Just another free Blogger theme

Senin, 18 Mei 2026

Masih tetap bingung, membingungkan, atau khawatir mendorong orang pada keraguan. Ragu terhadap fungsi dan peran keagamaan dalam konteks peraihan kualitas kesehatan, baik fisik maupun psikis.


Di zaman sekarang ini, terlebih ada yang mempromosikan disiplin ilmu baru, yang disebut neurosains atau neurosurgeon (bedah syaraf otak), menawarkan sikap-sikap kritis terhadap pemahaman agama. Khususnya pemahaman dan keyakinan orang awam terhadap agama.

Hal serupa itu jugalah, yang dirasakan saat berhadapan dengan seorang mahasiswa, yang mempertanyakan mengenai perbedaan kualitas kesehatan, antara orang yang melakukannya dengan pendekatan keagamaan dan non-keagamaan. Dengan tegas dan meyakinkan, pertanyaan itu menggugat kesadaran sekaligus keyakinan rekan-rekan lainnya yang beragama.

Minggu, 17 Mei 2026

Entah dari mana asalnya, Haji Acep ujug-ujug  menanyakan mengenai jembata shiratal mustaqim, yang diyakini umat Islam.

“Bapak, pernah dengar,  tentang jembatan shiratal mustaqim?” celetuknya, ”coba, jembatan shiratal mustaqim ada di mana ?”


Mendengar pertanyaan itu, nalar ini agak terusik. Terusik oleh pertanyaan, dan juga  mengusik keyakinan. Karena, selama ini, keyakinan awam dan keyakinan masyarakat pada umumnya, membayangkan bahwa jembatan shiratal mustaqim itu, adanya di akhirat kelak.

Sabtu, 16 Mei 2026

 Kalau sudah percaya, percayakan saja. Ini adalah masalah ketauhidan, dan ini adalah ma’rifatnya ilmu.”. Haji Acep membuka tema baru.

”Kang Haji, ilmu ma’rifat itu, memang ada dalam masalah pompa air..?” mencoba menggoda. Dalam pikiran ini, ada kejailan yang muncul, dengan harapan, dia bisa menunjukkan penjelasan yang sederhana, dan mudah dipahami, dengan harapan bisa dijelaskan dalam konteks kehidupan sehari-hari.



tentu saja...” jawabnya singkat, dan tampak sangat yakin. ”bukankah tadi kita sudah cerita, kalau Bapak percaya ke saya, bisa  membetulkan masalah pompa air, serahkan saja, jangan ragu. Bagaimana, bapak percaya, gak?

Jumat, 15 Mei 2026

Dengan tegas, kita menyatakan, “inilah aku..”. Bahkan, saat berhadapan dengan orang lain, khususnya ketika ada sesuatu yang dipersepsi merugikan, atau merendahkannya, langsung mengatakan, “aku tersinggung”, atau “saya malu…”, atau “saya membela diri…”. Bahkan, ada kalimat-kalimat lain, yang mempertunjukkan kesadaran terhadap dirinya. Keakuan dirinya. Inilah aku. Begitulah, pernyataan-pernyataan yang menunjukkan pengakuan akan ke-Aku-annya. Melalui pernyatan keakuannya itu pula, ada kesan bahwa dirinya sedang sadar dan menyadari kediriannya.



Kesadaran diri dapat dijadikan sebagai pemahaman, adanya pijakan mula untuk melanjutkan evolusi kesadaran seseorang.  Bentuk ekspresid dari kesadaran ini, setidaknya dimunculkan dalam sikap, ucap dan tindakan. Selanjutnya, selepas ada kesadaran ini, tidak sedikit orang yang menunjukkan bahwa dirinya sedang dan tengah mengalami evolusi kesadaran.

Kamis, 14 Mei 2026

 ”Nah, saya ingin bercerita, mengenai kegagalan kita dalam berdoa..” tawarnya.

”Doa apa?” tanyaku.


doa apa saja. Bukankah kebanyakan manusia itu, selalu berdoa, dan berharap doa itu dikabulkan Allah Swt ? bukankah, kita berharap, setiap doa yang kita panjatkan bisa berhasil?”

Saya membenarkan pernyataan itu.  Kita semua paham, karakter manusia itu, akan demikian adanya. Setiap orang, akan berusaha untuk menunjukkan sikap yang serupa dengan pernyataan itu. Manusia, kerap kali, berdoa, dengan harapan, doanya dikabulkan.  Tetapi, pada kenyataannya, tidak setiap doa kita dikabulkan.

Rabu, 13 Mei 2026

Anak Generasi hari ini, paska milenial, tidak bisa menggunakan model pendekatan pembelajaran jadul. Tidak bisa, dan bahkan, cenderung akan berhadapan dengan kegagalan. Sebagai orangtua, dan atau tenaga pendidik, pun demikian, sebagai Pemerintah yang mengelola kebijakan pendidikan, akan berhadapan dengan karakter peserta didik yang baru, yang memiliki karakter baru, dengan orientasi hidup yang baru.



Anak GenZ dan generasi selanjutnya, bukanlah anak jadul, yang memiliki kebutuhan belajar dengan mendengarkan, menulis atau membaca. Tradisi itu, masih dilakukan, tetapi tidak menjadi faktor utama dalam kehidupannya. Andaipun mereka lakukan, praktek kehidupan serupa itu, tidak dilakukan pula dengan model jadul.

Selasa, 12 Mei 2026

Ada beberapa hal penting, yang dijadikan dasar pemikiran, pentingnya penguatan Madrasah Nusantara. Argumentasi ini, diharapkan menjadi pembanding pemikiran, dengan agenda pengembangan sekolah-sekolah berspesies khusus di Indonesia.



Pertama, kita semua sudah paham, alat ukur kompetensi global itu, dan biasa digunakan oleh Pemerintah, atau akademisi pendidikan, yaitu PISA. Dalam pragram ini, hal penting dan dijadikan tolak ukurnya adalah numerasi dan literasi. Istilah klasik di negeri kita, calistung (membaca, menulis dan berhitung).