Just another free Blogger theme

Kamis, 16 Juli 2026

Hari pertama melangkah ke dalam institusi sekolah bukan sekadar sebuah ritual sosial atau perpindahan fisik dari rumah ke ruang kelas. Dari perspektif psikoanalisis, momen ini merupakan salah satu krisis perkembangan (developmental crisis) paling signifikan yang dialami anak pada awal masa kanak-kanak. Transisi ini menandai pergeseran dari lingkungan domestik yang penuh dengan pemuasan insting serta perlindungan absolut menuju dunia luar yang menuntut regulasi diri, penundaan kepuasan (gratification delay), dan kepatuhan pada hukum-hukum sosial. Untuk memahami kesiapan yang perlu dihadirkan pada diri seorang anak, kita harus membedah struktur psikis mereka melalui lensa Sigmund Freud, Melanie Klein, Donald Winnicott, dan John Bowlby. Melalui pendekatan ini, kesiapan tidak lagi dipandang sebagai kemampuan kognitif semata seperti membaca atau berhitung, melainkan sebuah pencapaian struktural ego yang matang dan kapasitas emosional yang resilien.



Para psikoanalitis, sekolah adalah agen pemisah pertama yang paling konkret antara anak dan figur lekat primer, umumnya ibu. Rumah, dalam topografi mental anak, merepresentasikan perluasan dari diri mereka sendiri atau sebuah "safe harbor" tempat Ego anak belum sepenuhnya teruji oleh realitas eksternal. Ketika anak dihadapkan pada keharusan memasuki sekolah, ketidaksadaran mereka mempersepsikannya sebagai sebuah ancaman kehilangan objek (object loss). Kecemasan ini berakar pada apa yang disebut Freud sebagai kecemasan kastrasi atau kecemasan kehilangan cinta dari objek lekat.

Rabu, 15 Juli 2026

Hari pertama setelah melepas jabatan selalu menjadi momen paling sunyi bagi seorang mantan pemimpin. Ponsel yang biasanya tidak berhenti berdering mendadak senyap. Ruang tamu yang dulunya sesak oleh barisan pencari muka, kini kembali lowong. Panggung kekuasaan telah digulung, lampu sorot dipadamkan, dan ajudan yang sigap membukakan pintu mobil kini melayani orang lain.

Namun, ada fenomena menarik yang kerap terjadi dalam transisi ini. Seseorang yang selama bertahun-tahun berada di dalam lingkaran kekuasaan—bersikap kompromistis, defensif, bahkan cenderung memaklumi segala kebijakan—tiba-tiba mengalami metamorfosis pasca-jabatan. Mereka bertransformasi menjadi sosok yang amat kritis, vokal, dan tak jarang berdiri di garis depan sebagai oposisi. Mengapa kehilangan kursi kekuasaan justru melahirkan keberanian berbicara yang selama ini tersumbat? Apakah ini murni sebuah pencerahan moral, ataukah ada gejolak psikososial yang lebih kompleks di baliknya?

Selasa, 14 Juli 2026

Di balik dinding sebuah sekolah lanjutan atas, sebuah ledakan verbal meremukkan keheningan dunia pendidikan. Seorang remaja, yang selama ini dikenal tenang namun obsesif, melontarkan makian kasar di luar nalar kepada gurunya. Bagi mata awam, ini adalah potret kenakalan remaja biasa—sebuah masalah disiplin. Namun, jika kita membedah riwayat hidupnya menggunakan pisau analisis psikoanalisis Sigmund Freud, kita akan menemukan bahwa ledakan tersebut bukanlah tindakan acak. Ia adalah kulminasi dari runtuhnya benteng pertahanan psikis yang rapuh, sebuah jeritan dari struktur bawah sadar yang terkoyak oleh kehilangan bertubi-tubi dan fiksasi perkembangan yang tak terselesaikan.


Remaja ini hidup dalam apa yang disebut psikolog sebagai "psychologically broken home" (keluarga yang retak secara psikologis). Kehilangan ibu kandung di usia akhir Sekolah Dasar (SD), disusul kematian ibu tiri pertama, pernikahan ketiga sang ayah, hingga penolakan spasial di mana ia "dibuang" untuk tinggal terpisah dari ayahnya, telah menciptakan trauma relasional yang mendalam. Mari kita bedah bagaimana dinamika struktural jiwa dan fiksasi psikoseksual membentuk tragedi mental remaja ini.

Senin, 13 Juli 2026

Bermula dari status di media sosial, seorang anak melontarkan kata-kata kasar terhadap pihak sekolah, atau mungkin lebih spesifiknya terhadap guru. "Si Anj*ng, rapat....". Itulah hardikannya. Sontak saja, status itu menyebar di tengah-tengah masyarakat dan  terlebih lagi tenaga pendidik dan kependidikan.  Karena dengan hadirnya kalimat itu jua, pihak sekolah kemudian mencoba untuk melakukan refleksi dan koreksi terhadap kejadian itu.



Bagi sebagian orang memancing kegundahan, kemarahan, dan emosional. Tetapi, Saat isu itu menyebar dan kemudian mampir ditelinga guru BP/BK, narasi berubah. Dari aura kebencian kepada si pembuat status, menjadi sebuah tantangan psikologis untuk melakukan penelaahan mengenai latar kisah, yang memantik kejadian itu.

Minggu, 12 Juli 2026

Jalan tetap terbuka, dan tetap ada. Masalah pokoknya, adalah apakah setiap orang tahu, paham dan mau memanfaatkan jalan tersebut ?



Tentu saja, betul. Banyak jalan menunju satu tujuan. Banyak cara untuk bisa mencapai cita-cita. Maka hal penting yang perlu ditetapkan saat ini, adalah menetapkan visi atau misinya itu sendiri. Mau kemana kita ? al-Qur'an, memberi kita peringatan, fa aina tadzhabun, mau kemana kita ?

Sabtu, 11 Juli 2026

Sebelas Juli 2026, adalah bagian dari hari bersejarah. Khususnya dalam kaitan dengan perkembangan madrasah di tempat kerja, MAN 2 Kota Bandung. Hari ini, merupakan puncak dari perjalanan penerimaan Santri Baru Rumah Tahfizh MAN 2 Kota Bandung. Adan sebelas 11 santri untuk tahun ini. Dua santri, adalah santri senior, dan 9 santri baru, menjadi keluarga besar Rumah Tahfizh.


Ada sebuah kebahagiaan, dan kebanggaan bagi MAN 2 Kota Bandung. Kegiatan hari ini, menjadi momentum bersyukur, karena agenda pengembangan layanan pendidikan di lingkungan MAN 2 KOta Bandung, sudah mulai mekar. Sejumlah orangtua, sudah mulai mencium programnya, dan sejumlah anak sudah menjadi bagian keluarga besarnya.

Jumat, 10 Juli 2026

Kehilangan kekuasaan bukan sekadar urusan perubahan slip gaji atau hilangnya nama jabatan di pintu kubikal. Bagi banyak orang, turun jabatan adalah sebuah guncangan tektonik yang meruntuhkan koordinat eksistensial mereka. Sering kali, fenomena ini diikuti oleh perubahan perilaku yang drastis: sosok yang dulunya tenang dan penuh wibawa tiba-tiba berubah menjadi rentan, defensif, dan sering marah-marah tanpa alasan yang jelas.


Mengapa amarah menjadi respons yang begitu dominan? Untuk memahaminya secara utuh, kita tidak bisa hanya melihat isi kepala individu tersebut. Kita harus menggunakan lensa Psikologi-Geoanalisis—sebuah pendekatan yang mengawinkan dinamika kejiwaan internal manusia dengan analisis ruang, wilayah kekuasaan (teritorial), dan arsitektur sosial tempat mereka bergerak.