Just another free Blogger theme
Senin, 27 Juli 2026
Minggu, 26 Juli 2026
Bila saja, kita mengambil posisi, dengan mengatakan bahwa istirahat itu adalah hak. Hak setiap orang untuk bisa istirahat, dan untuk mendapatkan waktu istirahat, maka muncul pertanyaan lanjutan, istirahat dari apa ? atau istirahat untuk apa ? atau istirahat karena apa ? Pertanyaan ini, penting untuk dikedepankan, dengan maksud dan harapan, kita semua bisa memahami kelayakan kita dalam menoleransi seseorang dalam beristirahat.
Seiring hal ini, kita dapat merancang, peta posisi sikap hidup kita terhadap hak istirahat ini. Sekali lagi, bila kita hendak memosisikan istirahat sebagai sebuah hak, dan bukan sebuah kewajiban.
Sabtu, 25 Juli 2026
Hari ini, ahad. Banyak orang menyebutnya hari libur. Waktunya istirahat. Momentum untuk berleha-leha. Atau bersantai ria. Namun, tidak semua orang, memiliki cara yang sama, mengenai cara mengisi waktu libur tersebut. Semua itu, bergantung pada 'ideologi' yang dimiliki, dan diyakininya.
Lha, kok bisa begitu ?
Inilah realitas hidup kita. Dalam kajian Geografi Kritis, setiap orang memiliki hak-yang-sama untuk menafsirkan ruang waktu yang dimilikinya. Pemaknaan itu, bergantung pada anutan nilai yang dimiliki masing-masing. Termasuk dalam konteks hari libur. Apapun nama hari kalendernya.
Jumat, 24 Juli 2026
Perubahan dunia tidak lagi berlangsung secara linear, melainkan bergerak secara eksponensial. Revolusi digital, perubahan iklim, dinamika geopolitik, transformasi ekonomi, hingga disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan membangun peradaban. Dalam konteks tersebut, madrasah tidak cukup hanya mempertahankan tradisi pendidikan Islam yang telah mengakar kuat. Madrasah dituntut mampu membaca perubahan ruang (space), relasi kekuasaan (power relations), serta dinamika sosial yang terus berkembang. Di sinilah perspektif Geografi Kritis (Critical Geography) menjadi sangat relevan.
Geografi kritis memandang bahwa ruang bukan sekadar lokasi fisik, melainkan hasil interaksi antara manusia, kebijakan, ekonomi, budaya, teknologi, dan lingkungan. Dengan kata lain, kualitas pendidikan madrasah tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan guru, tetapi juga dipengaruhi oleh bagaimana madrasah berinteraksi dengan ruang sosial, ruang digital, ruang ekonomi, serta ruang ekologis yang terus berubah.
Kamis, 23 Juli 2026
Ada buku judulnya The Leadership Triad, tulisan dari Dale E Zand (1997). Buku lama. Memang. Tetapi, dilihat dari isinya, dapat merangsang kita untuk kembali memikirkan karakter pemimpin, dan atau pembangunan karakter kepemimpinan pada generasi kita. Sebagai praktisi pendidikan, yang sering dituntut untuk membangun karakter pada peserta didiknya, kiranya, wacana yang disampaika dalam buku ini menarik untuk dicermati.
Rabu, 22 Juli 2026
Di ruang keluarga yang remang, wajah Ibu Nani (58) terpapar cahaya kebiruan. Cahaya itu bukan berasal dari televisi, melainkan dari pendar gawai anak bungsunya yang asyik menggulir layar. Mereka duduk di sofa yang sama, berjarak tak lebih dari setengah meter secara fisik. Namun, secara keruangan (spasial), mereka berada di dua semesta yang sama sekali berbeda. Sang anak tengah mengarungi luasnya lanskap digital tanpa batas—berinteraksi, berbelanja, dan mengonsumsi kebudayaan global. Sementara itu, Ibu Nani terpaku dalam dimensi fisik yang kian menyempit. Ia hadir secara jasmani, tetapi secara perlahan terasing dari geografi sosial yang baru.
Fenomena "gagap teknologi" atau gaptek pada lansia atau orangtua sering kali direduksi sekadar sebagai masalah kognitif, keengganan belajar, atau penolakan generational terhadap hal baru. Narasi umum menyuruh mereka untuk "beradaptasi agar tidak ketinggalan zaman." Namun, jika kita membedahnya melalui pisau analisis Geografi Kritis—sebuah cabang keilmuan yang membongkar bagaimana ruang, tempat, dan kekuasaan saling memproduksi dan melanggengkan ketidaksetaraan—kita akan menemukan dinamika psikologis yang jauh lebih kompleks, struktural, dan menyayat hati.
Selasa, 21 Juli 2026
Belakangan ini, linimasa media sosial kita dipenuhi oleh narasi pencapaian baru: keberhasilan menulis dan menerbitkan buku dalam hitungan hari, bahkan jam, berkat bantuan Artificial Intelligence (AI). Ada rasa bangga yang meletup-letup dalam narasi tersebut. AI dirayakan sebagai demokratisator literasi yang meruntuhkan tembok tinggi proses kreatif tradisional. Namun, jika kita melihat fenomena ini melalui kacamata geografi kritis, kebanggaan tersebut terasa semu dan problematis. Fenomena ini bukan sekadar lompatan efisiensi teknologi, melainkan sebuah bentuk pergeseran kekuasaan spasial, ekstraksi data, dan kelanjutan dari proyek kolonialisme epistemik global.












