Just another free Blogger theme

Selasa, 18 Agustus 2026

Jika kita seorang laki-laki, akan merasa gemes, terpesona, dan berdecak kagum bila melihat kulit seorang gadis yang bersih, mulus, dan putih agak kemerahan. Rasa-rasanya dan bila dibolehkan, ingin sekali untuk menyentuhnya. Warna agak kemerahan yang muncul di wajahnya, bukan karena sakit atau lagi alergi, namun karena respon emosi si gadis yang sensitive, sehingga mampu dengan mudah merubah wajah ayu gadis tersebut. Kulit indah adalah sebuah impian para gadis remaja.



Minggu, 16 Agustus 2026

Maaf, kita tidak jadi belanja sore ini, habis bibir saya bengkak, kayaknya kena gigitan serangga. Papar seorang istri kepada suaminya. Berita ini disampaikan melalui sms kepada sang suami yang ada di ruang kerja kantor dan sedang berbincang-bincang dengan teman sekantornya. Selepas membaca berita itu, khususnya wajah sang suami terus berubah, kaget dan tidak paham. Karena beberapa menit sebelumnya dirinya pergi ke kantor, kondisi sang istri ada dalam keadaan sehat wal afiat. Namun kini, dia memberitakan diri sedang berada dalam kondisi yang sakit.



Sabtu, 15 Agustus 2026

Masih pagi. Pikiran pun masih segar. Namun pikiran segar di negeri ini nasibnya tidak pernah lama. Entah karena keadaan di negeri ini yang kerap mempertontonkan perilaku yang aneh-aneh dan tidak memberdayakan rasa kemanusiaan atau karena banyaknya masalah hidup yang terus melilit kehidupannya. Sehingga akibat kedua hal tersebut, pikiran segar masyarakat Indonesia ini kerap kali sulit berkembang untuk waktu yang lama. Kata ahli seni, matahari pun belum merasa lelah untuk menyinari bumi, namun pikiran ini harus kembali diisi oleh keanehan negeri ini.



Jumat, 14 Agustus 2026

Di sinilah (2009), saya baru merasakan mengenai pentingnya memahami hal-hal penting. Kalau kita memiliki waktu panjang, kemampuan yang tak terbatas, mungkin masih layak untuk mengharapkan dan mengejar seluruh impian dalam hidup. Namun hal itu, sulit untuk diwujudkan, karena kita secara realistis bukanlah makhluk seperti itu. Kita memiliki keterbatasan, baik waktu maupun kemampuan.




Saat itu, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta inilah, saya merasakan bahwa setiap orang butuh rencana, rancangan atau strategi dalam mencapai tujuan yang diinginkannya. Bila kita alpa terhadap masalah ini, maka yang didapat hanyalah lapar, haus dan lelah.

Kamis, 13 Agustus 2026

Seringkali kita mendengar, ada orang yang kehabisan kata-kata bila menulis sebuah surat, artikel atau makalah. Ketika kita sedang memberi sambutan, kadangkala (khususnya bagi mereka yang jarang memberikan sambutan secara langsung tanpa teks) merasa kehabisan pembicaraan. Keadaan seperti ini, sudah barang tentu membuat kita merasa bete dan menyakitkan. Terlebih lagi, bila sedang berhadapan dengan orang yang kita hormati, maka kehabisan ide/pemikiran atau kata-kata, membuat keresahan dalam jiwa ini semakin menguat.



Rabu, 12 Agustus 2026

Pengalaman ini sangat menyakin diri bahwa mengenali sesuatu itu dapat menyelamatkan diri. Kalau kita mengenali sesuatu, kita akan selamat dari hal tersebut. Kira-kira itulah yang menjadi kesimpulan dari kejadian-kejadian yang teralami saat ini.


Selasa, 11 Agustus 2026

Saat itu, saya belum kenal mancing gaya perkotaan (9/10/2008).  Sebagai orang lembur, gaya mancing (ngusep), ya, biasa seperti yang dilakukan kebanyakan orang kampung. Karena itu, terkait dengan kebiasaan ngusep ini, kendati tidak semua orang hobi mancing, tampaknya sangat jarang ada orang yang tidak mengenal mancing. Mancing, dalam kehidupan manusia, kini telah menjadi sebuah gejala sosial yang mewarnai agenda kehidupan manusia. Dengan kata lain, memancing telah menjadi salah satu budaya manusia dalam mengisi, mewarnai dan meningkatkan makna hidup dan kehidupannya.


Pada tataran yang lebih luas, merujuk pada hasil cermatan sepintas terhadap apa yang sedang tumbuh di masyarakat kita saat ini, kiranya dapat ditemukan bahwa perilaku memancing, bukan hanya persoalan nganclomkeun eupan ka balong. Memancing sesungguhnya memiliki kandungan makna sosial yang sangat luas, dan (mungkin) sangat mendalam.

Senin, 10 Agustus 2026

Istilah autis, biasanya sekedar digunakan untuk menggambarkan gangguan mental pada seseorang, dengan indikasi senang dan menikmati hidup dengan alamnya sendiri. Tetapi dalam konteks ini, hari ini, tampaknya kita memiliki ruang untuk menggunakan konsep ini, secara lebih luas, yaitu autisme kolektif, sebuah gejala, saat semua orang menunjukkan hal yang sama, masif, dan permisif.



Pernahkah kita merasakan bahwa kita adalah salah satu diantara orang yang tengah mengalami penyakit autis ? Bila hal demikian belum kita rasakan, mungkin sudah saatnya untuk menafakuri diri, untuk kemudian memotret diri, status keberadaan kita di masyarakat sekitar. Bila simpulan dari hasil renungan itu, muncul kecenderungan adanya gejala kebetahan (enjoy) dengan permainan dan gaya hidup sendiri, dan tidak kepekaan atau tanggungjawab sosial, maka sesungguhnya kita tengah mengalami penyakit autis.

Sabtu, 08 Agustus 2026

Ide/gagasan merupakan sebuah produk. Ide adalah produk jasa dari seseorang. Sementara orang yang mengeluarkan ide/gagasan diposisikan sebagai produsen. Pemahaman ide/gagasan sebagai sebuah produk manusia sesungguhnya sudah tidak asing lagi bagi kalangan ilmuwan sosial. Anthony Giddens –misalnya-- berpandangan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat manusia adalah produsen yang memproduksi sekaligus mereproduksi budaya[1].



Ide adalah salah satu budaya manusia. Dengan kata lain, ide adalah produk budaya atau praktik pemikiran manusia.

Jumat, 07 Agustus 2026

Semula tidak peduli dan bahkan kurang merasa tertarik dengan berbagai tayangan infotainment yang bertajuk cinta. Namun karena maraknya acara seperti ini, misalnya Cinta Lokasi, mak comblangin dong, Cinta Lama Bersemi Kebali, Play Boy Kabel dan Kontak Jodoh (2010-an) serta sejenisnya, ada sesuatu hal yang mengganjal dan ingin dikemukakan kepada publik. Sikap ketidakpedulian selama ini, selain karena acara tersebut merupakan bagian dari hiburan, tayangan seperti ini pun lebih menunjukkan sebagai mata acara yang dikhususkan sebagai konsumsi kalangan ABG (anak baru gede) atau remaja belaka. Oleh karena itu, rasa peduli pun kurang muncul. Bahkan bisa jadi, dengan alasan seperti itu juga tidak banyak kalangan yang memberikan perhatian terhadap acara-acara seperti ini.



Seiring perjalanan waktu dan juga karena sesekali menyaksikan episode-episode acara tersebut, muncul sejumlah pertanyaan dalam diri. Apakah memang begitu remaja Indonesia dalam memperjuangkan cinta ? apakah memang demikian adanya perilaku remaja Indonesia dalam memperlakukan diri dan orang lain ? pada konteks inilah, kita dituntut untuk mencermati dengan seksama perilaku remaja dalam acara tersebut, khususnya bila dikaitkan dengan persoalan karakter perilaku remaja Indonesia masa kini.

Kamis, 06 Agustus 2026

Bencana berulang kembali. Bahkan, memahami karakter geologi indonesia yang ada saat ini, bencana serupa gempa atau gunung api ini, akan berulang kembali. Entah esok, atau suatu hari. Bencana alam, di Indonesia akan menjadi bagian dari kehidupan warga negara ini. Indonesia yang kaya raya dengan kekayaan alamnya, dan keindahan alamnya, namun diselimuti pula oleh potensi bencana alam yang bervariasi. Gempa bumi, gunung api, banjir, tsunami, longsoran tanah, dan rupa-rupa bencana alam lainnya. Realitas geologis Indonesia seperti ini, sudah nyata, dan banyak diketahui orang. Dengan kata lain, maka Indonesia merupakan daerah yang perlu untuk siaga satu (Siaga I) terhadap bencana geologis. Siaga untuk selamanya.



Terhadap berbagai gejala alam ini, gejala geologi atau bencana geologis ini, reaksi sosiologis yang ditunjukkan masyarakat kita, sungguh sangat variatif. Analisa berkembang, mulai dari yang berbau sentimen bercampur dengan analisa kritis keilmuan, sampai pada keilmuan murni. Sehingga, kadang-kadang, bila membincangkan sebuah gejala sosial atau gejala alam, masyarakat bingung, dibingungkan atau membingungkan diri dengan pola-pola pikir yang lainnya.

Rabu, 05 Agustus 2026

 Bagi seorang guru, mendengar adanya guru yang tidak layak mengajar/mendidik, sudah tentu akan merasa sedih. Dan bila kita berposisi sebagai seorang wali murid, atau orang tua siswa, mendengar banyaknya guru yang tidak layak mengajar/mendidik ini, menjadi waswas. Artinya, mungkin kita, sebagai orang tua, mau menyerahkan masa depan anak terhadap tenaga pendidik yang tidak layak mengajar/mendidik ? relakah, seorang ibu atau orang tua menggadekan masa depan anak kepada satuan pendidikan yang diisi oleh guru-guru yang tidak layak mengajar/mendidik ? Itulah persoalan yang mengerikan dan perlu dengan segera untuk dituntaskan.


Sebagai salah seorang tenaga pendidik di satuan pendidikan dasar, dan juga di sekolah swasta, penulis merasa kekurangan informasi untuk mengetahui apa alasan, atau apa standar yang digunakan oleh para peneliti untuk menyebut layak-tidaknya seseorang dalam menjalan tugasnya sebagai seorang guru. Apakah mereka melihat ijazah atau kemampuan nyata seorang guru di lapangan ?

Selasa, 04 Agustus 2026

Bagi orang Bandung Timur, khususnya daerah kawasan Cibiru, hari minggu merupakan hari yang istimewa. Pada hari ini, masyarakat di kawasan ini dapat menghabiskan sebagian waktu liburnya di daerah pasar minggu. Kawasan pasar minggu itu, merentang panjang mulai dari Kompleks Vijaya Kusumah, SMPN 46 sampai jalan menuju SMU Terpadu Krida Nusantara.

Senin, 03 Agustus 2026

Alkisah. Malam itu, sekitar pukul 22.00 WIB. Kami, sebanyak 29 orang berdiri, bergerombol di Jembatan Gambir - Jakarta. Kumpulnya di sana, dimaksudkan untuk memudahkan kendaraan penjemput, untuk bisa pulang ke kampung halaman, Paris van Java.


Kontakan demi kontakan di lakukan. Ketua rombongan meyakinkan, perjalanan akan lancar, dan penjembut siap tiba di depan kelompok kami. Dari pihak driver memberitakan, bahwa kendaraannya tengah terus berusaha untuk melaju. Begitulah kisahnay di sekitar malam itu.

Detik demi detik berlalu. menit demi menit berlalu. Kendaraan tak jua muncul dihadapan kelompok. Mulai galau bermunculan. "posisi penjemput di  mana..?", "kendaraan di mana?" , "dah sampai belum...?" sejumlah pertanyaan bermunculan dari ragam lisan, yang ada di kelompok. Sementara sang Ketua Regu, hanya bisa meyakinkan, "kendaraan sedang melaju, tapi lambat, macet..." ungkapnya.

Minggu, 02 Agustus 2026

Ruang memberikan peluang untuk membangun kedekatan-manusia. Atau, lebih tepatnya, ruang akan menjadi faktor penting dalam memaksa seseorang untuk menunjukkan ekspresi-kedekatan kemanusiaannya. Seperti yang terjadi, dan tampak di area toilet. Seperti waktu itu, dan sore itu terjadi.



Seperti yang disampaikan dalam tulisan sebelumnya, Sabtu sore, 1 Agustus 2026, terjadi  fenomena kerumunan terkondisikan (conditioned crowd). Jamaah berdatangan dari penjuru propinsi Jawa Barat, Banten dan DKI, untuk hadir atas undangan Kementerian Agama dalam kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan, yang mengambil tempat di Monumen Nasional Jakarta.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Saya, ada dibelakang mereka. Antrian cukup panjang. Iseng-iseng diitung, ada yang antri dengan jumlah sekitar 10 orang dengan ujung ekor yang mengular 2-3 orang lagi di belakangnya. Ada pula yang 9 orang, dengan ujung ekor yang mengular serupa pula. Antrian itu, tampak, panjang, mengular di depan mulut toilet.



Di toilet Masjid Isiqlah. Sore itu. Jelang  maghrib. Bersamaan dengan kegiatan Doa dan Dzikir yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia, di kawasan Monumen Nasional (Monas) Jakarta. 

Bersama sejumlah rekanan dari Kota Bandung, sudah hadir di lokasi, sekitar pukul 16.00 WIB. Jam'ah pun sudah tumpah ruang di kawasan ini. Satu diantara mereka yang hadir dalam hiruk pikuk, adalah kami yang sedang antri di depan toilet ini.

Jumat, 31 Juli 2026

Mosi itulah nama panggilannya. Dia datang. Duduk anggun. Tetapi tampak gelisah. Di hadapannya, sudah duduk rapi, di kursi kerajaannya yang telah diduduki selama 10 tahun terakhir. Di situlah, Hati bersemayam. Semua orang bilang, dia itu adalah pemimpin organisasi, pemimpin Negara, dan atau malah pemimpin dunia saat ini. Tidak ada yang bisa mengalahkannya, baik dari sisi kekuasaan, kewibawaan, atau kemampuannya dalam memimpin organisasi ini. Hingga suatu kali, dia kedatangan pegawai baru, yang bernama Mosi.


Kamis, 30 Juli 2026


Di tengah masyarakat kita, kerap kali, mencampuradukkan antara kompetensi intelektual, kerja dan jabatan. Dalam tataran normal, ketiga hal itu, akan berjalinkelindan dengan baik dan ketat, dan sehingga melahirkan kinerja hidup yang luar biasa, khususnya dalam memecahkan masalah.



Tetapi, memang, bisa dipahami, jika dalam kenyataannya, ketiga komponen itu, kerap kali tidak hadir secara bersamaan. Misalnya, ada pejabat dalam satu posisi sosial tertentu, namun tidak mampu menunjukkan penalaran yang selaras dengan jabatannya,dan kerjanya pun tidak selaras dengan jabatannya. Karena itu, gejala tersebut memantik kita untuk terus membincang masalah keprofesionalan.
Entah mengapa, di sini, jadi ingin banget menuliskan mengenai makna profesionalisme. Ya, walaupun inspirasi masalah ini, lebih merupakan reaksi terhadap situasi yang baru saja terjadi.

Rabu, 29 Juli 2026

Agak sulit untuk memahami kondisi kita hari ini. Dalam keyakinan subjektif kita, negeri ini, ada dalah kondisi yang tidak sedang baik-baik saja. Tetapi, tidak sedikit orang, bahkan kaum intelek, dan kaum terpelajar, yang menganggap masih ada harapan, dan bahkan harapan sedang tumbuh dengan baik. Dua kondisi yang berbenturan, seakan tidak pernah mau bergandengan atau berdampingan ini, kerap kali beraduhadapan.  Sayangnya lagi,  saat  beraduhadapan itu, tidak ada jalan keluar, untuk menembus kebuntuan ini. Sampai hari ini, dan saat ini pun, masih banyak yang terbingungkan karenanya.


Mengapa harus bingung ? Siapa bilang negeri kita, dalam keadaan gelap ? siapa yang mengatakan bahwa negeri kita, masuk dalam fase kecemasan dan potensial terpuruk pada jurang kecemasan yang mendalam ?  

Selasa, 28 Juli 2026

Sebagai orangtua, tidak selamanya mampu mengendalikan anak. Atau, tidak selamanya, orangtua mampu memberikan bantuan fisik kepada anak. Misalnya, karena anak kita, berada di lokasi yang jauh, baik karena sedang belajar atau sedang bekerja, maka akan sulit orangtua memberikan bantuan, pertolongan, atau perhatikan fisik terhadapnya. Namun, kendati ada banyak kendala, terkait hal itu semua, hasrat orangtua untuk memberikan bantuan kepada anak-anaknya, atau anggota keluarganya, tidaklah pernah surut, walau kadang tidak tampak dalam pandangan mata orang lain.



Lantas, apa yang bisa di  lakukannya ?

Senin, 27 Juli 2026

Bila menggadekan harta kepada orang lain, Anda masih memiliki kesempatan untuk membayar utang di kemudian di hari. Tetapi, bila Anda menggadekan nasib kepada orang lain, maka yang terjadi yaitu jeratan utang budi di sepanjang hayat.

 

Minggu, 26 Juli 2026

Bila saja, kita mengambil posisi, dengan mengatakan bahwa istirahat itu adalah hak. Hak setiap orang untuk bisa istirahat, dan untuk mendapatkan waktu istirahat, maka muncul pertanyaan lanjutan, istirahat dari apa ? atau istirahat untuk apa ? atau istirahat karena apa ? Pertanyaan ini, penting untuk dikedepankan, dengan maksud dan harapan, kita semua bisa memahami kelayakan kita dalam menoleransi seseorang dalam beristirahat.



Seiring hal ini, kita dapat merancang, peta posisi sikap hidup kita terhadap hak istirahat ini. Sekali lagi, bila kita hendak memosisikan istirahat sebagai sebuah  hak, dan bukan sebuah kewajiban.

Sabtu, 25 Juli 2026

Hari ini, ahad. Banyak orang menyebutnya hari libur. Waktunya istirahat. Momentum untuk berleha-leha.  Atau bersantai ria. Namun, tidak semua orang, memiliki cara yang sama, mengenai cara mengisi waktu libur tersebut. Semua itu, bergantung pada 'ideologi' yang dimiliki, dan diyakininya.


Lha, kok bisa begitu ?

Inilah realitas hidup kita. Dalam kajian Geografi Kritis, setiap orang memiliki hak-yang-sama untuk menafsirkan ruang waktu yang dimilikinya. Pemaknaan itu, bergantung pada anutan nilai yang dimiliki masing-masing.  Termasuk dalam konteks hari libur. Apapun nama hari kalendernya. 

Jumat, 24 Juli 2026

Perubahan dunia tidak lagi berlangsung secara linear, melainkan bergerak secara eksponensial. Revolusi digital, perubahan iklim, dinamika geopolitik, transformasi ekonomi, hingga disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan membangun peradaban. Dalam konteks tersebut, madrasah tidak cukup hanya mempertahankan tradisi pendidikan Islam yang telah mengakar kuat. Madrasah dituntut mampu membaca perubahan ruang (space), relasi kekuasaan (power relations), serta dinamika sosial yang terus berkembang. Di sinilah perspektif Geografi Kritis (Critical Geography) menjadi sangat relevan.



Geografi kritis memandang bahwa ruang bukan sekadar lokasi fisik, melainkan hasil interaksi antara manusia, kebijakan, ekonomi, budaya, teknologi, dan lingkungan. Dengan kata lain, kualitas pendidikan madrasah tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan guru, tetapi juga dipengaruhi oleh bagaimana madrasah berinteraksi dengan ruang sosial, ruang digital, ruang ekonomi, serta ruang ekologis yang terus berubah.

Kamis, 23 Juli 2026



Ada buku judulnya The Leadership Triad, tulisan dari Dale E Zand (1997). Buku lama. Memang.  Tetapi, dilihat dari isinya, dapat merangsang kita untuk kembali memikirkan  karakter pemimpin, dan atau pembangunan karakter kepemimpinan pada generasi kita. Sebagai praktisi pendidikan, yang sering dituntut untuk membangun karakter pada peserta didiknya, kiranya, wacana yang disampaika dalam buku ini menarik untuk dicermati.

Rabu, 22 Juli 2026

Di ruang keluarga yang remang, wajah Ibu Nani (58) terpapar cahaya kebiruan. Cahaya itu bukan berasal dari televisi, melainkan dari pendar gawai anak bungsunya yang asyik menggulir layar. Mereka duduk di sofa yang sama, berjarak tak lebih dari setengah meter secara fisik. Namun, secara keruangan (spasial), mereka berada di dua semesta yang sama sekali berbeda. Sang anak tengah mengarungi luasnya lanskap digital tanpa batas—berinteraksi, berbelanja, dan mengonsumsi kebudayaan global. Sementara itu, Ibu Nani terpaku dalam dimensi fisik yang kian menyempit. Ia hadir secara jasmani, tetapi secara perlahan terasing dari geografi sosial yang baru.



Fenomena "gagap teknologi" atau gaptek pada lansia atau orangtua sering kali direduksi sekadar sebagai masalah kognitif, keengganan belajar, atau penolakan generational terhadap hal baru. Narasi umum menyuruh mereka untuk "beradaptasi agar tidak ketinggalan zaman." Namun, jika kita membedahnya melalui pisau analisis Geografi Kritis—sebuah cabang keilmuan yang membongkar bagaimana ruang, tempat, dan kekuasaan saling memproduksi dan melanggengkan ketidaksetaraan—kita akan menemukan dinamika psikologis yang jauh lebih kompleks, struktural, dan menyayat hati.

Selasa, 21 Juli 2026

Belakangan ini, linimasa media sosial kita dipenuhi oleh narasi pencapaian baru: keberhasilan menulis dan menerbitkan buku dalam hitungan hari, bahkan jam, berkat bantuan Artificial Intelligence (AI). Ada rasa bangga yang meletup-letup dalam narasi tersebut. AI dirayakan sebagai demokratisator literasi yang meruntuhkan tembok tinggi proses kreatif tradisional. Namun, jika kita melihat fenomena ini melalui kacamata geografi kritis, kebanggaan tersebut terasa semu dan problematis. Fenomena ini bukan sekadar lompatan efisiensi teknologi, melainkan sebuah bentuk pergeseran kekuasaan spasial, ekstraksi data, dan kelanjutan dari proyek kolonialisme epistemik global.


Geografi kritis mengajarkan kita bahwa ruang tidak pernah netral; ia diproduksi, dikontrol, dan dipertandingkan. Hal yang sama berlaku bagi ruang digital dan korpus pengetahuan yang membentuk otak AI. Ketika kita merasa bangga melahirkan sebuah buku hasil rakitan AI, kita sering lupa mengajukan pertanyaan geografis yang mendasar: Di mana pengetahuan itu diproduksi? Siapa yang mengontrol infrastrukturnya? Dan ruang hidup siapa yang sedang kita pinggirkan?

Senin, 20 Juli 2026

Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh aparat penegak hukum seringkali dibingkai sekadar sebagai aksi teatrikal yudisial atau berita kriminal biasa. Narasi arus utama cenderung menyederhanakannya menjadi sekadar persoalan moralitas individu, pelanggaran pasal hukum, atau kelalaian birokrasi. Namun, jika fenomena ini dibedah melalui kacamata geografi kritis, OTT melambangkan retakan hebat dalam ruang-ruang kekuasaan yang sengaja diproduksi untuk melanggengkan impunitas.

Dalam tradisi geografi kritis, ruang bukanlah wadah kosong yang pasif atau sekadar latar belakang tempat aktivitas manusia berlangsung. Ruang bersifat sosial, politis, dan dinamis; ia diproduksi, dimanipulasi, dan disekat demi kepentingan akumulasi modal serta dominasi politik kelompok elite. Ketika seorang pejabat publik tertangkap tangan menerima suap di kamar hotel mewah, ruang kerja pribadi yang eksklusif, Rest Area jalan tol terpencil, atau klaster perumahan elite, peristiwa itu membongkar bagaimana batas-batas fisik dan imajiner dimanfaatkan untuk menyembunyikan transaksi gelap sekaligus mengisolasi diri dari pengawasan publik. OTT, dengan demikian, bukan sekadar penangkapan badan, melainkan sebuah intervensi radikal terhadap tata ruang koruptif yang sengaja dikonstruksikan.

Minggu, 19 Juli 2026

Ketika peluit panjang berbunyi dan Spanyol resmi mengukuhkan diri sebagai penguasa sepak bola jagat raya, pekik kemenangan yang membahana di jalanan Madrid, Barcelona, hingga Bilbao bukan sekadar perayaan atas sebuah trofi. Di balik panggung megah selebrasi, terdapat kemenangan besar dari sebuah tata ruang yang dinamis. 


Dari sudut pandang geografi manusia, keberhasilan La Furia Roja merengkuh takhta tertinggi adalah manifestasi sempurna dari rekonstruksi spasial, rekonsiliasi identitas teritorial, dan adaptasi kultural terhadap arus globalisasi modern. Spanyol tidak hanya memenangkan pertandingan; mereka berhasil mengelola ruang kehidupan mereka menjadi sebuah ekosistem pemenang.

Sabtu, 18 Juli 2026

Piala Dunia FIFA bukan sekadar turnamen sepak bola, melainkan sebuah ruang sakral tempat miliaran manusia melakukan ziarah emosional dan merayakan ritual kontemporer terbesar di bumi. Dalam kacamata geografi humanis—sebuah cabang ilmu yang dipelopori oleh pemikir seperti [Yi-Fu Tuan](google.com Tuan+humanistic+geography) dan Edward Relph—ruang (space) tidak pernah bersifat netral. Ketika puluhan ribu suporter dari berbagai belahan dunia berkumpul di dalam satu stadion, mereka mengubah koordinat geografis yang dingin menjadi sebuah "tempat" (place) yang sarat akan makna, memori, dan spiritualitas sekuler. Di balik riuh terompet, kibaran bendera, dan tangisan kemenangan, terdapat manifestasi terdalam dari kerinduan manusia akan transendensi, koneksi, dan rasa memiliki.



Bagi geografi humanis, perbedaan antara space (ruang) dan place (tempat) terletak pada keterikatan emosional manusia. Sebuah stadion beton sebelum turnamen dimulai hanyalah ruang geometris kosong yang mati. Namun, begitu peluit pertama Piala Dunia ditiup, ruang tersebut mengalami metamorfosis menjadi topophilia—ikatan afektif yang kuat antara manusia dengan lingkungan fisiknya.

Jumat, 17 Juli 2026

Pagi hari di tahun 2026 tidak lagi dimulai dengan kepanikan memeriksa tumpukan berkas belanjaan data. Di sudut meja sebuah agensi periklanan digital di Jakarta, seorang manajer kampanye pemasaran kini memulai harinya dengan meminum kopi, sementara asisten virtualnya—sebuah sistem berbasis Kecerdasan Buatan (AI)—menyodorkan laporan analisis pasar yang selesai dibuat dalam tiga menit. Laporan itu mencakup prediksi tren konsumen untuk tiga bulan ke depan, lengkap dengan draf salinan iklan yang disesuaikan secara personal untuk ribuan target audiens. Fenomena ini bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan realitas harian di lanskap profesional modern saat AI mengambil alih sebagian besar aktivitas kerja.



Pergeseran ini memicu debat besar di ruang-ruang rapat korporat hingga warung kopi pinggir jalan. Apakah AI datang sebagai kawan yang meringankan beban, atau lawan yang siap merebut periuk nasi manusia? Jawabannya tidak pernah hitam-putih. Otomatisasi massal ini sedang mendefinisikan ulang apa artinya menjadi seorang profesional, mengaburkan batas antara keahlian teknis manusia dan efisiensi mesin, serta memaksa kita mendesain ulang cetak biru karier masa depan.

Kamis, 16 Juli 2026

Hari pertama melangkah ke dalam institusi sekolah bukan sekadar sebuah ritual sosial atau perpindahan fisik dari rumah ke ruang kelas. Dari perspektif psikoanalisis, momen ini merupakan salah satu krisis perkembangan (developmental crisis) paling signifikan yang dialami anak pada awal masa kanak-kanak. Transisi ini menandai pergeseran dari lingkungan domestik yang penuh dengan pemuasan insting serta perlindungan absolut menuju dunia luar yang menuntut regulasi diri, penundaan kepuasan (gratification delay), dan kepatuhan pada hukum-hukum sosial. Untuk memahami kesiapan yang perlu dihadirkan pada diri seorang anak, kita harus membedah struktur psikis mereka melalui lensa Sigmund Freud, Melanie Klein, Donald Winnicott, dan John Bowlby. Melalui pendekatan ini, kesiapan tidak lagi dipandang sebagai kemampuan kognitif semata seperti membaca atau berhitung, melainkan sebuah pencapaian struktural ego yang matang dan kapasitas emosional yang resilien.



Para psikoanalitis, sekolah adalah agen pemisah pertama yang paling konkret antara anak dan figur lekat primer, umumnya ibu. Rumah, dalam topografi mental anak, merepresentasikan perluasan dari diri mereka sendiri atau sebuah "safe harbor" tempat Ego anak belum sepenuhnya teruji oleh realitas eksternal. Ketika anak dihadapkan pada keharusan memasuki sekolah, ketidaksadaran mereka mempersepsikannya sebagai sebuah ancaman kehilangan objek (object loss). Kecemasan ini berakar pada apa yang disebut Freud sebagai kecemasan kastrasi atau kecemasan kehilangan cinta dari objek lekat.

Rabu, 15 Juli 2026

Hari pertama setelah melepas jabatan selalu menjadi momen paling sunyi bagi seorang mantan pemimpin. Ponsel yang biasanya tidak berhenti berdering mendadak senyap. Ruang tamu yang dulunya sesak oleh barisan pencari muka, kini kembali lowong. Panggung kekuasaan telah digulung, lampu sorot dipadamkan, dan ajudan yang sigap membukakan pintu mobil kini melayani orang lain.

Namun, ada fenomena menarik yang kerap terjadi dalam transisi ini. Seseorang yang selama bertahun-tahun berada di dalam lingkaran kekuasaan—bersikap kompromistis, defensif, bahkan cenderung memaklumi segala kebijakan—tiba-tiba mengalami metamorfosis pasca-jabatan. Mereka bertransformasi menjadi sosok yang amat kritis, vokal, dan tak jarang berdiri di garis depan sebagai oposisi. Mengapa kehilangan kursi kekuasaan justru melahirkan keberanian berbicara yang selama ini tersumbat? Apakah ini murni sebuah pencerahan moral, ataukah ada gejolak psikososial yang lebih kompleks di baliknya?

Selasa, 14 Juli 2026

Di balik dinding sebuah sekolah lanjutan atas, sebuah ledakan verbal meremukkan keheningan dunia pendidikan. Seorang remaja, yang selama ini dikenal tenang namun obsesif, melontarkan makian kasar di luar nalar kepada gurunya. Bagi mata awam, ini adalah potret kenakalan remaja biasa—sebuah masalah disiplin. Namun, jika kita membedah riwayat hidupnya menggunakan pisau analisis psikoanalisis Sigmund Freud, kita akan menemukan bahwa ledakan tersebut bukanlah tindakan acak. Ia adalah kulminasi dari runtuhnya benteng pertahanan psikis yang rapuh, sebuah jeritan dari struktur bawah sadar yang terkoyak oleh kehilangan bertubi-tubi dan fiksasi perkembangan yang tak terselesaikan.


Remaja ini hidup dalam apa yang disebut psikolog sebagai "psychologically broken home" (keluarga yang retak secara psikologis). Kehilangan ibu kandung di usia akhir Sekolah Dasar (SD), disusul kematian ibu tiri pertama, pernikahan ketiga sang ayah, hingga penolakan spasial di mana ia "dibuang" untuk tinggal terpisah dari ayahnya, telah menciptakan trauma relasional yang mendalam. Mari kita bedah bagaimana dinamika struktural jiwa dan fiksasi psikoseksual membentuk tragedi mental remaja ini.

Senin, 13 Juli 2026

Bermula dari status di media sosial, seorang anak melontarkan kata-kata kasar terhadap pihak sekolah, atau mungkin lebih spesifiknya terhadap guru. "Si Anj*ng, rapat....". Itulah hardikannya. Sontak saja, status itu menyebar di tengah-tengah masyarakat dan  terlebih lagi tenaga pendidik dan kependidikan.  Karena dengan hadirnya kalimat itu jua, pihak sekolah kemudian mencoba untuk melakukan refleksi dan koreksi terhadap kejadian itu.



Bagi sebagian orang memancing kegundahan, kemarahan, dan emosional. Tetapi, Saat isu itu menyebar dan kemudian mampir ditelinga guru BP/BK, narasi berubah. Dari aura kebencian kepada si pembuat status, menjadi sebuah tantangan psikologis untuk melakukan penelaahan mengenai latar kisah, yang memantik kejadian itu.

Minggu, 12 Juli 2026

Jalan tetap terbuka, dan tetap ada. Masalah pokoknya, adalah apakah setiap orang tahu, paham dan mau memanfaatkan jalan tersebut ?



Tentu saja, betul. Banyak jalan menunju satu tujuan. Banyak cara untuk bisa mencapai cita-cita. Maka hal penting yang perlu ditetapkan saat ini, adalah menetapkan visi atau misinya itu sendiri. Mau kemana kita ? al-Qur'an, memberi kita peringatan, fa aina tadzhabun, mau kemana kita ?

Sabtu, 11 Juli 2026

Sebelas Juli 2026, adalah bagian dari hari bersejarah. Khususnya dalam kaitan dengan perkembangan madrasah di tempat kerja, MAN 2 Kota Bandung. Hari ini, merupakan puncak dari perjalanan penerimaan Santri Baru Rumah Tahfizh MAN 2 Kota Bandung. Adan sebelas 11 santri untuk tahun ini. Dua santri, adalah santri senior, dan 9 santri baru, menjadi keluarga besar Rumah Tahfizh.


Ada sebuah kebahagiaan, dan kebanggaan bagi MAN 2 Kota Bandung. Kegiatan hari ini, menjadi momentum bersyukur, karena agenda pengembangan layanan pendidikan di lingkungan MAN 2 KOta Bandung, sudah mulai mekar. Sejumlah orangtua, sudah mulai mencium programnya, dan sejumlah anak sudah menjadi bagian keluarga besarnya.