Perubahan dunia tidak lagi berlangsung secara linear, melainkan bergerak secara eksponensial. Revolusi digital, perubahan iklim, dinamika geopolitik, transformasi ekonomi, hingga disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan membangun peradaban. Dalam konteks tersebut, madrasah tidak cukup hanya mempertahankan tradisi pendidikan Islam yang telah mengakar kuat. Madrasah dituntut mampu membaca perubahan ruang (space), relasi kekuasaan (power relations), serta dinamika sosial yang terus berkembang. Di sinilah perspektif Geografi Kritis (Critical Geography) menjadi sangat relevan.
Geografi kritis memandang bahwa ruang bukan sekadar lokasi fisik, melainkan hasil interaksi antara manusia, kebijakan, ekonomi, budaya, teknologi, dan lingkungan. Dengan kata lain, kualitas pendidikan madrasah tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan guru, tetapi juga dipengaruhi oleh bagaimana madrasah berinteraksi dengan ruang sosial, ruang digital, ruang ekonomi, serta ruang ekologis yang terus berubah.










.jpg)

