Just another free Blogger theme

Selasa, 21 April 2026

Pepatah nenek, di kampung halaman, begitulah seorang tetangga berucap. "Hayam oge, kudu nyiar pacokeun ka luar, mung embung kalaparan mah..". Begitulah kira-kira pepatahnya. Pepatah dalam bahasa Sunda, dan masih teringat dalam benak sang penutur hingga kini. 



Pepatah tadi, secara umum, mengandung makna, "ayampun, untuk mendapat makanan, harus keluar kandang, kalau tidak mau kelaparan".

Apakah pepatah itu, masih berlaku ? Khususnya, bagi anak GenZ saat ini, disaat tradisi keluar kandang itu, menjadi sekedar sebuah opsi ? bagi anak GenZ, keluar kandang, bukanlah kewajiban dan tidak menjadi sebuah keharusan, untuk sekedar mengisi perut. 

Senin, 20 April 2026

Kekerasan teologis adalah konsep dasar yang digunakan untuk merujuk pada sikap, pikiran atau tindakan seseorang dalam memperjuangkan kepentingan dirinya, dengan memanfaatkan pemahaman agama, dihadapan lawan kelompoknya. Tindakan ini, kerap muncul di komunitas-komumitas keagamaan, baik di kelompok internalnya, maupun eksternal.


Secara sosiologis, gejala itu, memancing pertanyaan, terkait alasan pokok dari seseorang bisa terjebak dan atau tergoda untuk melakukan tindakan kekerasan teologis.  Pada realitanya kekerasan teologis itu, tetap akan menunjukkan fenomena tersendiri, disaat ada perbedaan karakter atau level komunitas yang berbeda.

Minggu, 19 April 2026


Pertanyaan ini saya ajukan di forum rapat dinas mingguan (10/04/2013), sesaat selepas pengesahan kedudukan sebagai wakil Kepala Humas di MAN 2 Kota Bandung, tahun periode 2009-2010. Seolah konyol, tetapi tetap menghantui pikiran. Karena ditempat yang berbeda kadang ada  budaya organisasi yang berbeda. Karena perbedaan budaya organisasi itulah, kemudian berdampak pada perumusan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang berbeda. Terkait hal inilah, saya merasa perlu untuk memberikan pengalaman bathin menjadi seorang wakil kepala bagian humas.

Sabtu, 18 April 2026

Di tengah masyarakat, eh, lebih tepatnya, di tengah-tengah obrolan orang kecil, jumlahnya pun tal seberapa, muncul pertanyaan, "lebih baik cepat menyelesaikan masalah, walaupun salah, atau biarkan masalah kecil terkatung-katung?"



Pertanyaan itu menggelitik. Disampaikan dalam forum kecil, di mode obrolan santai orang-orang pos ronda, saat jelang malam tiba. Sambil nyeruput kopi yang tersedia, dengan makanan seadanya, dan gaya bahasa pun seadanya, demikian pula, wawasan yang seadananya, tetapi pertanyaannya, kadang serius. Serius, melebihi nalar seorang pejabat negara.

Jumat, 17 April 2026

Ada yang menarik di awal 2026 ini. Sejumlah negara di Eropa, khususnya negara-negara di kawasan Eropa, seperti Spanyol, Inggris dan juga Prancis, menunjukkan sikap reaktif dan kritis terhadap ajakan, rayuan, kritikan atau keluhan dari Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.



Betul. Pembaca sudah paham. Bahwa sejumlah negara sekutu Amerika Serikat di NATO, memberikan respon beragam, dan cenderung menjaga jarak dengan sikap politik luar negeri Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, atau konflik dengan Iran kali ini. Ada yang menolak pangkalan militernya digunakan sebagai basis penyerangan ke Iran, dan ada pula yang menolak terlibat dalam pemblokadean Selat Hormuz.

Kamis, 16 April 2026

Memperhatikan perang, yang terjadi dalam dua bulan terakhir ini, antara Iran dan Israel-Amerika Serikat, memberikan godaan pemikiran terhadap kita semua. Khususnya bangsa Indonesia. Dari pengalaman itu, apa dan bagaimana, strategi pembangunan Indonesia ke depan ?


Pertanyaan ini, rasanya, menjadi sangat penting dan mendesak. Dengan maksud dan harapan, bangsa Indonesia, tidak boleh terlena, dan terninabobokan oleh kondisi,  sehingga, tidak mampu membaca zaman, dan mengantisipasi zaman.

Rabu, 15 April 2026

Di tahun 2013, kita pernah membicakan dua arah keberpihakan Indonesia. Saat itu, Pemerintah, seakan memiliki kecondongan pada upaya membangun afiliasi pembangunan dan politik gaya Indo-China. Naga-naganya, sangat sederhana. Dikit-dikit China. Dikit-dikit China, Pemerintah diduga oleh publik deketan dengan China.



Sejak Prabowo naik ke kursi kekuasaan, angin pergerakan afiliasi ini, kental dengan aura Amerika Serikatnya. Setidaknya, saat konflik Iran-Israel mengemuka, Prabowo masuk dalam lingkaran BoP (Board of Peace), pimpinan Donald Trump, dan beberapa hari kemudian, meletus perang Israel dibantu AS, dengan Iran.