Just another free Blogger theme

Jumat, 25 September 2026

Pada malam hari, warna biru keunguan tiba-tiba muncul dari kawasan kawah Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat. Sekilas, nyala itu tampak seperti api biasa yang diberi cahaya biru. Tetapi Papandayan bukanlah tempat biasa, dan nyala biru di kawasan kawah bukan pula api unggun yang menyala dengan warna tidak lazim.


Fenomena yang sering disebut blue fire itu merupakan manifestasi dari aktivitas gas dan belerang pada sistem vulkanik. Pada 23 September 2026, fenomena tersebut kembali teramati di sejumlah titik Papandayan. Sehari kemudian, nyala yang terlihat dilaporkan lebih sedikit dan lebih terkonsentrasi, dengan warna biru keputihan. PVMBG menyatakan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan pembakaran gas panas belerang pada area solfatara kawah aktif.

Kamis, 24 September 2026

Supaya bisa menuntaskan pemahaman 'ngaco' saya kali ini, wacana ini, masih berkisar dinamika paradigma. Keukeuh, tulisan ini, bermaksud untuk meyakinkan diri, bahwa konsep dinamika paradigma itu ada, dan layak untuk digunakannya. 

Tentu saja. Argumentasi seperti itu, bukan sebuah argumentasi emosional atau subjektif. Penulis hendak posisikan, bahwa argumentasi itu, masuk dalam kategori argumentasi akademik, dan ilmiah, walau mungkin, masih debatable bila hendak dimasukkan dalam kategori argumentasi filosofis.

Tetapi, entahlah, dan silakan saja, penilaian ada pada para pembaca !

Sewaktu ada perdebatan dua intelek Indonesia, khususnya antara Ubedillah Badrun dan Rocky Gerung, muncul konsep dinamika paradigma. Tema itu, menjadi salah satu penggalan diskusi yang cukup panjang, durasinya. Cukup memakan waktu untuk keduanya saling menjelaskan.



 

Istilah itu, tentu saja, adalah salah satu dari kosakata akademik, dan hanya tumbuhsubur dalam lisan dan pemikiran akademisi, di dunia kampus. Bagi kita, yang ada di lapangan, di masyarakat, atau di lembaga pendidikan dasar menengah, tentu saja, tidak terbiasa dengan istilah itu. Karena itu, tidak mengherankan, bila kemudian memantik kekaguman, atau kebingungan.

Ya, betul.

Rabu, 23 September 2026

Soal ini, tidak mudah. Tidak mudah menyelesaikannya, dan tidak mudah pula, untuk membincangkannya. Namun, soal serupa ini, masih tetap menarik dan memantik diskusi, yang berkepanjangan, dan bahkan tak berkesudahan.


Apa itu filsafat ? apakah filsafat itu, sebuah metode pencarian kebenaran, atau sekedar permainan bahasa untuk mempengaruhi opini orang lain ?

Pertanyaan, yang sederahana, namun mak cleb!

Lha, kok bisa ?

Selasa, 22 September 2026




Sebagai guru geografi, sudah biasa menyebutkan tempat (place). Banyak hal yang sudah disampaikan kepada peserta didik. Misalnya, tentang negara, ibukota negara, tempat wisata, lokasi industri, dan sebaran makhluk hidup di muka bumi. Semua itu, sudah disampaikan, dan selama ini dimaknainya sebagai penjelasan mengenai tempat-tempat di muka bumi.


Tetapi,  jarang sekali mendapatkan penjelasan detil dan mendalam mengenai makna atau hakikat tempat itu sendiri. Sehingga, bisa jadi, bila kita ditanya seseorang, benarkah bahwa geografi itu  mengajari peserta didik mengenai tempat ? berhasilkan pendidikan geografi mengenai tempat  kepada peserta didik ?

Senin, 21 September 2026

Tentu saja, perlu ada ukuran yang bisa disepakati untuk bisa membincangka dinamika dan perkembangan kualitas kedemokrasian. Tanpa ada ukuran yang pasti, alih-alih, akan menghasilakan sebuah kesadaran-kolektif terkait masa depan bangsa, yang ada, malah menjadi penyebab terjadinya kegaduhan politik yang tak berkesudahan, dan terus berkepanjangan. Tanpa ada kepastian.



Asumsi itu, tampaknya akan mudah dipahami. Walau, tidak yakin, akan melahirkan kesepakatan politik terkait kesimpulan akhirnya. Namun, adalah hal yang sudha pasti, dan menjadi kepastian bersama, bila kita, masih berada dalam situasi serupa ini, maka inilah, yang menjadi bagian penting dari indikasi adanya involusi demokrasi.

Minggu, 20 September 2026

Entahlah. Teori ini, ujug-ujug muncul dalam kehidupan kita hari ini. Bahasa komunikasi yang digunakan seorang pejabat, rasa-rasanya, mengagungkan teori yang dibuatnya sendiri.

"Ekspresi Apa adanya !"


Itulah, mungkin yang dianutnya, dan diyakini kebenarannya, sebagai teori komunikasi publik, dan atau komunikasi politik pejabat negara kita. 

Saat ini. Di sini !