Untuk memperjelas prosesi
perkembangan ini, secara singkatnya, dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Adalah karakter (atau juga fase peradaban manusia awal), dimana
kehidupan manusia masih di dominasi alam. Alam, masih banyak memberikan
pengaruh pada budaya manusia. Dalam kajian geografi biasanya disebut dengan
istilah fisis feterminisme.
2. Fase atau karakter kedua yaitu possibilisme (relasional). Antara manusia
dan alam dengan saling mempengaruhi. Pengaruh kedua unsur ini akan muncul
sesuai dengan konteksnya. Sulit memang untuk mengetahui besarnya sumbangan dari
setiap unsur geosfera tersebut. Tetapi, pengaruh teknologi yang dimiliki oleh
manusia akan turut membantu untuk menjadi indikator possibilitasnya tahap ini.
3. Tahap kematangan manusia, yang mampu mempengaruhi alam. Manusia
mampu memilah dan memilih peluang. Teori
ini disebut juga dengan teori probabilisme.
4. Tahap keempat, yaitu determinisme teknologi. Kategori ini, bukanlah manusia yang telah mendominasi alam,
melainkan teknologi. Armahedi Mahzar,
menyebutnya dengan istilah “paraorganisme” (supra organisme). Yakni satu
karakter teknologi yang mampu mengendalikan “psikologis manusia” dan
kepribadian manusia, bahkan sekaligus pula menyeleksi manusia. Perhatikanlah
kasus munculnya komputer. Atau teknologi Klonning.
Dalam kajian teknologi klonning, manusia bukanlah sesuatu
hal yang menjadi hak otonomi Tuhan dalam mengaturnya, baik itu jumlah bayi yang
terlahirkan atau pun kapan terlahirnya, termasuk jenis kelaminnya. Bahkan,
lebih jauh dari itu, teknologi klonning ini mampu menjanjikan optimismenya
ilmuwan untuk mampu merekayasa makhluk hidup “sesuai dengan rencana” para
ilmuwan itu sendiri. Sisi ini, sudah mulai menggambarkan bahwa teknologi mampu
menjadi titik selektor bagi kehidupan.