Just another free Blogger theme

Sabtu, 08 Agustus 2026

Ide/gagasan merupakan sebuah produk. Ide adalah produk jasa dari seseorang. Sementara orang yang mengeluarkan ide/gagasan diposisikan sebagai produsen. Pemahaman ide/gagasan sebagai sebuah produk manusia sesungguhnya sudah tidak asing lagi bagi kalangan ilmuwan sosial. Anthony Giddens –misalnya-- berpandangan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat manusia adalah produsen yang memproduksi sekaligus mereproduksi budaya[1].



Ide adalah salah satu budaya manusia. Dengan kata lain, ide adalah produk budaya atau praktik pemikiran manusia.

Jumat, 07 Agustus 2026

Semula tidak peduli dan bahkan kurang merasa tertarik dengan berbagai tayangan infotainment yang bertajuk cinta. Namun karena maraknya acara seperti ini, misalnya Cinta Lokasi, mak comblangin dong, Cinta Lama Bersemi Kebali, Play Boy Kabel dan Kontak Jodoh (2010-an) serta sejenisnya, ada sesuatu hal yang mengganjal dan ingin dikemukakan kepada publik. Sikap ketidakpedulian selama ini, selain karena acara tersebut merupakan bagian dari hiburan, tayangan seperti ini pun lebih menunjukkan sebagai mata acara yang dikhususkan sebagai konsumsi kalangan ABG (anak baru gede) atau remaja belaka. Oleh karena itu, rasa peduli pun kurang muncul. Bahkan bisa jadi, dengan alasan seperti itu juga tidak banyak kalangan yang memberikan perhatian terhadap acara-acara seperti ini.



Seiring perjalanan waktu dan juga karena sesekali menyaksikan episode-episode acara tersebut, muncul sejumlah pertanyaan dalam diri. Apakah memang begitu remaja Indonesia dalam memperjuangkan cinta ? apakah memang demikian adanya perilaku remaja Indonesia dalam memperlakukan diri dan orang lain ? pada konteks inilah, kita dituntut untuk mencermati dengan seksama perilaku remaja dalam acara tersebut, khususnya bila dikaitkan dengan persoalan karakter perilaku remaja Indonesia masa kini.

Kamis, 06 Agustus 2026

Bencana berulang kembali. Bahkan, memahami karakter geologi indonesia yang ada saat ini, bencana serupa gempa atau gunung api ini, akan berulang kembali. Entah esok, atau suatu hari. Bencana alam, di Indonesia akan menjadi bagian dari kehidupan warga negara ini. Indonesia yang kaya raya dengan kekayaan alamnya, dan keindahan alamnya, namun diselimuti pula oleh potensi bencana alam yang bervariasi. Gempa bumi, gunung api, banjir, tsunami, longsoran tanah, dan rupa-rupa bencana alam lainnya. Realitas geologis Indonesia seperti ini, sudah nyata, dan banyak diketahui orang. Dengan kata lain, maka Indonesia merupakan daerah yang perlu untuk siaga satu (Siaga I) terhadap bencana geologis. Siaga untuk selamanya.



Terhadap berbagai gejala alam ini, gejala geologi atau bencana geologis ini, reaksi sosiologis yang ditunjukkan masyarakat kita, sungguh sangat variatif. Analisa berkembang, mulai dari yang berbau sentimen bercampur dengan analisa kritis keilmuan, sampai pada keilmuan murni. Sehingga, kadang-kadang, bila membincangkan sebuah gejala sosial atau gejala alam, masyarakat bingung, dibingungkan atau membingungkan diri dengan pola-pola pikir yang lainnya.

Rabu, 05 Agustus 2026

 Bagi seorang guru, mendengar adanya guru yang tidak layak mengajar/mendidik, sudah tentu akan merasa sedih. Dan bila kita berposisi sebagai seorang wali murid, atau orang tua siswa, mendengar banyaknya guru yang tidak layak mengajar/mendidik ini, menjadi waswas. Artinya, mungkin kita, sebagai orang tua, mau menyerahkan masa depan anak terhadap tenaga pendidik yang tidak layak mengajar/mendidik ? relakah, seorang ibu atau orang tua menggadekan masa depan anak kepada satuan pendidikan yang diisi oleh guru-guru yang tidak layak mengajar/mendidik ? Itulah persoalan yang mengerikan dan perlu dengan segera untuk dituntaskan.


Sebagai salah seorang tenaga pendidik di satuan pendidikan dasar, dan juga di sekolah swasta, penulis merasa kekurangan informasi untuk mengetahui apa alasan, atau apa standar yang digunakan oleh para peneliti untuk menyebut layak-tidaknya seseorang dalam menjalan tugasnya sebagai seorang guru. Apakah mereka melihat ijazah atau kemampuan nyata seorang guru di lapangan ?

Selasa, 04 Agustus 2026

Bagi orang Bandung Timur, khususnya daerah kawasan Cibiru, hari minggu merupakan hari yang istimewa. Pada hari ini, masyarakat di kawasan ini dapat menghabiskan sebagian waktu liburnya di daerah pasar minggu. Kawasan pasar minggu itu, merentang panjang mulai dari Kompleks Vijaya Kusumah, SMPN 46 sampai jalan menuju SMU Terpadu Krida Nusantara.

Senin, 03 Agustus 2026

Alkisah. Malam itu, sekitar pukul 22.00 WIB. Kami, sebanyak 29 orang berdiri, bergerombol di Jembatan Gambir - Jakarta. Kumpulnya di sana, dimaksudkan untuk memudahkan kendaraan penjemput, untuk bisa pulang ke kampung halaman, Paris van Java.


Kontakan demi kontakan di lakukan. Ketua rombongan meyakinkan, perjalanan akan lancar, dan penjembut siap tiba di depan kelompok kami. Dari pihak driver memberitakan, bahwa kendaraannya tengah terus berusaha untuk melaju. Begitulah kisahnay di sekitar malam itu.

Detik demi detik berlalu. menit demi menit berlalu. Kendaraan tak jua muncul dihadapan kelompok. Mulai galau bermunculan. "posisi penjemput di  mana..?", "kendaraan di mana?" , "dah sampai belum...?" sejumlah pertanyaan bermunculan dari ragam lisan, yang ada di kelompok. Sementara sang Ketua Regu, hanya bisa meyakinkan, "kendaraan sedang melaju, tapi lambat, macet..." ungkapnya.

Minggu, 02 Agustus 2026

Ruang memberikan peluang untuk membangun kedekatan-manusia. Atau, lebih tepatnya, ruang akan menjadi faktor penting dalam memaksa seseorang untuk menunjukkan ekspresi-kedekatan kemanusiaannya. Seperti yang terjadi, dan tampak di area toilet. Seperti waktu itu, dan sore itu terjadi.



Seperti yang disampaikan dalam tulisan sebelumnya, Sabtu sore, 1 Agustus 2026, terjadi  fenomena kerumunan terkondisikan (conditioned crowd). Jamaah berdatangan dari penjuru propinsi Jawa Barat, Banten dan DKI, untuk hadir atas undangan Kementerian Agama dalam kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan, yang mengambil tempat di Monumen Nasional Jakarta.