Just another free Blogger theme

Senin, 05 Oktober 2020

 Hubungi 021-1500164 buat Urus Pemakaman

Kematian adalah satu fakta. Tidak ada orang yang mengingkari kenyataan ini. Manusia sebagai makhluk hidup, dihadapkan pada ancaman kematian. Siapapun, dan apapun keyakinan kita, kematian akan menjadi bagian dari sejarah kehidupannya. Hal yang membedakan diantara kita, lebih terkait dengan persepsi dan respon kita terhadap kematian tersebut.

Selama pandemic, muncul femenona pengambilan paksa oleh keluarga terhadap anggota keluarga yang meninggal karena COvid-19. Mereka mengambil secara paksa anggota keluarga tersebut, dengan alasan hendak dimakamkan sesuai dengan tradisi dan budayanya, kendati harus dihadapkan pada ancaman penularan Covid-19.

Kemudian pada sisi lain, ada sebagian diantara anggota masyarakat, yang berharap bila kelak meninggal dunia, bisa dimakamkan di kampong halaman, dekat dan bersamaan dengan nenek moyangnya yang sudah lebih dulu meninggalkan dunia ini.

Pertanyaan kita, adalah apa makna dibalik fenomena sosial serupa itu ? adakah makna sosial dan makna budaya yang harus dikedepankan, sehingga respon kita dapat ditunjukkan secara proporsional ?

Belum lama. Jumat minggu kemarin, berkesempatan untuk takjiah (mengunjungi keluarga yang sedang dalam duka karena ditinggal kematian anggota keluarga). Takjiah kali ini, langsung menuju pemakaman umum, yang biasa digunakan oleh masyarakat Kota Bandung.

"Jika selama 6 bulan tidak registrasi, maka makam akan digunakan untuk penguburan yang lain". Kira-kira begitulah, isi spanduk yang dipasang di kawasan pemakaman umum tersebut.

Ya, memang pemakaman kian hari, bukan kian berkurang. Kian hari, kawasan pemakaman kian bertambah luas. Karena itu adalah wajar, bila kemudian meniru tradisi manusia-manusia hidup.

Pertama, ada pemakaman yang ditumpuk. Satu kamar, oleh sejumlah jenazah. Ini mungkin, tipe satu, khusus untuk orang kelas bawah. 

kedua, ada kelas sosial menengah. Satu tempat oleh satu orang, namun hanya cukup untuk sekedar ukuran tubuhnya saja.

Ketiga, tipe kelas atas. Satu orang, bisa menghabiskan lahan yang luas. Bahkan, untuk berdoa pun,  bisa menampung puluhan orang didalamnya. Kelas istimewa, dan terawat.

Disinilah, saya mengartikan, di pemakaman saja, orang mati, masih terlihat kelas sosialnya. Akankah mereka di akhirat, di hadapan Tuhan pun demikian adanya ?

Untuk kepentingan wacana itu, saya berusaha untuk melihat fenomena kematian dan pemakaman, dari sudut pandang geografi. Melalui perspektif ini, diharapkan akan dapat ditemukan informasi akademik, setidaknya dengan merujuk pada pendekatan ‘verstehen’ (deep understanding), dapat terungkap makna dibalik fenomena pemakaman dalam konteks keruangan hidup manusia.

Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar