"sudah, diridhokan saja, semua ini sudah terjadi, dan kita harus menerima kenyataan ini.." nasihat, seorang tetua kepada generasi mudanya. Pesan itu, disampaikan, saat kenyataan pahit menimpa, dan diluar dugaan atau di luar pemikiran sebelumnya. Karena itu, sang Tetua memandang, bahwa kita semua harus meridhokan, kenyataan ini.
Ucapan itu terasa sederhana, dan sangat mudah meluncur dari lisan kita. Tentunya, sebagai orang yang tidak merasakan deritanya, akan dengan mudah, meluncurkan kalimat itu. Tetapi, bagi kita yang merasakan derita itu, misalnya, saat gagal dalam meraih cita, berpisah dengan orang yang dicintai, gagal menikahi seseorang, bencana kebakaran, atau ditinggalkan orangtua, maka derita-penyesalan sangat terasa hadir dalam emosi kita. Namun, sejumlah orang yang berada di luar kita, dan tidak menjadi bagian dari derita yang kita rasakan, dengan sangat mudah meluncurkan kata dan ucapan, yang disebutnya menjadi sebuah nasihat, supaya kita dapat dengan mudah untuk meridhokannya.












