Just another free Blogger theme

Tampilkan postingan dengan label Geografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Desember 2025

Menarik. Sekaligus mohon maaf kepada masyarakat Aceh dan sekitarnya, khususnya yang terkena bencana. Untuk yang kesekian kalinya, kondisi saudara-saudara kita di sana, masih tetap sekedar jadi objek pembicaraan saja. Penulis mengajukan permohonan maaf, karena kerap kali menjadikan kejadian yang menimpa saudara kita di sana, sekedar jadi objek narasi, wacana atau objek konten. Termasuk kali ini. Penulis masih saja, memanfaatkan kejadian itu sebagai objek konten pribadi ini. Namun demikian, maksud hati dari penulis adalah menyadarkan pembaca, khususnya yang berkecimpung dalam dunia pendidikan (Geografi) terkait dengan peran nyata dalam membaca kasus serupa ini.



Sekali lagi, mohon maaf, bila kata-kata ini, kurang berkenan. Peristiwa yang terjadi saat ini, sejatinya dapat dijadikan pelajaran penting bagi  kita, khususnya yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, Pendidikan Geografi.

Rabu, 14 Mei 2025

 Dalam al-Qur'an, ada firman Allah Swt yang berbunyi : 

۞ وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًاۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِۗ اِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ 

Kepada (kaum) Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).”  (Qs. Huud, 11:61)



Apakah kaitannya dengan tugas manusia ? apa kaitannya dengan Geografi ?

Selasa, 13 Mei 2025

Satu sudut pandang, yang kerap kali banyak diabaikan, atau diterlantarkan, adalah pemahaman kita mengenai keselarasan Geografi dan Teologi. Kita tidak menggunakan istilah "dilupakan", tetapi cukup terabaikan, sehingga pemahaman dan kesadaran ini, menjadi terlantar. 


Apa dan mengapa Geografi dan Teologi ?

Jumat, 11 April 2025

Banyak sudut pandang  yang bisa menjelaskan mengenai hal ini (Husain 2015; Sudarma 2016, 2018, 2019).  Ragam pandangan itu, sudah ada yang bisa dijadikan pijakan keilmuan, dan ada pula yang masih terus menjadi narasi kritis dan koreksi dari kalangan ilmuwan. Tentunya, kondisi ini adalah hal biasa, dan tidak perlu dijadikan sebagai sebuah kekhawatiran. Sebagai sebuah disiplin ilmu, dinamika  keilmuan dan dialektika pemikiran tersebut, merupakan satu keniscayaan, dan sulit dihindari.

Kendati sudah melewati ragam tahapan dan fase perkembangan keilmuan, Hasrat bertanya mengenai hakikat Geografi, tetap muncul dan mengemuka. Bukan saja, di lingkungan ilmiah (kampus akademik). Narasi ini, bahkan sering muncul dalam konteks kebutuhan


praktis di Lembaga pendidikan dasar dan menengah.

Anak-anak di Lembaga pendidikan dasar dan menengah, kerap mengajukan pertanyaan, apa itu Geografi ?  Pertanyaan ini, sangat mendasar, tetapi juga kritis, dan bahkan menyentuh nalar-akademik dari setiap pemilik informasi kegeografian. Setidaknya, mari kita bincangkan di sini, apa respon kita terhadap pertanyaan itu ? 

Kamis, 13 Februari 2025

Di ruang belajar, seorang anak bertanya, mana yang lebih efektif, pola efisiensi Vietnam atau Indonesia ? 


Pertanyaan sederhana, namun mendalam. Bagi sebagian pemerhati, mungkin memandang pertanyaan itu, terlalu sederhana atau disederhanakan. Tetapi bagi kita, melihat perkembangan zaman,  hari ini, di negeri kita ini, bisa jadi, ada beberapa oint penting, yang bmemang benar-benar perlu dikaji dengan seksama.

Jumat, 07 Februari 2025

Konsep ini sudah beredar di tengah dunia pendidikan. Deep  learning. Sekali lagi, kita masih terus membincangkan masalah ini dengan maksud untuk menjelaskan duduk persoalannya, sehingga kita bisa memahami apa yang perlu dilakukan dunia pendidikan di masa-masa yang akan datang.



Khusus bagi mereka yang memiliki waktu luang, rasanya dapat melakukan kajian mengenai struktur berpikir sistem, subsistem dan teknik operasional. Berpikir sistem, ranahnya bersifat global. Kurikulum 2013 dan atau Kurikulum Merdeka, dapat diposisikan konsep yang mengarah pada pemikiran sistem, atau global. Kurikulum 2023, yang menekankan pada sis kompetensi, akan menuntut pada penguatan pembelajaran  yang mengarha pada kompetensi itu sendiri.

Senin, 14 Oktober 2024

Dalam kehidupan manusia, sesuatu hal itu, ada yang bisa dimanfaatkan langsung, dan ada yang tidak langsung. Buah-buahan atau sayuran, adalah sesuatu hal yang bisa dilangsung dimanfaatkan oleh manusia.  Namun, di luar itu, ada sarana kebutuhan yang tak bisa dimanfaatkan oleh manusia, namun dijadikan modal untuk bisa memanfaatkan yang lainnya. Itulah yang disebut prasarana atau infrastruktur.



Infrastrktur adalah fasilitas yang mendukung masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Karena itu, infrastruktur biasa disebut juka social overhead capital, atau modal yang digunakan secara tidak langsung oleh manusia, untuk menunjang atau mentransformasi aktivitasnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Selasa, 14 Mei 2024

Tak bermaksud menambah kepusingan guru atau peserta didik di kelas. Tidak. Tulisan ini, tidak dimaksudkan untuk menambah-nambah masalah. Tetapi, pertanyaan sederhana di kelas, kerap kali muncul dan menjadikan sumber kesulitan bagi seorang tenaga pendidik Geografi di dalam kelas, khususnya jika dihadapkan pada pertanyaan, "Pak, ada berapa konsep esensial atau konsep dasar Geografi ?"


Dengan pertanyaan sederhana itu, seorang guru Geografi atau yang mengampu pelajaran IPAS/IPS di jenjang persekolahan, bisa jadi, akan mengalami kelimpungan. Setidaknya, kelimpungan kalau kemudian di menjawab "ada 10", terus sang peserta didik mengejar lagi, "apa memang hanya 10, bisa lebih atau kurang pak?"

Waduh !? 

Jumat, 01 Maret 2024

Pernahkah, mendengar, atau melihat, ada seorang pejabat membawa sekertaris cantiknya jalan-jalan, makan  bersama, hilir mudik ke tempat belanjaan, atau malah bisa menginap di hotel berduaan ? Jika pernah, maka, gejala itulah yang disebut dengan stayvacation, ungkapan yang biasa digunakan, yaitu staycation.


Istilah staycation artinya liburan atau bersantai ria. Kata ini berasal dari stay at home vacation atau stay in vacation. Dalam rangka memulihkan stamina, atau produktivitas, atau menghilangkan kepenatan, maka seseorang kemudian mengambil program staycation.

Selasa, 27 Februari 2024

Isu dihapuskan mata pelajaran Agama dalam kurikulum pendidikan, muncul lagi, dan menguat lagi. Isu ini, seakan tidak pernah habis, dan mungkin tidak akan pernah berhenti. Sepanjang, ada analisis yang memosisikan agama sebagai 'masalah' bagi  masa depan bangsa dan negara ini. Salah satu yang sempat ramai dalam perbincangan netizen adalah ucapan dari Kepala BPIP, Yudian Wahyudi (2020). 



Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara telah diterima oleh mayoritas masyarakat, seperti tercermin dari dukungan dua ormas Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah sejak era 1980-an. Tapi memasuki era reformasi asas-asas organisasi termasuk partai politik boleh memilih selain Pancasila, seperti Islam. Hal ini sebagai ekspresi pembalasan terhadap Orde Baru yang dianggap semena-mena.

Minggu, 25 Februari 2024

Ah, bagi sebagian orang, mungkin tidak peduli namanya apa, tetapi kejadiannya serupa itu. Karena, membeda-bedakan arti, jika hanya karena perbedaan nama daerah, menjadi sesuatu yang tidak berguna.  Sudah jelas, dan bisa dipastikan, bagi daerah-daerah tertentu, yang pernah memiliki kejadian serupa itu, akan memiliki nama lokal atau nama daerahnya sendiri. Dengan demikian sudah tentu, akan melahirkan perbedaan sebutan.



Benarkan ?  

Tornado adalah istilah bahasa kita, yang diserap dari bahasa Spanyol 'tronado' yang mengandung arti badai petir. Ada juga yang mengatakannya, dari bahasa Latin, tonare yang memiliki arti gemuruh. Sedangkan, dalam bahasa lokal orang Indonesia, yaitu, ada yang menyebut angin puyuh, puting beliung, atau angin kencang atau istilah lainnya, yang tumbuh kembang di masyarakat lain. Tentunya, semakin banyak masyarakat lokal yang melihat kejadian itu, akan semakin banyak bahasa sebutannya. 

Senin, 12 Februari 2024

Pertanyaan ini, sangat serius, benarkah Geografi itu diposisikan sebagai disiplin ilmu yang tidak memiliki paradigma keilmuan tersendiri ? tidak mudah untuk menjawab ini. Di sebut tidak, bukan berarti karena tidak ada jawaban, tetapi pertanyaan ini memancing banyak pihak untuk bertanya kembali apa yang dimaksud dengan paradigma, dan apa yang dimaksud dengan Geografi.



Sekali lagi. Pertanyaan itu, sangat serius, dan perlu untuk ditanggapi, baik oleh kalangan Geograf, tenaga Pendidik Geografi maupum mereka yang tengah belajar Geografi. Keberhasilan kita dalam memberikan tanggapan terhadap masalah ini, dapat dipastikan, akan mampu meningkatkan kepercayaan diri seseorang, untuk menganut keyakinan ilmiahnya terhadap Geografi sebagai sebuah disiplin ilmu. Sementara, jika gagal dalam memberikan tanggapan terhadap masalah ini maka sudah dipastikan pula, orang tersebut akan mengalami kegamangan untuk meyakini Geografi sebagai sebuah disiplin ilmu.

Sebagai orang yang sudah 15 tahun mengajar Geografi, sudah tentu, akan kaget dan dikagetkan dengan pertanyaan ini. Jelaskan, kalau Geografi benar-benar menjadi sebuah disiplin ilmu tanpa paradigma, menunjukkan bahwa seluruh hal baik yang terkait dengan pikiran, perkataan dan tindakan kegeografiannya selama ini, hancur sudah. Ijazah pendidikan Geografi, menjadi tidak ada artinya. Hal itu terjadi, karena ternyata, keilmuan yang didapatkannya pun, bukanlah sebuah disiplin ilmu berparadigma.

Dari mana asal-usul pertanyaan ini ? atau mengapa, pertanyaan ini muncul ? 

Satu diantara sekian soalan yang ada di sekitaran Geografi itu, adalah terkait dengan identitas kegeografian. Betul, saat disiplin ilmu dipecah jadi dua,  3, 4 atau lima , maka kemudian orang bertanya, dimana posisi Geografi ?

Sebut saja, bila orang berbicara mengenai dualisme keilmuan, eksak atau sosial (IPA atau IPS), di mana posisi Geografi ? belum ada bisa menjawab dengan tegas. Maka orang bisa menuduhnya, tidak ada paradigma yang tegas mengenai posisi keilmuan Geografi. Hal itu terjadi, karena Geografi ada IPA-nya, dan juga ada karakter IPS-nya.

Lantas, bagaimana kalau orang mengelompokkanya pada kelompok humaniora ? jelas sudah, untuk hal yang ketiga ini pun, sangat sulit ditempatkannya. Memang, dulunya Geografi adalah logografi atau cerita perjalanan dari seorang petualang, tetapi tidak serupa dengan novel, roman, atau sejarah. Maka karena itu, sulit diposisikan sebagai kelompok humaniora.

Kesempatan berikutnya, mungkin ada yang  berusaha untuk memasukkannya pada rumpun teknik. Setidaknya karena Geografi kerap bicara mengenai pemetaan, SIG, penginderaan jauh, atau survey dan sejenis itu semua. Kita setuju dengan penjelasan ini, namun Geografi bukan hanya itu saja, Ada aspek lain, yang tidak berkarakter teknik, namun tetap menjadi bagian penting dari Geografi.

Bila demikian adanya, ada satu kelompok keilmuan lagi, yang biasa disebutkan orang, yaitu kelompok agama (religion studies). Wah, untuk hal yang satu ini pun, tidak tepat. walaupun, Geograf kadang menjelaskan mengenai ragam agama yang tumbuhkembang di dunia, namun Geografi bukanlah cabang atau jenis dari ilmu teologi.

Bila demikian adanya, akankah Geografi menjadi sebuah ilmu dengan disiplin multi-paradigma (paradigma ganda) ? Istilah ini, perlu dipertajam dengan baik. Sehingga, dapat dipahami dengan tegas, posisi Geografi itu sendiri. Namun untuk kepentingan kali ini, andai saja, sambal adalah sebuah makanan enak, maka Geografi itu adalah sambalnya, bukan cabai, bukan garam, bukan gula, bukan cobeknya. Tetapi sintesis dari itu semua, itulah Geografinya.

Itulah paradigma keilmuannya. Bukan yang  lain. 

Tidak sadar, atau tidak semua orang menyadari. Setiap tindakan, pada dasarnya memiliki alasan. Alasan yang paling kuat, yang menjadikan seseorang mengambil tindakan tersebut. Jelaslah, bahwa dalam pemahaman ini, tidak ada tindakan manusia yang tidak memiliki alasan. Pasti, atau pastinya, ada alasannya. 

Persoalannya, adalah, apakah alasan itu hadir dalam bentuk penalaran, perasaan atau ucapan yang dikemukakan secara terbuka ? atau, bila tidak diungkapkan, alasan itu muncul dibalik seluruh hal yang disebutkan tadi, tetapi hadir dalam alam bawah sadarnya. Untuk menjelaskan hal ini, maka mau tidak mau, kita harus pinjam pola pikir atau pandangan yang dikembangkan Sigmund Freud mengenai psikoanalisis.

Sore ini. Sebelum pulang dapat informasi, bahwa pimpinan di sebuah lembaga melakukan penataan ulang terkait tata-kelola penggunaan ruang di gedung tersebut. Kenampakkan yang  nyata, sewaktu bermaksud pulang kerja, tampak bahwa ruang bendahara organisasi itu, pindah dari ruang dalam ke ruang  terbuka. Sementara ruang dokumen, yang semula ada di bagian depan, atu di ruang terbuka itu, kemudian di pindakan ke ruang dalam, menjadi ruang yang tertutup.

Bagi sebagian orang, kebijakan itu mungkin tidak istimewa. Tidak menarik. Atau, tidak memberikan sesuatu yang layak dibicarakan. Pemindahan dan rotasi ruang kerja, adalah sesuatu hal yang biasa, yang bisa disebut sebagai hal normal, wajar, dan alamiah, bergantung pada hasrat atau keinginan dari pimpinan yang mengeluarkan kebijakan tersebut. Kebijakan itu, rasa-rasanya, tidak perlu dikomentari, dan hanya menghabiskan waktu dan tenaga saja. 

Biarkan saja berlalu. Karena perubahan itu, adalah hal biasa, dan normal di lakukan oleh siapapun dan kapanpun juga !

Tetapi, bila kemudian ada orang, atau pihak tertentu, yang mencoba untuk mengajukan pertanyaan, apa alasan dan apa maksud dari perubahan itu, dan mengapa pola perubahannya seperti itu ? bagaimana kita menjelaskan pertanyaan-pertanyaan serupa itu ?

Terkait hal ini, maka, harapan untuk mendapatkan jawaban secara lisan dari pihak terkait, mungkin jadi tidak memuaskan. Tetapi kendati tidak memuaskan, argumentasi dan atau jawaban mereka itu, hendaknya dapat dijadikan petunjuk untuk menggali alam bawah sadar mereka yang menyebabkan keluarnya kebijakan tersebut.  Pada konteks inilah, yang disebut psikoanalisis.



Adalah menarik, seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, jika melihat ada seseorang yang diduga menunjukkan indikasi melakukan geopatologis dalam kehidupan hariannya. Maksudnya itu, seseorang potensial melakukan tindakan-keliru bersikap dan bertindak, terkait dengan ruang yang ditinggalinya. Geopatologis, yang kita maksudkan di sini yaitu penyakit mental yang disebabkan karena adanya persepsi dan reaksi yang tidak tepat terhadap ruang.

Seseorang yang menata ruang, dari ruang dibagian dalam ke bagian  luar, bagaimana kita dapat menggali alam bawah sadar yang muncul dalam diri orang tersebut ?

Sebelum menjawab masalah itu. Kita lihat kasus lain yang perlu dicermati dengan seksama.  Menurut informasi dan pengamatan sepintas, ruang pimpinan itu bisa ditebak dengan mudah. Kalau ruangannya tertutup rapat, menunjukkan orangnya ada di dalam. Sedangkan, bila pintu ruangannya terbuka, menunjukkan pimpinan itu, sedang ke luar atau tidak ada. Bagi sebagian orang, mungkin, hal ini agak sulit dipahami. Karena pada umumnya, lebih banyak yang terjadi itu sebaliknya. Jika pintu tertutup berarti tidak ada, dan bila terbuka menunjukkan orangnya ada. Ini malah terbalik.

Bagaimana hal inii bisa dipahami ?

Dengan  membuat analogi antara dua kasus tersebut, satu diantara pertanyaan kritis, adalah mungkinkah ada kelemahan pola komunikasi dan koordinasi yang dimiliki pimpinan ? Lemahnya pola komunikasi ini, ditunjukkan dengan memisahkan dirinya dengan pejabat yang semula masuk 'lingkaran dalam' menjadi 'lingkaran luar', atau seperti yang ditunjukkan ruang kantornya. Pintunya nutup berarti, orangnya ada, sedangkan kalau orangnya tidak ada ditunjukkan dengan pintu terbuka.

Memisahkan ruang, secara psikologis menunjukkan menjauhkan jarak komunikasi dan interaksi. Hal ini, bisa pula menunjukkan adanya perenggangan jasak psikologis. Oleh karena itu, pemindahan ruang-kerja, memberi kesan adanya penjauhan pola komunikasi, antara satu pihak dengan pihak lain. Di sinilah, kita melihta, geopatologis seorang pemimpin, dalam konteks organisasi. Atau bila demikian adanya, akankah ada motif lain, yang belum diungkap?

Bagaimana jika kemudian dikaitkan, bahwa pada dasarnya, dijauhkan itu dengan maksud supaya dekat, karena selama ini, saat ruangannya dekat sulit diajak ngobrol. Logika ini terbalik, tetapi tidak jauh beda, atau mirip logika terbaliknya bahasa-isyarat dari pintu ruang kantornya. Artinya, jika kemudian, dijauhkan, dan bila dipanggil, akan muncul "perasaan daripada bulak-balik, ya udah, mendingan iyakan saja..".

Bagaimana menurut pembaca ?

Sabtu, 10 Februari 2024

Sebelumnya, kita pernah mengulas dan menawarkan konsep geopatologi. Istilah itu, pada dasarnya lebih merupakan eksperimen pemikiran saja. Tetapi, mohon maaf, ternyata jejak digital itu memang menakjubkan. Termasuk dalam kasus ini. Saat, bermaksud untuk menggairahkan diri mendalami konsep geopatologi, ternyata sudah berkembang pesat di wilayah lain terkait dengan Geografi Psikoanalisis (Psychoanalytic Geographies).



Adalah Lucas Pohl (2023:307-312) memberikan keterangan padat dan lugas mengenai pengaruh metode atau kerangka pikir psikoanalisis terhadap geografi. Secara sederhana, dapt kita pahami bahwa tujuan dari Geografi Psikoanalisis ini yakni menggali informasi atau memetakan perilaku manusia yang tampak tidak terstruktur dalam merespon lingkungannya.

Kamis, 08 Februari 2024

Anak yang kedua, duduk di bangku pendidikan menengah pertama. Memiliki hobi yang luar biasa. Setidaknya, itulah persepsi diri sebagai orangtua. Disebut luar biasa, karena dalam kesehariannya, kerap melakukan kreasi dengan kertas atau mainan bekas lainnya, untuk sekedar membuat kebutuhan mainnya sendiri. 


Tidak banyak. Hanya satu atau dua buah. Selepas itu, dia kemudian menyimpannya benda-benda karya pribadi itu, di satu tempat, yang tidak jauh dari kehidupannya sendiri. 

Di Kasur. tempat tidur.

Kamis, 25 Mei 2023


Pertanyaan ini, lebih bersifat dugaan. Atau lebih tepatnya, menemukan inspirasi dari sebuah pesan dari firman Allah Swt. Meminjam istilah Quraish Shihab,  yakni menemukan kesan dari pesan Ilahi,  sebagaimana yang dituangkan dalam al-Qur'an. Sudah tentu, karena sifatnya kesan, maka cenderung dipengaruhi oleh perspektif atau kualitas penalaran yang digunakan oleh setiap pembacanya, dalam hal ini penulis sendiri.

Terkait tema ini, kita akan menyandarkan penalaran pada dua ayat, pertama, ayat 133 surat Ali Imran, yang berbunyi :

﴿ ۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣ ﴾

 ( اٰل عمران/3: 133)

Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (Ali 'Imran/3:133)

Minggu, 31 Januari 2021

 


Dilihat dari karakteristik data atau pendekatannya, penelitian dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Kedua pendekatan ini, merupakan arus utama dalam pelaksanana penelitian, baik di kalangan ilmuwan sosial maupun ilmu alamiah.

Penelitian kuantitatif banyak digunakan dalam ilmu alamiah (natural science). Walaupun kalangan ilmu sosial juga kerap menggunakan pendekatan ini, tetapi pendekatan kuantitatif lebih banyak digunakan oleh ilmuwan eksakta. Karakter dari penelitian kuantitatif itu adalah menggunakan data yang terukur, terindra dan bisa dikendalikan.  Asumsi yang dimilikinya, yaitu menganggap bahwa data bisa dibedakan, dipisahkan dan dijaga jaraknya dari si peneliti.  Jenis data yang digunakannya, yaitu data-data angka atau statistik.

Senin, 16 Oktober 2017

Apakah kita bisa memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai objek penelitian ? Sebuah pertanyaan sederhana, namun memiliki inti masalah yang sangat mendasar. Mengapa di sebut mendasar karena pada kenyataannya, atau dalam beberapa kasus, apa yang tampak dalam dunia maya, bukan sesuatu yang nyata. Namanya juga dunia maya, maka realitasnya pun reallitas semu (nir-nyata).

Di sisi lain, kita sangat sadar, bahwa informasi di dunia maya itu sangat melimpah, bahkan bisa disebut berlebih dan berlebihan. Perhatikan saja media sosial yang kita gunakan saat ini ! dalam medsos teman-teman kita, ada yang berisikan curhatan pribadi,  kelakuan diri, atau informasi mengenai ragam kelakuan yang ada di sekitar penulisnya. Dengan kata lain apakah semua hal itu, bisa digunakan  sebagai objek penelitian ?