Just another free Blogger theme

Senin, 23 Maret 2026

Tidak beda jauh dengan selepas perayaan Tahun Baru.  Euporia sebelum hari-H, sewaktu hari-H, dan lupa ingatan, selepasnya. Begitulah pengalaman kita, selepas merayakan idul fitri. bukan hanya tahu ini saja, tetapi tahun-tahun sebelumnya pun, kerap kali, serupa dan semakna ini. 



Hampir bisa dipastikan, paginya lelah, tetiduran sepanjang hari, dan kemudian, menarik kembali memori yang pernah dilupakan, beberapa waktu sebelumnya.

Kembali ke masa lalu !

Itulah kisahnya. 

Minggu, 22 Maret 2026

Pengalaman kali ini, menyentakkan pikiran lagi. Eh, bukan lagi, kali ya, menyentak kuat kesadaran diri, terkait adanya perubahan ritual keagamaan di pedesaan.  Penulis ingin sebut demikian, karena sejatinya, hal ini, sudah terjadi beberapa tahun terakhir. Namun, waktu-waktu itu, belum menjadi penyadaran terhadap diri, dan masih dianggap biasa saja. Sedangkan untuk kali ini, penulis merasakannya,  bahwa kejadian ini, tampaknya, sudah menjadi standar baku dalam pelaksanaan ibadah shalat ied di kampung ini.



Iya, betul. Kejadiannya, adalah saat jelang pelaksanaan Shalat Iedul Fitri. Dalam fiqh ibadah, rangkaian shalat iedul fitri, hanya ada dua, yakni khutbah shalat ied, dan shalat ied itu sendiri. Namun, dalam prakteknya, ternyata, ada perubahan atau lebih tepatnya ada inviasi praktis dari masyarakat Muslim, dalam kegiatan ini.

Sabtu, 21 Maret 2026

Seperti yang lain, dan seperti orang lain, pelaksanaan ibadah shalat Iedul Fitri, dilaksanakan di lapangan terbuka. Seperti itu jugalah, yang saya alami hari itu. Hari raya 1447 H, atau 21 Maret 2026.


Iya, betul, saya termasuk orang yang 'taklid politik' dalam berlebaran.  Pelaksanaan hari raya idul fitri yang saya jalankan itu, senantiasa dan selalu, mengikuti petunjuk dari Pemerintah. Alasannya, sangat sederhana, saya, tidak memiliki kemampuan menghisab, dan juga tidak memiliki waktu untuk merukyah. Maka karena itu, manut saja, kepada mereka yang memiliki kewenangan dan waktu untuk melakukan hal itu.

Jumat, 20 Maret 2026

Alhamdulillah. Lebaran sudah kita lewat. Berhari raya, beridul fitri, sudah kita jalani bersama. Ya, kita lakukan bersama, baik dengan keluarga, tetangga, sanak saudara, kenalan, dan bahkan tetangga di lingkungan rumah kita, walau kadang berbeda latar belakang keagamaan. Namun, setidaknya, pancaran kebahagiaan berhari-raya, dapat dirasakan, dan ditularkan energinya kepada orang yang ada di sekitaran kita.



Soalan kita hari ini, tentunya, buka soal lebaran atau idul fitrinya saja. Selepas kita, berkunjung ke sanak saudara, dan bahkan ada yang nadran atau nyekar, atau ziarah kubur, ke leluhur,  kemudian kita pulang kembali ke rumah tinggal kita, dan duduk istirahat di lorong rumah, atau di ruang tamu.

Kamis, 19 Maret 2026

Tanpa bermaksud mengecilkan, penting dan hikmah dari pelaksanaan Sidang Isbat. Namun, pertanyaan orang awam, dan publik hendaknya dapat dijawab bersama. Karena, manakala pertanyaan ini, dibiarkan menggantung, bukan hal mustahil, esok lusa, akan menjadi bom waktu, terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan.



Mohon izin, dalam narasi ini, menggunakan istilah anomali. Di kamus Bahasa Indonesia, kata anomali mengandung pengertian, n 1 ketidaknormalan; penyimpangan dari normal; kelainan; 2 Ling penyimpangan atau kelainan, dipandang dari sudut konvensi gramatikal atau semantis suatu bahasa; 3 Tek penyimpangan dari keseragaman sifat fisik, sering menjadi perhatian ekplorasi (misalnya anomali waktu-lintas, anomali magnetik). 

Rabu, 18 Maret 2026

Sudah menjadi agenda tahunan, dan kerap menjadi isu tahunan, apakah awal ramadhan, dan lebaran itu, bersamaan atau berbeda-beda ?  Pertanyaan klasik, tapi kadang menjenuhkan. Klasik karena perdebatannya, masuk kategori, isu lama dan lama-banget.  Kemarin ada isu itu, tahun sebelumnya ada itu, dan bahkan, dulu-dulunya, pun, ada isu tersebut. 



Andaipun ada yang mencoba melihat perbedannya, paling dalam urusan sosial. Kalau dulu, kerap ada intrik di tengah masyarakat dan elit, kalau sekarang, sudah lebih cair dari tahun sebelumnya.  Pada saat ini, isi adanya perbedaan itu, kerap tidak menjadi intrik, dan konflik. Tidak lagi. Sudah merasa biasa, terbiasakan, dan dipaksa biasa, menghadapi situasi serupa ini.

Selasa, 17 Maret 2026

 Ada pengalaman menarik, saat MAN 2 Kota Bandung mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang Lomba Sekolah Sehat (LSS) tahun 2019. Demi memanfaatkan momentum baik dan terbaik dalam LSS kali ini, pihak madrasah bukan saja, meningkatkan layanan pendidikan kepada peserta didik, tetapi juga mengajak partisipasi semua pihak, seluruh simpul penyelenggara layanan pendidikan di Madrasah untuk terlibat aktif dalam kegiatan persiapan LSS MAN 2 Kota Bandung ditingkat Kota (Bandung).


Kemenarikannya itu, setidaknya dapat disederhanakan menjadi beberapa hal penting, yang dapat dirumuskan sebagai model menyeluruh dalam penciptaan lingkungan sekolah (atau Madrasah) yang sehat. Penulis berharap, pengalaman yang berkembang di lingkungan MAN 2 Kota Bandung ini, dapat menjadi kekayaan inspirasi, minimalnya bagi keluarga besar MAN 2 Kota Bandung, lebih luasnya lagi bagi siapapun yang bermaksud untuk melakukan perbaikan layanan pendidikan dan penataan lingkungan pendidikan.