Just another free Blogger theme

Senin, 06 April 2026

 Apakah pernyataan ini, termasuk kategori sikap prematur ? 


Bisa jadi, tidak. Walaupun akhir dari peperangan antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat belum berakhir, namun, kemampuan Iran sampai hari ini, dapat dijadikan inspirasi dan sumber belajar bagi bangsa kita. Menurut penulis, tentunya, sudah bisa. Bisa dijadikan sumber bahan belajar.

Lha, bukankah, negeri Iran itu adalah Islam Syi'ah ?

Minggu, 05 April 2026

 Untuk memperjelas prosesi perkembangan ini, secara singkatnya, dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Adalah karakter (atau juga fase peradaban manusia awal), dimana kehidupan manusia masih di dominasi alam. Alam, masih banyak memberikan pengaruh pada budaya manusia. Dalam kajian geografi biasanya disebut dengan istilah fisis feterminisme.

2. Fase atau karakter kedua yaitu possibilisme (relasional). Antara manusia dan alam dengan saling mempengaruhi. Pengaruh kedua unsur ini akan muncul sesuai dengan konteksnya. Sulit memang untuk mengetahui besarnya sumbangan dari setiap unsur geosfera tersebut. Tetapi, pengaruh teknologi yang dimiliki oleh manusia akan turut membantu untuk menjadi indikator possibilitasnya tahap ini.



3. Tahap kematangan manusia, yang mampu mempengaruhi alam. Manusia mampu memilah dan memilih  peluang. Teori ini disebut juga dengan teori probabilisme.

4. Tahap keempat, yaitu determinisme teknologi. Kategori ini, bukanlah  manusia yang telah mendominasi alam, melainkan teknologi.  Armahedi Mahzar, menyebutnya dengan istilah “paraorganisme” (supra organisme). Yakni satu karakter teknologi yang mampu mengendalikan “psikologis manusia” dan kepribadian manusia, bahkan sekaligus pula menyeleksi manusia. Perhatikanlah kasus munculnya komputer. Atau teknologi Klonning.

Dalam kajian teknologi klonning, manusia bukanlah sesuatu hal yang menjadi hak otonomi Tuhan dalam mengaturnya, baik itu jumlah bayi yang terlahirkan atau pun kapan terlahirnya, termasuk jenis kelaminnya. Bahkan, lebih jauh dari itu, teknologi klonning ini mampu menjanjikan optimismenya ilmuwan untuk mampu merekayasa makhluk hidup “sesuai dengan rencana” para ilmuwan itu sendiri. Sisi ini, sudah mulai menggambarkan bahwa teknologi mampu menjadi titik selektor bagi kehidupan.

Sabtu, 04 April 2026

 Secara formal dalam KTSP (2004), khusus untuk tingkat SMA/MA, ditetapkan bahwa standar ketuntasan belajar Geografi itu, bila siswa memiliki kemampuan dalam (1) Memahami hakikat, objek, ruang lingkup, struktur, dan pendekatan Geografi, (2) Mempraktekkan keterampilan dasar peta dan memanfaatkannya dalam mengkaji geosfer, (3) Memahami pemanfaatan citra dan SIG sebagai wahana memvisualkan geosfer, (4)  Menganalisis dinamika dan kecenderungan perubahan unsur-unsur geosfer serta dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi, (5) Memahami pola dan aturan tata surya dan jagad raya dalam kaitannya dengan kehidupan di muka bumi, (6) Memahami sumber daya alam dan pemanfaatannya secara arif, (7) Menganalisis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan, (8) Menganalisis konsep wilayah dan pewilayahan dalam kaitannya dengan perencanaan pembangunan wilayah, pedesaan dan perkotaan, serta negara maju dan berkembang.


Suharyono (2000, dalam Mamat Ruhimat, 2009) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran geografi adalah (a) mengembangkan cara berfikir untuk dapat melihat dan memahami relasi dan interaksi gejala-gejala fisik maupun sosial dalam konteks keruangan, (2) menumbuhkan pengenalan dan cinta tanah air, serta menanamkan rasa cinta dan hormat pada sesama manusia, (3) memberikan kemampuan untuk membudayakan alam sekitar serta menanamkan kesadaran akan keharusan dan berusaha untuk dapat menikmati atau memanfaatkan alam sekitar, (4) mengembangkan keterampilan untuk melakakukan pengamatan, mencatatan, interpretasi, analisis, klasifikasi, dan mengevaluasi gejala-gejala alam dan sosial, (5) memupuk keterampilan deskripsi dan membuat peta, (6)  memupuk keterampilan membuat komputasi wilayah, (7) memupuk kesadaran ekologi, (8) menanamkan pengertian tentang potensi lingkungan dan kemungkinan usaha yang ada serta mengembangkan pandangan luas dan cita-cita yang rasional dalam memilih dan mengkreasikan lapangan kerja.

Jumat, 03 April 2026

Setelah menelaah problema kritis di atas, kita akan mencoba untuk melihat perkembangan pemikiran kegeografian, khususnya mengenai  hakikat kegeografian yang kita jelaskan di awal tulisan ini, dan kita tidak akan melihat perkembangan teorinya. Untuk mengakaji masalah yang terakhir ini, pembaca dapat menelaahnya tulisan Nathanael Daldjeoni mengenai “Perkembangan Filsafat geografi”. Buku tersebut, bermanfaat bagi kita untuk dijadikan pengantar dalam memahami tonggak-tonggak pemikiran kegeografian dari Herodotus sampai Hagget bahkan pemikiran kegeografi tahun 1970-an di abad 20-an sekarang ini.



Dengan tidak bermaksud untuk memotong bahasan, saat ini, kita hanyalah memfokuskan pada perkembangan akhir geografi dan tuntutan kontemporer pada disiplin ilmu geografi. Kenyataan ini, memang telah disadari sebagai salah satu kelemahan paper kita sekarang ini. Namun, hal tersebut itulah yang  penulis anggap sebagai satu problema penting di saat ini, sekaligus juga problema yang penulis lebih pahami dan mampu ditampilkan  pada kesempatan saat ini dibandingkan yang lainnya. Kendatipun begitu, bukan berati ketidakterbahasannya problema tersebut di atas, merupakan sabagai cacat-konsepsi, malahan penulis merasa yakin bahwa strategi ini adalah satu upaya yang strategis dalam menjawab beberapa tuntutan dan tantangan jaman hari ini. Sekaligus juga supaya menjadi bahasan yang berkelanjutan dan berkesinambungan  dengan tema-tema pemikiran berikutnya.

Kamis, 02 April 2026

Bila mencermati narasi yang muncul di media massa, tampaknya ada dua kategori narasi yang muncul. Narasi itu, memiliki intensitas yang berbeda, dengan aktor yang berbeda. Narasi itu, antara Iran dan Amerika Serikat, dan Iran dengan Israel. Kedua narasi itu, sejatinya, akan memiliki dua karakter dan implikasi yang berbeda.


Dua tema ini, menarik untuk dikaji secara cermat. Khususnya, membedakan antara yang terjadi dilapangan dengan yang terjadi di media massa. 

Rabu, 01 April 2026

Pertanyaan skeptis, yang biasa dan bisa dilontarkan, saat kita membincangkan masalah agenda perdamaian. Perdamaian antara Iran dengan Amerika Serikat/Israel.


Pertanyaan ini, penting untuk disampaikan. Karena narasi yang muncul di permukaan, khususnya di media Indonesia, pembicaraan perdamaian itu, tampaknya hanya dua arah, yaitu Amerika Serikat dengan Iran. Atau lebih tepatnya, narasi yang disampaikan Donald Trump dengan juru bicara Iran. Sementara, Pemerintah Israel tidak atau belum memberikan pernyataan yang mengarah pada kebutuhan untuk masuk ke meja perundingan.

Selasa, 31 Maret 2026

Ditengah gonjang ganjing kondisi perekonomian dunia, akibat peperangan Iran - Israel/Amerika Serikat, sejumlah negara di berbagai belahan dunia melakukan efisiensi. Efisiensi bukan sekedar terkait dengan efisiensi pemanfaatan minyak bumi, tetapi juga anggaran yang dimilikinya. Tersebab, bila terjadi boros dalam pemanfaatan energi di berbagai sektor kehidupannya, bukan hanya menyedot persediaan bahan bakar dan energi, tetapi juga akan menguras anggaran negara.


Dampak dari keadaan itulah, maka sejumlah negara mengeluarkan kebijakan khusus dalam menghadapi krisis minyak bumi kali ini. Kebijakan khusus itu, dikenal dengan sebutan efisiensi.

Teknik operasionalnya sangat  beragam. Ada yang melakukan pemotongan gaji pejabat negara, pemotongan anggaran belanja, dan juga penghentian sejumlah pegawai kontrak.