Just another free Blogger theme

Jumat, 20 Maret 2020


Salah satu karakter ilmu modern (science) yaitu mempercayai statistic.  Proses kuantivikasi (penstatistikan) atau menghitung secara matematik, menjadi trend baru di masyarakat Indonesia.  Peran nyata dari revolusi kuantitatif ini, mulai dan sangat dirasakan sekali yaitu pada praktek pemilihan umum, pemilihan presiden atau pemilihan kepala daerah.

Sebagaimana kita ketahui bersama, dalam tahun politik serupa itu, lembaga quick count tumbuh bak jamur di musim hujan. Kata orang, ada lembaga quick count yang  professional dan ada juga bersifat pesanan. Ah, biarlah hal itu, menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Karena, pada akhirnya, sejarah akan memberikan penilaian dan sanksi atau hadiah sendiri kepada actor atau pemain dalam sejarah tersebut.
Hal yang menariknya lagi, di masa pandemic Covid-19 ini,  pemanfaatan tradisi kuantivikasi ini, muncul dan menjadi perhatian public. Matematik dalam Corona. Setidaknya itulah salah satu ‘tagline’ saat membicarakan masalah pandemic dari sisi keilmuan.
Ilustrasi dalam grafik itu, dilandasi oleh satu asumsi, mengenai pola interaksi. Hitungan peluang penyebaran itu, dikalkulasi secara matematis, dan kemudian berbuah grafik sebagaimana ditampilkan para peneliti dimaksud.
Kita boleh percaya, karena paparan itu adalah sebuah produk kajian akademik. Tetapi, kita pun boleh untuk bersikap kritis,  karena ada banyak variable yang potensi menjadi peubah terhadap kondisi yang terjadi di lapangan.
Untuk sekedar ilustrasi pendamping, jika pendekatan Korea Selatan di gunakan, yaitu rapid test di ruang public, maka wabah itu bisa ditangani secara lebih cepat dibandingka dengan tanpa ada perlakuan khusus dari pemerintah. Atau, jika Pemerintah lambat merespon situasi, maka grafik itu bisa jadi situasi akan lebih kompleks dan bermasalah lagi, dibandingkan dengan prediksi yang ditampilkan. Artinya, pertambahan matematis itu, akan bisa mendekati kebenaran, jika angka pertumbuhan sudah dianggap stabil, dan tidak dipengaruhi oleh factor luar yang beragam.
Kendati demikian, kita patut bersyukur, dengan hasil riset itu, memberikan dorongan kepada semua pihak, untuk segera melakukan aksi nyata, sehingga grafik dan wabah ini tidak terjadi sebagaimana yang diprediksikan.
Optimism ini perlu dikedepankan, karena ternyata khusus untuk di Wuhan-China, tempat asal virus ini, sampai tanggal 16 Maret, sudah menunjukkan angka keberhasilan penyembuhan yang cukup besar. Meminjam data dari worldometer.com, di Wuhan–China ditemukan lebih dari 80 ribu orang terpapar virus Covid-19, namun tingkat kesembuhannya  sudah mencapai angka 70%, dan angka kematiannya hanya 3,9 %.  Angka kematian yang tinggi, sampai hari itu, masih terjadi di Italia (7%), Philiphina (7%), Ecuador (3%), kemudian Iran mencapai angka 4%.
Bagaimana dengan Indonesia ? secara matematis, sampai hari itu (17/3) penderita yang meninggal baru 5 orang, tetapi jika dibandingkan dengan penderita yang terpaparnya sejumlah 69 orang, menunjukkan angka kematian diatas 5 %.
Sekali lagi, ini adalah permainan statistic. Ini adalah permainan kuantivikasi. Angka ini bisa digunakan untuk promosi atau kampanye politik, bahwa angka korban dari pandemic ini masih  sekitar 5 %. Tetapi, jika dilihat dari secara kualitas, akankah hal ini menggambarkan kompetensi dan kredibilitas kita dalam menangani masalah ini ? akankah, nyawa manusia itu dijadikan permainan statistic, sehingga tercipta kesan bahwa masalah ini, masih merupakan masalah yang ringan, sederhana dan tidak perlu panic ?

Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar