Just another free Blogger theme

Jumat, 03 April 2026

Setelah menelaah problema kritis di atas, kita akan mencoba untuk melihat perkembangan pemikiran kegeografian, khususnya mengenai  hakikat kegeografian yang kita jelaskan di awal tulisan ini, dan kita tidak akan melihat perkembangan teorinya. Untuk mengakaji masalah yang terakhir ini, pembaca dapat menelaahnya tulisan Nathanael Daldjeoni mengenai “Perkembangan Filsafat geografi”. Buku tersebut, bermanfaat bagi kita untuk dijadikan pengantar dalam memahami tonggak-tonggak pemikiran kegeografian dari Herodotus sampai Hagget bahkan pemikiran kegeografi tahun 1970-an di abad 20-an sekarang ini.



Dengan tidak bermaksud untuk memotong bahasan, saat ini, kita hanyalah memfokuskan pada perkembangan akhir geografi dan tuntutan kontemporer pada disiplin ilmu geografi. Kenyataan ini, memang telah disadari sebagai salah satu kelemahan paper kita sekarang ini. Namun, hal tersebut itulah yang  penulis anggap sebagai satu problema penting di saat ini, sekaligus juga problema yang penulis lebih pahami dan mampu ditampilkan  pada kesempatan saat ini dibandingkan yang lainnya. Kendatipun begitu, bukan berati ketidakterbahasannya problema tersebut di atas, merupakan sabagai cacat-konsepsi, malahan penulis merasa yakin bahwa strategi ini adalah satu upaya yang strategis dalam menjawab beberapa tuntutan dan tantangan jaman hari ini. Sekaligus juga supaya menjadi bahasan yang berkelanjutan dan berkesinambungan  dengan tema-tema pemikiran berikutnya.

Kamis, 02 April 2026

Bila mencermati narasi yang muncul di media massa, tampaknya ada dua kategori narasi yang muncul. Narasi itu, memiliki intensitas yang berbeda, dengan aktor yang berbeda. Narasi itu, antara Iran dan Amerika Serikat, dan Iran dengan Israel. Kedua narasi itu, sejatinya, akan memiliki dua karakter dan implikasi yang berbeda.


Dua tema ini, menarik untuk dikaji secara cermat. Khususnya, membedakan antara yang terjadi dilapangan dengan yang terjadi di media massa. 

Rabu, 01 April 2026

Pertanyaan skeptis, yang biasa dan bisa dilontarkan, saat kita membincangkan masalah agenda perdamaian. Perdamaian antara Iran dengan Amerika Serikat/Israel.


Pertanyaan ini, penting untuk disampaikan. Karena narasi yang muncul di permukaan, khususnya di media Indonesia, pembicaraan perdamaian itu, tampaknya hanya dua arah, yaitu Amerika Serikat dengan Iran. Atau lebih tepatnya, narasi yang disampaikan Donald Trump dengan juru bicara Iran. Sementara, Pemerintah Israel tidak atau belum memberikan pernyataan yang mengarah pada kebutuhan untuk masuk ke meja perundingan.

Selasa, 31 Maret 2026

Ditengah gonjang ganjing kondisi perekonomian dunia, akibat peperangan Iran - Israel/Amerika Serikat, sejumlah negara di berbagai belahan dunia melakukan efisiensi. Efisiensi bukan sekedar terkait dengan efisiensi pemanfaatan minyak bumi, tetapi juga anggaran yang dimilikinya. Tersebab, bila terjadi boros dalam pemanfaatan energi di berbagai sektor kehidupannya, bukan hanya menyedot persediaan bahan bakar dan energi, tetapi juga akan menguras anggaran negara.


Dampak dari keadaan itulah, maka sejumlah negara mengeluarkan kebijakan khusus dalam menghadapi krisis minyak bumi kali ini. Kebijakan khusus itu, dikenal dengan sebutan efisiensi.

Teknik operasionalnya sangat  beragam. Ada yang melakukan pemotongan gaji pejabat negara, pemotongan anggaran belanja, dan juga penghentian sejumlah pegawai kontrak.

Senin, 30 Maret 2026

Lebaran atau idul fitri sudah berlalu. Beberapa hari lalu. Pada pekan ini, kegiatan rutin umat Islam, disejumlah titik daerah di Indonesia, dan mungkin orang Melayu, yaitu kegiatan shilaturahmi, atau kegiatan halal bihalal. 


Hampir bisa dipastikan, itulah kegiatannya.  Di awal kegiatan rutin, baik itu di sekolah, perkantoran, atau perusahaan.  Kegiatan hari pertamanya, adalah halal bihalal. Isinya, selain bersalaman, tentunya ada bentuk syukurnya, yaitu makan bersama dengan rekan sekantor.

Di sela-sela kegiatan itulah, ada khutbah dari pemuka agama. Temanya pun, tidak jauh, dari membahas makna dan hikmah idul fitri, dan atau tentang shilaturahmi.

Minggu, 29 Maret 2026

Genjatan senjata, bila ini yang diinginkan, terhadap Iran dan Israel-Amerika Serikat, tampaknya tidak sederhana.Tidak mudah. Bersifat kompleks dan komplikasi. Didalamnya ada banyak variabel dan kepentingan, yang tidak bisa sekedar diselesaikan oleh retorika Donald Trump. 



Mengapa demikian ?

Sebagaimana yang disaksikan bersama, awal mula peperangan ini, bukan urusan Iran dan Amerika Serikat. Sedekat apapun AS-Israel, namun, yang memulai babak peperangan ini adalah Israel. Sedangkan Amerika Serikat dengan Donald Trumpnya, terjebak dan terbawa arus-kepentingan oleh Israel.

Sabtu, 28 Maret 2026

Tentu saja, tidak akan terlupakan oleh banyak orang, dan banyak pihak. Iran, adalah salah satu negara yang mendapat embargo ekonomi dari Negara Barat, khususnya Amerika Serikat.  Di embargonya itu, bukan sehari-dua hari, bukan sebulan dua bulan, tetapi sampai pulihan tahun lamanya. Hampir 40 tahunan. Sementara, Israel mendapat bantuan sekitar 60 Trilyun pertahun dari Amerika Serikat untuk penguatan sistem pertahanan dan militernya.

Tetapi, dengan melihat dan menyaksikan peristiwa yang terjadi dalam dua bulan terakhir ini,  khususnya saat melihat kemampuan Iran menahan serangan Israel/Amerika Serikat, memberikan inspirasi penting bagi banyak pihak, ya khususnya, bagi mereka yang mau belajar.

Jumat, 27 Maret 2026

Bahasa manipulatif itu politik. Politik itu manipulatif. Mungkin itulah, pelajaran penting yang dapat ditarik, dari pengalaman kita, menyaksikan retorika peperangan antara Iran melawan Israel-AS. Setelah itu, kita, yang jauh dari 'realitas' itu, kemudian menafsirkan kemungkinan dan memetakan kemungkinan-kemungkinan yang sedang terjadi.



Lha kok bisa ya ?

itulah kenyataan hidup kita hari ini. Dan realitas itulah, yang sedang kita hadapi hari ini. Sejumlah informasi yang ada saat ini, dan ada dihadapan kita hari ini, bukanlah pesan-pesan yang memberikan makna, tetapi pesan-pesan yang menyembunyikan makna, dan atau malah makna itu, tersembunyi dari kode-kode bahasa secara global.

Kamis, 26 Maret 2026

Manusia, secara naluri, berhasrat untuk bisa mempertahankan diri. Apapun caranya. Itu adalah nilai instrinsiknya. Tidak jauh berbeda dengan ayam, kambing, srigala, atau harimau yang ada di hutan. Untuk konteks itulah, kita bisa paham,  mengapa kalangan filosof, bila mendefinisikan manusia, kerap diawali dengan kata "hewan..". Misalnya, secara ekonomi, manusia adalah hewan yang memiliki kebutuhan, secara sosial, manusia adalah hewan yang berkelompok (homosocius), sedangkan secara pendidikan disebutkan bahwa manusia adalah hewan yang bisa dididik (animal educandum), dan lain sebagainya.


Terkait hal itulah, maka untuk mempertahankan hidupnya, manusia akan berusaha melakukan ragam cara, aksi, dan kegiatan. Termasuk dalam urusan kebutuhan hidup. 

Rabu, 25 Maret 2026

Setidaknya, dalam dua minggu ini, kita mendengar ada kebijakan pemerintah, atau usulan dan pemikiran Pemerintah, yang diubah secara mendadak. Kebijakan yang dimaksudkan itu, adalah terkait dengan pendidikan dan penegakkan hukum.


Terkait dengan pendidikan,  ada kebijakan mendukung upaya penghematan karena imbas krisis minyak dunia. Karena ada peperangan antara Iran dengan Israel-AS, imbasnya terasa ke Indonesia.  Ancaman harga minyak yang melambung, dan ancaman kelangkaan, menjadi momok yang menakutkan bagi sejumlah negara di dunia ini. Termasuk Indonesia.

Selasa, 24 Maret 2026

Ada satu gejala yang menarik, dalam peperangan Iran - Israel/AS. Kemenarikannya itu, yakni terletak pada tangguhnya Iran dihadapan musuhnya, Israel/AS, kendati pimpinan tertinggi dan sejumlah pejabat tingginya, sudah gugur di medan perang. 



Apa yang menarik dari fenomena ini ?

Betul. Sisi menariknya itu, adalah solidaritas dan loyalitas pasukan, warga negara dan elit politik di Pemerintahan Republik Islam Iran. Kekompakkan mereka, bukan basa-basi, dan bukan ecek-ecek. Hal terbukti, setidaknya, selepas 3 minggu mereka menjalani peperangan melawan musuhnya, yaitu Israel/AS.

Senin, 23 Maret 2026

Tidak beda jauh dengan selepas perayaan Tahun Baru.  Euporia sebelum hari-H, sewaktu hari-H, dan lupa ingatan, selepasnya. Begitulah pengalaman kita, selepas merayakan idul fitri. bukan hanya tahu ini saja, tetapi tahun-tahun sebelumnya pun, kerap kali, serupa dan semakna ini. 



Hampir bisa dipastikan, paginya lelah, tetiduran sepanjang hari, dan kemudian, menarik kembali memori yang pernah dilupakan, beberapa waktu sebelumnya.

Kembali ke masa lalu !

Itulah kisahnya. 

Minggu, 22 Maret 2026

Pengalaman kali ini, menyentakkan pikiran lagi. Eh, bukan lagi, kali ya, menyentak kuat kesadaran diri, terkait adanya perubahan ritual keagamaan di pedesaan.  Penulis ingin sebut demikian, karena sejatinya, hal ini, sudah terjadi beberapa tahun terakhir. Namun, waktu-waktu itu, belum menjadi penyadaran terhadap diri, dan masih dianggap biasa saja. Sedangkan untuk kali ini, penulis merasakannya,  bahwa kejadian ini, tampaknya, sudah menjadi standar baku dalam pelaksanaan ibadah shalat ied di kampung ini.



Iya, betul. Kejadiannya, adalah saat jelang pelaksanaan Shalat Iedul Fitri. Dalam fiqh ibadah, rangkaian shalat iedul fitri, hanya ada dua, yakni khutbah shalat ied, dan shalat ied itu sendiri. Namun, dalam prakteknya, ternyata, ada perubahan atau lebih tepatnya ada inviasi praktis dari masyarakat Muslim, dalam kegiatan ini.

Sabtu, 21 Maret 2026

Seperti yang lain, dan seperti orang lain, pelaksanaan ibadah shalat Iedul Fitri, dilaksanakan di lapangan terbuka. Seperti itu jugalah, yang saya alami hari itu. Hari raya 1447 H, atau 21 Maret 2026.


Iya, betul, saya termasuk orang yang 'taklid politik' dalam berlebaran.  Pelaksanaan hari raya idul fitri yang saya jalankan itu, senantiasa dan selalu, mengikuti petunjuk dari Pemerintah. Alasannya, sangat sederhana, saya, tidak memiliki kemampuan menghisab, dan juga tidak memiliki waktu untuk merukyah. Maka karena itu, manut saja, kepada mereka yang memiliki kewenangan dan waktu untuk melakukan hal itu.

Jumat, 20 Maret 2026

Alhamdulillah. Lebaran sudah kita lewat. Berhari raya, beridul fitri, sudah kita jalani bersama. Ya, kita lakukan bersama, baik dengan keluarga, tetangga, sanak saudara, kenalan, dan bahkan tetangga di lingkungan rumah kita, walau kadang berbeda latar belakang keagamaan. Namun, setidaknya, pancaran kebahagiaan berhari-raya, dapat dirasakan, dan ditularkan energinya kepada orang yang ada di sekitaran kita.



Soalan kita hari ini, tentunya, buka soal lebaran atau idul fitrinya saja. Selepas kita, berkunjung ke sanak saudara, dan bahkan ada yang nadran atau nyekar, atau ziarah kubur, ke leluhur,  kemudian kita pulang kembali ke rumah tinggal kita, dan duduk istirahat di lorong rumah, atau di ruang tamu.

Kamis, 19 Maret 2026

Tanpa bermaksud mengecilkan, penting dan hikmah dari pelaksanaan Sidang Isbat. Namun, pertanyaan orang awam, dan publik hendaknya dapat dijawab bersama. Karena, manakala pertanyaan ini, dibiarkan menggantung, bukan hal mustahil, esok lusa, akan menjadi bom waktu, terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan.



Mohon izin, dalam narasi ini, menggunakan istilah anomali. Di kamus Bahasa Indonesia, kata anomali mengandung pengertian, n 1 ketidaknormalan; penyimpangan dari normal; kelainan; 2 Ling penyimpangan atau kelainan, dipandang dari sudut konvensi gramatikal atau semantis suatu bahasa; 3 Tek penyimpangan dari keseragaman sifat fisik, sering menjadi perhatian ekplorasi (misalnya anomali waktu-lintas, anomali magnetik). 

Rabu, 18 Maret 2026

Sudah menjadi agenda tahunan, dan kerap menjadi isu tahunan, apakah awal ramadhan, dan lebaran itu, bersamaan atau berbeda-beda ?  Pertanyaan klasik, tapi kadang menjenuhkan. Klasik karena perdebatannya, masuk kategori, isu lama dan lama-banget.  Kemarin ada isu itu, tahun sebelumnya ada itu, dan bahkan, dulu-dulunya, pun, ada isu tersebut. 



Andaipun ada yang mencoba melihat perbedannya, paling dalam urusan sosial. Kalau dulu, kerap ada intrik di tengah masyarakat dan elit, kalau sekarang, sudah lebih cair dari tahun sebelumnya.  Pada saat ini, isi adanya perbedaan itu, kerap tidak menjadi intrik, dan konflik. Tidak lagi. Sudah merasa biasa, terbiasakan, dan dipaksa biasa, menghadapi situasi serupa ini.

Selasa, 17 Maret 2026

 Ada pengalaman menarik, saat MAN 2 Kota Bandung mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang Lomba Sekolah Sehat (LSS) tahun 2019. Demi memanfaatkan momentum baik dan terbaik dalam LSS kali ini, pihak madrasah bukan saja, meningkatkan layanan pendidikan kepada peserta didik, tetapi juga mengajak partisipasi semua pihak, seluruh simpul penyelenggara layanan pendidikan di Madrasah untuk terlibat aktif dalam kegiatan persiapan LSS MAN 2 Kota Bandung ditingkat Kota (Bandung).


Kemenarikannya itu, setidaknya dapat disederhanakan menjadi beberapa hal penting, yang dapat dirumuskan sebagai model menyeluruh dalam penciptaan lingkungan sekolah (atau Madrasah) yang sehat. Penulis berharap, pengalaman yang berkembang di lingkungan MAN 2 Kota Bandung ini, dapat menjadi kekayaan inspirasi, minimalnya bagi keluarga besar MAN 2 Kota Bandung, lebih luasnya lagi bagi siapapun yang bermaksud untuk melakukan perbaikan layanan pendidikan dan penataan lingkungan pendidikan.

Senin, 16 Maret 2026

Sedih. 

Itulah kata, yang terendapkan dalam pikiran. Setelah berlalu beberapa hal dalam pengalaman hidup ini. Di hari itu, terpikirkan, bahwa hari ini, saya merasa sedih.



Ya, mungkin, kalian bertanya. "gak salah alamat tuh, masa yang disebut sedih, tapi terendapkannya dalam pikiran?"

Betul sekali. Saya juga, tidak mengerti. Mengapa masalah ini, malah mengendap dalam pikiran ini, dan kemudian bernafsu untuk menuangkannya. Menuangkan dalam tulisan ini, untuk sekedar menuliskan, pencaharian diri, mengapa saya merasa sedih, atau lebih luasnya, mengapa ada orang yang merasa sedih?

Minggu, 15 Maret 2026

 


Keanekaragaman itu, bukan keinginan kita, dan tidak boleh ada nafsu untuk menganekaragamkan. Bila ada niat, dalam diri  ini, membuat warna-warni dalam beragama, maka niat dan motif itu, menjadi batal karena hukum. Artinya, dorongan untuk mewarna-warnikan agama, menjadi penyebab kebatalannya, perbuatan itu, sebagai buah dari nafsu pribadi. 

Kita bisa membedakan diri, antara kewarna-warnian sebagai wujud natual, dan kewarna-warnian sebagai obsesi subjek. Kewarna-warnian yang diwarnai kepentingan subjek, mudah terjebak pada perbuatan yang didorong oleh hawa nafsu. Tidak jauh beda, dengan orang yang ditakdirkan harus poligami, dengan orang yang punya niat untuk poligami. Maka perbuatan orang terakhir tadi, batal demi hukum, karena niat pribadi, dan bukan sebagai kebutuhan alamiah atau ketentuan sejarah.

Sabtu, 14 Maret 2026

Kita sering kali dipusingkan oleh kegaduhan. Tepi, kegaduhan itu sendiri, kadang disebabkan karena kita diam. Karena kita diam, dan diam yang sangat lama, maka kegaduhan itu, pun, terjadi sangat lama. Oleh karena itu, sangat mudah menyusuan rumusah masalahnya, bahwa kegaduhan segaris lurus dengan kediamannya kita sendiri.


Di lingkungan keluarga. Istri cemberut, karena ada masalah sengkarut dengan suaminya. Kesalnya sudah memuncak, sang Suami malah diam seribu basa. Ujungnya, kekesalan sang Istri berlarut-larut, malah menjadi penyebab gaduhnya suasana dalam keluarga itu. Tambah runyam. Anak dibuat tidak mengerti. Mertua, hendak ikut campur takut, tambah berantakan. Tetangga, sekedar menjadi penonton setia, kendati ada yang sambil tersenyum, atau ada pula yang sangat menyayangkannya.

Jumat, 13 Maret 2026

Saat membincangkan Negara Republik Islam Iran, seketika itu, banyak yang mengernyitkan dahi, dan memalingkan pikiran. Hal itu, dilakukan, bukan karena mereka sudah bosen, dan paham banget, mengenai Iran, melainkan karena ada endapan informasi yang sudah lama hadir dalam benak, pikiran, dan hatinya. Dengan adanya endapan informasi itulah, maka reaksi sebagian diantara kita, terkait pembicaraan negara Republik Islam Iran ini, sekedar menggunakan bola sebelah mata saja.



Untuk dua bulan terakhir, khususnya mulai dari pertentangan narasi yang sangat keras dan tajam antara Iran dan Israel-AS, orang mulai membuka perhatian agak luas. Terlebih lagi, selepas ada pertempuran antara kedua blok peperangan itu. Memperhatikan apa yang terjadi hari ini, nampaknya, banyak orang atau setidaknya, cukup ada penambahan kesimpatian orang terhadap eksistensi Iran, sebagai salah satu negara kuat di kawasan Timur Tengah.

Kamis, 12 Maret 2026

Judul ini, sesungguhnya, hanya pelebaran makna saja. Atau mungkin, malah dapat ditafsirkan sebagai penegasan.  Maksudnya, menegaskan,  mengenai kegamangan kita, khususnya penulis, dalam mensikapi realitas beragama, dan realitas politik hari ini, di dunia ini.


Setidaknya, dalam dua pekan ini, kita melihat, bagaimana kemampuan Iran, Negara Republik Islam Iran, mampu mengimbangi -- kalau terlalu dini, untuk menyebutkan memenangkan, peperangan dengan Israel yang didukung penuh Amerika Serikat, dan mungkin didanai pula oleh Board of Peace, pimpinan Donald Trump. Sehingga, pengamat internasional, Connie Rahakundini Bakrie, menyebutnya ada transformasi kelembagaan dari Board of Peace menjadi Board of War.

Rabu, 11 Maret 2026

Tidak mudah untuk menceritakan tema ini. Bahkan, pada saat tulisan ini, hendak dituangkan pun, ada perasaan ragu, apakah, kemampuan diri kita, untuk mengulas masalah keangkuhan spiritual dan /atau kebekuan spiritual ini, sudah cukup mumpuni, atau sekedar basa-basi belaka. Hasrat untuk menarasikan tema keangkuhan atau kebekuan spiritual, dengan keraguan atau kewas-wasan dalam menuturkannya, bercampur tak terkendalikan.



Mengapa bisa begitu ya ?

Salah satu jawabannya, khususnya yang penulis rasakan saat ini, khawatir, saat menarasikan hal ini pun, secara tidak sadar, penulis pun sedang diselimuti oleh keangkuhan spiritual itu sendiri, dan saat sadar serupa itu, tapi kemudian, masih juga keukeuh menarasikannya, maka jangan-jangan, penulis pun, sedang mengidap penyakit kebekuan spiritual.

Subhanallah. Buah simalakama....

Selasa, 10 Maret 2026

Degradasi Standar Tugas Perkembangan. Itulah yang ingin disampaikan atau diwacanakan di sini. Mungkin jadi, istilah ini, tidak tepat, atau malah lebih jauhnya lagi, miskonsepsi. Saya rasakan, dan sadari itu. Tetapi, nalar ini keukeuh ingin, tetap menggunakan istilah ini, untuk menggambarkan realitas sosial yang tumbuhkembang di sekitar kita.

Satu waktu. Tepatnya, tidak lebih dari satu bulan terakhir ini, tetapi memang bukan di minggu ini. Kumpul dengan rekanan seprofesi, tenaga pendidik, walaupun sedikit lintas disiplin ilmu. Sebagai orang yang berlatar belakang geografi dan ilmu sosial, hari itu, berkumpul dengan sejumlah rekanan yang berasal dari latar belakang psikologi, atau bimbingan dan konseling.  Pertemuan dan obrolan itu, semula sekedar shilaturahmi biasa. Namun, lama kelamaan, pembicaraan memasuki ranah yang serius, dan membutuhkan penalaran yang tepat.



"sekarang sudah mulai ramai lagi..?" rekanan dari BK, memancing. Kemudian, ditimpali juga oleh guru BK yang lainnya. Mereka mengiyakan, adanya informasi kenakalan remaja di lingkungan lembaga pendidikan. Saya sendiri, belum konek dengan ajuan persoalan itu. Maklum, agak sedikit lelet, dan kurang fokus dengan pembicaraan tadi.

Senin, 09 Maret 2026

 Berkesempatan membaca, atau istilah lainnya menelaah terjemaahan dari karya Ibnu Rusyd, saya tertarik untuk merumuskan ulang relasi filsafat dan Syari’ah. Tetapi, saat menelaah relasi antara filsafat dan Syari’ah ini, saya pun malah teringat pada Yahya Muhammad, yang menulis karya dengan tema Metodologi Sains dan Pemahaman Keagamaan. Kedua buku ini, memuat hal yang serupa. Perbedannya, Ibnu Rusyd menelaah relasi antara Syari’ah dan Filsafat, sedangkan Yahya Muhammad menelaah relasi sains dan Agama (Muhammad 2026; Rusyd 2024).

Nalar kita, bisa saja, iseng dengan mengajukan pertanyaan trilogi relasi itu sendiri, yakni bagaimana relasi antara Sains, Filsafat dan Agama. Kajian serupa ini, menarik dan bisa mendinamiskan kompetenasi narasi dan nalar kita hari ini, dan kedepan.

 


Seperti yang disampaikan Aksin Wijaya, Ibn Rusyd, kerap menggunakan kata ’dien’ (agama), selain konsep syari’ah. Bahkan menurutnya, di Kitab Tahafut Tahafut, kedua kata itu digunakan secara besamaan. Oleh karena itu, saya menganggapnya dan memosisikan syari’ah dalam pemikiran Ibnu Rusyd, semakna dengan agama dalam narasi yang disampaikan Yahya Muhammad, walaupun bisa jadi, ada pemikiran lain, untuk bisa membedakan ruang lingkup dan cakupannya.

Minggu, 08 Maret 2026

Pemilik Bibi Kelinci Kopitiam itu ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri setelah mengunggah video pasangan suami istri yang diduga kabur tanpa membayar pesanan di restoran miliknya.


Padahal, Nabilah mengaku dirinya merupakan korban dalam kasus tersebut.

Sabtu, 07 Maret 2026

Saat memahami peristiwa perang Iran dan AS-Israel, ada yang menarik, dalam lisan dan keyakinan bangsa kita ini. Saya ingin menyebutkan, kekeliruan. Atau lebih tepatnya, kekeliruan penalaran, yang kemudian berujung pada kekeliruan Sikap, Tindakan dan Pilihan Keberpihakan.

Lha, mengapa bisa dinyatakan demikian ?

Pertama, kita, atau lebih tepatnya, saya, merasa ada kesalahan menafsirkan terhadap tindakan Amerika Serikat.  Di bawah kepemimpinan Donald Trump hari ini, AS menunjukkan sikap sebagai penguasa dunia, dan pengatur dunia. Presiden Venezuela di culik, dan rezimnya di ganti sesuai dengan kepentingannya. Hari ini, pun demikian, dengan obsesi AS terhadap Pemerintahan Iran.

Jumat, 06 Maret 2026

Pertanyaan ini, muncul, di sore itu. Jelang buka puasa bersama, dengan anak-anak. Di satu tempat. luar dan terbuka. Ruang publik. Tetapi, rekanan yang sudah kenal lama, datang menghampiri, kemudian saling  tukar cerita, dan pengalaman hidup, serta pengalaman kerjanya selama ini.


Di sela obrolan itu, entah dari mana masuknya, kemudian, malah membicarakan mengenai, peluang dirinya untuk bisa kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam pengakuannya, dan memang itulah, yang tertuang dalam administrasi kepegawaian, bahwa dirinya, masih berstatus sebagai pegawai dengan jenjang pendidikan sarjana. Karena itu, wajar dan mudah dipahami, bila disore itu, ujug-ujung mengungkap minatnya, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kamis, 05 Maret 2026

Kita tidak banyak yang tahu, termasuk penulis, duluan mana antara gejala kelelahan massal dengan autisme sosial. Jangankan untuk menganalisis lebih jauh mengenai kedua gejala sosial itu, sekedar untuk memahami makna dasar atau makna pokoknya pun, kita akan mengalami kesulitan yang akut.  Iya, ada semaca, kesulitan yang akut, antara kebutuhan untuk mendalami makna, dengan perangkat argumentasi yang dimiliki.


Seperti yang dialami. Kesempatan ini, kita berhadapan dengan dua istilah yang dicoba di keluarkan. Sekali lagi, tidak banyak yang tahu mengenai makna hakiki terkait konsep ini. Bahkan, ada pula yang mengatakan, sekedar permainan kata saja.

Rabu, 04 Maret 2026

 


Konsep politik literasi, dengan struktur menerangkan dan diterangkan, yakni seperangkat kebijakan atau strategi dalam memanfaatkan atau mengelola literasi untuk tujuan tertentu.  Dalam posisi ini, literasi sebagai sumberdaya atau komoditas politik, untuk mencapai visi dan misi kolektif. Oleh karena itu, politik Literasi, biasa dan akan menjadi kebiasaan para pemilik kekuasaan untuk menggunakannya.  Pemilik kekuasaan itu, bisa berasal dari kuasa politik, maupun kuasa sosial-budaya.

Selasa, 03 Maret 2026

 Ada yang bertanya, ”bagaimana, kamu bisa senyaman itu, menghadapi situasi ini ? bukankah kau, baru saja mendapat berita, yang tidak mengenakkan ?



”wah, hebat, bisa tegar..” adalah penggalan apresiasi rekanan yang lain, melihat keadaan diri, dalam menghadapi kenyataan hidup hari ini, atau dalam beberapa hari terakhir ini.

”tidak begitu juga..” ucapku pendek. Saya masih normal. Normal dalam pengertian, saya pun merasa sedih, dan menyesal, mengapa tidak melakukan ikhtiar yang maksimal, sehingga keputusan akhir ini, harus kembali tidak sesuai dengan harapan.

Senin, 02 Maret 2026

 


Sudah lama, berharap memiliki waktu luang untuk menelaah Firman Allah Swt, yang ada dalam ayat 104, pada surat al-Baqarah. Ayat ini, berbunyi :

﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقُوْلُوْا رَاعِنَا وَقُوْلُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوْا وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ١٠٤ ﴾ ( البقرة/2: 104)

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan, “Rā‘inā.” Akan tetapi, katakanlah, “Unurnā”33) dan dengarkanlah. Orang-orang kafir akan mendapat azab yang pedih. (Al-Baqarah/2:104)

Dalam tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI 2011:167) , ada keterangan :

Kata ra‘ina artinya “peliharalah dan jagalah kami,” dengan maksud baik, ungkapan yang sudah biasa dipakai oleh para sahabat.

Minggu, 01 Maret 2026

Hari ini, sudah memasuki hari kesepuluh fase kedua Ramadhan 1447 H.  Perjalanan dalam sepuluh terakhir ini, sudah menunjukkan gelagat gejala yang berbeda, dari beberapa hari sebelumnya. Walaupun, orang menyebutnya sebagai hal biasa, gejala biasa, dan rutin terjadi di setiap tahunnya, saat-saat menjelang akhir Ramadhan.



Pertanyaannya pun, serupa. Mengapa hal ini terjadi, dan mengapa terus berulang dan tidak ada perubahan atau perbaikan, apakah gejala ini, merupakan hal wajar, dan dinormalisasi oleh umat Islam itu sendiri ? rentetan pertanyaan ini, masih bisa diperpanjang, namun, entah siapa yang akan memberikan komentar atau tanggapan serius terhadapnya.

Sabtu, 28 Februari 2026

 


Dalam khazanah keilmuan, khususnya terkait hukum perbuatan manusia, dikelompokkan menjadi lima kategori. Kelima kategori ini, masuk dalam taklifi bagi seorang muslim, yaitu amalan wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Di tempat lain, Imam Haramaian menyebutnya menjadi tujuh, dengan tambahan, sah (shahih), dan batal.

Jumat, 27 Februari 2026

Yahya Muhammad, seorang pemikir dan teoritikus, kelahiran Irak 1959, sejak tahun 1970-an, sudah melontarkan kritik terhadap tradisi ilmiah, termasuk dalam pemikiran keagamaan. Sejumlah karya dan pemikirannya, mulai beredar dan dikenal pembaca Indonesia. 


Dalam karya berjudul (indonesia), ”Bagaimana Pengetahuan, Kehendak dan Indentias Membentuk Keyakinan Manusia”, (Muhammad 2026:84),selepas melakukan kritik terhadap bias-bias epistemik yang berkembang saat ini, dia mengajukan pandangan (selera epistemiknya) sendiri yakni mengajak pada visi integratif yang bertumpu pada pluralitas dan saling menghormati antar ilmu dan lintas spesialiasasi.

Kamis, 26 Februari 2026

Adalah menjadi satu kebutuhan, untuk memperhatikan kebutuhan zaman. Dinamika kehidupan, yang ada di sekitar kita, kerap kali, bukan hanya sebagai imbuhan terhadap kehidupan modern kita, namun membuka ruang dan peluang untuk bisa berinteraksi dengannya sehingga melahirkan pembaharuan-pembaharuan dalam dunia pendidikan.



Tentu saja, pembaharuan, tidak semata-mata, karena ada perkembangan zaman. Karena sikap serupa itu, menunjukkan adanya 'pengaruah eksternal' yang terlalu dominan, dan bisa menyebabkan kita kehilangan jati diri. Oleh karena itu, strategi yang perlu dilakukan itu adalah melakukan melakukan pembacaan dan pemetaan terhadap karakter dan potensi, serta tantangan dan ancaman zaman, untuk kemudian diselaraskan dengan  tradisi lokal, pribadi, misi, orientasi hidup, atau karakter diri. 
Dalam konteks itulah, pembaharuan-pembaharuan dalam ragam sektor kehidupan itu, perlu dilakukan, termasuk diantaranya adalah dalam dunia pendidikan.