Just another free Blogger theme

Minggu, 18 Oktober 2026

Kita bisa berdebat masalah ini. Makan Bergizi Gratis itu, projek kemanusiaan, atau projek politik ? sebiuah pertanyaan, yang bisa membelah kita bersama, dalam posisi keberpihakannya sendiri. Mengapa, program ini, terus saja menjadi hal yang dibincangkan banyak orang, dan bahkan, kerap kali memantik diskusi pelik, dan bahkan emosional ? bisa jadi, satu diantara sekian masalah itu, karena ada selimut tebal yang mengitarinya.



Betul. Selimut tebal itu, adalah ketidakjelasan orientasi negara dalam mengembangkan sebuah program. Program yang diselenggarakan hari ini, dan atau selama ini, seperti pembangunan rumah murah, bantuan tunai, subsidi BBM, Bantuan Operasional Sekolah, koperasi merah putih, dan MBG, ada di persimpangan jalan ideologi!

Sabtu, 17 Oktober 2026

Di sudut sebuah pura di Bali, asap kemenyan membubung tinggi membawa wewangian sajen menuju langit, diiringi dentang genta dan rafal mantra yang diucapkan secara berulang. Beberapa ratus kilometer dari sana, di tengah riuk-pikuk megapolitan Jakarta, seorang pemuda menundukkan kepala di dalam gerbong kereta komuter, jemarinya sigap menggeser layar ponsel pintar yang menampilkan aplikasi kumpulan doa harian. Sementara itu, di sebuah desa terpencil di kaki gunung, sekelompok warga berkumpul mengelilingi hidangan tumpeng, menadahkan tangan sembari merapalkan doa-doa keselamatan dalam bahasa lokal yang kental.

Secara teologis, doa adalah sarana komunikasi spiritual antara manusia dan Sang Pencipta—sebuah bentuk kepasrahan, permohonan, atau ungkapan syukur. Namun, jika kita menanggalkan sejenak kacamata dogmatis dan memandangnya melalui lensa studi budaya (cultural studies), doa bertransformasi menjadi fenomena yang jauh lebih kompleks. Doa bukan lagi sekadar ritus agama yang privat dan abstrak, melainkan sebuah praktik budaya (cultural practice) yang sarat dengan simbol, relasi kuasa, identitas, dan performativitas.

Jumat, 16 Oktober 2026

Di dalam denyut kehidupan manusia, doa acapkali dipahami sebagai ruang paling privat, sebuah bisikan sunyi yang melompat dari relung kalbu menuju Yang Mahakuasa. Namun, jika kita menyingkap tirai teologisnya dan mengamatinya melalui kacamata akademis, doa bukanlah sekadar ritus spiritual tanpa wujud. Doa adalah sebentuk peristiwa bahasa dan manifestasi budaya yang amat kaya.


Melalui bahasa, doa menstrukturkan harapan, ketakutan, dan ketundukan. Melalui budaya, doa mewariskan pandangan dunia (worldview), tata nilai, serta cara suatu masyarakat memposisikan dirinya di tengah semesta. Kajian antropologi linguistik dan sosiologi kebudayaan menyingkapkan bahwa dalam setiap bait doa yang dilantunkan, terekam jejak peradaban yang panjang.

Kamis, 15 Oktober 2026

Di bawah remang lampu temaram sebuah ruang sunyi, seorang ibu menengadahkan kedua telapak tangannya. Matanya terpejam erat, bibirnya bergumam lirih merapalkan untaian kata yang tak sepenuhnya terdengar oleh orang di sebelahnya. Air matanya menetes pelan, membasahi sajadah. Di tempat yang berbeda, ribuan kilometer jauhnya, sekelompok masyarakat adat menari melingkar di bawah terik matahari yang menyengat, melantunkan mantra-mantra purba bertempo konstan, memohon agar tirta kehidupan segera dicurahkan ke tanah mereka yang kian meretak.

Sekilas, kedua peristiwa tersebut tampak sebagai manifestasi keagamaan yang sangat personal atau sekadar praktik ritualistis. Namun, jika kita melangkah sejenak keluar dari sekat-sekat dogma dan mengamatinya dari ketinggian menara antropologi, kita akan menemukan sebuah panorama yang jauh lebih luas. Doa bukan sekadar urusan privat antara individu dengan Sang Maha Pencipta. Lebih dari itu, doa adalah sebuah fenomena kebudayaan yang sangat vital, melintasi ruang dan zaman, serta menjadi fondasi tersembunyi bagi keberlangsungan peradaban manusia.

Rabu, 14 Oktober 2026



Sahabatku,
Berita kematianmu itu sangat mengagetkan diriku, diri mereka dan diri kami semua
Aneh bin ajaib
Kepastian adalah kepastian, tetapi kepastian ini yang kerap mengundang keraguan
Ragu akan kebenaran informasi, dan ragu akan kenyataan yang terjadi saat ini,
Kami yang mendengarkannya, dengan koor yang sama mengajukan pertanyaan, “Benarkah semua itu adalah sebuah kenyataan”,  

Selasa, 13 Oktober 2026

 
aku tak pernah melihat,
apa dan harus bagaimana aku menatap,
tapi kenapa aku arus berucap
dirimu selalalu tampak, walau mataku terus ku pejamkan

Senin, 12 Oktober 2026

Kadang. kita semua ini sekedar bisa berharap. Tidak lebih dari itu. Bahkan, ada perjuangan lain, selain itu. Bahasa budayanya, langkah terakhir bangsa kita ini, sekedar 'mengurut dada'. Selepas itu, tidak ada lagi langkah yang bisa dilakukan. Tidak ada. Karena langkah berikutnya, kembali pada kalimat pertama tadi, sekedar berharap, dan mengurut dada. Situasi apapun, dan bahkan sesulit apapun, tidak ada pilihan lain, selain mengelus dada, dalam posisi berharap sesuatu keajaiban terjadi dalam kehidupanannya.



Terkait hal ini, muncul pertanyaan, apakah karakter ini, bagian dari DNA budaya kita ? ataukah, itulah yang dimaksud dengan gen-budaya kita, selama ini, dan akan terus menerus serupa itu ? Sebuah pertanyaan, yang perlu dijadikan bahan renungan dan refleksi bersama.