Di ruang keluarga yang remang, wajah Ibu Nani (58) terpapar cahaya kebiruan. Cahaya itu bukan berasal dari televisi, melainkan dari pendar gawai anak bungsunya yang asyik menggulir layar. Mereka duduk di sofa yang sama, berjarak tak lebih dari setengah meter secara fisik. Namun, secara keruangan (spasial), mereka berada di dua semesta yang sama sekali berbeda. Sang anak tengah mengarungi luasnya lanskap digital tanpa batas—berinteraksi, berbelanja, dan mengonsumsi kebudayaan global. Sementara itu, Ibu Nani terpaku dalam dimensi fisik yang kian menyempit. Ia hadir secara jasmani, tetapi secara perlahan terasing dari geografi sosial yang baru.
Fenomena "gagap teknologi" atau gaptek pada lansia atau orangtua sering kali direduksi sekadar sebagai masalah kognitif, keengganan belajar, atau penolakan generational terhadap hal baru. Narasi umum menyuruh mereka untuk "beradaptasi agar tidak ketinggalan zaman." Namun, jika kita membedahnya melalui pisau analisis Geografi Kritis—sebuah cabang keilmuan yang membongkar bagaimana ruang, tempat, dan kekuasaan saling memproduksi dan melanggengkan ketidaksetaraan—kita akan menemukan dinamika psikologis yang jauh lebih kompleks, struktural, dan menyayat hati.








.jpg)



