Just another free Blogger theme

Tampilkan postingan dengan label Baru Tahu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baru Tahu. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2026


 

Mawaddah (مَوَدَّة) berasal dari akar w-d-d (و د د), yang berkaitan dengan cinta, kasih, dan keinginan akan kedekatan. Ar-Raghib al-Ashfahani, menerangkan bahwa kata wadd, mengandung arti menyukai sesuatu dan mengharapkan keberadaannya. Terkadang ia digunakan untuk salah satu dari kedua makna tersebut (Ashfahani, 2017c:736). Dalam konteks hubungan manusia, kata wamaddah bisa diartikan keharmonisan diantara kedua belah pihak atau kedua mempelai.

Dalam QS. Ar-Rūm [30]:21, mawaddah disebut sebagai sesuatu yang Allah jadikan di antara pasangan. Ibn Kathīr menjelaskan mawaddah dengan al-maḥabbah (cinta), sedangkan raḥmah dengan al-ra’fah (belas kasih atau kelembutan), atau syafaqah (welas asih). Penjelasan ini penting karena memperlihatkan adanya kedekatan makna, bukan pemisahan mutlak antara dua istilah (Dimasqy, 2015; Zuhaili, 2013)

Minggu, 01 November 2026

Dalam firman Allah Swt, Qs. Ruum, ayat 21, ada kata sakinah :  

﴿وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ  ٢١﴾ [ الروم:21]

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [Ar Rum:21]

Sudah menjadi lisan-budaya dari masyarakat kita, bila ada saudara, rekanan atau tetangga yang melangsungkan pernikahan, kemudian kita mendoakannya, supaya pernikahannya bisa bertemu dengan kualitas keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.

Kamis, 29 Oktober 2026

Tanggal 28 Oktober selalu datang menyapa dengan seremoni tahunan: upacara bendera, pembacaan teks Sumpah Pemuda, dan rentetan tagar patriotik di linimasa media sosial. Namun, di balik riuhnya perayaan tersebut, muncul sebuah pertanyaan reflektif yang kian relevan bagi generasi muda masa kini: Seberapa dalam nilai-nilai Sumpah Pemuda meresap ke dalam nadi kehidupan keseharian, di tengah gempuran individualisme digital, polarisasi opini, dan krisis orientasi masa depan?


Generasi muda hari ini hidup di era yang paradoks. Mereka adalah digital natives yang terkoneksi secara global dengan kecepatan cahaya, namun kerap merasa terasing di ruang-ruang sunyi mereka sendiri. Batas negara melebur, informasi tanpa batas tersaji di genggaman, tetapi kemampuan merajut komitmen kebangsaan sering kali tereduksi menjadi sekadar simbol seremonial semata.

Minggu, 25 Oktober 2026

Di ruang-ruang kelas sekolah di seluruh penjuru negeri, sebuah ritual tahunan yang sarat ketegangan kembali berulang. Lembaran kertas berisi deretan angka dan predikat dibagikan kepada para siswa. Ada isak tangis kekecewaan karena angka-angka di kertas itu tidak mampu menembus standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), namun ada pula pekik kegembiraan tatkala seorang siswa berhasil merangsek ke peringkat tiga besar di kelasnya. Di saat yang sama, para orang tua menunggu di rumah dengan debar jantung yang sama, berharap anak-anak mereka pulang membawa selembar rapot dengan deretan nilai yang memuaskan.



Sejak berabad-abad lalu, sistem pendidikan formal modern kita telah lama mengidentifikasi keberhasilan belajar melalui instrumen yang terukur secara kuantitatif: nilai ujian, indeks prestasi kumulatif (IPK), medali olimpiade sains, serta gengsi institusi tempat seseorang menimba ilmu. Angka 90 atau 100 dianggap sebagai mahkota tertinggi yang membuktikan bahwa seorang anak telah "berhasil" dididik.

"Karir mamah di sekolah ini, sudah mentok. Jadi wali kelas..." itulah curhatan seorang rekanan, yang dia ucapkan kepada anaknya, saat berdiskusi di rumah.



Menurut pengakuannya, pandangan itu disampaikan kepada anaknya, dengan maksud dan harapan, sang Anak mampu mencerna mengenai kegelisahan pribadinya sebagai seorang wanita karir, dan juga mampu menarik satu keputusan-strategis untuk masa depannya.

Dihadapan anak yang tengah bingung dengan masa depannya, padahal ijazah sarjana keperawatan sudah ada di tangannya, termangu sesaat. Entahlah, apakah dia sedang mendalami makna dibalik ucapannya itu, atau karena dia tidak mengerti dengan maksud dan tujuan orangtuanya mengatakan hal itu kepadanya.

Sabtu, 24 Oktober 2026

Pendidikan Khusus untuk anak berkebutuhan khusus (special teaching for special children), sudah ada di tengah-tengah Masyarakat (Lewis and Norwich 2005).  Kategorinya sudah cukup beragan, layanan pendidikan khusus itu, dimaksudkan untuk bisa melayani kebutuhan khusus peserta didiknya. 


Jumat, 23 Oktober 2026

"sebentar, saya akan terangkan dulu, biar yang lain, tidak menjadi dungu..." sebuah ungkapan, yang nyaris kerap meluncur dari lisan seseorang, yang pernah dianggap sebagai filosof, dan penggagas pentingnya budaya akal sehat.


Kendati tidak semua orang merasakan atau menyadarinya, sejatinya dibalik kalimat itu, ada nilai tawaran, sekaligus juga batasan, dan bahkan interogasi pada orang lain.

Mengapa ?

Kamis, 22 Oktober 2026

Setiap pagi, gerbang sekolah terbuka menyambut ribuan derap langkah kaki para siswa. Dengan seragam rapi, tas berbeban buku, dan tumpukan harapan orang tua di pundak, mereka melangkah menyusuri koridor-koridor kelas. Namun, di balik rutinitas harian yang tampak biasa ini, ada sebuah drama kehidupan yang tengah berlangsung: pencarian identitas dan peletakan batu pertama bagi bangunan masa depan.

Bagi sebagian besar remaja, sekolah sering kali dianggap sekadar tempat persinggahan kewajiban—ruang untuk menggugurkan kewajiban belajar, mendapatkan nilai di rapot, dan bertemu teman sebaya. Padahal, sekolah adalah sebuah simulator kehidupan. Cara seorang siswa bersikap, merespons tantangan, dan berinteraksi di lingkungan sekolah adalah miniatur dari bagaimana ia akan mengemudikan kehidupannya di dunia nyata kelak.

Selasa, 20 Oktober 2026

Setiap kali badai modernitas menghentak dengan segala riuh kecemasan—mulai dari krisis eksistensial generasi muda, polarisasi politik yang melelahkan, hingga kegersangan spiritual di balik gemerlap pencapaian materi—manusia selalu mencari satu titik jangkar. Sebuah titik tempat jiwa bisa melabuhkan seluruh lelahnya, tempat sepasang mata tak lagi silau oleh fatamorgana, melainkan teduh oleh kedamaian yang hakiki. Di dalam tradisi teks suci Al-Qur'an, jangkar kedamaian itu dirangkum dalam sebuah frasa pendek yang menyimpan daya magis yang luar biasa: qurrata ’ayun (قُرَّةُ أَعْيُنٍ).


Secara literal, masyarakat Arab klasik menggunakan metafora qurrah yang berakar dari kata qarra—artinya dingin atau tenang—untuk menggambarkan kondisi mata yang menjadi sejuk. Ketika seseorang mengalami kebahagiaan yang begitu mendalam setelah melewati padang pasir yang terik atau penderitaan yang panjang, air mata yang keluar dari pelupuk matanya terasa dingin. Inilah qurrata ’ayun: air mata kebahagiaan, puncak kepuasan batin, dan ketenangan yang tak tergoyahkan oleh badai luar.

Senin, 19 Oktober 2026

Sebuah kecelakaan lalu lintas dapat berlangsung hanya dalam hitungan detik. Suara benturan, tubuh yang terlempar, kaca yang pecah, dan kepanikan orang-orang di sekitar menjadi bagian dari peristiwa yang mungkin segera berlalu. Korban yang selamat kemudian dibawa ke rumah sakit. Luka dijahit, tulang yang patah ditangani, dan tubuh perlahan dipulihkan. Namun, benarkah semuanya selesai ketika luka fisik mulai mengering?


Bagi sebagian orang, jawabannya tidak sesederhana itu. Ada yang terus terbayang suara benturan setiap kali mendengar kendaraan mengerem mendadak. Ada yang merasa cemas ketika harus melewati jalan tempat kecelakaan terjadi. Ada pula yang sulit tidur karena ingatan tentang peristiwa tersebut muncul berulang kali, seolah-olah kejadian itu baru saja berlangsung.

Minggu, 18 Oktober 2026

Kita bisa berdebat masalah ini. Makan Bergizi Gratis itu, projek kemanusiaan, atau projek politik ? sebiuah pertanyaan, yang bisa membelah kita bersama, dalam posisi keberpihakannya sendiri. Mengapa, program ini, terus saja menjadi hal yang dibincangkan banyak orang, dan bahkan, kerap kali memantik diskusi pelik, dan bahkan emosional ? bisa jadi, satu diantara sekian masalah itu, karena ada selimut tebal yang mengitarinya.



Betul. Selimut tebal itu, adalah ketidakjelasan orientasi negara dalam mengembangkan sebuah program. Program yang diselenggarakan hari ini, dan atau selama ini, seperti pembangunan rumah murah, bantuan tunai, subsidi BBM, Bantuan Operasional Sekolah, koperasi merah putih, dan MBG, ada di persimpangan jalan ideologi!

Sabtu, 17 Oktober 2026

Di sudut sebuah pura di Bali, asap kemenyan membubung tinggi membawa wewangian sajen menuju langit, diiringi dentang genta dan rafal mantra yang diucapkan secara berulang. Beberapa ratus kilometer dari sana, di tengah riuk-pikuk megapolitan Jakarta, seorang pemuda menundukkan kepala di dalam gerbong kereta komuter, jemarinya sigap menggeser layar ponsel pintar yang menampilkan aplikasi kumpulan doa harian. Sementara itu, di sebuah desa terpencil di kaki gunung, sekelompok warga berkumpul mengelilingi hidangan tumpeng, menadahkan tangan sembari merapalkan doa-doa keselamatan dalam bahasa lokal yang kental.

Secara teologis, doa adalah sarana komunikasi spiritual antara manusia dan Sang Pencipta—sebuah bentuk kepasrahan, permohonan, atau ungkapan syukur. Namun, jika kita menanggalkan sejenak kacamata dogmatis dan memandangnya melalui lensa studi budaya (cultural studies), doa bertransformasi menjadi fenomena yang jauh lebih kompleks. Doa bukan lagi sekadar ritus agama yang privat dan abstrak, melainkan sebuah praktik budaya (cultural practice) yang sarat dengan simbol, relasi kuasa, identitas, dan performativitas.

Jumat, 16 Oktober 2026

Di dalam denyut kehidupan manusia, doa acapkali dipahami sebagai ruang paling privat, sebuah bisikan sunyi yang melompat dari relung kalbu menuju Yang Mahakuasa. Namun, jika kita menyingkap tirai teologisnya dan mengamatinya melalui kacamata akademis, doa bukanlah sekadar ritus spiritual tanpa wujud. Doa adalah sebentuk peristiwa bahasa dan manifestasi budaya yang amat kaya.


Melalui bahasa, doa menstrukturkan harapan, ketakutan, dan ketundukan. Melalui budaya, doa mewariskan pandangan dunia (worldview), tata nilai, serta cara suatu masyarakat memposisikan dirinya di tengah semesta. Kajian antropologi linguistik dan sosiologi kebudayaan menyingkapkan bahwa dalam setiap bait doa yang dilantunkan, terekam jejak peradaban yang panjang.

Rabu, 14 Oktober 2026



Sahabatku,
Berita kematianmu itu sangat mengagetkan diriku, diri mereka dan diri kami semua
Aneh bin ajaib
Kepastian adalah kepastian, tetapi kepastian ini yang kerap mengundang keraguan
Ragu akan kebenaran informasi, dan ragu akan kenyataan yang terjadi saat ini,
Kami yang mendengarkannya, dengan koor yang sama mengajukan pertanyaan, “Benarkah semua itu adalah sebuah kenyataan”,  

Selasa, 13 Oktober 2026

 
aku tak pernah melihat,
apa dan harus bagaimana aku menatap,
tapi kenapa aku arus berucap
dirimu selalalu tampak, walau mataku terus ku pejamkan

Senin, 12 Oktober 2026

Kadang. kita semua ini sekedar bisa berharap. Tidak lebih dari itu. Bahkan, ada perjuangan lain, selain itu. Bahasa budayanya, langkah terakhir bangsa kita ini, sekedar 'mengurut dada'. Selepas itu, tidak ada lagi langkah yang bisa dilakukan. Tidak ada. Karena langkah berikutnya, kembali pada kalimat pertama tadi, sekedar berharap, dan mengurut dada. Situasi apapun, dan bahkan sesulit apapun, tidak ada pilihan lain, selain mengelus dada, dalam posisi berharap sesuatu keajaiban terjadi dalam kehidupanannya.



Terkait hal ini, muncul pertanyaan, apakah karakter ini, bagian dari DNA budaya kita ? ataukah, itulah yang dimaksud dengan gen-budaya kita, selama ini, dan akan terus menerus serupa itu ? Sebuah pertanyaan, yang perlu dijadikan bahan renungan dan refleksi bersama.

Kamis, 08 Oktober 2026


Gambar terkaitWafatnya BJ Habibie, 11/9/2019, meninggalkan luka yang mendalam bagi bangsa ini. Tidak sedikit, adaipun tidak disebut semua warga negara, turut merasakan duka atas kepergiannya. Kepergian, Bapak Demokrasi, Bapak Teknologi bangsa Indonesia ini, meninggalkan duka yang mendalam bagi bangsa Indonesia. Dari hidupnya itulah, kita menemukan trisula nilai hidup yang berkualitas.

Rabu, 07 Oktober 2026

Dalam satu tahun terakhir, kita, publik, khususnya dunia pendidikan mendapat suguhan menarik terkait kebijakan pendidikan. Kebijakan pendidikan yang kita maksudkan itu, yakni munculnya sekolah alternatif, dengan berbagai nama, baik yang diciptkan Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat.


Sebagaimana yang diketahui bersama, di Pusat mengeluarkan kebijakan mendirikan dan mengembangkan Sekolah Garuda, dan Sekolah Rakyat, dan Universitas Republik Indonesia. Sekolah Garuda untuk mendidik anak unggul dan berkualitas. Sekolah Rakyat digawani oleh Kementerian Sosila untuk warga negara tidak mampu. Sedangkan Universitas Republik Indonesia diperuntukkan untuk mendidik calon pemimpin bangsa. Begitulah visi dan misi umumnya. 

Senin, 05 Oktober 2026

Tadi malam, sebagian diantara kita, ada yang menyaksikan pertandingan sepakbola Tim Nasional Indonesia lawan Thailand. Pertandingan final di ajang FIFA ASEAN 2026. Indonesia sebagai tuan rumah, dan juga, dipersepsikan memiliki skuad yang istimewa, tentu saja, diharapkan oleh rakyat Indonesia menjadi kampiun di ajang regional kali ini. 


Begitulah harapannya !

Tapi, apakah harapan itu terwujud ? di sinilah ceritanya, bisa dimulai.

Minggu, 04 Oktober 2026

Untuk membangun kekuatan kerjasama, ada  hal kecil yang kerap diabaikan. Pengakuan. Memberikan pengakuan, adalah bentuk lain dari upaya sadar untuk memperkuat kerjasama, solidaritas, dan nilai kebersamaan. Tanpa ada pengakuan, setiap orang akan merasa jauh, dijauhkan dan terjauhkan, atau bahkan merasa tidak ada.



Adakalanya, seseorang itu memiliki kemampuan lebih dan  juga memiliki kemauan lebih. Namun, karena merasa tidak diakui, maka seluruh hal yang ada dalam dirinya itu, tidak muncul dan tidak dimunculkan. Mereka lebih suka menutup diri, dan menjaga jarak dengan orang lain, termasuk dalam konteks kelembagaan.