Just another free Blogger theme

Selasa, 05 Mei 2020



Hadist Shalat Wajib sendiri dan berjamaah - TandanSari TaphilSaya baru sadar sekarang. Ini adalah pekerjaan luar biasa. Pekerjaan yang tidak terduga dan diduga sebelumnya, ternyata memiliki efek yang sungguh luar biasa. Tidak terbayangkan sebelumnya, bahwa hal ini akan terjadi seperti hari ini.


Pemandangan sehari-hari, adalah pemandangan yang kurang menggairahkan. Kira-kira begitu, bila dilihat oleh orang yang tidak terbiasa. Setidaknya, serupa atau senada dengan penulis saat itu dan saat ini. Setiap libur kumpul bareng, begitu pula sore hari. Kegiatannya, hampir tidak pernah berubah. Gapleh. Itulah mungkin bahasa anak muda jadul, tetapi kalau istilah zaman modern, mungkin ada istilah lain, ada yang bernama remi, fourty-one (41), atau poker, atau UNO, atau yang lainnya. Kayaknya, tidak cukup memadai untuk menuliskan semua nama dan jenis permaina itu. Lagi pula, tulisan ini, tidak bermaksud untuk menjelaskan hal itu. Tulisan ini, sekedar bermaksud untuk menjelaskan bahwa sahabat kita yang satu ini, memiliki hobi bermain kartu.
Ah, tidak hanya hari libur atau menjelang libur. Malam harinya pun, kadang tidak disisakan begitu banyak untuk kegiatan lain. Kegiatan ini, kelihatannya begitu sangat dominan dalam hidupna, sehingga warga di kompleks ini, memercayakan kepadanya untuk jaga keamanan di kampung ini dengan alasan, karena sahabat kita yang satu ini, pasti amat sangat kuat untuk melek di malam hari hingga subuh.
Ya, sekali lagi, selain menjalani tugas hariannya, sebagai kepala keluarga, dan juga pencari nafkah, sahabat kita yang satu ini, gemar sekali bermain kartu. Saya sendiri, sebagai orang yang tidak diberi kesempatan untuk menyenangi permainan itu, hanya bisa berucap syukur dengan kebiasaannya itu, karena keluarga kami, keluarga di kompleks kami, bisa nyaman tidur lelap tanpa harus ada kekhawatiran ada orang yang berniat jahat di kompleks ini.
Sudah lama, kegiatan itu berlangsung. Bahkan, sepanjang ingatan sendiri, rasa-rasanya, sejak menginjakkan kaki di bumi ini, di sini, di lokasi ini, hobi itu, sudah merea geluti. Maka dari itu, sebagai pendatang baru, saya tidak merasa berhak untuk mengoreksi kebiasaan dan budaya masyarakat di sini, dan merasa tidak berwenang untuk memberikan penilaian apapun. Kecuali hanya satu hal, "mohon maaf, saya tidak bisa mengikuti kegiatan itu, ..." jawabku, disaat awal pertemuan dulu, sempat diajaknya, "bisa bermain, cuma tidak mahir, takut jadi merusak suasana...." ungkapnya, dengan tujuan sekedar mencari alasan untuk menolak ajakan.
Informasi hari ini, setidaknya, selepas ashar di tahun 2020, hari kelima di bulan ke limanya, ada sebuah pesan medsos yang luar biasa mengagetkan. Sahabatku yang satu ini, ternyata kembali lagi, belajar ibadah. 
Subhanallah. wal hamdulillah. Puji Tuhan untuk anugerah dan hidayah saat ini.
Entah kebetulan, entah apa. Di web sebelah, dede.wordpress.com, saya baru saja melepas tulisa mengenai pemekaran geografi spiritual. Di medsos ini, sore ini, saya mendapatkan bukti nyata, dan kasus aktual dan faktual, mengenai pemaknaan geografi spiritual ini.
Saya, sudah berpuluh-puluh kali, mungkin nyampe ratusan kali bertutur dan atau mendengar khutbah dari atas mimbar mengenai spiritualitas. Tetapi, baru kali ini, saya terrenyuh dan kagum, kemampuan rekan-rekan yang lain, yang juga satu group dengan sahabat kita yang satu ini, untuk melakukan --maaf minjem istilah politik hari ini---, revolusi mental.
Saya merasa yakin, pencerahan itu terjadi, sejatinya dari teman sekelompoknya sendiri. Tampak dalam foto di medsos itu, maaf (sang guru mungkin) lagi memimpin ibadah di masjid. Haru, dan puji syukur ke hadirat Ilahi, ternyata dakwah dengan praktek, adalah praktis. Dari pengalaman dan kasus ini pulalah, spiritualitas itu ternyata, bisa hadir dan tumbuhkembang di tempat-yang selama ini, mungkin dianggap sekular atau jauh dari 'aroma masjid'. 
Entah, apa, kendati tidak melakukan riset mendalam mengenai hal ini, namun saya merasa yakin, percikan pencerahan itu, bukan karena sering bergaul di masjid, tetapi sering bergaul dengan orang masjid, kendati tempatnya tidak mesti di masjid. Justru malah bisa sebaliknya, kendati bergaulnya di masjid, tetapi jika nalar dan mentalnya bukan mental masjid, maka pola pikir kita pun akan jauh dari masjid. 
Sementara, apa yang terjadi pada sahabat kita ini, saya yakin, ada orang bergaul di tempat itu, tidak mesti di masjid, tetapi mental dan pola pikirnya, masjid banget. mental masjid, bisa hadir di mana saja. Inilah, geografi spiritual. 
Tidak ada kata lain, yang patut untuk dikemukakan, kecuali, selamat, Sahabat, Kaulah yang ternyata sedang DEKAT dengan Tuhan. Pencerahan yang hadir di sanubarimu, adalah bukti bahwa Tuhan sedang begitu DEKAT denganmu. Karena itu, manfaatkanlah situasi itu, untuk kemaslahatan hidupmu, saat ini, di sekitar ini dan di akhirat kelak !
Amin. 
Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar