Just another free Blogger theme

Senin, 03 Agustus 2026

Alkisah. Malam itu, sekitar pukul 22.00 WIB. Kami, sebanyak 29 orang berdiri, bergerombol di Jembatan Gambir - Jakarta. Kumpulnya di sana, dimaksudkan untuk memudahkan kendaraan penjemput, untuk bisa pulang ke kampung halaman, Paris van Java.


Kontakan demi kontakan di lakukan. Ketua rombongan meyakinkan, perjalanan akan lancar, dan penjembut siap tiba di depan kelompok kami. Dari pihak driver memberitakan, bahwa kendaraannya tengah terus berusaha untuk melaju. Begitulah kisahnay di sekitar malam itu.

Detik demi detik berlalu. menit demi menit berlalu. Kendaraan tak jua muncul dihadapan kelompok. Mulai galau bermunculan. "posisi penjemput di  mana..?", "kendaraan di mana?" , "dah sampai belum...?" sejumlah pertanyaan bermunculan dari ragam lisan, yang ada di kelompok. Sementara sang Ketua Regu, hanya bisa meyakinkan, "kendaraan sedang melaju, tapi lambat, macet..." ungkapnya.

Minggu, 02 Agustus 2026

Ruang memberikan peluang untuk membangun kedekatan-manusia. Atau, lebih tepatnya, ruang akan menjadi faktor penting dalam memaksa seseorang untuk menunjukkan ekspresi-kedekatan kemanusiaannya. Seperti yang terjadi, dan tampak di area toilet. Seperti waktu itu, dan sore itu terjadi.



Seperti yang disampaikan dalam tulisan sebelumnya, Sabtu sore, 1 Agustus 2026, terjadi  fenomena kerumunan terkondisikan (conditioned crowd). Jamaah berdatangan dari penjuru propinsi Jawa Barat, Banten dan DKI, untuk hadir atas undangan Kementerian Agama dalam kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan, yang mengambil tempat di Monumen Nasional Jakarta.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Saya, ada dibelakang mereka. Antrian cukup panjang. Iseng-iseng diitung, ada yang antri dengan jumlah sekitar 10 orang dengan ujung ekor yang mengular 2-3 orang lagi di belakangnya. Ada pula yang 9 orang, dengan ujung ekor yang mengular serupa pula. Antrian itu, tampak, panjang, mengular di depan mulut toilet.



Di toilet Masjid Isiqlah. Sore itu. Jelang  maghrib. Bersamaan dengan kegiatan Doa dan Dzikir yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia, di kawasan Monumen Nasional (Monas) Jakarta. 

Bersama sejumlah rekanan dari Kota Bandung, sudah hadir di lokasi, sekitar pukul 16.00 WIB. Jam'ah pun sudah tumpah ruang di kawasan ini. Satu diantara mereka yang hadir dalam hiruk pikuk, adalah kami yang sedang antri di depan toilet ini.

Jumat, 31 Juli 2026

Mosi itulah nama panggilannya. Dia datang. Duduk anggun. Tetapi tampak gelisah. Di hadapannya, sudah duduk rapi, di kursi kerajaannya yang telah diduduki selama 10 tahun terakhir. Di situlah, Hati bersemayam. Semua orang bilang, dia itu adalah pemimpin organisasi, pemimpin Negara, dan atau malah pemimpin dunia saat ini. Tidak ada yang bisa mengalahkannya, baik dari sisi kekuasaan, kewibawaan, atau kemampuannya dalam memimpin organisasi ini. Hingga suatu kali, dia kedatangan pegawai baru, yang bernama Mosi.


Kamis, 30 Juli 2026


Di tengah masyarakat kita, kerap kali, mencampuradukkan antara kompetensi intelektual, kerja dan jabatan. Dalam tataran normal, ketiga hal itu, akan berjalinkelindan dengan baik dan ketat, dan sehingga melahirkan kinerja hidup yang luar biasa, khususnya dalam memecahkan masalah.



Tetapi, memang, bisa dipahami, jika dalam kenyataannya, ketiga komponen itu, kerap kali tidak hadir secara bersamaan. Misalnya, ada pejabat dalam satu posisi sosial tertentu, namun tidak mampu menunjukkan penalaran yang selaras dengan jabatannya,dan kerjanya pun tidak selaras dengan jabatannya. Karena itu, gejala tersebut memantik kita untuk terus membincang masalah keprofesionalan.
Entah mengapa, di sini, jadi ingin banget menuliskan mengenai makna profesionalisme. Ya, walaupun inspirasi masalah ini, lebih merupakan reaksi terhadap situasi yang baru saja terjadi.

Rabu, 29 Juli 2026

Agak sulit untuk memahami kondisi kita hari ini. Dalam keyakinan subjektif kita, negeri ini, ada dalah kondisi yang tidak sedang baik-baik saja. Tetapi, tidak sedikit orang, bahkan kaum intelek, dan kaum terpelajar, yang menganggap masih ada harapan, dan bahkan harapan sedang tumbuh dengan baik. Dua kondisi yang berbenturan, seakan tidak pernah mau bergandengan atau berdampingan ini, kerap kali beraduhadapan.  Sayangnya lagi,  saat  beraduhadapan itu, tidak ada jalan keluar, untuk menembus kebuntuan ini. Sampai hari ini, dan saat ini pun, masih banyak yang terbingungkan karenanya.


Mengapa harus bingung ? Siapa bilang negeri kita, dalam keadaan gelap ? siapa yang mengatakan bahwa negeri kita, masuk dalam fase kecemasan dan potensial terpuruk pada jurang kecemasan yang mendalam ?  

Selasa, 28 Juli 2026

Sebagai orangtua, tidak selamanya mampu mengendalikan anak. Atau, tidak selamanya, orangtua mampu memberikan bantuan fisik kepada anak. Misalnya, karena anak kita, berada di lokasi yang jauh, baik karena sedang belajar atau sedang bekerja, maka akan sulit orangtua memberikan bantuan, pertolongan, atau perhatikan fisik terhadapnya. Namun, kendati ada banyak kendala, terkait hal itu semua, hasrat orangtua untuk memberikan bantuan kepada anak-anaknya, atau anggota keluarganya, tidaklah pernah surut, walau kadang tidak tampak dalam pandangan mata orang lain.



Lantas, apa yang bisa di  lakukannya ?