Jika Anda berdiri di bawah kaki Monumen Selamat Datang pada malam hari, Anda akan menyaksikan sebuah teatrikal megah modernitas Jakarta. Lampu-lampu dari gedung pencakar langit yang mengepung Bundaran Hotel Indonesia (HI) memantul di atas permukaan air kolam yang jernih. Mobil-mobil mewah melaju mulus membentuk lingkaran cahaya merah dan putih yang estetik. Dari kafe-kafe premium di lantai atas pusat perbelanjaan kelas dunia di sekitarnya, para eksekutif dan ekspatriat menyesap kopi mahal sambil memandang ke bawah. Di titik ini, Bundaran HI adalah mahakarya keteraturan, simbol kemajuan ekonomi, dan etalase utama peradaban urban Indonesia.
Namun, sejarah kota ini mencatat wajah lain dari Bundaran HI yang sama sekali berbeda. Wajah yang tidak dingin, tidak steril, dan menolak tunduk pada kemewahan korporat yang mengepungnya.
Bayangkan atmosfer yang kontras: ribuan buruh dengan baju serikat berwarna merah menyala memenuhi aspal, mahasiswa membentangkan spanduk raksasa berisi tuntutan keadilan, kepulan asap dari ban yang dibakar, hingga pekik orasi yang memekakkan telinga lewat pelantang suara. Ketika aksi demonstrasi pecah, Bundaran HI bertransformasi dari pusat sirkulasi kapital menjadi episentrum perlawanan massa.