Di
kehidupan masyarakat, kadang kita mendengar ”ah, yang penting mah, niat...!”,
begitulah ungkapannya, sambil memasukkan sejumlah koin ke dalam kencleng
masjid. Ungkapan dan pernyataan itu, adalah hal biasa, dan sering kita dengar.
Bahkan, latar sikap dan tindakan itu, kerap kali pula, disandarkan pada hadist
Nabi Muhammad Saw, tentang niat.
ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, "Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan
sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka
hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena
dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke
mana ia hijrah," (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).