Just another free Blogger theme

Tampilkan postingan dengan label Ngajiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngajiku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Desember 2025

Dalam konteks politik Islam, kita tidak banyak menemukan jasa dan kontribusi politiknya dari seorang Ibnu Mu'tazz. Namun, nama dan jasa intelektualismenya, tidak bisa diabaikan, dan yakin akan dikenang sampai akhir zaman. Khususnya dalam konteks sastra atau peradaban Islam.  



Nama lengkap tokoh yang kita maksud ini, adalah  Abu al-‘Abbas ‘Abdullah ibn al-Mu‘tazz Billah ibn al-Mutawakkil ‘Ala Allah ibn Mu‘tashim Billah ibn Harun al-Rasyid. Ia lahir di lingkungan istana pemerintahan ‘Abbâsiyyah di Bagdad pada 22 Sya‘ban 147 H, bertepatan dengan  31 Oktober 861 M. Keluarganya menyukai sastra Arab dan musik.

Jumat, 24 Oktober 2025

 


Islam sangat memperhatikan aspek praktis. Tidak sekedar teoritis, atau kognisi. Islam, sebagaimana yang ditunjukkan dalam informasi ilahiah dalam Kitab Suci al_Qur’an, menunjukkan adanya peran penting dalam penguatan aspek praktis dalam kehidupan di dunia ini. Kesan ini, setidaknya dapat dipelajari dari firman Allah Swt :

﴿ وَلِكُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوْاۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ ١٣٢ ﴾ ( الانعام/6: 132)

Masing-masing orang ada tingkatannya, (sesuai) dengan apa yang mereka kerjakan. Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.  (Al-An'am/6:132)

﴿ وَلِكُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوْاۚ وَلِيُوَفِّيَهُمْ اَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ١٩ ﴾ ( الاحقاف/46: 19)

Setiap orang memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah menyempurnakan balasan amal mereka serta mereka tidak dizalimi.  (Al-Ahqaf/46:19)

 Dengan dua ayat ini, jelas bahwa manusia akan memiliki derajat kehidupan yang berbeda, baik selama di dunia maupun di akhirat kelak. Informasi ini, bukan dimaksudkan untuk diskriminasi, melaikan informasi formal terkait dengan inklusivitas-proporsional dalam menilai kinerja manusia.

Lantas persoalannya, bagaimana Islam menyajikan informasi mengenai keragaman atau variasi kualitas amal perbuatan manusia ? ditemukan, setidaknya ada empat kualitas perbuatan manusia.

Kamis, 09 Oktober 2025

Beberapa tahun lalu, kadang mendapat komentar yang miring, saat memberikan jawaban, terkait motto hidup. Sudah beberapa tahun sebelumnya, jika ditanya, mengenai moto hidup, dijawab dengan kalimat, “berbuat baiklah, semaksimalmu, karena semua itu akan kembali pada diri sendiri”. Beberapa teman, menilainya, sebagai sesuatu yang egois, dan mereka menyarankan, mengapa tidak menggunakan kalimat, “berbuat baik dan mengabdi kepada Masyarakat?”


Ah, mungkin, sekedar salah paham, atau belum mendapat penjelasan lebih lanjut saja, sehingga mereka melakukan komentar serupa itu. Karena sejatinya, bisa jadi, motivasi intrinsic, atau dorongan utama dalam diri seseorang, tentunya adalah karena dirinya ingin mendapat keuntungan, kebahagiaan, atau kebaikan itu sendiri.  Artinya, kebaikan apapun yang dilakukan seseorang untuk orang lain, sejatinya adalah untuk kebaikan diri kita sendiri.

Sabtu, 02 Agustus 2025


Dalam tradisi kita, kerap muncul pertanyaan, iman dulu, atau paham dulu ? akankah, kita bisa mengimani sesuatu, bila kita tidak memahaminya ? ataukah, dapatkah kita bisa memahami sesuatu, sebelum mengimaninya ? Dua pertanyaan itu, seakan filosofis, dan masuk dalam tradisi ilmu kalam, dan terus menjadi bahan narasi yang cukup mengganggu pikiran kita.

Namun, bila ditelaah secara seksama, ada satu aspek keberagamaan yang masih belum banyak terungkap. Aspek yang kita maksudkan ini, yakni merujuk pada firman Allah Swt yang berbunyi :

﴿ وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۚوَالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ لِتُؤْمِنُوْا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ اَخَذَ مِيْثَاقَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ٨ ﴾ ( الحديد/57: 8)

Mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul mengajakmu beriman kepada Tuhanmu? Sungguh, Dia telah mengambil janji (setia)-mu jika kamu adalah orang-orang mukmin.  (Al-Hadid/57:8)

Khitab ayat ini ditujukan kepada orang-orang kafir. Menurut Jalalain  (J. A.- Syuyuthi and Mahalliy 2009), kalimat awal dalam ayat ini, memberi kesan, tidak ada halangan untuk beriman, karena sudah ada Rasul yang hadir di tengah orang kafir. Hanya saja, mengapa mereka tidak beriman ? dalam hal ini, Ibnu Katsir  (Dimasqy 2015) memberi penjelasan bahwa kesan ayat ini dimaksudkan untuk menggali alasan atau faktor penyebab orang kafir tidak mau beriman, padahal ada Rasul menyeru kepada Allah.

Selasa, 24 Juni 2025

 Bila kita berhadapan dengan 2 ayat surat Mujadillah, dan atau yang sejenis ini, kita akan menemukan kesan dan pesan Ilahiah mengenai konsekuensi fiqh Islam. Konsekuensi fiqh Islam yang kita maksudkan itu, yang menawarkan prinsip opsional.


Terhadap sebuah pelanggaran, yang dilakukan hamba-Nya, Allah Swt tidak secara kaku menetapkan satu jenis sanksi atau konsekuensi. Dalam beberapa kasus, kerap menunjukkan kearifan dan kebijakannya, yang dilandasi nilai Rahman-Rahim Allah Swt, yakni memberikan pilihan sanksi kepada hamba-Nya, sesuai dengan kemampuannya.

Selasa, 20 Mei 2025

Bagi kita, yang baru berkenalan dengan model berpikirnya Muhammad Syahrur, mungkin akan kaget.  Setidaknya, itulah yang penulis rasakan. Menelaah beberapa karya,  baik  yang memanfaatkan metode Syahrur, maupun karya Syahrur sendiri.


Satu diantara, gagasannya itu adalah terkait dengan acuan dan ajuan fondasi pemikirannya, yaitu gagasan mengenai asinonimitas. Dalam pemikiran Syahrur, sebuah kata dalam teks al-Qur’an, memiliki keunikan makna tersendiri, dan bisa dibedakan dari yang lain. Pada karyanya sendiri, menyebut al-Qur’an dengan Tanzil Hakim.

Sabtu, 22 Maret 2025



Persekongkolan jahat atau kerjasama kejahatan, merupakan salah satu kejahatan yang mendapat perhatian dalam Islam. Umat Islam, sejatinya sudah mendapat peringatan akan terjadinya fenomena persekongkolan kejahatan ini. Sayangnya, memang, kadang kita tidak paham, atau gagal paham terhadap Gerakan dan gejala  kejahatan serupa ini.

Bila dicermati dengan seksama, kita bisa menemukan setidaknya ada lima strategi kerjasama kejahatan yang disinyalir dalam al-Qur’an.

Selasa, 18 Maret 2025

Setiap bulan suci Ramadhan, kita kerap kali mendengar lantunan ayat 183 surat Al-Baqarah. Ayat ini sangat popular dibanding ayat lainnya tentang shaum Ramadhan, dan menjadi rujukan utama dalam pelaksanaan ibadah shaum di bulan Ramadhan. Firman Allah Swt ini, berbunyi :

﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣ ﴾ ( البقرة/2:183)

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah/2:183)




Untuk konteks hari ini, kita akan memanfaatkan analisis struktur-pesan dalam firman Allah Swt, kemudian diterapkan dalam konteks manajemen stategik. Walaupun kita, sesungguhnya tidak melakukan kajian-kepustakaan yang intensif terkait hal ini, namun diharapkan dapat membantu menjelaskan dan membuka cakrawala baru dalam memahami pesan-pesan ilahi yang ada dalam kitab suci al-Qur'an.

Selasa, 04 Maret 2025

Tidak boleh terburu-buru. Itulah kata pertama, yang perlu disampaikan di sini. Hal ini perlu disampaikan dengan maksud, supaya kita, bisa bersama-sama untuk bersikap hati-hati.  Bukan hanya, saya sebagai penulis yang perlu hati-hati, tetapi juga para pembaca pun, diharapkan bisa berhati-hati. Tidak terburu-buru.


Ada dua hal yang dimaksud dengan tidak boleh terburu-buru itu. Pertama, tidak boleh terburu-buru membacanya, supaya tidak salah paham.  Karena kadang  kali, salah-paha, dibawali dari ketijelian kita saat membaca. Akibat ada konsep atau makna yang tak tertangkap, kemudian seeorang bisa saja melangakami salah  baca. Oleh karena itu, kita perlu hati-hati saat membacanya.

Senin, 03 Maret 2025

 Dalam kajian tafsir, ada beberapa perbedaan mencolok yang biasa dilakukan. Perbedaan yang kita maksudkan itu, adalah pengelompokkan paket analisis saat menjelaskan forman Allah Swt, terkait shaum Ramadhan ini.



Imam Thabari, dalam tafsirnya, tampak konsisten dengan polanya sendiri. Setiap ayat dibahas satu persatu secara berurutan (tafshili).

Ibnu Katsir, misalnya, memisahkan keempat ayat ini menjadi tiga bagian. Bagian pertamanya, yaitu ayat 183-184, kemudian 185, dan paket analisis terakhirnya yaitu ayat 186 surat Al-Baqarah. Pola ini, serupa dengan yang dilakukan Imam Qurthubi, Quraish Shihab, dalam tafsir al-Misbah, dan Imam Asy-Syaukani dalam Fathul Qadirnya.

Sabtu, 23 November 2024

Paparan ini menjelaskan mengenai tahapan perubahan pengaruh, mulai dari membaca, merasa, berpikir, bertindak sampai pada karakter. Dengan merujuk pada pertanyaan, mengapa ayat 1-5 surat al-Alaq, menjadi firman Allah Swt pertama dan utama dihadirkan dalam perjalanan keadaban umat Islam ?


Bahan Renungan

Apa yang kita rasakan, saat melihat bencana ? sebelum memikirkan sesuatu, setidaknya hal pertama, akan muncul dalam emosi kita rasa kasihan, atau sedih, empati yang mendalam kepada  korban bencana. Rasa itu, bisa jadi,  tidak begitu kuat, manakala kita tidak melihat fakta di lapangan. Dengan mengamati fakta di lapangan, kita bisa merasakan pengaruh hasil penglihatan.

Bahan renungan

Pada setiap Ramadhan, setiap muslim diajak untuk melaksanakan ibadah shaum, sebulan penuh lamanya. Saat melaksanakan shaum, selama hampir 12 jam (di Indonesia), setiap muslim akan merasakan lapar, dahaga, dan tuntutan serius untuk menjaga hawa nafsu. Hikmah yang penting dari pengalaman ini, setidaknya, dari pengalaman emosional atau subjektif tentang shaum itu, akan mampu mendorong sikap empati dan peduli kepada orang tak beruntung, fakir miskin, atau lingkungan sekitarnya.


Narasi ini merupakan bahan yang disampaikan dalam pengajian di Majlis Ta'lim Masjid Manunggal Palasari VIjayakusuma Cibiru, kota Bandung.   



Selasa, 22 Oktober 2024

Apakah pertanyaan ini, masuk kategori lebay ? atau, phobia ? tentunya, tidak demikian. Dengan ajuan pertanyaan seperti ini saja, menunjukkan bahwa pencarian kesadaran dan pengetahuan, khususnya mengenai arah peradaban manusia ini, memberikan indiaksi adanya kesadaran kolektif yang harus disikapi bersama.

Bagi sebagian orang, persoalan agama, bisa jadi dianggap, sebagai sesuau yang sifatnya privacy atau subjektif, dan urusan personal. Tetapi, bagian sebagian orang, persoalan itu justru adalah persolan publik yang harus dinarasikan bersama, sehingga terjalin sebuah komunikasi harmini antar kelompok dan lintas kelompok.

Sabtu, 12 Oktober 2024

Sudah bukan informasi baru. Dalam tradisi filsafat ada pernyataan bahwa kelakuan manusia, bisa terjebak pada sisi yang ekstrim. Satu sisi, manusia terjebak manusia hidup nyata dengan manusia lain, yang kemudian disebutnya homo homini socius. Tetapi pada sisi lain, manusia bisa masuk ke jurang tindakan hina, yakni menjadi homo homini lupus, manusia memangsa manusia yang lainnya.



Gejala yang ada, justru di era sekarang ini, bukanlah manusia memangsa mausia lainnya ? melainkan, ada indikasi bahwa manusia menunjukkan indikasi kelakuan hewan, atau yang disebut animalitas. Apa dan mengapa demikian ?

 Persiapan keberangkatan haji/umrah, sudah terasa di berbagai pelosoik daerah. Kebahagiaan atau suka cita di wajah calon jama’ah haji/umrah, begitu tampak bersinar dan  berbinar. Cahaya kebahagiaan itu, menunjukkan satu ‘keaguhan nilai’ haji/umrah yang selama ini diimajinasikan, diimpikan atau diharapkannya.

Ibadah haji adalah ibadah tertua yang dilakukan oleh makhluk Allah di muka bumi. Ibadah ini bukan hanya disyariatkan sejak masa Nabi Ibrahim alaihissalam yang konon diperkirakan hidup sekitar tahun 1997 – 1822 sebelum masehi. Itu berarti sejak hampir 40 abad yang lalu.

Dalam kitab tafsir Al-Jami’ li-Ahkamil Quran, AL-Imam Al-Qurthubi menukil pendapat Mujahid yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah menciptakan tempat untuk ka’bah ini 2000 tahun sebelum menciptakan segala sesuatu di bumi.

Sedangkan Al-Imam Ath-Thabari dalam kitab tafsir AthThabari, menukil pendapat Qatadah yang mengatakan bahwa Ka’bah adalah rumah pertama yang didirikan Allah, kemudian Nabi Adam alaihissalam bertawaf di sekelilingnya, hingga seluruh manusia berikutnya melakukan tawaf seperti beliau.

Sebagai salah satu praktek ibadah Umat Islam, diperlukan pemahaman yang lebih baik mengenai makna haji, sehingga bisa menjadi bagian penting dalam menjalankan ibadah haji dimaksud. Mendukung penguatan pemahaman kita mengenai makna hajji/umrah, kiranya perlu disampaikan di sini, beberapa pandangan yang terkait dengan makna haji.

Pertama, Secara bahasa, kata haji bermakna al-qashdu, yang artinya menyengaja, atau menyengaja melakukan sesuatu yang agung. Dikatakan hajja ilaina fulan artinya fulan mendatangi kita. Sekaitan dengan hal ini, makna haji dapat pula diartikan sebagai tamu, orang yang mengunjungi. Tidak mengherankan bila kemudian di tengah Masyarakat, kerap kita mendengar jama’ah haji disebut tamu-tamu Allah.  Istilah ‘umrah, selaras dengan makna haji pula, kata ini mengandung arti az-ziyarah, yaitu berkunjung atau mendatangi suatu tempat atau seseorang.

Secara istilahi, orang yang bertamu disebut haji. Lantas, bagaimana jika orang itu sudah pulang ke Indonesia atau ke tempat asalnya lagi, apakah mereka pun masih bisa disebut haji ? mungkin yang tepat, bukan disebut haji, tetapi pernah berhajji ke Baitullah. Oleh karena itu, penyebutan haji sebagai gelar, lebih tepatnya (secara sosiologis) menunjukkan orang yang pernah bertamu ke Baitullah.

Seseorang bisa saja, pernah berziarah ke Singapura, Hongkong atau Sydney Australia. Sepulang dari Lokasi ziarah itu, tidak lagi disebut peziarah, hanya saja, memang dia pernah berziarah. Karena itu, gelar haji, sejatinya adalah merujuk pada identitas seseorang yang pernah berziarah.

Kedua, kata hajji dan umrah secara syari’ah, merujuk pada praktek kunjungan seorang muslim ke baitullah (Kabah) di Makkah al Mukarramah, dan sejumlah tempat di Madinaha al-Munawarah.  Pemaknaan ini sekaligus membatasi makna umum hajji/umrah. Orang yang bertamu bisa juga di sebut hajji dan  umrah, tetapi makna syar’i,  hajji/umrah adalah kunjungan ke suatu tempat, waktu, dan cara pelaksanaan yang sudah ditetapkan dalam kaidah hukum Islam.

Ketiga, Ibadah haji merupakan ibadah paripurna yang meliputi seluruh aspek ibadah baik lahir maupun batin, jasmaniah maupun ruhaniah. Siapa pun yang sudah berhaji dengan memenuhi berbagai kriteria yang tercantum dalam kitab fikih haji seharusnya dapat dikatakan mabrur. Namun sering ditemukan banyak orang yang telah berhaji tidak diikuti dengan perubahan sikap sosial yang shaleh. Apa substansi masalahnya? Definisi mabrur itu sendiri tidak dapat dipahami hanya dari narasi definisi yang telah disampaikan diberbagai rujukan karena definisi haji mabrur yang dilandasi oleh indikator syariat saja belum tentu dapat merubah perilaku seseorang. Untuk itu perlu memberikan alternatif pemahaman terhadap maknamakna perilaku haji yang terdapat dalam rangkaian manasik haji secara mendalam untuk mengungkap rahasia dan makna strategis yang menyentuh hati.

Keempat, tak bisa dilupakan pula, haji dapat diartikan sebagai perjalanan religi dalam menapaktilasi sejarah peradaban dan keadaban Islam. Seorang jama’ah haji/umrah, akan mengunjungi dan melakukan ritual peribadahan (manasik) yang memiliki nuansa spiritual dan juga historical.

Jumat, 29 Maret 2024

Tampak percaya diri dan gagah. Tampil di atas podium. Anak dibawah usia, masih sekolah. Seorang siswa disebuah madrasah. Berdiri di podium, dan memaparkan pandangannya mengenai salah satu ayat yang ada dalam kitab suci Al-Qur'an. 



Penampilan yang menarik, dan penuh rasa percaya diri, menarasikan makna pada penggalan kalimat pertama. "bertaqwalah sekuat kemampuanmu..". Kemudian, sang penutur memberikan penjelasan tegas, tentan pentingnya ibadah semampumu, bukan semaumu.

Kamis, 18 Januari 2024

 Seorang muslim, di setiap harinya berharap mendapat petunjuk dari Allah Swt. Setidaknya, hal itu ditunjukkan dengan pelantunan ayat dalam surat al-Fatihah, ayat 6-7.

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ ٧ ( الفاتحة/1: 6-7)

Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,  (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat. (Al-Fatihah/1:6-7)

Tetapi memang, masih banyak pula, umat Islam yang gamang, dan tidak mengetahui jalan petunjuk tersebut. Banyak yang masih belum paham, model hidayah yang Allah Swt sediakan, sehingga memudahkan manusia untuk mendapatkan, merasakan, dan menjalankannya.


Senin, 30 Oktober 2023

Mendengar  kata musibah, kerap dirujukkkan pada sesuatu yang tidak mengenakkan. Misalnya, kematian, kecelakaan, bencana, atau penderitaan lainnya. Sesungguhnya, pemaknaan serupa itu, tidak salah. Pemaknaan itu, sudah tepat. Tetapi, akan menjadi keliru, bila kemudian, kita memberikan pengertian umum terhadap musibah sebagai sesuatu yang mencelakakan.



Kata mushibah, dalam bahasa Arabnya, sekedar melirik sebentar ke kamus bahasa Arab, ternyata, kata ini mengandung makna, sesuatu yang mengena atau menimpa. Jika, kita lagi berjalan, kemudian ada sesuatu yang menimpa kita, disebutnya mushibah, atau mengenai. Jadi, kata musibah diartikan beban, karena datang dari luar, kemudian mengenai kita, dan menambah 'beban' kepada kita. Tetapi, untuk makna ini, tidak seharusnya diartikan negatif. Tersebab, sejumlah hal yang menimpa kita, tidak selamanya negatif, tetapi ada juga yang positif.

Kamis, 03 Agustus 2023

 

Empat Tugas Manusia

(Khutbah Jum'at. 4 Agustus 2023)

 

Pertama, Menjadi Khalifah

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣٠ ( البقرة/2: 30-30)

 (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah/2:30)

Konsep khalifah, mengandung makna wakil, atau pemimpin. Dengan kata lain, sejatinya manusia adalah mandataris Ilahi di muka bumi, yang memiliki kewajiban praktis dan operasional untuk memelihara, dan mengelola hidup dan kehidupan, lingkungan dan alam raya ini dengan baik.



Kesan yang kuat, dalam tugas pertama ini, adalah kepemimpinan. Seorang perlu memiliki jiwa kepemimpinan, leadership, makna dari leadership adalah kemampuan mengelola, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya sosial.

Senin, 10 April 2023

Nongkrong-nongkrong di gang, atau di ruas jalan, marak di beberapa titik di kota Besar. terlebih lagi, di masa-masa ngabuburit. Menjelang sore hari, bahkan ada yang sampai larut malam, anak-anak muda menghabiskan waktunya di komunitas tersebut.



Fenomena ini, kadang disebutnya sebagai kelompok menengah kota. Iya, mereka menghabiskan waktu dengan ngobrol kanan kiri, atau curhat ini dan itu, sambil ketawa-ketiwi, meluaskan kesenangan dan kebahagiaan, dalam versinya. Apakah zaman Rasulullah Saw, sudah ada kebiasaan nongkrong di jalanan ?

Minggu, 13 November 2022

Kadang. Ini memang kita, terkadang, salah kaprah.  Ada sebagian diantara kita, kadang menilai kesalehan orang dari cara bicaranya. Saat, lisannya berlumuran dengan ayat-ayat agama, dan bahasanya pun, beruansa bahasa Arab, kita menyebutnya sebagai orang beragama, atau orang soleh/solehah. Untuk lebih mudahnya, sebut saja, berbahasa Arab, bagi seseorang yang beragama Islam, atau berbahasa Ibrani bagi Agama Katolik atau Yahudi.

Sejatinya, kita semua paham, dan maklum, bahwa bisa berbahasa arab, bukan berarti orang soleh. Karena, Abu Jahal, abu Lahab, dan bahkan Fir'aun pun, bisa berbahasa Arab, dan sehari-hari menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa percakapannya. Lantas mengapa kita, kerap terjebak menilai kesalehan orang, dari bahasa tutur dan kosa kata yang dituturkannya ? atau lebih subjektif lagi, mengapa kita, bernafsu untuk menghias penuturan kita dengan kosa kata bahasa Arab, dengan maksud untuk menunjukkan kesalehan diri dihadapan orang lain ?