Just another free Blogger theme

Jumat, 20 Maret 2026

Alhamdulillah. Lebaran sudah kita lewat. Berhari raya, beridul fitri, sudah kita jalani bersama. Ya, kita lakukan bersama, baik dengan keluarga, tetangga, sanak saudara, kenalan, dan bahkan tetangga di lingkungan rumah kita, walau kadang berbeda latar belakang keagamaan. Namun, setidaknya, pancaran kebahagiaan berhari-raya, dapat dirasakan, dan ditularkan energinya kepada orang yang ada di sekitaran kita.



Soalan kita hari ini, tentunya, buka soal lebaran atau idul fitrinya saja. Selepas kita, berkunjung ke sanak saudara, dan bahkan ada yang nadran atau nyekar, atau ziarah kubur, ke leluhur,  kemudian kita pulang kembali ke rumah tinggal kita, dan duduk istirahat di lorong rumah, atau di ruang tamu.

Kamis, 19 Maret 2026

Tanpa bermaksud mengecilkan, penting dan hikmah dari pelaksanaan Sidang Isbat. Namun, pertanyaan orang awam, dan publik hendaknya dapat dijawab bersama. Karena, manakala pertanyaan ini, dibiarkan menggantung, bukan hal mustahil, esok lusa, akan menjadi bom waktu, terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan.



Mohon izin, dalam narasi ini, menggunakan istilah anomali. Di kamus Bahasa Indonesia, kata anomali mengandung pengertian, n 1 ketidaknormalan; penyimpangan dari normal; kelainan; 2 Ling penyimpangan atau kelainan, dipandang dari sudut konvensi gramatikal atau semantis suatu bahasa; 3 Tek penyimpangan dari keseragaman sifat fisik, sering menjadi perhatian ekplorasi (misalnya anomali waktu-lintas, anomali magnetik). 

Rabu, 18 Maret 2026

Sudah menjadi agenda tahunan, dan kerap menjadi isu tahunan, apakah awal ramadhan, dan lebaran itu, bersamaan atau berbeda-beda ?  Pertanyaan klasik, tapi kadang menjenuhkan. Klasik karena perdebatannya, masuk kategori, isu lama dan lama-banget.  Kemarin ada isu itu, tahun sebelumnya ada itu, dan bahkan, dulu-dulunya, pun, ada isu tersebut. 



Andaipun ada yang mencoba melihat perbedannya, paling dalam urusan sosial. Kalau dulu, kerap ada intrik di tengah masyarakat dan elit, kalau sekarang, sudah lebih cair dari tahun sebelumnya.  Pada saat ini, isi adanya perbedaan itu, kerap tidak menjadi intrik, dan konflik. Tidak lagi. Sudah merasa biasa, terbiasakan, dan dipaksa biasa, menghadapi situasi serupa ini.

Selasa, 17 Maret 2026

 Ada pengalaman menarik, saat MAN 2 Kota Bandung mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang Lomba Sekolah Sehat (LSS) tahun 2019. Demi memanfaatkan momentum baik dan terbaik dalam LSS kali ini, pihak madrasah bukan saja, meningkatkan layanan pendidikan kepada peserta didik, tetapi juga mengajak partisipasi semua pihak, seluruh simpul penyelenggara layanan pendidikan di Madrasah untuk terlibat aktif dalam kegiatan persiapan LSS MAN 2 Kota Bandung ditingkat Kota (Bandung).


Kemenarikannya itu, setidaknya dapat disederhanakan menjadi beberapa hal penting, yang dapat dirumuskan sebagai model menyeluruh dalam penciptaan lingkungan sekolah (atau Madrasah) yang sehat. Penulis berharap, pengalaman yang berkembang di lingkungan MAN 2 Kota Bandung ini, dapat menjadi kekayaan inspirasi, minimalnya bagi keluarga besar MAN 2 Kota Bandung, lebih luasnya lagi bagi siapapun yang bermaksud untuk melakukan perbaikan layanan pendidikan dan penataan lingkungan pendidikan.

Senin, 16 Maret 2026

Sedih. 

Itulah kata, yang terendapkan dalam pikiran. Setelah berlalu beberapa hal dalam pengalaman hidup ini. Di hari itu, terpikirkan, bahwa hari ini, saya merasa sedih.



Ya, mungkin, kalian bertanya. "gak salah alamat tuh, masa yang disebut sedih, tapi terendapkannya dalam pikiran?"

Betul sekali. Saya juga, tidak mengerti. Mengapa masalah ini, malah mengendap dalam pikiran ini, dan kemudian bernafsu untuk menuangkannya. Menuangkan dalam tulisan ini, untuk sekedar menuliskan, pencaharian diri, mengapa saya merasa sedih, atau lebih luasnya, mengapa ada orang yang merasa sedih?

Minggu, 15 Maret 2026

 


Keanekaragaman itu, bukan keinginan kita, dan tidak boleh ada nafsu untuk menganekaragamkan. Bila ada niat, dalam diri  ini, membuat warna-warni dalam beragama, maka niat dan motif itu, menjadi batal karena hukum. Artinya, dorongan untuk mewarna-warnikan agama, menjadi penyebab kebatalannya, perbuatan itu, sebagai buah dari nafsu pribadi. 

Kita bisa membedakan diri, antara kewarna-warnian sebagai wujud natual, dan kewarna-warnian sebagai obsesi subjek. Kewarna-warnian yang diwarnai kepentingan subjek, mudah terjebak pada perbuatan yang didorong oleh hawa nafsu. Tidak jauh beda, dengan orang yang ditakdirkan harus poligami, dengan orang yang punya niat untuk poligami. Maka perbuatan orang terakhir tadi, batal demi hukum, karena niat pribadi, dan bukan sebagai kebutuhan alamiah atau ketentuan sejarah.

Sabtu, 14 Maret 2026

Kita sering kali dipusingkan oleh kegaduhan. Tepi, kegaduhan itu sendiri, kadang disebabkan karena kita diam. Karena kita diam, dan diam yang sangat lama, maka kegaduhan itu, pun, terjadi sangat lama. Oleh karena itu, sangat mudah menyusuan rumusah masalahnya, bahwa kegaduhan segaris lurus dengan kediamannya kita sendiri.


Di lingkungan keluarga. Istri cemberut, karena ada masalah sengkarut dengan suaminya. Kesalnya sudah memuncak, sang Suami malah diam seribu basa. Ujungnya, kekesalan sang Istri berlarut-larut, malah menjadi penyebab gaduhnya suasana dalam keluarga itu. Tambah runyam. Anak dibuat tidak mengerti. Mertua, hendak ikut campur takut, tambah berantakan. Tetangga, sekedar menjadi penonton setia, kendati ada yang sambil tersenyum, atau ada pula yang sangat menyayangkannya.