Just another free Blogger theme

Selasa, 23 Juni 2026

Setiap menjelang hari kesepuluh pada bulan Muharam, atmosfer di berbagai belahan dunia—mulai dari pelataran berdebu di Karbala, gang-gang sempit di daerah perbukitan Lebanon selatan, permukiman padat di pinggiran Teheran, hingga kawasan pesisir Pariaman di Sumatra Barat—mengalami pergeseran seismik. Di tempat-tempat ini, ruang geografis yang biasanya melayani aktivitas fungsional sehari-hari mendadak melarut, digantikan oleh jalinan emosi, memori kolektif, dan ritualitas yang pekat. Bagi seorang pengamat kasat mata, ini adalah festival keagamaan ritualitas tahunan. Namun, bagi seorang geografer humanis, fenomena ini adalah demonstrasi paling paripurna tentang bagaimana manusia mengonstruksi, memaknai, dan mentransformasikan space (ruang kosong/fisik) menjadi place (tempat yang hidup dan bernyawa) melalui rasa, air mata, dan identitas spiritual.



Geografi humanis, sebuah cabang yang meletakkan pengalaman manusia, kesadaran, dan makna subjektif di jantung analisis spasial, menyediakan kacamata yang sangat intim untuk membedah perayaan Asyura. Diinisiasi oleh tokoh-tokoh seperti Yi-Fu Tuan dan Edward Relph, pendekatan ini tidak lagi melihat bumi sekadar sebagai koordinat kartesian atau bentang alam mati. Melalui kacamata humanis, geografi adalah ruang yang dihidupi (lived space). Tragedi pembantaian cucu Nabi Muhammad saw., Imam Husain bin Ali, beserta keluarga dan sahabatnya di padang gersang Karbala pada tahun 61 Hijriah, bukan lagi sekadar peristiwa sejarah yang terpaku pada satu titik koordinat di Irak. Melalui perayaan Asyura, Karbala mengalami replikasi, perluasan, dan proyeksi spiritual ke berbagai ruang geografis di seluruh dunia.

Ketika pulang ke kampung halaman, anakku pernah mengajukan pertanyaan, "Ayah, kenapa kampung ayah, namanya Leuweunggede, tetapi tidak ada hutannya ?" sebuah kepenasaran logis, yang diajukan anak zaman kiwari.



Pertanyaan ini sederhana. Terlebih lagi, bila sekedar pada penggalan pertamanya. Dengan mudah, dijelaskan bahwa nama kampung itu, disebut demikian, karena di zaman  baheula, bentangan hutan sangat mendominasi kawasan ini. Bentangan hutan yang luas itulah, yang kemudian disebut leuweung (hutan), dan gede (luas). Sekali lagi, penggalan pertama pertanyaan ini mudah untuk diberikan penjelasan, tetapi pertanyaan keduanya, sedikit butuh kernyitan dahi, untuk jawabannya  "mengapa hutannya, sekarang ini, sudah tidak ada ?"

Senin, 22 Juni 2026

Stadion sepak bola adalah ruang di mana dinding-dinding rasionalitas runtuh. Di dalam ruang buatan ini, seorang akuntan yang tenang bisa berteriak histeris, seorang guru bisa memaki tanpa kendali, dan individu yang santun tiba-tiba meluapkan emosi yang meledak-ledak. Paat pertandingan Argentina, baik saat berhadapan dengan Aljazair maupun Austria, tampak luapan emosional penonton meledak. Shakira, Klop, dan komentator menunjukkan reaksi-reakso emosional yang sangat luar biasa. Hal itu pun, terjadi pula, saat fans sepakbola dalam negeri, menyaksikan klub kesayangannya mampu mencetak gol dan memenangkan pertandingan. 

Pertanyaan kita hari ini, mengapa fenomena ekspresi tanpa kontrol ini terjadi begitu organik di dalam stadion?



Melalui kacamata geografi humanis, stadion bukan sekadar infrastruktur beton dan rumput hijau. Stadion adalah sebuah place (tempat) yang sarat akan makna, emosi, dan pengalaman subjektif, bukan sekadar space (ruang) kosong yang mati. Pendekatan geografi humanis membantu kita memahami bahwa ledakan emosi penonton merupakan hasil interaksi intim antara tubuh manusia, identitas, dan ruang yang dikondisikan secara khusus.

Minggu, 21 Juni 2026

Di bawah rezim tata ruang kota modern, tubuh manusia adalah entitas yang dikarantina. Setiap hari, kita bergerak dalam labirin aturan tak tertulis yang mendikte seberapa dekat kita boleh berdiri di samping orang asing. Di dalam lift kantoran, kita menatap langit-langit demi menghindari kontak mata. Di dalam kereta komuter, kita melipat lengan rapat-rapat agar kulit tidak tidak bersentuhan dengan tubuh di sebelah kita. Edward T. Hall, seorang antropolog yang meletakkan dasar teori proxemiks (studi tentang jarak spasial manusia), membagi ruang interpersonal menjadi empat zona: jarak intim, personal, sosial, dan publik. Di ruang terbuka kota, pelanggaran terhadap zona-zona ini memicu alarm kecemasan, rasa risi, hingga ancaman sanksi sosial.



Namun, aturan arsitektural dan psikologis ini menguap sepenuhnya begitu tubuh-tubuh manusia terserap ke dalam tribun stadion sepak bola. Di sana, seorang pria asing bisa dengan leluasa bertelanjang dada di sebelah pria lain yang tidak ia kenal. Sepasang kekasih bisa berciuman dengan intens di tengah kerumunan tanpa memedulikan tatapan sekitar. Orang-orang yang tidak saling mengenal saling merangkul, melompat bersama, dan membiarkan keringat mereka bercampur.

Sabtu, 20 Juni 2026

Di luar gerbang stadion, manusia modern adalah makhluk yang dijinakkan. Mereka berjalan patuh di atas trotoar yang telah ditentukan, mengantre dengan tertib di depan kasir swalayan, dan meredam volume suara mereka di dalam moda transportasi publik. Struktur tata ruang kota urban dirancang untuk satu tujuan normatif: menciptakan ketertiban fisik dan emosional. Namun, begitu melintasi pintu putar turnstile stadion sepak bola, seluruh arsitektur penjinakan itu runtuh. Di bawah siraman cahaya lampu lampu sorot (floodlight), puluhan ribu individu mengalami metamorfosis menjadi massa yang ekspresif, bergerak tanpa kendali, dan meledak dalam katarsis kolektif.



Jika dalam esai sebelumnya kita melihat stadion sebagai ruang pelepasan beban kerja urban atau pelarutan identitas dari "Aku" menjadi "Kami," maka kali ini kita akan menyelami dimensi yang berbeda dari geografi humanis. Kita akan membedah fenomena ini melalui sudut pandang sakralitas ruang, geografi indrawi (sensory geography), serta produksi ruang performatif. Stadion bukan sekadar tempat pelarian; ia adalah lanskap sakral yang menghidupkan kembali kedekatan primitif manusia yang telah lama diasingkan oleh modernitas kota.

Jumat, 19 Juni 2026

Pernahkah merasakan, atau melihat, ada anak yang mengalami kegelisahan menjelang liburan panjang ? atau, ada adik atau kakak, yang merasakan kegalauan untuk penentuan rencana dalam mengisi liburan panjang ?



Mungkin saja, satu diantara ragam kejadian itu, ada yang tersaksikan, terasakan atau teralami dalam kehidupan seseorang.  Waktu libur sudah diumumkan, dan waktu libur sudah tiba. Bila saja, semua itu sudah dirasakan, namun penentuan pilihan kegiatan dalam mengisi liburan belum tiba, ada diantaranya yang merasa kegalauan dengan situasi serupa itu. Terkait hal ini, muncul pertanyaan dasar, mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana resolusinya ?

Terkait hal ini, kita bisa membincangkan masalah ini, dari sudut geografi manusia (human geography). Bidang kajian ini, memiliki potensi untuk membantu menjelaskan dinamika psikologi manusia, dalam kaitannya dengan konteks keruangannya sendiri.

Kamis, 18 Juni 2026

Tidak ada yang baru di sekolah itu. Setiap hari dan setiap minggunya tetaplah serupa itu. Termasuk hari Senin ini, pagi ini. Seorang anak, yang beranjak dewasa, jelang usia 16 tahunan, tiba di sekolah, dan berada di depan kelas. Ada pembuncahan yang akut dalam jiwanya. Antara harapan mengenai keberhasilan dan kesuksesan di masa depan, dengan kekhawatiran pragmatis di depan matanya.



Hari itu, dia berjalan menuju pintu kelas. Pintu kayu, terbuat dari kayu jati, dan diukir sederahana oleh pembuatnya.  Kesederhanaan desain pintu kelas itu, terbayang kompleks dan jelimet dalam benaknya. Pun demikian adanya, warna coklat pintu itu, malah tampak abu-abu bagi matanya.  Masih ada kebingungan dan kekhawatiran yang mendalam terhadap posisi dan nasib dirinya saat ini.