Hari pertama melangkah ke dalam institusi sekolah bukan sekadar sebuah ritual sosial atau perpindahan fisik dari rumah ke ruang kelas. Dari perspektif psikoanalisis, momen ini merupakan salah satu krisis perkembangan (developmental crisis) paling signifikan yang dialami anak pada awal masa kanak-kanak. Transisi ini menandai pergeseran dari lingkungan domestik yang penuh dengan pemuasan insting serta perlindungan absolut menuju dunia luar yang menuntut regulasi diri, penundaan kepuasan (gratification delay), dan kepatuhan pada hukum-hukum sosial. Untuk memahami kesiapan yang perlu dihadirkan pada diri seorang anak, kita harus membedah struktur psikis mereka melalui lensa Sigmund Freud, Melanie Klein, Donald Winnicott, dan John Bowlby. Melalui pendekatan ini, kesiapan tidak lagi dipandang sebagai kemampuan kognitif semata seperti membaca atau berhitung, melainkan sebuah pencapaian struktural ego yang matang dan kapasitas emosional yang resilien.

Para psikoanalitis, sekolah adalah agen pemisah pertama yang paling konkret antara anak dan figur lekat primer, umumnya ibu. Rumah, dalam topografi mental anak, merepresentasikan perluasan dari diri mereka sendiri atau sebuah "safe harbor" tempat Ego anak belum sepenuhnya teruji oleh realitas eksternal. Ketika anak dihadapkan pada keharusan memasuki sekolah, ketidaksadaran mereka mempersepsikannya sebagai sebuah ancaman kehilangan objek (object loss). Kecemasan ini berakar pada apa yang disebut Freud sebagai kecemasan kastrasi atau kecemasan kehilangan cinta dari objek lekat.