Just another free Blogger theme

Senin, 02 November 2026

Pagi ini. Saya harus memastikan, kaki ini tetap melangkah. Kendati kecil. Hanya selangkah, demi selangkah. Tidak lebih banyak dari itu. Namun, dengan langkah demi langkah kecil itu, teryakini dalam diri, bahwa posisi tubuhku kian maju. merangsek ke depan.



Apakah hal ini sudah menunjukkan langkah yang signifikans, atau cukup membedakan dari posisi sebelumnya ? 

Iya, sudah tentu, tidak akan mudah terlihat, bila yang digunakan skala-jarak geografi. Tampak kecil, dan mungkin sangat kecil, bila kita melihatnya dengan menggunakan skala-geografi. Diameter dan keliling kehidupan ini, sungguh sangat teramat luas adanya.  Namun, rasa-rasanya, tidak ada kewajiban kita untuk mengelilingi bumi. Andai ada yang sanggup melakukan, hal itu, lebih merupakan sebuah keistimewaan belaka. Oleh karena itu, tetap saja, untuk kepentingan pribadi dan juga kemanusiaan, langkah-langkah kecil tadi, masih tetap harus dilakukan. Wajib untuk dilakukan.

Entahlah. Secara pribadi, belum begitu yakin, terkait dengan apa yang akan terjadi di hari esok.  Matahari akan tetap terbit seperti biasa, dari ufuk Timur. Di pagi, esok hari itu.  Tampaknya, tidak akan ada yang unik.  Tidak akan ada yang aneh. Dan tidak akan ada yang baru. Malam ini, bulan masih sembunyi, sedangkan matahari tengah bersiap ke peraduannya, untuk terbit kembali di pagi esok. Tetapi, kegelisahan jiwa, muncul seketika, semenjak beberapa menit terakhir tadi. 


Jam layar komputer, masih menunjukkan pukul 21, lebih delapan menit. Itulah waktu saat huruf terakhir ini, ditik.  Kemudian, seiring huruf demi huruf, waktu berjalan, menuju malam, dan menjemput besok pagi. Momen yang masih ada dalam bayangan, dan sekedar samar-samar terjadi.


 

Mawaddah (مَوَدَّة) berasal dari akar w-d-d (و د د), yang berkaitan dengan cinta, kasih, dan keinginan akan kedekatan. Ar-Raghib al-Ashfahani, menerangkan bahwa kata wadd, mengandung arti menyukai sesuatu dan mengharapkan keberadaannya. Terkadang ia digunakan untuk salah satu dari kedua makna tersebut (Ashfahani, 2017c:736). Dalam konteks hubungan manusia, kata wamaddah bisa diartikan keharmonisan diantara kedua belah pihak atau kedua mempelai.

Dalam QS. Ar-Rūm [30]:21, mawaddah disebut sebagai sesuatu yang Allah jadikan di antara pasangan. Ibn Kathīr menjelaskan mawaddah dengan al-maḥabbah (cinta), sedangkan raḥmah dengan al-ra’fah (belas kasih atau kelembutan), atau syafaqah (welas asih). Penjelasan ini penting karena memperlihatkan adanya kedekatan makna, bukan pemisahan mutlak antara dua istilah (Dimasqy, 2015; Zuhaili, 2013)

Minggu, 01 November 2026

Dalam firman Allah Swt, Qs. Ruum, ayat 21, ada kata sakinah :  

﴿وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ  ٢١﴾ [ الروم:21]

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [Ar Rum:21]

Sudah menjadi lisan-budaya dari masyarakat kita, bila ada saudara, rekanan atau tetangga yang melangsungkan pernikahan, kemudian kita mendoakannya, supaya pernikahannya bisa bertemu dengan kualitas keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.

Sabtu, 31 Oktober 2026

Ada pernyataan, bahwa ”yang disebut pendidikan adalah memfasilitasi peserta didik untuk bisa mengembangkan potensinya, sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya”. Pernyataan ini, selaras dengan filosofi pendidikan nasional dan/atau  kurikulum merdeka. Bahkan, di kurikulum merdeka, kemudian ditekankan pentingnya  penerapan model pembelajaran berdiferensiasi.


Jumat, 30 Oktober 2026

 


Sejatinya, kehadiran pendidikan inklusi ini, tidak serta merta muncul dalam sejarah perkembangan pendidikan di dunia.   Kehadiran gagasan pendidikan inklusi, berkembang secara evolusi dan tumbuhkembang dilatari realitas layanan pendidikan yang berkembang saat itu.  Perkembangan model-model pendidikan inklusi sangat beragam, khususnya di lingkungan negara maju maupun modern (Stubbs 2008; Unesco 2008). Kendati demikian, ada beberapa point penting, yang dicermati sebagai kesamaan faktor penyebab tumbuhkembangnya pendidikan inklusi di dunia.

Kamis, 29 Oktober 2026

Tanggal 28 Oktober selalu datang menyapa dengan seremoni tahunan: upacara bendera, pembacaan teks Sumpah Pemuda, dan rentetan tagar patriotik di linimasa media sosial. Namun, di balik riuhnya perayaan tersebut, muncul sebuah pertanyaan reflektif yang kian relevan bagi generasi muda masa kini: Seberapa dalam nilai-nilai Sumpah Pemuda meresap ke dalam nadi kehidupan keseharian, di tengah gempuran individualisme digital, polarisasi opini, dan krisis orientasi masa depan?


Generasi muda hari ini hidup di era yang paradoks. Mereka adalah digital natives yang terkoneksi secara global dengan kecepatan cahaya, namun kerap merasa terasing di ruang-ruang sunyi mereka sendiri. Batas negara melebur, informasi tanpa batas tersaji di genggaman, tetapi kemampuan merajut komitmen kebangsaan sering kali tereduksi menjadi sekadar simbol seremonial semata.