Just another free Blogger theme

Minggu, 24 Mei 2026

Tidak ada manusia yang sempurna. Kira-kira, demikianlah ucapan kebanyakan orang. Kalimat itu, bisa dikatakan sebagai pernyataan normatif, dan bisa pula sebagai upaya pembelaan diri.  



Pernyataan yang bisa dikategorikan sebagai pernyataan normatif, karena mengandung makna yang sulit diukur, dan mudah dipahami. Persoalan itu, akan mudah memancing perdebatan panjang, dan berkelanjutan, bila kemudian, mempertanyakan indikator dari manusia sempurna. Terlebih lagi, bila dikaitkan dengan indikator, tidak ada catat, atau kelemahannya. Maka, untuk ukuran serupa itu, tidak akan ada manusia yang sempurna. karena itulah, pernyataan itu, masuk kategori pernyataan normatif, atau bersifat umum.

Sabtu, 23 Mei 2026

Ada yang mengatakan, "Juara liga sekarang ini, Persijap.."

Kenapa ?

Mereka mengatakan, "ya, itu, bila klasemen liga 1, hanya diikuti oleh dua peserta, yakni Persib dan Persijap saja." paparnya, "dengan 2 peserta itu, maka Head to Head, antara Persijap dan Persib, dimenangkan oleh Persijap..."

Tentu saja, mendengar penjelasan serupa itu, tidak perlu tersinggung, dan tidak perlu koment, berkepanjangan. Walau, dibalik dua pertemuan itu, memang banyak hal yang bisa dibincangkan oleh para pengamat bola. Namun, untuk sekedar meramaikan diskusi atau obrolan di poskamling, pandangan serupa itu, sah saja untuk diungkapkan.

Jumat, 22 Mei 2026

Apakah ada demokrasi di sebuah negara ? sebuah pertanyaan, yang bisa memantik perdebatan cukup panjang, dan bahkan bisa jadi, sulit dihentikan. Persoalannya, bukan karena ada tidaknya demokrasi, melainkan perbedaan indikasi yang menyebabkan setiap orang memiliki pandangan berbeda, dan khas, terkait demokrasi itu sendiri. Di sinilah, perdebatannya.

Bila dibumbui oleh ketidakdewasaan publik, dan juga elit politiknya, maka pencerahan serta penjelasan dan kejelasan mengenai makna demokrasi, semakin rumit, dan jelimet. Bukan kompleks. Bila kompleks, masih bisa diuraikan, kendati butuh waktu yang cukup panjang. Tetapi bila jelimet, dan bercampur dengan indikator yang tidak jelas, maka bukan kompleks, tetapi komplikasi demokrasi.

Kamis, 21 Mei 2026

"siap..ya, kita sarapan pukul 06.00, langsung pulang...", ajak rekan satu kota. Posisi hari ini, ada di salah satu hotel di Jakarta, tengah mengikuti  kegiatan yang dilaksaanakan Kementerian Pusat. Dengan cepat pula, saya mencoba untuk mengiyakan, dengan maksud, siap untuk pulang ke Bandung leih awal, dari yang direncanakan.



"Wah, lebih pagi pulangnya, ya.." rekanan satu kamar memberikan komentar. Beliau dari MAN 1 Kota Jogjakarta. Kang Wahid ini, adalah salah satu peserta dalam kegiatan itu, dan mendapat tempat satu kamar. Mendapat komentar serupa itu, saya mengangguk dpertanda mengiyakan, terhadap tangapan yang diberikannya.

Rabu, 20 Mei 2026

Baru satu. Dan, memang untuk perjalanan sekitar 3 (tiga) hari. Perjalanan dinas. Ke luar kota. tepatnya ke Jakarta. Perjalanan inilah, yang dialami, dan teralami. Untuk selama 3 hari lamanya. Hari ini, baru satu hari perjalanan. 



Ada yang aneh ? 

tentu, aneh tidak aneh, bergantung pada pengalaman hidup, dan penilaian hidup.  Semakin kaya pengalaman hidup seseorang, maka semakin beragam pula, sudut pandang yang bisa dikemas, dikembangkan atau dikonstruksi. Pada ujungnya, beragam hal bisa dilihat dari sudut pandang baru, dan menggairahkan. 

Selasa, 19 Mei 2026

Apa yang terjadi pada media massa kita saat ini ? Entahlah. Mungkin itu pun adalah satu manfaat baik bagi masyarakat. Tetapi, bisa jadi juga, menjadi satu hal yang menjemukan buat masyarakat. Pertanyaan ini, pertama kali saya lontarkan di 16 Mei 2013. Khususnya, saat ada sejumlah kejadian sosial yang mengkhawatirkan publik, dan juga menjadi perbincangan publik. Kisanya, kira2 seperti ini.


Senin, 18 Mei 2026

Masih tetap bingung, membingungkan, atau khawatir mendorong orang pada keraguan. Ragu terhadap fungsi dan peran keagamaan dalam konteks peraihan kualitas kesehatan, baik fisik maupun psikis.


Di zaman sekarang ini, terlebih ada yang mempromosikan disiplin ilmu baru, yang disebut neurosains atau neurosurgeon (bedah syaraf otak), menawarkan sikap-sikap kritis terhadap pemahaman agama. Khususnya pemahaman dan keyakinan orang awam terhadap agama.

Hal serupa itu jugalah, yang dirasakan saat berhadapan dengan seorang mahasiswa, yang mempertanyakan mengenai perbedaan kualitas kesehatan, antara orang yang melakukannya dengan pendekatan keagamaan dan non-keagamaan. Dengan tegas dan meyakinkan, pertanyaan itu menggugat kesadaran sekaligus keyakinan rekan-rekan lainnya yang beragama.