Just another free Blogger theme

Senin, 09 Maret 2026

 Berkesempatan membaca, atau istilah lainnya menelaah terjemaahan dari karya Ibnu Rusyd, saya tertarik untuk merumuskan ulang relasi filsafat dan Syari’ah. Tetapi, saat menelaah relasi antara filsafat dan Syari’ah ini, saya pun malah teringat pada Yahya Muhammad, yang menulis karya dengan tema Metodologi Sains dan Pemahaman Keagamaan. Kedua buku ini, memuat hal yang serupa. Perbedannya, Ibnu Rusyd menelaah relasi antara Syari’ah dan Filsafat, sedangkan Yahya Muhammad menelaah relasi sains dan Agama (Muhammad 2026; Rusyd 2024).

Nalar kita, bisa saja, iseng dengan mengajukan pertanyaan trilogi relasi itu sendiri, yakni bagaimana relasi antara Sains, Filsafat dan Agama. Kajian serupa ini, menarik dan bisa mendinamiskan kompetenasi narasi dan nalar kita hari ini, dan kedepan.

 


Seperti yang disampaikan Aksin Wijaya, Ibn Rusyd, kerap menggunakan kata ’dien’ (agama), selain konsep syari’ah. Bahkan menurutnya, di Kitab Tahafut Tahafut, kedua kata itu digunakan secara besamaan. Oleh karena itu, saya menganggapnya dan memosisikan syari’ah dalam pemikiran Ibnu Rusyd, semakna dengan agama dalam narasi yang disampaikan Yahya Muhammad, walaupun bisa jadi, ada pemikiran lain, untuk bisa membedakan ruang lingkup dan cakupannya.

Minggu, 08 Maret 2026

Pemilik Bibi Kelinci Kopitiam itu ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri setelah mengunggah video pasangan suami istri yang diduga kabur tanpa membayar pesanan di restoran miliknya.


Padahal, Nabilah mengaku dirinya merupakan korban dalam kasus tersebut.

Sabtu, 07 Maret 2026

Saat memahami peristiwa perang Iran dan AS-Israel, ada yang menarik, dalam lisan dan keyakinan bangsa kita ini. Saya ingin menyebutkan, kekeliruan. Atau lebih tepatnya, kekeliruan penalaran, yang kemudian berujung pada kekeliruan Sikap, Tindakan dan Pilihan Keberpihakan.

Lha, mengapa bisa dinyatakan demikian ?

Pertama, kita, atau lebih tepatnya, saya, merasa ada kesalahan menafsirkan terhadap tindakan Amerika Serikat.  Di bawah kepemimpinan Donald Trump hari ini, AS menunjukkan sikap sebagai penguasa dunia, dan pengatur dunia. Presiden Venezuela di culik, dan rezimnya di ganti sesuai dengan kepentingannya. Hari ini, pun demikian, dengan obsesi AS terhadap Pemerintahan Iran.

Jumat, 06 Maret 2026

Pertanyaan ini, muncul, di sore itu. Jelang buka puasa bersama, dengan anak-anak. Di satu tempat. luar dan terbuka. Ruang publik. Tetapi, rekanan yang sudah kenal lama, datang menghampiri, kemudian saling  tukar cerita, dan pengalaman hidup, serta pengalaman kerjanya selama ini.


Di sela obrolan itu, entah dari mana masuknya, kemudian, malah membicarakan mengenai, peluang dirinya untuk bisa kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam pengakuannya, dan memang itulah, yang tertuang dalam administrasi kepegawaian, bahwa dirinya, masih berstatus sebagai pegawai dengan jenjang pendidikan sarjana. Karena itu, wajar dan mudah dipahami, bila disore itu, ujug-ujung mengungkap minatnya, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kamis, 05 Maret 2026

Kita tidak banyak yang tahu, termasuk penulis, duluan mana antara gejala kelelahan massal dengan autisme sosial. Jangankan untuk menganalisis lebih jauh mengenai kedua gejala sosial itu, sekedar untuk memahami makna dasar atau makna pokoknya pun, kita akan mengalami kesulitan yang akut.  Iya, ada semaca, kesulitan yang akut, antara kebutuhan untuk mendalami makna, dengan perangkat argumentasi yang dimiliki.


Seperti yang dialami. Kesempatan ini, kita berhadapan dengan dua istilah yang dicoba di keluarkan. Sekali lagi, tidak banyak yang tahu mengenai makna hakiki terkait konsep ini. Bahkan, ada pula yang mengatakan, sekedar permainan kata saja.

Rabu, 04 Maret 2026

 


Konsep politik literasi, dengan struktur menerangkan dan diterangkan, yakni seperangkat kebijakan atau strategi dalam memanfaatkan atau mengelola literasi untuk tujuan tertentu.  Dalam posisi ini, literasi sebagai sumberdaya atau komoditas politik, untuk mencapai visi dan misi kolektif. Oleh karena itu, politik Literasi, biasa dan akan menjadi kebiasaan para pemilik kekuasaan untuk menggunakannya.  Pemilik kekuasaan itu, bisa berasal dari kuasa politik, maupun kuasa sosial-budaya.

Selasa, 03 Maret 2026

 Ada yang bertanya, ”bagaimana, kamu bisa senyaman itu, menghadapi situasi ini ? bukankah kau, baru saja mendapat berita, yang tidak mengenakkan ?



”wah, hebat, bisa tegar..” adalah penggalan apresiasi rekanan yang lain, melihat keadaan diri, dalam menghadapi kenyataan hidup hari ini, atau dalam beberapa hari terakhir ini.

”tidak begitu juga..” ucapku pendek. Saya masih normal. Normal dalam pengertian, saya pun merasa sedih, dan menyesal, mengapa tidak melakukan ikhtiar yang maksimal, sehingga keputusan akhir ini, harus kembali tidak sesuai dengan harapan.