Just another free Blogger theme

Rabu, 07 Oktober 2026

Dalam satu tahun terakhir, kita, publik, khususnya dunia pendidikan mendapat suguhan menarik terkait kebijakan pendidikan. Kebijakan pendidikan yang kita maksudkan itu, yakni munculnya sekolah alternatif, dengan berbagai nama, baik yang diciptkan Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat.


Sebagaimana yang diketahui bersama, di Pusat mengeluarkan kebijakan mendirikan dan mengembangkan Sekolah Garuda, dan Sekolah Rakyat, dan Universitas Republik Indonesia. Sekolah Garuda untuk mendidik anak unggul dan berkualitas. Sekolah Rakyat digawani oleh Kementerian Sosila untuk warga negara tidak mampu. Sedangkan Universitas Republik Indonesia diperuntukkan untuk mendidik calon pemimpin bangsa. Begitulah visi dan misi umumnya. 

Selasa, 06 Oktober 2026

Di sini, di titik ini. Ada perubahan pola pikir, atau lebih tepatnya, ada pengembangan pola pikir dalam memahami kualitas pendidikan.

"Madrasah unggul itu, adalah performa puncak dari input yang unggul, tenaga pendidik yang unggul, sapras unggul, proses unggul dan juga kepemimpinan yang ungul", ungkap sang pemateri.


Sebagai pendengar, yang juga selama ini, sekedar sebagai praktisi di lapangan. Lebih banyak diam, terdiam dan termangu. Terlebih lagi, si pemateri, yang memperkenalkan dirinya sebagai guru besar di sebuah perguruan tinggi, menegaskan bahwa gagasan yang disampaikannya itu, mengacu pada excelllent student (siswa yang unggul).

Senin, 05 Oktober 2026

Tadi malam, sebagian diantara kita, ada yang menyaksikan pertandingan sepakbola Tim Nasional Indonesia lawan Thailand. Pertandingan final di ajang FIFA ASEAN 2026. Indonesia sebagai tuan rumah, dan juga, dipersepsikan memiliki skuad yang istimewa, tentu saja, diharapkan oleh rakyat Indonesia menjadi kampiun di ajang regional kali ini. 


Begitulah harapannya !

Tapi, apakah harapan itu terwujud ? di sinilah ceritanya, bisa dimulai.

Minggu, 04 Oktober 2026

Untuk membangun kekuatan kerjasama, ada  hal kecil yang kerap diabaikan. Pengakuan. Memberikan pengakuan, adalah bentuk lain dari upaya sadar untuk memperkuat kerjasama, solidaritas, dan nilai kebersamaan. Tanpa ada pengakuan, setiap orang akan merasa jauh, dijauhkan dan terjauhkan, atau bahkan merasa tidak ada.



Adakalanya, seseorang itu memiliki kemampuan lebih dan  juga memiliki kemauan lebih. Namun, karena merasa tidak diakui, maka seluruh hal yang ada dalam dirinya itu, tidak muncul dan tidak dimunculkan. Mereka lebih suka menutup diri, dan menjaga jarak dengan orang lain, termasuk dalam konteks kelembagaan.

Sabtu, 03 Oktober 2026

"Aduh, aku repot nih, gak ada waktu..!", ungkap seseorang yang merasa menjadi orang paling sibuk sedunia.



"maaf, belum selesai, waktunya hak cukup..", adalah ungkapan lain, yang menunjukkan sikap dan pemahaman yang sama, terkait waktu.

Iya, kita memang aneh. Eh, maksudnya, saya. Mungkin, yang lain, pembaca, sudah ada yang mampu memanfaatkan waktu yang ada, untuk menyelesaikan masalah hidup dan kehidupan. Tetapi, seperti yang dialami orang tadi, dan saya sendiri, kadangkala merasa kesulitan untuk bisa mengerjakan banyak hal, karena masalah waktu juga.

Persoalan klasiknya, adalah sama, manajemen waktu !

Jumat, 02 Oktober 2026

Iya, saya setuju. Kecerdasan Buatan atau Artifical Intelligence, bisa membantu memudahkan kita dalam bekerja, bahkan, bisa membantu kita dalam berpikir. Ini adalah pengalaman hidup kita, di zaman kita hari ini. Sesiapapun kita, dalam posisi apapun kita, sudah bisa merasakan hal itu.Baik untuk kepentingan pribadi, sosial, karir atau pun ekonomi. Pokoknya, banyak pekerjaan kita, di zaman kita hari ini, sudah mendapatkan bantuan dari kecerdasan Buatan tersebut.


Pertanyaanya, dan khususnya, hal ini disampaikan kepada para guru, orangtua dan pembelajar pada umumnya, "apakah AI bisa menggantikan proses pembelajaran?" Pertanyaan sederhana dan klasik, dan mungkin banyak orang yang sudah melontarkannya, dan juga memberikan komentarnya terhadap pertanyaan itu. Namun, sekali muncu lagi pertanyaan itu, maka banyak ragam tanggapan terhadap pertanyaan tersebut.

Kamis, 01 Oktober 2026

Sebuah keprihatinan bersama, khususnya mereka yang ada di dalam kelas. Guru-guru, kerap kali berhadapan dengan generasi bisu. Bukan bisu karena tidak bisa bicara, namun bisu karena tidak terbiasa bicara. Diam adalah pilihan utama anak-anak, murid, siswa atau mahasiswa. Dengan diam mereka merasa nyaman, justru dengan bertanya, mereka merasa tidak nyaman.


Aneh. Memang kehidupan aneh.

Baru saja terjadi. Dengan gaya yang sebenarnya tidak unik, dan bukan hal baru. Siswa membentuk kelompok, dengan jumlah anggota 6 orang. Mereka membuat makalah, dan makalah itu, wajib dipresentasikan. Presentasinya, untuk kali ini, bukan dihadapan rekan sekelasnya, tetapi dihadapanku sendiri.