Just another free Blogger theme

Jumat, 10 April 2026

"Tuh, Kan, Begitulah Israel !

Bukan kali pertama. Israel melakukan tindakan, yang menggaduhkan politik dunia. Tindakan penyerangan kali ini, tentu saja, bukan untuk yang pertama kalinya, dan juga bukan hal yang aneh. Begitulah, sikap dan tindakan politik Israel. ..."Kira-kira demikianlah, ucapan dari kelompok lawan politik Israel.


Tentu saja, saya akan setuju, bila kemudian, ada pandangan bahwa sikap terhadap tindakan Israel ini, akan membelah menjadi tiga kelompok. Satu kelompok mendukungnya, satu kelompok menolaknya, dan satu kelompok tak berpendapat, karena alasan tertentu.

Nah, bila demikian adanya, apa pemahaman kita, dan sikap kita terhadap tindakan Israel tersebut? akankah, kita memberikan dukungan, atau kritikan terhadap sikap dan tindakan Israel itu sendiri ?

Kamis, 09 April 2026

Selepas ada perjanjian Iran dan Amerika Serikat, kita melihat ada drama-global lainnya. Drama politik itu, dimainkan oleh Israel di satu sisi, dan pemain figuran lainnya di sisi lain. Pemain figuran itu, tentunya adalah Amerika Serikat. Pemain figuran itu, biasa disebut orang sebagai aktor yang memainkan peran pembantu.



Kesimpulan ini, terlalu menyederhanakan, dan disederhanakan. Tetapi, kita semua, publik, atau setidaknya, sebagai pembaca media sosial, dapat melakukan kajian kritis terhadap kesimpulan tersebut. Kebenaran terhadap pernyataan itu, dapat diuji realitas dan rasionalitasnya, secara bersama-sama.

Rabu, 08 April 2026

Berita menarik dalam dua hari terakhir ini, tampaknya bukan masalah gencatan senjatanya. Karena masalah gencatan senjata antara Amerika Serikat dengan Iran itu,  lebih mudah dipahami, dibanding masalah lainnya.  Kebutuhan dan harapan besar dunia itu, tidak pada masalah gencatan senjata itu sendiri, tetapi pada leganya nafas perdagangan minyak dunia.


Itu saja !

Kesimpulan ini, penting untuk dinarasikan. Sehingga, dunia, khususnya, kita yang berada di luar wilayah konflik memiliki pemahaman yang antisipatif terhadap realitas kehidupan kita hari ini.

Selasa, 07 April 2026

Tidak secara sengaja, pagi ini, membaca buku terjemahan dengan judul Seni Perang Sun Tzu. Buku itu ditulisnya oleh James Clavel. Buku klasik, terjemahan jadul.  Tetapi menarik untuk dikaji ulang, dan bahkan menurut sebagian pengamat, dan penelaah kepustakaan,  seni Perang Sun Tzu ini, masuk kategori karya legend di kelasnya.

Masa Iya sih?

Setiap orang dapat melakukan telaahan, baik kepustakaan, atau perbandingan, sehingga dapat membedakan kualitas kajian satu pemikir dengan pemikir lainnya.  Dalam hal ini, saya sendiri, melihat, bahwa kelayakan dan kepatutan buku sebagai legend, dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.



Pertama, tentu saja, buku yang ditulis dua setengah abad yang lalu, dan masih menarik untuk dibaca, adalah satu indikator penting dalam menilai kualitas pokok pikirannya. Tidak bisa diragukan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa penulisnya, dengan kecerdasan yang dimilikinya, mampu menuangkan gagasan dengan presisi dan memberikan makna yang  luar biasa, sehingga bisa relevan dengan kondisi zaman, di setiap zamannya.

Senin, 06 April 2026

 Apakah pernyataan ini, termasuk kategori sikap prematur ? 


Bisa jadi, tidak. Walaupun akhir dari peperangan antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat belum berakhir, namun, kemampuan Iran sampai hari ini, dapat dijadikan inspirasi dan sumber belajar bagi bangsa kita. Menurut penulis, tentunya, sudah bisa. Bisa dijadikan sumber bahan belajar.

Lha, bukankah, negeri Iran itu adalah Islam Syi'ah ?

Minggu, 05 April 2026

 Untuk memperjelas prosesi perkembangan ini, secara singkatnya, dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Adalah karakter (atau juga fase peradaban manusia awal), dimana kehidupan manusia masih di dominasi alam. Alam, masih banyak memberikan pengaruh pada budaya manusia. Dalam kajian geografi biasanya disebut dengan istilah fisis feterminisme.

2. Fase atau karakter kedua yaitu possibilisme (relasional). Antara manusia dan alam dengan saling mempengaruhi. Pengaruh kedua unsur ini akan muncul sesuai dengan konteksnya. Sulit memang untuk mengetahui besarnya sumbangan dari setiap unsur geosfera tersebut. Tetapi, pengaruh teknologi yang dimiliki oleh manusia akan turut membantu untuk menjadi indikator possibilitasnya tahap ini.



3. Tahap kematangan manusia, yang mampu mempengaruhi alam. Manusia mampu memilah dan memilih  peluang. Teori ini disebut juga dengan teori probabilisme.

4. Tahap keempat, yaitu determinisme teknologi. Kategori ini, bukanlah  manusia yang telah mendominasi alam, melainkan teknologi.  Armahedi Mahzar, menyebutnya dengan istilah “paraorganisme” (supra organisme). Yakni satu karakter teknologi yang mampu mengendalikan “psikologis manusia” dan kepribadian manusia, bahkan sekaligus pula menyeleksi manusia. Perhatikanlah kasus munculnya komputer. Atau teknologi Klonning.

Dalam kajian teknologi klonning, manusia bukanlah sesuatu hal yang menjadi hak otonomi Tuhan dalam mengaturnya, baik itu jumlah bayi yang terlahirkan atau pun kapan terlahirnya, termasuk jenis kelaminnya. Bahkan, lebih jauh dari itu, teknologi klonning ini mampu menjanjikan optimismenya ilmuwan untuk mampu merekayasa makhluk hidup “sesuai dengan rencana” para ilmuwan itu sendiri. Sisi ini, sudah mulai menggambarkan bahwa teknologi mampu menjadi titik selektor bagi kehidupan.

Sabtu, 04 April 2026

 Secara formal dalam KTSP (2004), khusus untuk tingkat SMA/MA, ditetapkan bahwa standar ketuntasan belajar Geografi itu, bila siswa memiliki kemampuan dalam (1) Memahami hakikat, objek, ruang lingkup, struktur, dan pendekatan Geografi, (2) Mempraktekkan keterampilan dasar peta dan memanfaatkannya dalam mengkaji geosfer, (3) Memahami pemanfaatan citra dan SIG sebagai wahana memvisualkan geosfer, (4)  Menganalisis dinamika dan kecenderungan perubahan unsur-unsur geosfer serta dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi, (5) Memahami pola dan aturan tata surya dan jagad raya dalam kaitannya dengan kehidupan di muka bumi, (6) Memahami sumber daya alam dan pemanfaatannya secara arif, (7) Menganalisis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan, (8) Menganalisis konsep wilayah dan pewilayahan dalam kaitannya dengan perencanaan pembangunan wilayah, pedesaan dan perkotaan, serta negara maju dan berkembang.


Suharyono (2000, dalam Mamat Ruhimat, 2009) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran geografi adalah (a) mengembangkan cara berfikir untuk dapat melihat dan memahami relasi dan interaksi gejala-gejala fisik maupun sosial dalam konteks keruangan, (2) menumbuhkan pengenalan dan cinta tanah air, serta menanamkan rasa cinta dan hormat pada sesama manusia, (3) memberikan kemampuan untuk membudayakan alam sekitar serta menanamkan kesadaran akan keharusan dan berusaha untuk dapat menikmati atau memanfaatkan alam sekitar, (4) mengembangkan keterampilan untuk melakakukan pengamatan, mencatatan, interpretasi, analisis, klasifikasi, dan mengevaluasi gejala-gejala alam dan sosial, (5) memupuk keterampilan deskripsi dan membuat peta, (6)  memupuk keterampilan membuat komputasi wilayah, (7) memupuk kesadaran ekologi, (8) menanamkan pengertian tentang potensi lingkungan dan kemungkinan usaha yang ada serta mengembangkan pandangan luas dan cita-cita yang rasional dalam memilih dan mengkreasikan lapangan kerja.