Just another free Blogger theme

Rabu, 31 Desember 2025

Setiap tiba malam tahun baru, kilatan pertanyaan 'apa makna tahun baru", selalu muncul. Muncul, hadir, dan menggoda pikiran. Seperti malam ini juga. Saat anak terkecilku merengek, ingin main di malam ini, dengan alasan tahun baru, malah kemudian muncul pertanyaan itu lagi.


Emang, apa makna tahun baru buat kalian ?

"Iya, kan, sekarang malam tahun baru, harusnya boleh dong main, seperti orang lain juga, banyak yang  main, liburan atau hiburan", ungkapnya. Kiranya, jawaban yang serupa, akan dikedepankan oleh beberapa orang diantara kita, bila dihadapkan pada pertanyaan sejenis, di malam seperti hari ini. Jawaban itu, rasanya tidak akan jauh berbeda dengan harapan, atau hasrat sejumlah orang yang ada di sekitar kita, yang bermaksud untuk mengisi malam tahun baru ini.

Selasa, 30 Desember 2025

Jelang akhir tahun. Ini adalah pengalaman empirik, yang dapat kita jalani hari ini. Saat ini, waktu menunjukkan pukul 06.38. Saat huruf itu ditulis. Tentunya, bebeapa huruf kemudian, dituliskannya, bukan pada detik itu, dan juga bukan pada waktu itu. Semuanya menunjukkan perjalaan menuju. Menuju akhir tahun.



Sudah biasa, dan terucap dalam lisan. hari-hari ini, seperti ini, adalah hari-hari jelang akhir tahun, nanti kemudian, setiap orang akan merayakan tahun baru, dan selamat tinggal tahun lama.

Senin, 29 Desember 2025

Geografi adalah ilmu pengetahuan tentang permukaan bumi. Geografi mempelajari keanekaragaman permukaan bumi. Perkembangan ilmu geografi, diawali dari berbagai tulisan yang dibuat oleh para penjelajah, petualang, atau ilmuwan yang melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Karena ada keragaman fenomena kehidupan di muka bumi ini, dan kemudian dideskripsikan secara ilmiah, maka pengalaman dan perjalanan itu, menjadi sebuah perjalanan geografi. Ibnu Batuta adalah salah satu dari petualang di zaman klasik, yang kemudian dikenal sebagai seorang Geograf. Oleh karena itu, prinsip dasar dan prinsip utama geografik itu adalah obervasional atau fenomenal. Ini penting, dan perlu ditegaskan dengan seksama.  Bukanlah geografi, bila tidak menunjukkan peristiwa atau fakta yang fenomenal, atau terobservasi.

Sudah cukup lama, hadir dalam pikiran ini, pertanyaan kritis yang entah mengapa kerap hadir menghantui. Pertanyaan itu, adalah apakah observasi benar-benar, menjadi ciri dari keilmuan geografi ?  Pertanyaan ini, terasa konyol. Naif. Tetapi, saat pertanyaan itu hadir, rasanya tetap tidak bisa dihindari. Dengan kata lain, pertanyaan itu, tetap memerlukan jawaban dari kita semua, khususnya mereka yang belajar dan mempelajari Geografi sebagai disiplin ilmu.

Wacana ini, ingin mengajak pembaca masuk ke wilayah yang praktis dan operasional. Yakni, membincangkan masalah kebencanaan dalam konteks pembelajaran. Khususnya dalamn konteks sosialisasi dan komunikasi informasi kebencanaan kepada generasi muda, atau masyarakat pada umumnya, termasuk di lingkungan pendidikan dasar dan menengah. Tema ini penting untuk dibicarakan, seiring dengan adanya gejala kebencanaan yang terjadi di sekitar kita, dan menjadi perhatian kita semua. 



Tentunya, setiap orang akan memberikan pandangan sesuai kapasitas, atau peran dan posisinya. Orang yang di rumah, akan berbeda peran dengan mereka yang ada di lapangan. Perjuangan dan ketulusan dari Ferry Irwandi, sudah tidak disanksikan lagi. Beliau dan juga kelompok yang seperti beliau, memiliki kemampuan luar biasa untuk terjun ke lapangan. Sementara, yang lain, ya, semisal saya hari ini, hanya bisa bermain di depan monitor atau di depan papan tulis saja. Kendati demikian, menurut saya, itu adalah  biasa. Hal yang luar biasanya, adalah mampu memaksimalkan peran dan fungsi, di setiap posisinya masing-masing, sehingga bisa saling mengisi dan berkontribusi. 

Yeiii yyaaah... agak sedikit bela diri, kali ya. Begitu bukan pa Anggota Dewan yang terhormat ? Iya, kan, kita tidak boleh iri, dengan kemampuan orang lain, saat mampu memainkan peran maksimalnya, di bidang yang walaupun berisiran dengan profesi kita sendiri....

Minggu, 28 Desember 2025

Dalam konteks politik Islam, kita tidak banyak menemukan jasa dan kontribusi politiknya dari seorang Ibnu Mu'tazz. Namun, nama dan jasa intelektualismenya, tidak bisa diabaikan, dan yakin akan dikenang sampai akhir zaman. Khususnya dalam konteks sastra atau peradaban Islam.  



Nama lengkap tokoh yang kita maksud ini, adalah  Abu al-‘Abbas ‘Abdullah ibn al-Mu‘tazz Billah ibn al-Mutawakkil ‘Ala Allah ibn Mu‘tashim Billah ibn Harun al-Rasyid. Ia lahir di lingkungan istana pemerintahan ‘Abbâsiyyah di Bagdad pada 22 Sya‘ban 147 H, bertepatan dengan  31 Oktober 861 M. Keluarganya menyukai sastra Arab dan musik.

Sabtu, 27 Desember 2025

Publik masih bertanya-tanya, apa hasil akhir dari narasi kebencanaan yang sedang terjadi di tengah perjalanan bangsa Indonesia ini ? Kita semua,  merasakan dan menyaksikan, bahwa di ruang publik ini, sudah ada sejumlah komentar, rasanya sudah bermunculan, bahkan cukup banyak sudut pandang, tersajikan dalam ragam platform media komunikasi ini. Namun, sebagian masyarakat, tentunya, masih tetap mengajukan pertanyaan apa konklusi yang dianut oleh Pemerintah, terkait dengan kebencanaan yang terjadi saat ini.



Pertanyaan ini penting untuk diajukan.  Bahkan, bisa jadi, pertanyaan ini, menjadi pokok soal yang perlu terus dikejar, dan dikawal. Bila saja, pertanyaan ini tidak ada jawabannya, dan atau jawabannya tidak sesuai dengan esensi kebencanaan yang terjadi saat ini, maka, hipotesis kita yang kemarin akan ada pembenaran lagi. Bencana akan terjadi lagi, di masa yang akan datang, dengan sebab dan pola yang serupa, bahkan bisa  lebih buruk dari yang sudah terjadi.

Dalam konteks ini, cermatan kita terhadap narasi dan argumentasi kebencanaan dari nalar-Pemerintah, menjadi sangat penting untuk dipelototi bersama. Bukan hanya kita, semua pihak, hendaknya memiliki kekompakkan nyata, dalam mengamati proses pengolahan data dan informasi kebencanaan yang mereka kumpulkan, untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan serta proses pengambilan kebijakan dan sikap politiknya di masa mendatang.

Jumat, 26 Desember 2025

Bencana kerap kali terjadi, dan menghampiri negeri kita. Bukan sekali, tetapi berkali-kali. Tidak lagi sederhana, tetapi kompleks. Tidak pernah memberikan keceriaan, yang ada penderitaan. Tidak sesaat, lebih banyaknya derita yang berkepanjangan. Namun demikian, persoalan pokok karakter bangsa kita, merujuk pada sebuah pertanyaan, apa yang ada dalam nalar kita ?



Tengok dan telaahlah, struktur berpikir bangsa kita, saat dan dalam konteks merespon bencana dan kebencanaan ini. Tentunya, kita tidak langsung menelaah struktur otak manusia Indonesia saat ini. Mustahil  itu dilakukan. Karena, jarak dan ruang, serta butuh waktu yang lama.  Hal yang mudah bisa kita lakukan, adalah memahami kenampakkan reaksi, atau respon publik dan tentunya elit bangsa Indonesia ini.

Kamis, 25 Desember 2025

Saat pertama kali melihat hasil TKA, tentunya akan ada pihak yang kaget. Kaget dalam pengertian menatap angka-angka yang tertera dalam daftar hasil TKA 2025. Misalnya, score Bahasa Inggris, 38.65, dan score Matematika 40.41. Kecil banget !



Iya, kecil banget, kalau dibanding dengan nilai rapot anak-anak SMA di sekolahan. Karena di rapot, umumnya, diatas kriteria yang sudah disepakati bersama oleh komunitas tenaga pendidik di satuan pendidikan tersebut, atau MGMP (musyawarah guru mata pelajaran).

Bencana, ada di depan mata kita. Ada di sekitar kita. Terasa oleh tubuh  kita, dan juga perasaan serta pikiran kita. Bencana ini, tak pernah janjian, namun kerap kali datang. Datangnya, tak pernah ada pemberitaan, namun  beritanya tetap ada dalam ingatan kita. Entah, dan mengapa, kita merasa tak pernah mengundang bencana, tapi bencana dengan pasti dan yakin, datang karena undangan manusia itu sendiri. 



Di sinilah. Lisan kita sampai berbusa-busa, merasa tidak pernah mengundang bencana. Tak pernah sekalipun mengundangnya. Bahkan, terbersit dalam pikiran pun, tak pernah ada pikiran untuk mengundang bencana. Karena memang, saat melakukan banyak hal, mungkin jadi, dia tidak banyak mikir apa-apa. Sehingga, saat dikunjungi sama bencana, manusia banyak yang mengelaknya.

Rabu, 24 Desember 2025

Tulisan ini, kadang disebut mengkhayal. Kali aja bisa. Mudah-mudahan masuk akal, dan bisa dipahami. Atau, andai saja, usulan ini disetujui. Kira-kira itulah, kecamuknya pikiran saat menuangkan gagasan ini. 


Lha mengapa demikian ?

Tentunya. Alasan utama ada keraguan terhadap usulan ini, karena setiap orang memiliki asumsi dan tujuan sendiri, yang kadang tidak banyak orang bisa memahaminya. Termasuk masalah perayaan tahun baruan.

Selasa, 23 Desember 2025

Istilah ijon, ada dalam tradisi transaksi ekonomi tradisional. Di kampung-kampung kita, kerap mendengar istilah ijon. Istilah ini, biasa digunakan untuk praktek penjualan produk pertanian, sebelum objek penjualan siap jual. Misalnya, menjual mangga satu atau beberapa pohon mangga. Seorang calon pembeli menaksir pohon mangga, yang masih bunga, dengan taksiran harga yang dia sanggup. Kemudian, si penjual akan menerima uang, sesuai kesepakatannya. Si penjual tetap memiliki kewajiban merawat pohon itu. Namun resiko akhir dari kondisi pohon mangga, akan tetap menjadi tanggungan si pembeli.



Resiko yang bakalan terjadi, dalam praktek ijon itu, bisa menguntungkan, dan bisa merugikan. Bila kedapatan buahnya lebat, akan menguntungkan pembeli, dan merugikan penjual. Sedangkan, bila ada musibah, atau gagal berbuah, maka si penjual untung, dan merugilah bagi si pembeli. Maka karena itu, praktek jual beli dengan sistem ijon, tidak diperkenankan oleh ajaran Islam, karena mengandung gharar (perjudian).

Senin, 22 Desember 2025

Menarik. Sekaligus mohon maaf kepada masyarakat Aceh dan sekitarnya, khususnya yang terkena bencana. Untuk yang kesekian kalinya, kondisi saudara-saudara kita di sana, masih tetap sekedar jadi objek pembicaraan saja. Penulis mengajukan permohonan maaf, karena kerap kali menjadikan kejadian yang menimpa saudara kita di sana, sekedar jadi objek narasi, wacana atau objek konten. Termasuk kali ini. Penulis masih saja, memanfaatkan kejadian itu sebagai objek konten pribadi ini. Namun demikian, maksud hati dari penulis adalah menyadarkan pembaca, khususnya yang berkecimpung dalam dunia pendidikan (Geografi) terkait dengan peran nyata dalam membaca kasus serupa ini.



Sekali lagi, mohon maaf, bila kata-kata ini, kurang berkenan. Peristiwa yang terjadi saat ini, sejatinya dapat dijadikan pelajaran penting bagi  kita, khususnya yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, Pendidikan Geografi.

Minggu, 21 Desember 2025

Buku ini ditulis bersama. Saya menulis sebagian, dan begitu pula rekanan. Beliau adalah Dosen Bahasa Indonesia, di Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung. Beliau adalah doktor dalam bidang ilmu bahasa, khususnya Bahasa Indonesia. Karenanya, tidak perlu diragukan lagi kompetensinya, terkait hal baca membaca ini.


Lha, kalau demikian, lantas, apa kapasitasnya saya, untuk urun rembuh menulis wacana ini ? apakah kompeten untuk tema ini, dan bagaimana bisa hal ini, bisa dipublikasikan saat ini ?

Saat media sosial kita ramai membicarakan, sikap Pemerintah terkait bantuan Luar Negeri, saya malah teringat dan tertarik dengan pengalaman di masyarakat. Sama, terkait masalah kedermawanan. Dari sikap kedermawanannya inilah, yang kemudian, ternyata, sebagaimana yang ada di  kehidupan masyarakat pun, memancing friksi dan intrik. Artinya, tidak semua orang, setuju dengan kedermawanan itu, manakala ada sisi lain, yang memantik keprihatinan.



Terkait hal inilah, kemudian mengantarkan pikiran ini, untuk melakukan strukturasi terkait tipe-tipe kedermawanan, yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak akan banyak menggunakan teori, tetapi memetakan kelakuan yang ada, dan bertemu dalam kehidupan nyata kita.

Sabtu, 20 Desember 2025

Ada dua kejadian, yang perlu menjadi bahan renungan kita bersama. Kedua kejadian ini, terkait dengan kebaikan orang.  Pertama, disampaikan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat  (DPR) dari Fraksi Partai Gerindra, Endipat Wijaya, menyinggung donasi warga untuk korban bencana Sumatera yang viral meski angkanya lebih kecil dari bantuan pemerintah. Dia menilai seharusnya bantuan pemerintah yang besar juga diketahui oleh masyarakat.



Endipat juga menyindir relawan yang datang ke lokasi bencana dan kemudian viral. “Orang yang cuma datang sekali seolah-olah paling bekerja di Aceh, padahal negara sudah hadir dari awal. Ada yang baru datang, baru bikin satu posko, ngomong pemerintah enggak ada. Padahal pemerintah sudah bikin ratusan posko di sana,” ujar Endipat. Begitulah, pemberitaan yang disampaikan oleh sejumlah  media.

Jumat, 19 Desember 2025

Ada berita menggembirakan. Berita ini, terkait dengan nilai kedermawanan bangsa Indonesia. Inilah beritanya.


Dalam tujuh tahun terakhir secara berturut-turut sejak tahun 2018-2024, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia berdasarkan riset publik Charities Aid Foundation dalam tajuk World Giving Index. Predikat ini merupakan modal sosial bagi Indonesia.  

Setelah tahun 2018, Indonesia menggeser Myanmar yang pada tahun 2017 sebagai negara paling dermawan di dunia, posisi pertama Indonesia belum pernah tergeser hingga tahun 2024. Tren positif Indonesia secara skor indeks stabil naik dari 59 hingga 74. Angka yang disebut terakhir bahkan menjadi skor indeks tertinggi untuk sebuah negara pada World Giving Index (WGI) sejak dirilis pada tahun 2010

Namun, dalam waktu terakhir ini, kita pun, mendapat berita yang mengagetkan nalar kita. Pemerintah menolak bantuan asing, terkait dengan uluran tangan mereka untuk korban bencana di Sumatera.

Kamis, 18 Desember 2025

Bagi sebuah negara sekular, tidak akan membedakan antara organisasi sakral dan organisasi profan. Sementara, untuk sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai dan norma agama, simbolisasi kesakralan dan Profanitas akan senantiasa hadir di benaknya. Disadari atau tidak, kesadaran ini, akan muncul dari alam bawah sadarnya. Lembaga ekonomi, olahraga, dapat lah disebut sebagai salah satu contoh lembaga profan atau duniawi, sedangkan lembaga keagamaan, masuk dalam kategori lembaga sakral atau suci. 



Tentunya, pembedaan itu sendiri, tidak selamanya sama, dan bisa berbeda pendapat. Bergantung sudut pandang. Penulis akui dan sadari itu. Namun untuk memudahkan pemahaman sederhana saja, agama dan organisasi keagamaan, serta seluruh kegiatan keagamaan di dalamnya adalah kegiatan-kegiatan sakral.

Rabu, 17 Desember 2025

Bencana sudah nampak. Korban sudah jadi fakta. Kehilangan harta benda, bukan sekedar berita. Namun lucu dan luar biasanya, di masyarakat kita, khususnya Pemerintah dan pejabat negara masih melahirkan kontroversi yang kehilangan nilai pragmatisnya. Tidak sedikit, dan cukup sering kita mendengar, sikap, tindakan dan kebijakan pemerintah atau elit negara ini, malah melahirkan perbincangan yang tak berkesudahan, dengan mengabaikan fakta penderitaan rakyat.


Sebagian sudah diklarirfikasi, dan sebagain lain sudah pula minta maaf. Tetapi, catatan digital ini, masih tetap juga perlu dijadikan bahan renungan bagi kita semua.

Selasa, 16 Desember 2025

Bagi seorang Geograf, konsep jarak itu penting. Jarak (distance) adalah ruang antara dua titik. Ruang antara dua titik ini, merupakan gejala keruangan, yang memiliki makna tersendiri, baik itu dalam pengertian kedekatan, keterjangkauan, atau keakraban. Semua hal itu, bisa ditafsirkan dalam konteks memahami hakikat jarak.



Ketidaktepatan kita dalam mengartikan dan memanfaatkan jarak, potensial melahirkan narasi keruangan yang beragam. Karena kesalahan mengartikan jarak, bisa menyebabkan distintegrasi sosial, dan karena sempurna memanfaatkan jarak mampu membangun kerukunan dan keharmonian. 

Senin, 15 Desember 2025

Dalam konteks peradaban hari ini, kita, baik sebagai guru maupun sebagai orangtua, kerap kali dihadapkan pada perilaku anak rejama yang aneh-aneh, dan mengusik rasa. Iya, betul, mengusik rasa. Bukan sekedar menyentuh, dan mengusik, bahkan ada yang tercabik-cabih rasa.


Sewaktu masih ramai, memanfaatkan kendaraan umum bernama angkutan kota (ANGKOT), tak jarang, bila pulang kerja, akan bertemu dengan pasangan remaja, di angkot duduk berduaan. Bersandingan. Bahkan, bercumbu mesra. Mereka tidak risih dengan orang yang ada di sekitarnya.

Minggu, 14 Desember 2025

Ide ini, sejatinya bukan barang baru. Begitulah, dalam pandangan para ahli. Eh, mungkin. Penulis sendiri, tidak begitu banyak membersamai perkembangan akademik di dunia kampus. Penulis sekedar membaca dari apa yang ada, diterima di media sosial, dan atau kepikiran saat menuangkannya dalam ruang-digital ini. Kendati demikian, ide ini pernah disampaikan di beberapa kesempatan, walaupun belum banyakmendapat respon. 

Mungkin tidak menarik.


Sekali lagi, walaupun tidak menarik, dan belum merangsang pemikiran sejumlah pihak, di ruang-digital ini, penulis ingin sampaikan ulang mengenai perkembangan karakter disiplin ilmu geografi.  

Jelang akhir tahun, kalangan Geograf atau Pendidik Geografi, akan disuguhi berita yang bisa menyentuh nalar. Tentu saja, hal yang ingin disampaikan di sini, bukan mengenai bencana alam yang melanda hampir di sejumlah titik di Indonesia. Daerah bencana ini, bukan hanya di perkotaan, tetapi juga di sejumlah kawasan luar perkotaan, di berbagai propinsi di Indonesia. Banyak pihak, menyebutnya sebagai bencana hydrometerologi.



Kita tidak akan mengulas masalah itu. Wacana itu, sudah banyak dikedepankan oleh banyak pihak. Bahkan, kita pun, sudah sampaikan beberapa ulasan terkait masalah ini, di tulisan sebelumnya. Termasuk pandangan mengenai penting alih paradigma eksplorasi sumberdaya eekonomi. Pada bagian ini, kita bermaksud untuk melihat ada beberapa gejala yang menarik untuk dijadikan bahan renungan kalangan geograf.

Minggu, 07 Desember 2025

Disclaimer. Tulisan ini, lebih merupakan hipotesis, bahasa akademiknya. Sementara bahasa awamnya, dugaan dari orang luar terhadap fenomena yang terjadi. Tentunya, sebagai sebuah hipotesis atau dugaan pemikiran, atau istilah lainnya opini, terwarnai aura subjektif penulis. Penilaian serupa itu, tidak jadi soal. Maksudnya, penulis akui dan sadari itu. Terlebih lagi, tulisan ini, disampaikan dari jarak jauh, dan tetangganya saja. Karena itu, kemungkinan ada kekeliruannya sangat terbuka.



Pendahuluan pemikirannya, sebagai warga negara dan umat beragama, kita prihatin, dengan adanya kisruh di tubuh NU, yang melibatkan para petinggi organisasi. Ah, ketang, di negeri kita ini, memang seringkali, intrik dan konflik di level elit itu, bukan barang baru. Cukup sering, dan seringkali  menjadi konsumsi media. Terlebih lagi, bila organisasi kelompok yang bertikai itu, adalah elit-politik atau elit agama yang memililki massa melimpah.

Sabtu, 06 Desember 2025

Kebanggaan Indonesia, salah satunya bisa dialamatkan pada ketersediaan sumberdaya alam. Sewaktu Orde Baru, kita bangga dengan sumberdaya alam yang tidakdapat diperbaharui. Bahan Bakar fosil, seperti minyak bumi dan batu bara, menjadi andalan kita bersama. Namun, untuk konteks pembangunan ini, Indonesia belum berhasil paripurna, setidaknya kesejahteraan rakyat Indonesia belum terwujud secara merata.



Kemudian, alih paradigma atau alih pemikiran terjadi. Masyarakat kita dan Pemerintah secara bersama-sama bergerak menuju pengembangan energi terbarukan. Sumberdaya alam energi terbarukan ini pun, sangat-amat melimpah. Bisa dibilang, negeri kita ini, tidak akan pernah habis untuk deposit kekayaan alam terbarukan. Di daratan, dan lautan, begitu sangat melimpah.

Jumat, 05 Desember 2025

Dalam pekan ini, berita bencana alam, mewarnai seluruh media massa dan media sosial. Bukan hanya ilustrasi, foto atau dokumen, atau narasi. Narasi dan koreksi pun, terus bermunculan, berseliweran, dan tidak jarang saling baku-hantam gagasan di media virtual. Pro kontra, atau kritik dan dukungan, seperti biasa, terus mewarnai media massa dan media sosial kita.


Seperti biasa, dan sebagaimana biasa kita saksikan selama ini. Kritikan kepada Pemerintah, biasa mengalur, dan kemudian digulung oleh komentar keras dan pedas, dari ragam pihak. Bencana yang mengundang air mata, dan menguncang rasa, selain memantik simpatik, juga kritikan kepada pengampu kebijakan.

Kamis, 04 Desember 2025

Alhamdulillah, di pagi Jum’at ini, ada waktu untuk menafakuri firman Allah Swt, yang terungkap dalam al-Qur’an. Allah Swt berfirman :



﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ١٥٦ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ١٥٧ ﴾ ( البقرة/2: 155-157)

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).   Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.  (Al-Baqarah/2:155-157)

Menengok sejumlah kitab tafsir terkait ayat ini, kita menemukan beberapa inspirasi yang sangat mendalam. Kesan subjektif kita, selepas membaca ayat ini, kita diajak pada sebuah narasi yang luar biasa luas dan mendalam. Gaya bahasa yang digunakannya unik, dan menggugah emosi serta nalar si pembacanya.

Rabu, 03 Desember 2025

Bencana alam, kembali terjadi di beberapa titik di Indonesia. Kepedihan, kesedihan, duka dan respon keprihatinan menyeruak ke permukaan. Sebagai bagian dari kebersamaan, kepedulian dan juga simpati, mulailah mengalir dukungan baik doa, maupun material dan finansial ke wilayah bencana. Gerakan sosial ini, muncul dan berkembang, sebagai bagian dari fitrah kemanusiaan, yang kerap kali hadir dari lubuh kebangsaan, negeri tercinta ini.


Namun, dibalik itu semua, sekali lagi, muncul lagi pertanyaan, mengapa bencana alam serupa ini, kembali terjadi dan secara berulang terjadi lagi ?