Just another free Blogger theme

Kamis, 29 April 2021


Setiap Ramadhan tiba, selalu saja, ada pertanyaan, "katanya, setan dibelenggu, tapi kenapa, kemaksiatan masih ada ?" 

Pertanyaan yang sederhana, namun memiliki kedalaman dan kompleksitas masalah yan cukup luar biasa.  Penulis sendiri, rasa-rasanya, baru bisa memahami dalam waktu-waktu terakhir, dan itupun, belum tentu, memberikan gambaran dan atau jawaban yang memuaskan.

Dalam posisi, bukan sebagai ahli ilmu persetanan (devologi), sudah tentu, tulisan ini pun, belum bisa memberikan jawaban yang menyeluruh dan sahih. Tetapi, sekedar membuat sebuah hipotesis, atau perkiraan pemikiran saja, rasanya, diharapkan dapat memberikan jawaban kepada kita semua.

Pertama, makna lateral dan kaku. Artinya, di bulan Ramadhan, setan memang benar-benar dibelenggu atau di penjara. Mereka tidak leluasa, untuk bergerak, melakukan provokasi atau mempengaruhi perilaku manusia. Penjelasan inilah, yang kemudian memancing pertanyaan awal tadi, sehingga penulis anggap, masih belum mencerahkan pemikiran dan kesadaran kita.

Kedua, ada yang menafsirkan, bahwa yang dibelenggu itu hanyalah raja-raja setan atau pemimpin setan saja, sementara pasukan dan rakyat setannya masih tetap berkeliaran. Penafsiran ini, rasanya sulit untuk dipahami,  karena tidak mampu menjelaskan perbedaan pemenjaraan raja setan dengan kemaksiatan yang masih ada saat ini.  Dengan kata lain, bagaimana kita bisa membedakan kemaksiatan karena dorongan raja setan, dan doronga "setan bukan raja " ?

sebagian ulama, mengartikan bahwa setan yang dibelenggu itu adalah setan pembangkang (maradih) atau setan-setan yang jahat. Sementara, setan yang lainnya, masih tetap berkeliaran. Untuk hal ini pun, masih dirasa ada 'sisi yang kurang terang", yakni apa dampak nyata dari perbedaan penasiran serupa itu ?

Ketiga, maka fisik. Andaikan, setan itu memiiki fisik yang bisa dipenjara, maka, dapat dikatakan bahwa setannya sudah dipenjara, tetapi ismenya, masih berkeliaran dalam kehidupan manusia. Seperti yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita. kendati orang, organsiasi atau pimpinan kelompok terorisnya, sudah dipenjara, namun isem-isme yang pernah tersampaikan ke publik, masih tetap terpeliharan, dan bisa jadi, masih ada pula yang dianut oleh manusia.

Dalam kategori ini, maka jelas, bahwa pemenjaraan setan, bukan berarti, hilangnya kemaksiatan. Karena isme, ajaran, paham, atau pikiran setannya sudah ada di pikiran, perasaan dan hati manusia.

kejahatan dan kemaksiatan yang dilakukan manusia (ahlu ma'ashi), tidak 100 % karena pengaruh setan. Kejahatan manusia itu bisa bersumber dari bisikan manusia, dan juga hawa nafsu manusia. Oleh karena itu, maka disaat setan dibelenggu pun, jika nafsu dirinya tidak dikendalikan maka kejahatan akan muncul di bulan ramadhan.

simpul dari pemikiran ini, maka kejahatan di bulan ramadhan, sejatinya, bukanlah karena ulah perbuatan setan, melainkan ulah perbuatan diri kita sendiri, atau hawa nafsu diri kita sendiri. Inilah yang dimaksdu dengan inna nafsa la amaratu bi su'i, sesungguhnya  nafsu amarah itu mendorong pada perbuatan buruk.

terakhir, ramadhan dan amalan di ramadhan adalah benteng dari isme kejahatan. Di bulan ramadhan ini, setiap muslim akan saing ingatkan dan saling dukung untuk menjalankan amalan ibadah. Karena itu, benteng dan kekuatan kesalehan umat, tidak bersifat individual, melainkan kolektif. Dengan cara itulah, maka benteng ramadhan menjadi belenggu bagi setan untuk menembus pertahanan iman dan kesalehan seorang muslim.

Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar