (LSM, Wartawan atau Mahasiswa) saja yang perlu dibela, tetapi setiap nyawa anak bangsa ini pun, perlu dibela sebagaimana mestinya.

Jumat, 05 Juni 2020

Matahari Terbit Lautan Kabut - Foto gratis di PixabaySikap dan kelakuan tidak menghargai waktu, hampir terlakukan secara tidak sadar. Banyak orang, diantara kita yang melakukan hal ini, tanpa kesadaran. Bahkan, kerap kali menghadapi sesuatu dengan cara ujug-ujug, atau mendadak. Mendadak berganti hari, mendadak sudah mepet. Mendadak teringatkan, dan lain sebagainya. Semuanya serba mendadak.
Ujung-ujung dari situasi serupa ini, kadang malah menyalahkan waktu. "Ah, gak ada waktu." ketusnya dalam hati, dan seringkali pula terlontar dalam lisan. Pertanyaan kita adalah, apakah layak kita menyalahkan waktu ?
Pengalaman kita, selama Pandemic Covid-19 tahun 2020 ini, terasa cukup banyak hal, yang dirasa dan terasa mendadak. Seorang guru, mendadak daring, Seorang pelajar mendadak belajar di rumah. Seorang ayah dan ibu, mendadak harus memainkan peran sebagai guru. Hal yang lebih memprihatinkan, sejumlah sahabat, tetangga kita, atau saudara kita, mendadak di rumahkan, karena pandemic ini. Semua serba mendadak.
Pertanyaan dasar kita memang mengacu pada satu hal, "apakah ada sesuatu hal yang salah, dengan sesuatu hal yang mendadak ?" dalam istilah yang lain, "apakah hukum kemendadakan, adalah sesuatu hal yang salah, sehingga kita bisa menyalahkan waktu ?", ketusan diantara kita, "habis mendadak sih, jadi beginilah kejadiannya...." ungkapnya, dengan arah dan tujuan yang tak jelas, siapa yang dijadikan sasaran omelannya tersebut.
Untuk mentafakuri situasi serupa ini, rasanya kita perlu melihat, mencari dan menggali makna lain, terkait dengan jalannya waktu dalam hidup dna kehidupan kita saat ini.
Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami, menceritakan kepada kami, az Zuhri telah menceritakan kepada kami dari Sa'id bin al Musayyab dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw  bersabda: Allah Swt berfirman: "lbnu Adam mengganggu pada-Ku, ia telah memaki-maki masa, padahal Aku-lah masa itu, sebab di tangan-Ku segala urusannya, Aku yang membolak-balik malam dan siang".
Dengan memperhatikan hadist Qudsi ini, setidaknya kita menemukan ada beberapa pelajaran penting.
Pertama, tidak layak memaki-maki waktu. Waktu adalah hukum alam, yang berjalan apa adanya. Manusia memperhatikan atau mengabaikannya, maka waktu akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Andai kiat kerja keras, waktu akan berjalan. Andai kita isi waktu itu dengan tidur malas, pun, waktu akan terus berjalan. Oleh karena itu, pada saat kita memaki-maki waktu, maka ada kekeliruan sikap dari manusia itu sendiri.
Kedua, pada hadist Qudsi ini, ada asma Allah Swt yang terlupakan, yaitu asma ad-Dahr. Allah Swt adalah ad-Dahr, hal itu sesuai dengan pengakuan Ilahi tentang Dirinya, Aku-lah Masa (wa Ana ad-Dahr). Allah Swt menyatakan Diri, bahwa Diri-Nyalah ad-Dahr, karena Diri-Nya yang menciptakan waktu, siang dan malam. Dalam kekuasannya, segala urusan makhluk di dunia dan diakhirat itu.
Ketiga, Allah Swt adalah mengurus waktu. Dalam hadits itu digunakan lafaz aqallabul lail wa nahar, akulah yang membolak-balilkkan malam dan siang. Lafaz qallab, bisa diartikan bolak-balik, dan dapat pula diartikan mengatur atau mengelola. Oleh karena itu, lafaz aqallabul lail wa nahar   dapat dimaknai Allah Swt-lah yang mengatur peredaran benda langit, sehingga terjadinya proses malam dan siang.
Keempat, pesan umum yang ingin tersampaikan, terkesan mengenai pentingnya kita dalam menjaga sikap dan lisan, jangan sampai tercetus pemahaman atau pemikiran yang lebih mengarah pada menyalahkan faktor luar, termasuk lingkungan, tiadanya waktu luang, dan lain sebagainya. pepatah lain mengatakan, salah satu ciri orang lemah dan tak bertanggungjawab adalah menunjuk faktor lain sebagai penyebab kegagalan dan kesalahan. Kita boleh tidak sepakat dengan pernyataan itu, tetapi hendaknya dapat dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita.
Andai kita senantiasa menyalahkan orang lain, akankah kita mendapat efek perubahan dari tindakan semua itu ? ataukah, lebih baik kita melakukan koreksi terhadap kelemahan diri, dan kemudian memperbaikinya ?
Wallahu 'alam/.

Kamis, 21 Mei 2020


Pembagian Takjil Gratis dengan Penerapan Jaga Jarak Fisik - Bagian 2Dalam minggu ini, berkesempatan mengikuti webinar dari berbagai lembaga. Dua diantaranya dari program pendidikan geografi, dan dua diantara yang lainnya adalah jurusan pendidikan umum (fakultas tarbiyah). Motivasi dasar waktu, sesungguhnya sangat sederhana, yakni ingin mengetahui dampak pandemic terhadap dunia pendidikan, baik dalam konteks pendidikan umum (tarbiyah) maupun pendidikan geografi.

Selasa, 05 Mei 2020



Hadist Shalat Wajib sendiri dan berjamaah - TandanSari TaphilSaya baru sadar sekarang. Ini adalah pekerjaan luar biasa. Pekerjaan yang tidak terduga dan diduga sebelumnya, ternyata memiliki efek yang sungguh luar biasa. Tidak terbayangkan sebelumnya, bahwa hal ini akan terjadi seperti hari ini.

Sabtu, 02 Mei 2020


Profesi Guru – Momon Sudarma | Shopee IndonesiaSudah biasa. Rasanya sudah jadi menu rutin. Ada dua kesempatan, untuk ngorek-ngorek profesi guru. Saat pelaksanaan hari pendidikan, dan hari guru. Ini adalah momentum nasional yang seolah menjadi waktu yang tepat untuk ngomelin guru. Kalau di tahun-tahun sebelumnya, sebenarnya ada satu lagi, waktu yang tepat ngomelin guru, yakni saat pengumuman kelulusan. Nilai Ujian Nasional, adalah objek praktis untuk membincangkan profesi guru. Tetapi untuk tahun ini, mungkin tidak ada kesempatan yang terakhir ini. Sehingga tersisa dua momen nasional saja.

Selasa, 24 Maret 2020


Hasil gambar untuk covid 19Walaupun, kisah ini, lebih  merupakan apologia, tetapi rasanya ingin sekali di kemukakan di sini. Ya, penulis sebut sebagai apologi, karena peran nyata penulis sendiri, tidak terlihat, tidak terasa, bahkan mungkin tidak ada. Andaipun ada yang menyebut dan menilai, bahwa penulis sudah menunjukkan peran dalam penanganan pandemic Covid-19 ini, lebih merupakan sebagai kepanjangan tangan dari Pemerintah, karena penulis sebagai seorang ASN.

Jumat, 20 Maret 2020


Salah satu karakter ilmu modern (science) yaitu mempercayai statistic.  Proses kuantivikasi (penstatistikan) atau menghitung secara matematik, menjadi trend baru di masyarakat Indonesia.  Peran nyata dari revolusi kuantitatif ini, mulai dan sangat dirasakan sekali yaitu pada praktek pemilihan umum, pemilihan presiden atau pemilihan kepala daerah.

Minggu, 09 Februari 2020


Hasil gambar untuk budayaSalah satu konsep dasar dalam pengembangan geografi manusia atau geografi budaya adalah memahami konsep budaya. Budaya atau kebudayaan, merupakan konsep kunci yang banyak menjadi perhatian banyak kalangan, sepert Antropologi, Sosiologi dan juga Geografi Manusia.

Senin, 13 Januari 2020


Hasil gambar untuk pantulan cahaya
Saya sudah berusaha untuk menjadi diri sendiri. Itulah tekad, yang sudah dibangun selama ini. Saya sudah berusaha untuk menjadi diri sendiri. Setidaknya, itulah mimpi yang tengah diwujudkan hari ini, dan selama ini.