Just another free Blogger theme

Rabu, 14 Oktober 2026

Di bawah remang lampu temaram sebuah ruang sunyi, seorang ibu menengadahkan kedua telapak tangannya. Matanya terpejam erat, bibirnya bergumam lirih merapalkan untaian kata yang tak sepenuhnya terdengar oleh orang di sebelahnya. Air matanya menetes pelan, membasahi sajadah. Di tempat yang berbeda, ribuan kilometer jauhnya, sekelompok masyarakat adat menari melingkar di bawah terik matahari yang menyengat, melantunkan mantra-mantra purba bertempo konstan, memohon agar tirta kehidupan segera dicurahkan ke tanah mereka yang kian meretak.

Sekilas, kedua peristiwa tersebut tampak sebagai manifestasi keagamaan yang sangat personal atau sekadar praktik ritualistis. Namun, jika kita melangkah sejenak keluar dari sekat-sekat dogma dan mengamatinya dari ketinggian menara antropologi, kita akan menemukan sebuah panorama yang jauh lebih luas. Doa bukan sekadar urusan privat antara individu dengan Sang Maha Pencipta. Lebih dari itu, doa adalah sebuah fenomena kebudayaan yang sangat vital, melintasi ruang dan zaman, serta menjadi fondasi tersembunyi bagi keberlangsungan peradaban manusia.



Sahabatku,
Berita kematianmu itu sangat mengagetkan diriku, diri mereka dan diri kami semua
Aneh bin ajaib
Kepastian adalah kepastian, tetapi kepastian ini yang kerap mengundang keraguan
Ragu akan kebenaran informasi, dan ragu akan kenyataan yang terjadi saat ini,
Kami yang mendengarkannya, dengan koor yang sama mengajukan pertanyaan, “Benarkah semua itu adalah sebuah kenyataan”,  

Selasa, 13 Oktober 2026

 
aku tak pernah melihat,
apa dan harus bagaimana aku menatap,
tapi kenapa aku arus berucap
dirimu selalalu tampak, walau mataku terus ku pejamkan

Senin, 12 Oktober 2026

Kadang. kita semua ini sekedar bisa berharap. Tidak lebih dari itu. Bahkan, ada perjuangan lain, selain itu. Bahasa budayanya, langkah terakhir bangsa kita ini, sekedar 'mengurut dada'. Selepas itu, tidak ada lagi langkah yang bisa dilakukan. Tidak ada. Karena langkah berikutnya, kembali pada kalimat pertama tadi, sekedar berharap, dan mengurut dada. Situasi apapun, dan bahkan sesulit apapun, tidak ada pilihan lain, selain mengelus dada, dalam posisi berharap sesuatu keajaiban terjadi dalam kehidupanannya.



Terkait hal ini, muncul pertanyaan, apakah karakter ini, bagian dari DNA budaya kita ? ataukah, itulah yang dimaksud dengan gen-budaya kita, selama ini, dan akan terus menerus serupa itu ? Sebuah pertanyaan, yang perlu dijadikan bahan renungan dan refleksi bersama.

Minggu, 11 Oktober 2026

 Sumber renungan sufis kali ini, adalah firman Allah Swt :

Ùˆَالَّذِينَ ÙŠَÙ‚ُولُونَ رَبَّÙ†َا Ù‡َبْ Ù„َÙ†َا Ù…ِÙ†ْ Ø£َزْÙˆَاجِÙ†َا ÙˆَذُرِّÙŠَّاتِÙ†َا Ù‚ُرَّØ©َ Ø£َعْÙŠُÙ†ٍ ÙˆَاجْعَÙ„ْÙ†َا Ù„ِÙ„ْÙ…ُتَّÙ‚ِينَ Ø¥ِÙ…َامًا

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (hati), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74).

Seperti kita ketahui bersama, bahwa lantunan doa ini, kerap hadir dalam lisan kita. Andaipun tidak berulang tiap detik, namun dalam doa-doa khususnya, kalamnya kerap muncul dan menyemburat dari hasrat terdalam kita.


Sabtu, 10 Oktober 2026

 

“hanya aku dan Tuhan..”

“lha, itu kalau kamu yakin dan percaya akan Tuhan. Mana mungkin  kamu yakin bahwa Tuhan bisa mengerti masalahmu, jika kamu sendiri tidak percaya pada Tuhan?”

“tapi, Tuhan pasti tahu dan mengerti masalahku..” keluhnya dengan tandas

“betul, tetapi untuk bisa meyakini hal itu,  maka pokok soalnya, adalah apakah kamu sendiri, percaya pada Tuhan, sehingga Tuhan bisa mengerti kepadamu.

Jumat, 09 Oktober 2026

Membaca buku itu penting, yang utama itu adalah mendapatkan informasinya. Mendapatkan informasi itu penting, tetapi yang utama adalah memanfaatkannya. Memanfaatkan informai itu penting, tetapi kapan kita yang memproduksinya ? Sementara kita tahu, Sehebat apapun ilmu kita, bila tidak pernah dituliskan, akan hilang seiring kematian. Sedangkan, seburuk apapun ilmu kita, bila dituliskan adalah baik, karena akan diperbaiki oleh generasi yang akan datang !