Just another free Blogger theme

Jumat, 02 Oktober 2026

Iya, saya setuju. Kecerdasan Buatan atau Artifical Intelligence, bisa membantu memudahkan kita dalam bekerja, bahkan, bisa membantu kita dalam berpikir. Ini adalah pengalaman hidup kita, di zaman kita hari ini. Sesiapapun kita, dalam posisi apapun kita, sudah bisa merasakan hal itu.Baik untuk kepentingan pribadi, sosial, karir atau pun ekonomi. Pokoknya, banyak pekerjaan kita, di zaman kita hari ini, sudah mendapatkan bantuan dari kecerdasan Buatan tersebut.


Pertanyaanya, dan khususnya, hal ini disampaikan kepada para guru, orangtua dan pembelajar pada umumnya, "apakah AI bisa menggantikan proses pembelajaran?" Pertanyaan sederhana dan klasik, dan mungkin banyak orang yang sudah melontarkannya, dan juga memberikan komentarnya terhadap pertanyaan itu. Namun, sekali muncu lagi pertanyaan itu, maka banyak ragam tanggapan terhadap pertanyaan tersebut.

Kamis, 01 Oktober 2026

Sebuah keprihatinan bersama, khususnya mereka yang ada di dalam kelas. Guru-guru, kerap kali berhadapan dengan generasi bisu. Bukan bisu karena tidak bisa bicara, namun bisu karena tidak terbiasa bicara. Diam adalah pilihan utama anak-anak, murid, siswa atau mahasiswa. Dengan diam mereka merasa nyaman, justru dengan bertanya, mereka merasa tidak nyaman.


Aneh. Memang kehidupan aneh.

Baru saja terjadi. Dengan gaya yang sebenarnya tidak unik, dan bukan hal baru. Siswa membentuk kelompok, dengan jumlah anggota 6 orang. Mereka membuat makalah, dan makalah itu, wajib dipresentasikan. Presentasinya, untuk kali ini, bukan dihadapan rekan sekelasnya, tetapi dihadapanku sendiri.

Rabu, 30 September 2026

Pertanyaan ini, layak untuk disampaikan. Setidaknya, terkait dengan kita, hari ini, di sini, dan di zaman ini. Setidaknya, menurut sebagian persepsi orang, ada indikasi, atau ada trend, yang terjadi itu, bukan kesaktian pancasila. Melainkan Pelemahan Kesaktian Pancasila.

Mengapa demikian ? 


Setiap orang, diantara kita, tentu bisa melakukan refleksi langsung terkait dengan sejumlah hal yang ada di sekitar kita. Apapun. Di level manapun. Mulai dari puncak kekuasaan, sampai pada dasar-terhina sekalipun. Tanyakan kepada diri kita, atau tanyakan kepada mereka, adakah nilai-nilai kesaktian Pancasial hadir dalam diri dan kehidupannya ?

Selasa, 29 September 2026

Entah mengapa, pertanyaan ini muncul seketika. Muncul disaat, kita, bangsa Indonesia, hendak merayakan Hari Besar Nasional, yang bernama Hari Kesaktian Pancasila. Menjelang perayaan itu, serta merta muncul pertanyaan, apa relevansi perayaan ini, bagi kita hari ini, dan saat ini ?


Sewaktu masih belajar di pendidikan dasar, dulu, semasa jadul, perayaan hari kesaktian Pancasila itu, memiliki konteks. Konteksnya jelas dan tegas. Peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini, benar-benar bisa dibedakan dengan Hari Lahir Pancasila, 1 juni.

Mengapa ? Inilah persoalannya.

Senin, 28 September 2026

Sebut saja, ibu Dosen. Beliau hadir di ruangan Bimbingan/Konseling, dengan maksud memosisikan diri sebagai bagian dari tim pelaksana Psikotes, dari Universitas Pendidikan Indonesia. Kegiatan pokok hari itu, adalah melaksanakan psikotes terhadap seluruh siswa, eh murid, kelas X, di tempat kerjaku.



Karena kedatangannya, bersifat tim, sehingga ibu Dosen, berposisi sekedar sebagai pendamping utama. Sementara, pelaksana lapangan, dilakukan oleh anggota tim lainnya. Di sela-sela menunggu usainya pelaksanaan itulah, ada waktu, ngerumpi dengan rekan-rekan BK madrasah kami saat itu.

Salah satu yang dibincangkan itu, adalah model pembelajaran advance (advance organization model). Apa itu ?

Minggu, 27 September 2026

Carl Jung (1964/2018), sudah sejak lama menyampaikan pendapat bahwa, 'manusia menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tulisan, untuk menyampaikan makna yang mereka ingin sampaikan'. Dengan kata lain pula, kata-kata adalah simbol dari makna yang diekspresikan manusia. Demikianlah pandangan klasik, yang masih tetap tumbuhsubur dalam pemahaman manusia kali ini.



Pertanyaan kritis kita kali ini, apakah pandangan Carl Jung itu, masih relevan ? adakah, hal itu, mennjadi pernyataan yang mampu mendeskripsikan fenomena yang terjadi hari ini, di sini, di negeri kita, atau di dunia ini ?

Sabtu, 26 September 2026

Siang itu. Makan basom bersama rekan sekantoran. Sebenarnya, kegiatan itu, bukan kegiatan rutin. Acara makan baso bersama, rekan tempat kerja itu, lebih disebabkan, karena lelah dalam perjalanan, selepas takziah ke rekanan, yang sedang mendapat ujian sakit. Teman kita yang satu, istrinya sakit, dan memaksanya untuk rawat inap di rumah sakit. Demi persahabatan dan membangun rasa empati kepada rekanan, kami segerombolan itu, membesuknya. Di siang hari itu.


Bila tidak salah ingat. Memanfaatkan sisa waktu luang, karena pekerjaan sedang rehat, berangkat sekitar pukul 11.00 WIB, kemudian melaju ke tengah kota, menuju rumah sakit yang dituju. Sampai lokasi, sekitar pukul 12.00-an. Di  lokasi tidak lama, sekedar ucapan kecil, dan doa-doa, kemudian pulang kembali, menuju ke tempat kerja.

Di tengah perjalanan itulah, kami, atas usulan kaum emak-emak, menyempatkan istirahat di tempat baso. Di sinilah, kisah itu bermula.