Just another free Blogger theme

Minggu, 25 Oktober 2026

Di ruang-ruang kelas sekolah di seluruh penjuru negeri, sebuah ritual tahunan yang sarat ketegangan kembali berulang. Lembaran kertas berisi deretan angka dan predikat dibagikan kepada para siswa. Ada isak tangis kekecewaan karena angka-angka di kertas itu tidak mampu menembus standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), namun ada pula pekik kegembiraan tatkala seorang siswa berhasil merangsek ke peringkat tiga besar di kelasnya. Di saat yang sama, para orang tua menunggu di rumah dengan debar jantung yang sama, berharap anak-anak mereka pulang membawa selembar rapot dengan deretan nilai yang memuaskan.



Sejak berabad-abad lalu, sistem pendidikan formal modern kita telah lama mengidentifikasi keberhasilan belajar melalui instrumen yang terukur secara kuantitatif: nilai ujian, indeks prestasi kumulatif (IPK), medali olimpiade sains, serta gengsi institusi tempat seseorang menimba ilmu. Angka 90 atau 100 dianggap sebagai mahkota tertinggi yang membuktikan bahwa seorang anak telah "berhasil" dididik.

"Karir mamah di sekolah ini, sudah mentok. Jadi wali kelas..." itulah curhatan seorang rekanan, yang dia ucapkan kepada anaknya, saat berdiskusi di rumah.



Menurut pengakuannya, pandangan itu disampaikan kepada anaknya, dengan maksud dan harapan, sang Anak mampu mencerna mengenai kegelisahan pribadinya sebagai seorang wanita karir, dan juga mampu menarik satu keputusan-strategis untuk masa depannya.

Dihadapan anak yang tengah bingung dengan masa depannya, padahal ijazah sarjana keperawatan sudah ada di tangannya, termangu sesaat. Entahlah, apakah dia sedang mendalami makna dibalik ucapannya itu, atau karena dia tidak mengerti dengan maksud dan tujuan orangtuanya mengatakan hal itu kepadanya.

Sabtu, 24 Oktober 2026

Pendidikan Khusus untuk anak berkebutuhan khusus (special teaching for special children), sudah ada di tengah-tengah Masyarakat (Lewis and Norwich 2005).  Kategorinya sudah cukup beragan, layanan pendidikan khusus itu, dimaksudkan untuk bisa melayani kebutuhan khusus peserta didiknya. 


Jumat, 23 Oktober 2026

"sebentar, saya akan terangkan dulu, biar yang lain, tidak menjadi dungu..." sebuah ungkapan, yang nyaris kerap meluncur dari lisan seseorang, yang pernah dianggap sebagai filosof, dan penggagas pentingnya budaya akal sehat.


Kendati tidak semua orang merasakan atau menyadarinya, sejatinya dibalik kalimat itu, ada nilai tawaran, sekaligus juga batasan, dan bahkan interogasi pada orang lain.

Mengapa ?

Kamis, 22 Oktober 2026

Setiap pagi, gerbang sekolah terbuka menyambut ribuan derap langkah kaki para siswa. Dengan seragam rapi, tas berbeban buku, dan tumpukan harapan orang tua di pundak, mereka melangkah menyusuri koridor-koridor kelas. Namun, di balik rutinitas harian yang tampak biasa ini, ada sebuah drama kehidupan yang tengah berlangsung: pencarian identitas dan peletakan batu pertama bagi bangunan masa depan.

Bagi sebagian besar remaja, sekolah sering kali dianggap sekadar tempat persinggahan kewajiban—ruang untuk menggugurkan kewajiban belajar, mendapatkan nilai di rapot, dan bertemu teman sebaya. Padahal, sekolah adalah sebuah simulator kehidupan. Cara seorang siswa bersikap, merespons tantangan, dan berinteraksi di lingkungan sekolah adalah miniatur dari bagaimana ia akan mengemudikan kehidupannya di dunia nyata kelak.

Rabu, 21 Oktober 2026

Setiap kali badai modernitas menghentak dengan segala riuh kecemasan—mulai dari krisis eksistensial generasi muda, polarisasi politik yang melelahkan, hingga kegersangan spiritual di balik gemerlap pencapaian materi—manusia selalu mencari satu titik jangkar. Sebuah titik tempat jiwa bisa melabuhkan seluruh lelahnya, tempat sepasang mata tak lagi silau oleh gemerlap dunia, dan tempat hati menemukan alasan untuk tetap percaya bahwa kehidupan masih menyimpan keindahan. Dalam khazanah Islam, kita mengenal ungkapan qurrata ayun, sebuah ekspresi yang menyimpan kedalaman makna tentang kebahagiaan, ketenteraman, dan sesuatu yang begitu dicintai sehingga kehadirannya menjadi penyejuk pandangan sekaligus penenteram jiwa.


Ungkapan ini bukan sekadar bahasa kasih dalam hubungan keluarga. Ia juga membuka pintu bagi suatu pemahaman yang lebih luas tentang manusia, kehidupan, dan ruang tempat manusia membangun keberadaannya. Dari perspektif geografi humanis, qurrata ayun dapat dibaca sebagai pengalaman manusia dalam menemukan makna di tengah ruang kehidupannya. Sebab, manusia tidak pernah hidup hanya di dalam koordinat geografis. Ia hidup dalam kenangan, harapan, ikatan emosional, keyakinan, dan pengalaman yang menjadikan suatu tempat terasa berbeda dari tempat lainnya.

Selasa, 20 Oktober 2026

Setiap kali badai modernitas menghentak dengan segala riuh kecemasan—mulai dari krisis eksistensial generasi muda, polarisasi politik yang melelahkan, hingga kegersangan spiritual di balik gemerlap pencapaian materi—manusia selalu mencari satu titik jangkar. Sebuah titik tempat jiwa bisa melabuhkan seluruh lelahnya, tempat sepasang mata tak lagi silau oleh fatamorgana, melainkan teduh oleh kedamaian yang hakiki. Di dalam tradisi teks suci Al-Qur'an, jangkar kedamaian itu dirangkum dalam sebuah frasa pendek yang menyimpan daya magis yang luar biasa: qurrata ’ayun (Ù‚ُرَّØ©ُ Ø£َعْÙŠُÙ†ٍ).


Secara literal, masyarakat Arab klasik menggunakan metafora qurrah yang berakar dari kata qarra—artinya dingin atau tenang—untuk menggambarkan kondisi mata yang menjadi sejuk. Ketika seseorang mengalami kebahagiaan yang begitu mendalam setelah melewati padang pasir yang terik atau penderitaan yang panjang, air mata yang keluar dari pelupuk matanya terasa dingin. Inilah qurrata ’ayun: air mata kebahagiaan, puncak kepuasan batin, dan ketenangan yang tak tergoyahkan oleh badai luar.