Just another free Blogger theme

Rabu, 18 Februari 2026

Adalah kenyataan bahwa hidup ini berproses. Itulah keyakinan yang kita miliki, dan itulah yang sedang terjadi saat ini. Setidaknya, perjalanan hidup yang kita alami saat ini, yaitu mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa sebagaimana yang kita rasakan saat ini, semua itu menunjukkan bahwa hidup ini adalah berproses. Berproses it uterus berubah, hanya saja perubahan itu tidak sama dan tidak  merata. Di sinilah persoalan mulai muncul dan perlu disadari bersama.



Terrkait dengan hal ini, banyak orang yang hanya sekedar ‘tahu’ atau mengetahui bahwa hidup itu adalah berproses. Padahal, berbekal pengetahuan, belumlah cukup untuk menjadikan dirinya bisa hidup sukses dan atau bahagia. Banyak orang yang tahu, dan atau banyak pengetahuan tentang kebahagiaan dan cara-cara kesuksesan, tetapi dia belum merasakan kebahagiaan dan kesuksesan itu.

Tahu tentang arti dan cara hidup sukses atau cara hidup bahagia belumlah cukup untuk menjadikan kita bisa hidup bahagia. Dibutuhkan langkah lebih maju lagi, yaitu belajar bahagia dan belajar sukses.

Selasa, 17 Februari 2026

 Akhir Januari 2026, muncul berita yang cukup mengagetkan dunia pendidikan.  Terjadi lagi, sebagaimana disampaikan media sosial, kekerasan di lingkungan pendidikan. Kali ini, guru, yang menegur siswanya, malah kemudian berbalik dikeroyok siswanya sendiri. Tempat Kejadian Perkaranya (TKP), tidak tanggung-tanggung, masih di dalam lingkungan sekolah.  Lokasinya, di SMK Negeri. Di Jambi. 


Tentu kita prihatin. Prihatin terhadap kejadian kekerasan, yang terus berulang. Komentar dan tanggapan terhadap kasus ini pun, seperti umum yang lainnya, pro kontra. Mereka yang mendukung siswa, menilainya, karena ada pola komunikasi-edukatif yang tidak pada tempatnya dari guru, sedangkan mereka yang mendukung sikap guru, menilai tindakan dan sikap siswa yang melampaui kepatutan karakter seorang peserta didik.

Senin, 16 Februari 2026

Kejadiannya, setahun yang lalu. Seorang alumni, dari sekolah kami. Sewaktu masih aktif di sekolah, termasuk siswa kebanggaan.  Prestasi yang paling menonjolnya, adalah menjadikan dirinya siswa berprestasi nasional, bidang akademik, dalam bidang Matematika. Peristiwa itu, sangat membanggakan kami semua. 


Selapas dari sekolah ini, dia melanjutkan pendidikan ke jurusan Komputer,  Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Karena kemampuan dasarnya, sudah mumpuni, dapat informasi, dia mampu menyelesaikannya dengan baik, sesuai waktu yang dibutuhkannya. Karena itu, kemudian dia pulang ke Bandung, dan silaturahmi ke sekolah, almamaternya ini. 

Minggu, 15 Februari 2026

 “mau ke mana kuliah ?” tanyaku kepada seorang siswa, yang kini tengah duduk di bangku kelas XII SMA. Pertanyaan ini, sering saya ajukan, kepada mereka yang duduk di kelas terakhir ini.  Selain sebagai  bentuk kepedulian terhadap rencana masa depan peserta didik, juga dimaksudkan untuk memberikan motivasi mengenai strategi dalam melangkah ke masa depan. Pertanyaan seperti ini, kadang memang divariasikan, misalnya dengan kalimat  ‘mau kemana setelah lulus dari SMA?”


Dengan penuh semangat, dia menyebutkan ‘Jogja, mau ke UGM.” Ujarnya.  Respon cepat, seolah tanpa harus memaksanya berfikir dua atau tiga kali. Pilihan ke Jogja itu, seolah menjadi impian yang menjadi harapannya setiap saat.

Sabtu, 14 Februari 2026

Yasraf Amir Pillianh, dalam karya terbarunya (2020), melihat ada satu gejala unik di era modern ini. Manusia, sudah ada yang terjebak pada nilai-nilai di  luar kemanusiaan, dan bahkan cenderung mirip hewan, yang disebutnya animalitas. Karakter hewan itu, yakni mendahulukan kebutuhan biologis, serakah, dan juga kerap kali memakan sesuatu tanpa kontrol rasional.
 


Dalam konteks itu, ada hal yang menarik dalam Islam. Dalam konteks ini, kita menemukan ada indikasi teologis yang merujuk pada sikap animalitas. Ada ilustrasi menarik,  terkait dengan animalitas. Ilustrasi ini, dapat ditemukan dari firman Allah Swt di Kitab Suci Al-Qur’an. Penulis menemukannya 2 ayat, pada dua surat yang berbeda. 

Jumat, 13 Februari 2026

Ngomong-ngomong sikap beragama, kerap kali di masyarakat ada pertanyaan, ini sunnah apa bid'ah ? kalau sudah masuk wilayah ini, kadang bukan lagi nalar yang digunakan, tetapi, emosi pun terlibat di dalamnya.

Dalam kesempatan ini, ada karya akademik yang digagas oleh ulama modern. Beliau adalah Yusuf Qardhawy, dan bukunya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Dalam buku ini, ada beberapa pandangan terkait dengan masalah bid'ah. berikut beberapa, point yang bisa diangkat dalam wacana ini.

Kamis, 12 Februari 2026

 Ini adalah pengalaman. Namanya pengalaman, sebagian orang mengatakan, lebih bersifat subjektif. Biarkan, penilaian serupa itu, hidup, tanpa harus membatasi hak kita untuk menuturkan pengalaman, atau kejadian yang teralami ini.



Kejadian yang kita maksudkan itu, adalah pengalaman menjadi penerima peserta didik baru (PPDB). Sebagai salah seorang petugas di PPDB madrasah, orangtua calon siswa baru kerap mendapat pertanyaan, “apa alasan ibu atau bapak, menyekolahkan anak ke madrasah ini ?”