Just another free Blogger theme

Senin, 03 Desember 2018


Gambar terkait
Sahabat, 
Hidup ini memang paradoks. Apa yang diinginkan, belum tentu membukti. Apa yang diharapkan, tidak otomatis menjadi  kenyataan. Oleh karena itulah, kenyataan lain sering kali terjadi.



Kendatipun demikian, kita semua memang masih merindukan kehadirannya semua hal yang diimpikan. Hingga harapan tersebut, membekas, menumbuh, mengembang, dan membuahkan sebuah kerinduan yang sangat kuat dalam jiwa kita. Itulah sebuah kenyataan hidup di jaman kita.
Ada keinginan, muncul kedinginan. Ada harapan, berkembang bayangan. Ada cita  terhalang sejuta kelam. Di saat itulah, dendam merindu seribu tulus, meratap sejuta cinta meresapi setiap insan.
Mengejar Tuhan, dikejar Hantu. Menanti pagi, ditemui senja. Menatap awan, dihujani petir. Di saat itulah, dendam merindu   seribu tulus,  meratap sejuta cinta meresapi setiap insan.
Mencari suka mendapat luka.  Mengemas berita, menuai derita. Membuka mata, tertusuk jiwa. Di saat itulah, merindu  seribu tulus meratap sejuta cinta meresapi setiap insan.
Dikala melepas berkah,  mendapat  lelah. Memburu tidur, mendapat lumpur. Membakar ubi,  meraih bui. Di saat itulah, dendam merindu seribu tulus, meratap sejuta cinta meresapi setiap insan.
Sahabat ………
Oleh karena itu, kita memang tidak bisa memastikan jalan hidup. Tidak mungkin mewajibkan kenyataan sesuai dengan harapan. Waktu punya hukum. Alam memiliki sejarah. Makanya, manusia dituntut bijak menghadapi kenyataan sandiwara hidup. 
Tak semua malam berarti gelap. Tidak semua siang  harus benderang. Hidup adalah sandiwara.
Pejaya dalam kehidupan tidak selamanya  kebaikan. Pemurung bukanlah mereka yang buntung. Pertukaran sejarah hidup adalah sebuah kenyataan. Hidup ini memang sandiwara, kawan….
Si petani tak mutlak menuai padi. Si nelayan, tak  mesti mendapat ikan. Pelaku kejahatan, tak mesti  dipenjara.  Pejuang pahala, tak selamanya mendapat surga dunia. Itulah hidup sebagai sandiwara. 
Menanam biji kebaikan, berbuah perih. Berbuat  kejahatan, mendapat nikmat. Berlaku kesalahan, mendapat kemudahan. Berusaha hidup benar, malah mendapat memar. Itulah sandiwara kehidupan.
 Namun demikian,
Sahabat-sahabat, ……. tidak arif pula kalau mengatakan pendapat “kesalahan   sebagai pahlawan”. Penerima bencana sebagai pemilik kebenaran.  Hidup tersisih sebagai bukti sang kekasih. Menerima kalah, sebagai  wujud dekat dengan Allah. Tak ada kemestian untuk kenyataan demikian.  Paradoks hidup, harus tetap disadari. Karena, ini pun adalah sandiwara.
Sahabat, ……
Kenyataan ini  memberikan gambaran bahwa, dua kenyataan hidup akan tetap mengikuti alur hidup manusia. Apapun yang  dilakukannya, akan menjadi catatan hidupnya. Manusia tidak bisa mundur karena ada guntur, tidak mungkin berhenti karena ada petir, tidak bisa menyerah karena ada air bah. Jalan terus, menghadapi kenyataan adalah sebuah kewajiban.
Sahabat, disinilah kita harus mencatat …..
Kemarin adalah sejarah. Besok adalah cita-cita. Hari ini, itulah kenyataan.
 Punggung kan senantiasa membuntuti. Masa depan, kan senantiasa menghadang. Namun, tempat berdirimu hari ini, itulah kenyataan.
Cita-cita ada dalam kepala. Kerinduan ada dalam hati. Harapan ada dalam genggaman. Namun, langkah nyata hanya ada di ujung kaki.
Sahabat, …….
Jika cita hanya dalam tatapan, maka  hidup  menjadi tontonan.
Jika cita  hanya dalam hati, maka hidup  menjadi kerinduan   
 Jika cita hanya dalam tulisan, maka hidup menjadi  hapalan
Jika cita hanya dalam lisan, maka hidup menjadi ungkapan
Jika cita hanya dalam berita, maka hidup menjadi cerita
 Sahabat, ……….
Merubah jaman dengan kekayaan, akan berakhir di ujung kemiskinan.
Merubah jaman dengan jabatan, akan berakhir  diujung pensiunan.
Merubah jaman dengan kekuasaan, akan berakhir dengan kelemahan.
Merubah jaman dengan kekerasan, akan berakhir diujung kehancuran.
 Sahabat,…..
Rubahlah jaman dengan cinta, disanalah kedamaian akan menebar ke ujung-sanubari  dunia.
Sahabat, ……….
Apa yang ada dalam tulisan ini, adalah sebuah rindu akan sebuah perubahan dalam diri sendiri, lingkungan dan dunia ini. Namun demikian, kerinduan akan perubahan ini kerap terhadang oleh sejuta halang. Hingga, rinduku ini menggumpal menjadi sebuah dendam merindu.
Rinduku rindu dendam. Dendamku, dendam merindu. Hingga ingin mengatakan, “perubahan bukanlah sebuah impian, tetapi harus menjadi kenyataan. Keinginan ini, sudah bukan lagi ada dalam lisanku, tetapi kini membara dalam tubuhku. Setiap penghalang pembaharuan, itulah lawan sejati kehidupan.”.
Namun apa daya, dendamku saat ini hampir  terbenam. Maafkanlah.
 Bandung, 1 Januari 2004

Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar