Just another free Blogger theme

Tampilkan postingan dengan label Baru Sadar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baru Sadar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 November 2026

Di sebuah taman, kehidupan tidak pernah berjalan dengan satu pola. Ada semut yang sibuk bekerja, membangun sarang, mengumpulkan makanan, dan menjaga keberlangsungan koloninya. Ada kupu-kupu yang terbang dari satu bunga ke bunga lain, menikmati keindahan dan mengisap nektar. Ada kucing yang senang mencari tempat nyaman, menikmati kehangatan, dan sesekali datang ketika makanan tersedia. Ada pula siput yang bergerak perlahan, menghabiskan sebagian besar waktunya dengan diam, seolah tidak terlalu peduli dengan kesibukan di sekitarnya.


Keempat makhluk itu memiliki karakter dan cara hidup yang berbeda. Tidak ada yang sepenuhnya sama. Masing-masing memiliki tempat dalam ekosistemnya.

Senin, 02 November 2026

Pagi ini. Saya harus memastikan, kaki ini tetap melangkah. Kendati kecil. Hanya selangkah, demi selangkah. Tidak lebih banyak dari itu. Namun, dengan langkah demi langkah kecil itu, teryakini dalam diri, bahwa posisi tubuhku kian maju. merangsek ke depan.



Apakah hal ini sudah menunjukkan langkah yang signifikans, atau cukup membedakan dari posisi sebelumnya ? 

Iya, sudah tentu, tidak akan mudah terlihat, bila yang digunakan skala-jarak geografi. Tampak kecil, dan mungkin sangat kecil, bila kita melihatnya dengan menggunakan skala-geografi. Diameter dan keliling kehidupan ini, sungguh sangat teramat luas adanya.  Namun, rasa-rasanya, tidak ada kewajiban kita untuk mengelilingi bumi. Andai ada yang sanggup melakukan, hal itu, lebih merupakan sebuah keistimewaan belaka. Oleh karena itu, tetap saja, untuk kepentingan pribadi dan juga kemanusiaan, langkah-langkah kecil tadi, masih tetap harus dilakukan. Wajib untuk dilakukan.

Entahlah. Secara pribadi, belum begitu yakin, terkait dengan apa yang akan terjadi di hari esok.  Matahari akan tetap terbit seperti biasa, dari ufuk Timur. Di pagi, esok hari itu.  Tampaknya, tidak akan ada yang unik.  Tidak akan ada yang aneh. Dan tidak akan ada yang baru. Malam ini, bulan masih sembunyi, sedangkan matahari tengah bersiap ke peraduannya, untuk terbit kembali di pagi esok. Tetapi, kegelisahan jiwa, muncul seketika, semenjak beberapa menit terakhir tadi. 


Jam layar komputer, masih menunjukkan pukul 21, lebih delapan menit. Itulah waktu saat huruf terakhir ini, ditik.  Kemudian, seiring huruf demi huruf, waktu berjalan, menuju malam, dan menjemput besok pagi. Momen yang masih ada dalam bayangan, dan sekedar samar-samar terjadi.


 

Mawaddah (مَوَدَّة) berasal dari akar w-d-d (و د د), yang berkaitan dengan cinta, kasih, dan keinginan akan kedekatan. Ar-Raghib al-Ashfahani, menerangkan bahwa kata wadd, mengandung arti menyukai sesuatu dan mengharapkan keberadaannya. Terkadang ia digunakan untuk salah satu dari kedua makna tersebut (Ashfahani, 2017c:736). Dalam konteks hubungan manusia, kata wamaddah bisa diartikan keharmonisan diantara kedua belah pihak atau kedua mempelai.

Dalam QS. Ar-Rūm [30]:21, mawaddah disebut sebagai sesuatu yang Allah jadikan di antara pasangan. Ibn Kathīr menjelaskan mawaddah dengan al-maḥabbah (cinta), sedangkan raḥmah dengan al-ra’fah (belas kasih atau kelembutan), atau syafaqah (welas asih). Penjelasan ini penting karena memperlihatkan adanya kedekatan makna, bukan pemisahan mutlak antara dua istilah (Dimasqy, 2015; Zuhaili, 2013)

Minggu, 01 November 2026

Dalam firman Allah Swt, Qs. Ruum, ayat 21, ada kata sakinah :  

﴿وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ  ٢١﴾ [ الروم:21]

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [Ar Rum:21]

Sudah menjadi lisan-budaya dari masyarakat kita, bila ada saudara, rekanan atau tetangga yang melangsungkan pernikahan, kemudian kita mendoakannya, supaya pernikahannya bisa bertemu dengan kualitas keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.

Sabtu, 31 Oktober 2026

Ada pernyataan, bahwa ”yang disebut pendidikan adalah memfasilitasi peserta didik untuk bisa mengembangkan potensinya, sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya”. Pernyataan ini, selaras dengan filosofi pendidikan nasional dan/atau  kurikulum merdeka. Bahkan, di kurikulum merdeka, kemudian ditekankan pentingnya  penerapan model pembelajaran berdiferensiasi.


Jumat, 30 Oktober 2026

 


Sejatinya, kehadiran pendidikan inklusi ini, tidak serta merta muncul dalam sejarah perkembangan pendidikan di dunia.   Kehadiran gagasan pendidikan inklusi, berkembang secara evolusi dan tumbuhkembang dilatari realitas layanan pendidikan yang berkembang saat itu.  Perkembangan model-model pendidikan inklusi sangat beragam, khususnya di lingkungan negara maju maupun modern (Stubbs 2008; Unesco 2008). Kendati demikian, ada beberapa point penting, yang dicermati sebagai kesamaan faktor penyebab tumbuhkembangnya pendidikan inklusi di dunia.

Kamis, 29 Oktober 2026

Tanggal 28 Oktober selalu datang menyapa dengan seremoni tahunan: upacara bendera, pembacaan teks Sumpah Pemuda, dan rentetan tagar patriotik di linimasa media sosial. Namun, di balik riuhnya perayaan tersebut, muncul sebuah pertanyaan reflektif yang kian relevan bagi generasi muda masa kini: Seberapa dalam nilai-nilai Sumpah Pemuda meresap ke dalam nadi kehidupan keseharian, di tengah gempuran individualisme digital, polarisasi opini, dan krisis orientasi masa depan?


Generasi muda hari ini hidup di era yang paradoks. Mereka adalah digital natives yang terkoneksi secara global dengan kecepatan cahaya, namun kerap merasa terasing di ruang-ruang sunyi mereka sendiri. Batas negara melebur, informasi tanpa batas tersaji di genggaman, tetapi kemampuan merajut komitmen kebangsaan sering kali tereduksi menjadi sekadar simbol seremonial semata.

Rabu, 28 Oktober 2026

Di hadapan sebuah layar gawai yang memancarkan cahaya biru terang, seorang pemuda duduk bersila di atas kasur kamarnya yang sempit. Jarinya bergerak sangat lincah, scrolling tanpa henti menelusuri lini masa media sosial. Di layar itu, silih berganti muncul potongan video kampanye para pejabat tinggi negara, cuplikan rapat paripurna yang diwarnai perdebatan sengit, hingga meme sarkastik yang menertawakan kebijakan publik terbaru. Tanpa aba-aba, jemarinya mengetik sebuah komentar pedas, penuh dengan singkatan tajam, makian kasual, dan emoji api yang menyala-nyala. Bagi pemuda ini, di situlah panggung politiknya berada: bukan di ruang-ruang sidang formal, bukan pula di mimbar partai yang kaku, melainkan di dalam ruang siber yang bising, cair, dan tanpa batas.



Kita sedang hidup di era di mana lanskap politik anak muda telah bergeser secara radikal. Jika dahulu partisipasi politik diidentifikasikan dengan barisan demonstran di jalan raya, kaderisasi partai yang melelahkan, atau perdebatan intelektual di ruang-ruang diskusi kampus, hari ini wajah politik generasi milenial dan Gen Z tampak jauh berbeda. Ia hadir dalam bentuk yang oleh sebagian kaum tua dipandang sebagai bentuk "serapah"—sebuah luapan kejengkelan, sinisme, dan ketidakpercayaan yang dibungkus dalam estetika digital yang serba cepat.

Senin, 26 Oktober 2026


Tidak berlebihan, bila kita menyebutkan bahwa gaya knalpot sepeda motor adalah gaya hidup si pemiliknya. Mungkin terlalu dini  menyebutkan gaya knalpot, adalah karakter atau kepribadian dari si pemiliknya. Tetapi, bisa jadi, melalui karakter knalpot kendaraan itu, kita bisa mengukur kewibawaaan, kesantunan, dan kepekaan pemiliknya pada orang lain.

Minggu, 25 Oktober 2026

Di ruang-ruang kelas sekolah di seluruh penjuru negeri, sebuah ritual tahunan yang sarat ketegangan kembali berulang. Lembaran kertas berisi deretan angka dan predikat dibagikan kepada para siswa. Ada isak tangis kekecewaan karena angka-angka di kertas itu tidak mampu menembus standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), namun ada pula pekik kegembiraan tatkala seorang siswa berhasil merangsek ke peringkat tiga besar di kelasnya. Di saat yang sama, para orang tua menunggu di rumah dengan debar jantung yang sama, berharap anak-anak mereka pulang membawa selembar rapot dengan deretan nilai yang memuaskan.



Sejak berabad-abad lalu, sistem pendidikan formal modern kita telah lama mengidentifikasi keberhasilan belajar melalui instrumen yang terukur secara kuantitatif: nilai ujian, indeks prestasi kumulatif (IPK), medali olimpiade sains, serta gengsi institusi tempat seseorang menimba ilmu. Angka 90 atau 100 dianggap sebagai mahkota tertinggi yang membuktikan bahwa seorang anak telah "berhasil" dididik.

"Karir mamah di sekolah ini, sudah mentok. Jadi wali kelas..." itulah curhatan seorang rekanan, yang dia ucapkan kepada anaknya, saat berdiskusi di rumah.



Menurut pengakuannya, pandangan itu disampaikan kepada anaknya, dengan maksud dan harapan, sang Anak mampu mencerna mengenai kegelisahan pribadinya sebagai seorang wanita karir, dan juga mampu menarik satu keputusan-strategis untuk masa depannya.

Dihadapan anak yang tengah bingung dengan masa depannya, padahal ijazah sarjana keperawatan sudah ada di tangannya, termangu sesaat. Entahlah, apakah dia sedang mendalami makna dibalik ucapannya itu, atau karena dia tidak mengerti dengan maksud dan tujuan orangtuanya mengatakan hal itu kepadanya.

Sabtu, 24 Oktober 2026

Pendidikan Khusus untuk anak berkebutuhan khusus (special teaching for special children), sudah ada di tengah-tengah Masyarakat (Lewis and Norwich 2005).  Kategorinya sudah cukup beragan, layanan pendidikan khusus itu, dimaksudkan untuk bisa melayani kebutuhan khusus peserta didiknya. 


Jumat, 23 Oktober 2026

"sebentar, saya akan terangkan dulu, biar yang lain, tidak menjadi dungu..." sebuah ungkapan, yang nyaris kerap meluncur dari lisan seseorang, yang pernah dianggap sebagai filosof, dan penggagas pentingnya budaya akal sehat.


Kendati tidak semua orang merasakan atau menyadarinya, sejatinya dibalik kalimat itu, ada nilai tawaran, sekaligus juga batasan, dan bahkan interogasi pada orang lain.

Mengapa ?

Kamis, 22 Oktober 2026

Setiap pagi, gerbang sekolah terbuka menyambut ribuan derap langkah kaki para siswa. Dengan seragam rapi, tas berbeban buku, dan tumpukan harapan orang tua di pundak, mereka melangkah menyusuri koridor-koridor kelas. Namun, di balik rutinitas harian yang tampak biasa ini, ada sebuah drama kehidupan yang tengah berlangsung: pencarian identitas dan peletakan batu pertama bagi bangunan masa depan.

Bagi sebagian besar remaja, sekolah sering kali dianggap sekadar tempat persinggahan kewajiban—ruang untuk menggugurkan kewajiban belajar, mendapatkan nilai di rapot, dan bertemu teman sebaya. Padahal, sekolah adalah sebuah simulator kehidupan. Cara seorang siswa bersikap, merespons tantangan, dan berinteraksi di lingkungan sekolah adalah miniatur dari bagaimana ia akan mengemudikan kehidupannya di dunia nyata kelak.

Rabu, 21 Oktober 2026

Setiap kali badai modernitas menghentak dengan segala riuh kecemasan—mulai dari krisis eksistensial generasi muda, polarisasi politik yang melelahkan, hingga kegersangan spiritual di balik gemerlap pencapaian materi—manusia selalu mencari satu titik jangkar. Sebuah titik tempat jiwa bisa melabuhkan seluruh lelahnya, tempat sepasang mata tak lagi silau oleh gemerlap dunia, dan tempat hati menemukan alasan untuk tetap percaya bahwa kehidupan masih menyimpan keindahan. Dalam khazanah Islam, kita mengenal ungkapan qurrata ayun, sebuah ekspresi yang menyimpan kedalaman makna tentang kebahagiaan, ketenteraman, dan sesuatu yang begitu dicintai sehingga kehadirannya menjadi penyejuk pandangan sekaligus penenteram jiwa.


Ungkapan ini bukan sekadar bahasa kasih dalam hubungan keluarga. Ia juga membuka pintu bagi suatu pemahaman yang lebih luas tentang manusia, kehidupan, dan ruang tempat manusia membangun keberadaannya. Dari perspektif geografi humanis, qurrata ayun dapat dibaca sebagai pengalaman manusia dalam menemukan makna di tengah ruang kehidupannya. Sebab, manusia tidak pernah hidup hanya di dalam koordinat geografis. Ia hidup dalam kenangan, harapan, ikatan emosional, keyakinan, dan pengalaman yang menjadikan suatu tempat terasa berbeda dari tempat lainnya.

Selasa, 20 Oktober 2026

Setiap kali badai modernitas menghentak dengan segala riuh kecemasan—mulai dari krisis eksistensial generasi muda, polarisasi politik yang melelahkan, hingga kegersangan spiritual di balik gemerlap pencapaian materi—manusia selalu mencari satu titik jangkar. Sebuah titik tempat jiwa bisa melabuhkan seluruh lelahnya, tempat sepasang mata tak lagi silau oleh fatamorgana, melainkan teduh oleh kedamaian yang hakiki. Di dalam tradisi teks suci Al-Qur'an, jangkar kedamaian itu dirangkum dalam sebuah frasa pendek yang menyimpan daya magis yang luar biasa: qurrata ’ayun (قُرَّةُ أَعْيُنٍ).


Secara literal, masyarakat Arab klasik menggunakan metafora qurrah yang berakar dari kata qarra—artinya dingin atau tenang—untuk menggambarkan kondisi mata yang menjadi sejuk. Ketika seseorang mengalami kebahagiaan yang begitu mendalam setelah melewati padang pasir yang terik atau penderitaan yang panjang, air mata yang keluar dari pelupuk matanya terasa dingin. Inilah qurrata ’ayun: air mata kebahagiaan, puncak kepuasan batin, dan ketenangan yang tak tergoyahkan oleh badai luar.

Senin, 19 Oktober 2026

Sebuah kecelakaan lalu lintas dapat berlangsung hanya dalam hitungan detik. Suara benturan, tubuh yang terlempar, kaca yang pecah, dan kepanikan orang-orang di sekitar menjadi bagian dari peristiwa yang mungkin segera berlalu. Korban yang selamat kemudian dibawa ke rumah sakit. Luka dijahit, tulang yang patah ditangani, dan tubuh perlahan dipulihkan. Namun, benarkah semuanya selesai ketika luka fisik mulai mengering?


Bagi sebagian orang, jawabannya tidak sesederhana itu. Ada yang terus terbayang suara benturan setiap kali mendengar kendaraan mengerem mendadak. Ada yang merasa cemas ketika harus melewati jalan tempat kecelakaan terjadi. Ada pula yang sulit tidur karena ingatan tentang peristiwa tersebut muncul berulang kali, seolah-olah kejadian itu baru saja berlangsung.

Minggu, 18 Oktober 2026

Kita bisa berdebat masalah ini. Makan Bergizi Gratis itu, projek kemanusiaan, atau projek politik ? sebiuah pertanyaan, yang bisa membelah kita bersama, dalam posisi keberpihakannya sendiri. Mengapa, program ini, terus saja menjadi hal yang dibincangkan banyak orang, dan bahkan, kerap kali memantik diskusi pelik, dan bahkan emosional ? bisa jadi, satu diantara sekian masalah itu, karena ada selimut tebal yang mengitarinya.



Betul. Selimut tebal itu, adalah ketidakjelasan orientasi negara dalam mengembangkan sebuah program. Program yang diselenggarakan hari ini, dan atau selama ini, seperti pembangunan rumah murah, bantuan tunai, subsidi BBM, Bantuan Operasional Sekolah, koperasi merah putih, dan MBG, ada di persimpangan jalan ideologi!

Sabtu, 17 Oktober 2026

Di sudut sebuah pura di Bali, asap kemenyan membubung tinggi membawa wewangian sajen menuju langit, diiringi dentang genta dan rafal mantra yang diucapkan secara berulang. Beberapa ratus kilometer dari sana, di tengah riuk-pikuk megapolitan Jakarta, seorang pemuda menundukkan kepala di dalam gerbong kereta komuter, jemarinya sigap menggeser layar ponsel pintar yang menampilkan aplikasi kumpulan doa harian. Sementara itu, di sebuah desa terpencil di kaki gunung, sekelompok warga berkumpul mengelilingi hidangan tumpeng, menadahkan tangan sembari merapalkan doa-doa keselamatan dalam bahasa lokal yang kental.

Secara teologis, doa adalah sarana komunikasi spiritual antara manusia dan Sang Pencipta—sebuah bentuk kepasrahan, permohonan, atau ungkapan syukur. Namun, jika kita menanggalkan sejenak kacamata dogmatis dan memandangnya melalui lensa studi budaya (cultural studies), doa bertransformasi menjadi fenomena yang jauh lebih kompleks. Doa bukan lagi sekadar ritus agama yang privat dan abstrak, melainkan sebuah praktik budaya (cultural practice) yang sarat dengan simbol, relasi kuasa, identitas, dan performativitas.