Just another free Blogger theme

Rabu, 05 Agustus 2026

 Bagi seorang guru, mendengar adanya guru yang tidak layak mengajar/mendidik, sudah tentu akan merasa sedih. Dan bila kita berposisi sebagai seorang wali murid, atau orang tua siswa, mendengar banyaknya guru yang tidak layak mengajar/mendidik ini, menjadi waswas. Artinya, mungkin kita, sebagai orang tua, mau menyerahkan masa depan anak terhadap tenaga pendidik yang tidak layak mengajar/mendidik ? relakah, seorang ibu atau orang tua menggadekan masa depan anak kepada satuan pendidikan yang diisi oleh guru-guru yang tidak layak mengajar/mendidik ? Itulah persoalan yang mengerikan dan perlu dengan segera untuk dituntaskan.


Sebagai salah seorang tenaga pendidik di satuan pendidikan dasar, dan juga di sekolah swasta, penulis merasa kekurangan informasi untuk mengetahui apa alasan, atau apa standar yang digunakan oleh para peneliti untuk menyebut layak-tidaknya seseorang dalam menjalan tugasnya sebagai seorang guru. Apakah mereka melihat ijazah atau kemampuan nyata seorang guru di lapangan ?

Selasa, 04 Agustus 2026

Bagi orang Bandung Timur, khususnya daerah kawasan Cibiru, hari minggu merupakan hari yang istimewa. Pada hari ini, masyarakat di kawasan ini dapat menghabiskan sebagian waktu liburnya di daerah pasar minggu. Kawasan pasar minggu itu, merentang panjang mulai dari Kompleks Vijaya Kusumah, SMPN 46 sampai jalan menuju SMU Terpadu Krida Nusantara.

Senin, 03 Agustus 2026

Alkisah. Malam itu, sekitar pukul 22.00 WIB. Kami, sebanyak 29 orang berdiri, bergerombol di Jembatan Gambir - Jakarta. Kumpulnya di sana, dimaksudkan untuk memudahkan kendaraan penjemput, untuk bisa pulang ke kampung halaman, Paris van Java.


Kontakan demi kontakan di lakukan. Ketua rombongan meyakinkan, perjalanan akan lancar, dan penjembut siap tiba di depan kelompok kami. Dari pihak driver memberitakan, bahwa kendaraannya tengah terus berusaha untuk melaju. Begitulah kisahnay di sekitar malam itu.

Detik demi detik berlalu. menit demi menit berlalu. Kendaraan tak jua muncul dihadapan kelompok. Mulai galau bermunculan. "posisi penjemput di  mana..?", "kendaraan di mana?" , "dah sampai belum...?" sejumlah pertanyaan bermunculan dari ragam lisan, yang ada di kelompok. Sementara sang Ketua Regu, hanya bisa meyakinkan, "kendaraan sedang melaju, tapi lambat, macet..." ungkapnya.

Minggu, 02 Agustus 2026

Ruang memberikan peluang untuk membangun kedekatan-manusia. Atau, lebih tepatnya, ruang akan menjadi faktor penting dalam memaksa seseorang untuk menunjukkan ekspresi-kedekatan kemanusiaannya. Seperti yang terjadi, dan tampak di area toilet. Seperti waktu itu, dan sore itu terjadi.



Seperti yang disampaikan dalam tulisan sebelumnya, Sabtu sore, 1 Agustus 2026, terjadi  fenomena kerumunan terkondisikan (conditioned crowd). Jamaah berdatangan dari penjuru propinsi Jawa Barat, Banten dan DKI, untuk hadir atas undangan Kementerian Agama dalam kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan, yang mengambil tempat di Monumen Nasional Jakarta.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Saya, ada dibelakang mereka. Antrian cukup panjang. Iseng-iseng diitung, ada yang antri dengan jumlah sekitar 10 orang dengan ujung ekor yang mengular 2-3 orang lagi di belakangnya. Ada pula yang 9 orang, dengan ujung ekor yang mengular serupa pula. Antrian itu, tampak, panjang, mengular di depan mulut toilet.



Di toilet Masjid Isiqlah. Sore itu. Jelang  maghrib. Bersamaan dengan kegiatan Doa dan Dzikir yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia, di kawasan Monumen Nasional (Monas) Jakarta. 

Bersama sejumlah rekanan dari Kota Bandung, sudah hadir di lokasi, sekitar pukul 16.00 WIB. Jam'ah pun sudah tumpah ruang di kawasan ini. Satu diantara mereka yang hadir dalam hiruk pikuk, adalah kami yang sedang antri di depan toilet ini.

Jumat, 31 Juli 2026

Mosi itulah nama panggilannya. Dia datang. Duduk anggun. Tetapi tampak gelisah. Di hadapannya, sudah duduk rapi, di kursi kerajaannya yang telah diduduki selama 10 tahun terakhir. Di situlah, Hati bersemayam. Semua orang bilang, dia itu adalah pemimpin organisasi, pemimpin Negara, dan atau malah pemimpin dunia saat ini. Tidak ada yang bisa mengalahkannya, baik dari sisi kekuasaan, kewibawaan, atau kemampuannya dalam memimpin organisasi ini. Hingga suatu kali, dia kedatangan pegawai baru, yang bernama Mosi.


Kamis, 30 Juli 2026


Di tengah masyarakat kita, kerap kali, mencampuradukkan antara kompetensi intelektual, kerja dan jabatan. Dalam tataran normal, ketiga hal itu, akan berjalinkelindan dengan baik dan ketat, dan sehingga melahirkan kinerja hidup yang luar biasa, khususnya dalam memecahkan masalah.



Tetapi, memang, bisa dipahami, jika dalam kenyataannya, ketiga komponen itu, kerap kali tidak hadir secara bersamaan. Misalnya, ada pejabat dalam satu posisi sosial tertentu, namun tidak mampu menunjukkan penalaran yang selaras dengan jabatannya,dan kerjanya pun tidak selaras dengan jabatannya. Karena itu, gejala tersebut memantik kita untuk terus membincang masalah keprofesionalan.
Entah mengapa, di sini, jadi ingin banget menuliskan mengenai makna profesionalisme. Ya, walaupun inspirasi masalah ini, lebih merupakan reaksi terhadap situasi yang baru saja terjadi.