Just another free Blogger theme

Minggu, 01 November 2026

Dalam firman Allah Swt, Qs. Ruum, ayat 21, ada kata sakinah :  

﴿وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ  ٢١﴾ [ الروم:21]

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [Ar Rum:21]

Sudah menjadi lisan-budaya dari masyarakat kita, bila ada saudara, rekanan atau tetangga yang melangsungkan pernikahan, kemudian kita mendoakannya, supaya pernikahannya bisa bertemu dengan kualitas keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.

Sabtu, 31 Oktober 2026

Ada pernyataan, bahwa ”yang disebut pendidikan adalah memfasilitasi peserta didik untuk bisa mengembangkan potensinya, sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya”. Pernyataan ini, selaras dengan filosofi pendidikan nasional dan/atau  kurikulum merdeka. Bahkan, di kurikulum merdeka, kemudian ditekankan pentingnya  penerapan model pembelajaran berdiferensiasi.


Jumat, 30 Oktober 2026

 


Sejatinya, kehadiran pendidikan inklusi ini, tidak serta merta muncul dalam sejarah perkembangan pendidikan di dunia.   Kehadiran gagasan pendidikan inklusi, berkembang secara evolusi dan tumbuhkembang dilatari realitas layanan pendidikan yang berkembang saat itu.  Perkembangan model-model pendidikan inklusi sangat beragam, khususnya di lingkungan negara maju maupun modern (Stubbs 2008; Unesco 2008). Kendati demikian, ada beberapa point penting, yang dicermati sebagai kesamaan faktor penyebab tumbuhkembangnya pendidikan inklusi di dunia.

Kamis, 29 Oktober 2026

Tanggal 28 Oktober selalu datang menyapa dengan seremoni tahunan: upacara bendera, pembacaan teks Sumpah Pemuda, dan rentetan tagar patriotik di linimasa media sosial. Namun, di balik riuhnya perayaan tersebut, muncul sebuah pertanyaan reflektif yang kian relevan bagi generasi muda masa kini: Seberapa dalam nilai-nilai Sumpah Pemuda meresap ke dalam nadi kehidupan keseharian, di tengah gempuran individualisme digital, polarisasi opini, dan krisis orientasi masa depan?


Generasi muda hari ini hidup di era yang paradoks. Mereka adalah digital natives yang terkoneksi secara global dengan kecepatan cahaya, namun kerap merasa terasing di ruang-ruang sunyi mereka sendiri. Batas negara melebur, informasi tanpa batas tersaji di genggaman, tetapi kemampuan merajut komitmen kebangsaan sering kali tereduksi menjadi sekadar simbol seremonial semata.

Di balik ruang-ruang diskusi yang riuh, media sosial yang riuh, hingga panggung debat politik yang dramatis, kita kerap menyaksikan sebuah fenomena kebahasaan yang ajaib sekaligus menggelisahkan. Sebuah fenomena di mana kebenaran tidak lagi ditopang oleh objek-objek keras yang bisa disentuh, diverifikasi, atau diuji secara empiris, melainkan oleh kelihaian merangkai frasa, menata diksi, dan membolak-balik definisi. Dalam lanskap seperti ini, kata-kata tak lagi berfungsi sebagai cermin yang memantulkan kenyataan material, melainkan bertindak sebagai pencipta kenyataan itu sendiri.



Inilah arena di mana kebenaran nominalis berkuasa—sebuah kebenaran yang berpijak pada anggapan bahwa realitas sejatinya hanyalah nama (nomen), label, atau konstruksi kebahasaan yang kita lekatkan pada sesuatu. Dalam konteks permainan kata yang abai terhadap bukti material, kebenaran tak lagi dicari melalui kerja-kerja ilmiah atau verifikasi faktual, melainkan diciptakan lewat retorika yang berputar-putar dalam lingkaran tautologis.

Rabu, 28 Oktober 2026

Di hadapan sebuah layar gawai yang memancarkan cahaya biru terang, seorang pemuda duduk bersila di atas kasur kamarnya yang sempit. Jarinya bergerak sangat lincah, scrolling tanpa henti menelusuri lini masa media sosial. Di layar itu, silih berganti muncul potongan video kampanye para pejabat tinggi negara, cuplikan rapat paripurna yang diwarnai perdebatan sengit, hingga meme sarkastik yang menertawakan kebijakan publik terbaru. Tanpa aba-aba, jemarinya mengetik sebuah komentar pedas, penuh dengan singkatan tajam, makian kasual, dan emoji api yang menyala-nyala. Bagi pemuda ini, di situlah panggung politiknya berada: bukan di ruang-ruang sidang formal, bukan pula di mimbar partai yang kaku, melainkan di dalam ruang siber yang bising, cair, dan tanpa batas.



Kita sedang hidup di era di mana lanskap politik anak muda telah bergeser secara radikal. Jika dahulu partisipasi politik diidentifikasikan dengan barisan demonstran di jalan raya, kaderisasi partai yang melelahkan, atau perdebatan intelektual di ruang-ruang diskusi kampus, hari ini wajah politik generasi milenial dan Gen Z tampak jauh berbeda. Ia hadir dalam bentuk yang oleh sebagian kaum tua dipandang sebagai bentuk "serapah"—sebuah luapan kejengkelan, sinisme, dan ketidakpercayaan yang dibungkus dalam estetika digital yang serba cepat.

Selasa, 27 Oktober 2026

Di sudut sebuah kafe kekinian yang dipenuhi aroma biji kopi panggang dan deru bising mesin espresso, sekelompok remaja duduk melingkar di atas kursi tinggi. Tawa renyah berderai, disusul oleh rentetan kalimat yang meluncur begitu cepat dengan ritme yang memukau.


Jika seorang guru bahasa Indonesia atau sastrawan senior kebetulan lewat dan mendengarkan percakapan mereka, dahi mereka hampir dipastikan akan berkerut dalam-dalam. Di telinga generasi terdahulu, apa yang diucapkan oleh anak-anak muda ini terdengar seperti sebuah kekacauan linguistik yang merusak tatanan. Kalimat-kalimat mereka dipenuhi singkatan asing, pelintiran makna kata baku, frasa pinjaman dari bahasa Inggris yang dicampur aduk secara sewenang-wenang, hingga umpatan-umpatan kasual yang diucapkan bukan lagi sebagai kemarahan, melainkan sebagai tanda keakraban.