Just another free Blogger theme

Sabtu, 06 September 2014



ilustrasiRamainya masa penerimaan calon PNS, 'menghangatkan' kehidupan di bawah. Ada yang bergairah untuk mencoba keberuntungan, dan ada juga yang menggali keuntungan. Sementara dilain pihak, tetap ada juga yang mengalami kebuntungan. Di sela-sela ramainya penerimaan CPNS ini, ada yang bergairah untuk mengundi nasib, ada juga yang menggantungkan nasib, dan ada yang membeli nasib. Rupa-rupa laku itu ditunjukkan dan diekspresikan, sesuai dengan kondisinya masing-masing. Ah, aneh-aneh aja.



“wah, lagi rame, penerimaan PNS, ya…?”

“iya, mau nyoba keberuntungan…?!” ujarnya sambil tetap memegang ponsel yang ada ditangannya. Sementara orang yang nanya, tetap saja dalam posisi memperhatikan wanita muda usia, dan masih tampil “gress”. Mungkin, tidak jauh dari 1 atau dua tahun lalu, baru lulus dari pendidikan sarjananya.

Ibu muda usia, sekitar  20 tahunan, baru keluar dari kendaraan roda empatnya, yang dikendalikan oleh sang suami. Menurut informasi, dia ini adalah pegawai baru di instansi itu, dan kini baru masuk kerja. Karena dia masih berdiri di parkiran, dan kebetulan  bertemu dengan pegawai lainnya. Pegawai yang menuturkan kisah kitu, adalah pegawai  senior di  instansi tersebut

"kalau ibu sudah coba ikutan CPNS ?  “tanya lagi.

“wah, sudah gak kehitung Mba…!” jawabnya, agak sedikit kesal. Dia bilang begitu, mungkin karena pernah mengalami beberapa kali ujian, tetapi tetap saja gagal. “ini, sudah cape, ngehonor terus, dan ujian lagi, tapi tetap saja gagal…” keluhnya lagi.

Melihat reaksi seperti itu, si ibu Muda yang ada disampingnya kemudian menawarkan jasa“kalau mau nyoba yang praktis, ada kok..” sambil tersenyum, “hanya 25 rupiahan”. Katanya lagi.

Entah perbincangan itu benar atau tidak. Hal yang pasti, kisah ini baru tersampaikan kemarin. Kisah itu, dituturkan oleh seorang sahabat, yang baru bekerja di sebuah lembaga pendidikan di Kota Bandung. Dia mengatakan, di tempat kerjanya, ada seorang tenaga honorer, yang sudah satu bulan terdaftar sebagai tenaga honorer, tapi gak pernah masuk kerja. Tahu-tahunya, menurut versi orang dalamnya lagi, dia itu mendaftar sebagai tenaga honorer hanya untuk memuluskan administrasi saja. Karena dia sudah didaftarkan oleh sang Ayah, di kementeriannya, sebagai calon PNS.

Sebagai seorang anak Kepala Bagian, anak ini cukup mendapatkan perlakuan yang istimewa. Diterima sebagai tenaga honorer di tengah persaingan kerja yang ketat, dan disaat formasi kerja di lembaga ini tidak ada yang kosong. Tetapi, karena harus ada surat tenaga honorer di instansi pemerintah, terpaksa SANG AYAH, menggunakan kekuasaannya untuk menitipkan anaknya tersebut di lembaga tersebut.

Terbersit dalam benak ini, mungkinkan masa depan pendidikan akan begitu saja digadaikan pada budaya seperti ini ? andai saja, pemerintah mengeluarkan kebijakan, tidak boleh ada keluarga yang mendaftar PNS ke instansi tempat keluarganya bertugas, mungkin kejadian ini akan sedikit terkoreksi. Artinya, seorang anak tidak boleh mendaftar jadi pegawai di Pemda, kalau bapaknya pejabat Pemda, tidak boleh mendaftar jadi guru, kalau ada saudara yang menjadi pejabat di Kementrian Agama atau Kemendikbud, dan sejenisnya lagi.
Bagi teman-teman yang lain, kiranya, sudah saatnya, untuk berfikir jernih, "gak usah ke rayu oleh Calo, lagi pula, zaman kita sudah begini, masih ada yang begitua..."
Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar