Kadang. kita semua ini sekedar bisa berharap. Tidak lebih dari itu. Bahkan, ada perjuangan lain, selain itu. Bahasa budayanya, langkah terakhir bangsa kita ini, sekedar 'mengurut dada'. Selepas itu, tidak ada lagi langkah yang bisa dilakukan. Tidak ada. Karena langkah berikutnya, kembali pada kalimat pertama tadi, sekedar berharap, dan mengurut dada. Situasi apapun, dan bahkan sesulit apapun, tidak ada pilihan lain, selain mengelus dada, dalam posisi berharap sesuatu keajaiban terjadi dalam kehidupanannya.
Terkait hal ini, muncul pertanyaan, apakah karakter ini, bagian dari DNA budaya kita ? ataukah, itulah yang dimaksud dengan gen-budaya kita, selama ini, dan akan terus menerus serupa itu ? Sebuah pertanyaan, yang perlu dijadikan bahan renungan dan refleksi bersama.








.jpg)


