Just another free Blogger theme

Senin, 13 April 2026

Obrolan ini, sesungguhnya, sekedar obrolan kecil. Di ruang pimpinan sekolah. Membincangkan hal yang sama, serupa, seperti hari-hari lalu. Tidak jauh, dari masalah pendidikan, pembelajaran, atau pembinaan peserta didik. Karena itu, hampir bisa dipastikan, tidak ada sesuatu yang aneh, atau baru. Andaipun ada yang baru, sekedar nama oknumnya saja, masalahnya masih tetap serupa, yakni menyangkut ketiga hal tadi.


Termasuk obrolan hari itu, di tempat itu. Obrolannya tidak jauh dari ketiga masalah itu. Namun, beberapa saat kemudian, muncul pertanyaan yang unik. "bagaimana, formasi kabinet satuan pendidikan, akankah untuk tahun ini berubah ?"

Minggu, 12 April 2026

 Dua tahun sebelumnya, heboh sebuah pemberitaan politik. Ringkasan berita itu, kira-kira demikian, anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR dari Fraksi NasDem, Muslim Ayub, mengusulkan agar Pemilu digelar 10 tahun sekali, bukan 5 tahun. Usul pribadi ini didasari tingginya biaya politik (hingga Rp20 M) dan hutang kampanye, bertujuan memberi waktu bagi anggota legislatif mengembalikan modal. Usulan ini disampaikan dalam rapat Baleg, 30/10/2024, dan mendapat dukungan dari anggota Gerindra, Darori Wonodipuro.


Menyimak usulan itu, dan kemudian mencermati komentar netizen sejagat, ide dan usulan itu, seakan membongkar praktek dibalik sikap politiknya selama ini. Bisa dibayangkan, seorang calon anggota legislatif, bsia menghabiskan biaya kampanya sebesar IDR 20 M. Buat apa, kepada siapa, dan kapan dilakukannya ?

Sabtu, 11 April 2026

Pendidikan Indonesia tertinggal 128 tahun dari negara maju berdasarkan hasil pendidikan Harvard University, Lant Pritchett. Tentu ini bukan untuk mendegradasi optimisme bangsa, tapi sebuah refleksi pendidikan kita tidak sedang baik-baik saja.



Pernyataan ini, menguat dan menjadi salah satu berita yang viral di tengah masyarakat. Terkhusus lagi, di lingkungan dunia pendidikan. Walau agak tertinggal, namun, saya pun, termasuk orang yang dikagetkan dibuatnya.

Mengapa kaget ?

Jumat, 10 April 2026

"Tuh, Kan, Begitulah Israel !

Bukan kali pertama. Israel melakukan tindakan, yang menggaduhkan politik dunia. Tindakan penyerangan kali ini, tentu saja, bukan untuk yang pertama kalinya, dan juga bukan hal yang aneh. Begitulah, sikap dan tindakan politik Israel. ..."Kira-kira demikianlah, ucapan dari kelompok lawan politik Israel.


Tentu saja, saya akan setuju, bila kemudian, ada pandangan bahwa sikap terhadap tindakan Israel ini, akan membelah menjadi tiga kelompok. Satu kelompok mendukungnya, satu kelompok menolaknya, dan satu kelompok tak berpendapat, karena alasan tertentu.

Nah, bila demikian adanya, apa pemahaman kita, dan sikap kita terhadap tindakan Israel tersebut? akankah, kita memberikan dukungan, atau kritikan terhadap sikap dan tindakan Israel itu sendiri ?

Kamis, 09 April 2026

Selepas ada perjanjian Iran dan Amerika Serikat, kita melihat ada drama-global lainnya. Drama politik itu, dimainkan oleh Israel di satu sisi, dan pemain figuran lainnya di sisi lain. Pemain figuran itu, tentunya adalah Amerika Serikat. Pemain figuran itu, biasa disebut orang sebagai aktor yang memainkan peran pembantu.



Kesimpulan ini, terlalu menyederhanakan, dan disederhanakan. Tetapi, kita semua, publik, atau setidaknya, sebagai pembaca media sosial, dapat melakukan kajian kritis terhadap kesimpulan tersebut. Kebenaran terhadap pernyataan itu, dapat diuji realitas dan rasionalitasnya, secara bersama-sama.

Rabu, 08 April 2026

Berita menarik dalam dua hari terakhir ini, tampaknya bukan masalah gencatan senjatanya. Karena masalah gencatan senjata antara Amerika Serikat dengan Iran itu,  lebih mudah dipahami, dibanding masalah lainnya.  Kebutuhan dan harapan besar dunia itu, tidak pada masalah gencatan senjata itu sendiri, tetapi pada leganya nafas perdagangan minyak dunia.


Itu saja !

Kesimpulan ini, penting untuk dinarasikan. Sehingga, dunia, khususnya, kita yang berada di luar wilayah konflik memiliki pemahaman yang antisipatif terhadap realitas kehidupan kita hari ini.

Selasa, 07 April 2026

Tidak secara sengaja, pagi ini, membaca buku terjemahan dengan judul Seni Perang Sun Tzu. Buku itu ditulisnya oleh James Clavel. Buku klasik, terjemahan jadul.  Tetapi menarik untuk dikaji ulang, dan bahkan menurut sebagian pengamat, dan penelaah kepustakaan,  seni Perang Sun Tzu ini, masuk kategori karya legend di kelasnya.

Masa Iya sih?

Setiap orang dapat melakukan telaahan, baik kepustakaan, atau perbandingan, sehingga dapat membedakan kualitas kajian satu pemikir dengan pemikir lainnya.  Dalam hal ini, saya sendiri, melihat, bahwa kelayakan dan kepatutan buku sebagai legend, dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.



Pertama, tentu saja, buku yang ditulis dua setengah abad yang lalu, dan masih menarik untuk dibaca, adalah satu indikator penting dalam menilai kualitas pokok pikirannya. Tidak bisa diragukan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa penulisnya, dengan kecerdasan yang dimilikinya, mampu menuangkan gagasan dengan presisi dan memberikan makna yang  luar biasa, sehingga bisa relevan dengan kondisi zaman, di setiap zamannya.