Just another free Blogger theme

Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2026

 

sepanjang matahari  bersinar

jalan karya masih terbuka

sepanjang bulan masih benderang

jalan cita masih lempang

 

sependek harapan

itulah kesempatan

sependek napas berdesah

itulah kemampuan

 

pendek dan panjang

adalah kenyataan

tak bisa diingkari dan tak pula dilupakan

 

dengan tindakan

pendeknya dapat memanjang, dan

panjangnya dapat memendek

 

gerak diri dalam memaknai bumi,

akan mendekatkan langit ke jatining tanah

diamnya diri mengenali bumi, kian

menjauhkan tanah dari jatining bumi

 

Garu I , Juni 2004

Minggu, 28 Januari 2024

masih dalam remang-remang,

angin malam pun masih datang,

cahaya siang belumlah terang

dunia masih dalam bayang-bayang

 


tiap insan menanti fajar,

untuk menebus malam yang buyar

karena dingin telah menyebar

kini hangat yang menjadi pembayar

 

Kamis, 08 Desember 2022

Depan monitor itu. Terdiam dan bisu. Hanya jari jemari yang terus melaju. entah apa yang ingin diungkap, selalu. Hanyalah soal waktu. 

Berjalan dalam bayangan. Mereka hanya banyak mengatakan. tentang dirinya dan kehidupan. Abai terhadap lingkungan. Entah, apa dan mengapa hal ini, mereka lakukan. 

Ketika mengadu tentang kesakitan. Atau penderitaan. Mereka hanya bilang, hal itu, adalah kejadian. Harus sabar dan tetaplah berjuang. Walaupun, mereka ulurkan tangan. Sekedar baju bekasan dan makanan.

Apakah ini, disebut sebagai empati ? saat manusia, hidup sendiri dihantam derita yang tiada henti. Mereka hadir dengan selfie. Dalihnya untuk dokumentasi. Menyebarkan informasi. Malah memancing emosi. 

Kemarin saja, terjadi ledakan. Bunuh diri di kota kembang. Kejadian yang hampir terus terulang. Tiada henti, dan tiada pernah ada alasan.

 

Selasa, 08 November 2022

 

cinta adalah misteri indah yang tak berkesudahan, dan karena itu manusia sejagat mencari dan mencurinya, dan disanalah indahnya kita untuk saling memaknai, cinta lahir bukan karena pertemuan, namun lahir dari kemenyatuan jiwa

energi hidupku bukanlah nasi, juga bukan belati, tapi sapa dan lambaian kekasih di seberang sana, di sanalah dermaga dan lautan yang menanti, walau kusadar entah kapan kan kuhampiri

bangkitlah bunga taman, semburatkan harummu, mekarkanlah sayapmu, mentari pagi tiba tuk menyelesikkan energi juang ke dalam nadimu, bangunlah dan warnai wajah bumi yang telah tertidur panjang di masa lalu

jiwa raga ini tak lari kemana, bila memang aku adalah bagian dari hatimu, aku tak mengerti apa yang mungkin terjadi, sepenuh hatiku aku tak mengerti ?!

aku akan menanam bunga, agar setelah aku dimakamkan kau dapat memetiknya dan melepaskna rindu di taman, dan agar kau tahu, aku selalu menyayangimu ?!

 tanpa peduli ku terpaku dalam diam tak mengerti apakah untuk begini cinta dilahirkan, apakah untuk begini kita dipertemukan, semua itu adalah misteri, misteri tiada henti !!

 

nikmat kesuksesan, diukur dari nilai pengorbanan, waktu dan dapatan, bukan hanya oleh jumlah hasil

semakin tinggi hubungan antara ketiganya, semakin terasa akan kebermaknaannya hidup, dan semakin rendah hubungan antar ketiganya, hanya menggambarkan hidup manja atau menjadi objek kehidupan

 

waspadalah  !!

kejahatan bukan hanya karena nilai perbuatan itu yang jahat, tetapi karena interpretasi yang salah terhadap sebuah nilai, sehingga berbuah jahat !!!

 

Jika budaya dibesarkan oleh tingkah laku,

maka  telah menjadi robotlah ia

 

Jika budaya dibesarkan oleh harta benda,

maka telah menjadi pedagang ia

 

Jika budaya dibesarkan oleh  nurani,

maka itulah sejatinya orang berbudaya

 

menatapi  dengan emosi,

akan tampak gelap-terangnya dunia

 

menatapi dengan mata,

akan tampak merah-putihnya dunia

 

menatapi dengan hati,

akan tampak  kedamaiannya

 

Jangan tanya

Jangan tanya rumput yang bergoyang,

karena dia hanya bergerak, bukanlah menari

Jangan tatap saturnus yang bercahaya,

Karena dia hanya memantulkan, bukanlah bersinar

Jangan hirau suara ditelingamu, karena

Dengan angin dia akan akan berlalu

Ikutilah nuranimu, karena dia akan bersamamu selalu

 

 

Puisi itu

 Puisi itu, mengikat kehidupan dalam kata

Kehidupan itu, adalah puisi hidup sarat makna

hingga misteri


 

Aku ragu

Ku ragu dengan pertanyaan,

Kendati seolah kutahu jawabannya

Ku ragu dengan kalimat,

Kendati dirasa tahu maknanya

Ku ragu dengan langkah ini,

Kendati akan ada akhirnya

Kuragu semuanya itu,

Hanya ku yakin, melanjutkan langkah ini, adalah jalan menuju tujuan

 

Angin

 

hembusan lembutnya,

                   menyentuh kalbu,

                   menggetar syahdu,

                   menggoyang  sukma

 

 hembusan kerasnya,

                   mendobrak karang,

                   menggetarkan bumi,

                   menggoyangkan  langit

 

tak butuh warna,

                  namun mewarnai

 

 Garu I, Juni 2004


oh…..mentari,

kau terlalu cepat pergi,

hingga ku tak tahu kapan malammu

kapan jua pagimu

 

mentari, kau terlalu cepat pergi

hingga ku tak tahu musim semimu

kapan jua bebungamu

yang kusadari hari ini,

hanyalah kemarau yang pernah

kurasakan di masa lalu

 

mentari, terlalu cepat kau pergi

hingga ku tak tahu sejukmu

kutak tahu jua segarmu

yang kusadari kini,

hanyalah kehausan di sepanjang jaman

 

kemarin, pasir putih  menguning

bebatuan pun melumar,

menjemput mentari pagi yang menyingsing di ufuk timur

hari ini, jangankan mencumbu dan merayu,

tembok pun membisu seribu kata

 

kemarin, ombak lautan melambai

pepasiran pun mengerlip

kini, laut itu membeku,

ditelan kemalangan panjang  nan merontang

 

bintang itu, berkedap dan berkedip,

bak mencibir diri yang hina

purnama pun sembunyi,

seolah malu tuk menatap  jiwa yang malang

angin malam pun berhenti,

enggan mengelusku

aku tersudut dikegelapan