Setiap menjelang hari kesepuluh pada bulan Muharam, atmosfer di berbagai belahan dunia—mulai dari pelataran berdebu di Karbala, gang-gang sempit di daerah perbukitan Lebanon selatan, permukiman padat di pinggiran Teheran, hingga kawasan pesisir Pariaman di Sumatra Barat—mengalami pergeseran seismik. Di tempat-tempat ini, ruang geografis yang biasanya melayani aktivitas fungsional sehari-hari mendadak melarut, digantikan oleh jalinan emosi, memori kolektif, dan ritualitas yang pekat. Bagi seorang pengamat kasat mata, ini adalah festival keagamaan ritualitas tahunan. Namun, bagi seorang geografer humanis, fenomena ini adalah demonstrasi paling paripurna tentang bagaimana manusia mengonstruksi, memaknai, dan mentransformasikan space (ruang kosong/fisik) menjadi place (tempat yang hidup dan bernyawa) melalui rasa, air mata, dan identitas spiritual.

Geografi humanis, sebuah cabang yang meletakkan pengalaman manusia, kesadaran, dan makna subjektif di jantung analisis spasial, menyediakan kacamata yang sangat intim untuk membedah perayaan Asyura. Diinisiasi oleh tokoh-tokoh seperti Yi-Fu Tuan dan Edward Relph, pendekatan ini tidak lagi melihat bumi sekadar sebagai koordinat kartesian atau bentang alam mati. Melalui kacamata humanis, geografi adalah ruang yang dihidupi (lived space). Tragedi pembantaian cucu Nabi Muhammad saw., Imam Husain bin Ali, beserta keluarga dan sahabatnya di padang gersang Karbala pada tahun 61 Hijriah, bukan lagi sekadar peristiwa sejarah yang terpaku pada satu titik koordinat di Irak. Melalui perayaan Asyura, Karbala mengalami replikasi, perluasan, dan proyeksi spiritual ke berbagai ruang geografis di seluruh dunia.