Di bawah remang lampu temaram sebuah ruang sunyi, seorang ibu menengadahkan kedua telapak tangannya. Matanya terpejam erat, bibirnya bergumam lirih merapalkan untaian kata yang tak sepenuhnya terdengar oleh orang di sebelahnya. Air matanya menetes pelan, membasahi sajadah. Di tempat yang berbeda, ribuan kilometer jauhnya, sekelompok masyarakat adat menari melingkar di bawah terik matahari yang menyengat, melantunkan mantra-mantra purba bertempo konstan, memohon agar tirta kehidupan segera dicurahkan ke tanah mereka yang kian meretak.
Sekilas, kedua peristiwa tersebut tampak sebagai manifestasi keagamaan yang sangat personal atau sekadar praktik ritualistis. Namun, jika kita melangkah sejenak keluar dari sekat-sekat dogma dan mengamatinya dari ketinggian menara antropologi, kita akan menemukan sebuah panorama yang jauh lebih luas. Doa bukan sekadar urusan privat antara individu dengan Sang Maha Pencipta. Lebih dari itu, doa adalah sebuah fenomena kebudayaan yang sangat vital, melintasi ruang dan zaman, serta menjadi fondasi tersembunyi bagi keberlangsungan peradaban manusia.










.jpg)
