Berkesempatan
membaca, atau istilah lainnya menelaah terjemaahan dari karya Ibnu Rusyd, saya
tertarik untuk merumuskan ulang relasi filsafat dan Syari’ah. Tetapi, saat
menelaah relasi antara filsafat dan Syari’ah ini, saya pun malah teringat pada
Yahya Muhammad, yang menulis karya dengan tema Metodologi Sains dan Pemahaman
Keagamaan. Kedua buku ini, memuat hal yang serupa. Perbedannya, Ibnu Rusyd
menelaah relasi antara Syari’ah dan Filsafat, sedangkan Yahya Muhammad menelaah
relasi sains dan Agama
Nalar kita,
bisa saja, iseng dengan mengajukan pertanyaan trilogi relasi itu sendiri, yakni
bagaimana relasi antara Sains, Filsafat dan Agama. Kajian serupa ini, menarik dan
bisa mendinamiskan kompetenasi narasi dan nalar kita hari ini, dan kedepan.
Seperti yang disampaikan Aksin Wijaya, Ibn Rusyd, kerap menggunakan kata ’dien’ (agama), selain konsep syari’ah. Bahkan menurutnya, di Kitab Tahafut Tahafut, kedua kata itu digunakan secara besamaan. Oleh karena itu, saya menganggapnya dan memosisikan syari’ah dalam pemikiran Ibnu Rusyd, semakna dengan agama dalam narasi yang disampaikan Yahya Muhammad, walaupun bisa jadi, ada pemikiran lain, untuk bisa membedakan ruang lingkup dan cakupannya.












