Just another free Blogger theme

Sabtu, 02 Mei 2020


Profesi Guru – Momon Sudarma | Shopee IndonesiaSudah biasa. Rasanya sudah jadi menu rutin. Ada dua kesempatan, untuk ngorek-ngorek profesi guru. Saat pelaksanaan hari pendidikan, dan hari guru. Ini adalah momentum nasional yang seolah menjadi waktu yang tepat untuk ngomelin guru. Kalau di tahun-tahun sebelumnya, sebenarnya ada satu lagi, waktu yang tepat ngomelin guru, yakni saat pengumuman kelulusan. Nilai Ujian Nasional, adalah objek praktis untuk membincangkan profesi guru. Tetapi untuk tahun ini, mungkin tidak ada kesempatan yang terakhir ini. Sehingga tersisa dua momen nasional saja.


Mengapa guru kerap menjadi sasaran kritik, atau cacian ? satu-satunya jawaban, karena memang, ada persepsi bahwa profesi ini, harusnya ideal, harusnya para malaikat yang hadir di tengah lembaga pendidikan ini. Bila tidak sempurna, atau bukan malaikat, rasanya, masih banyak ruang, baik besar maupun kecil yang bisa dijadikan sasaran koreksi.
Sekali lagi, guru bukan malaikat. Tetapi, sematan sebagi profesi yang diimpikan ideal, begitu sangat kuat menempel di dalamnya. Tidak ada profesi yang sehebat guru. Andaipun mau ditunjuk, paling-paling adalah profesi yang senada dengan guru, misalnya guru agama, apapun agamanya, dengan sebutan khasnya masing-masing. Mereka itu adalah pemilik amanah yang diimajinasikan sempurna. Figur yang digugu dan ditiru, menjadi sandaran masa depan anak dan bangsanya.
Nah, lho.. mana ada amanah serupa itu disandarkan kepada elit politik !? tidak pernah ada harapan kolektif dari warga negara, menyandarkan nasib masa depan anak dan bangsanya kepada mereka. Amanah yang dimiliki oleh elit politik, tidak semulia guru.Oleh karena itu wajar, bila dalam setiap kesempata, akan muncul dan koreksi terhadap kinerja para pelaku di bidang ini.
Bila seorang dokter melakukan kesalahan (malpraktek), ujung akhirnya, hanya membunuh satu nyawa. Itu saja. Nilai itu bukan berarti tidak berharga. Dokter adalah pahlawan kemanusiaan, dan pejuang kehidupan. Tetapi, kegagalannya paling banter, merusak satu nyawa. Tetapi, kesalahan seorang guru, malpraktek pendidikan, bisa merusak masa depan anak didik, dan turun temuruan antar generasi. Inilah, bahaya, sekaligus strategisya peran guru. Oleh karena itu, sekali lagi, wajar, bila melihat banyak mata memperhatikan profesi yang satu ini.
Jika istri kita masak di dapur, andai melakukan kesalahan, bisa ketahuan salah, dan gagalnya masakan yang diolah. Hari itu, dan saat itu pula, bisa dikoreksi dengan mengambil bahan yang baru untuk segera membuat makanan yang lebih baik. Tetapi, bila kita melihat praktek profesi guru, kegagalan tidak bisa dilihat hari ini, dan koreksi kesalahan, tidak bisa seketika. Kegagalan dalam mengajar dan mendidik, tidak mudah untuk dikoreksi.
O, iya, jika istri kita masak, akan dapat dengan mudah, ditegur kesalahannya, dan diluruskan cara masaknya. Sementara, kegagalan dalam dunia pendidikan, akan berhadapan dengan keyakinan dari si pelaku dan penerimanya. Elit sosial dan elit politik yang selama ini ada pun, kerap menunjukkan pola pikirnya sendiri, seolah benar. Kendati orang lain melihatsebagai pola pikir yang keliru, mereka tetap saja merasa benar. Inilah yang disebut, hasil pendidikan itu, tidak mudah dinilai benar salahnya. Andi pun salah, kadangkala dirasa benar, dan atau jika benar, kadangkala dinilai salah. Dilematis dan problematis.  Oleh karena itu pula, wajar, jika taruhan tentang masa depan yang sangat tinggi terhadap profesi guru ini, memancang banyak orang untuk memperhatikannya.
Lantas, apa yang harus dilakukan oleh kita, sebagai bagian dari keluarga besar guru (ustadz, atau pendidik) saat mendengar atau melihat orang yang mengkritik kita ? Sepanjang kritikannya, rasional, objektif dan ilmiah, simaklah. Hal ini perlu diambilk, karena kritikan mereka itu, adalah bentuk kepedulian untuk memperbaiki kualitas dan kinerja profesi kita. Untuk sekedar diingat-ingat, harapan dan impian mereka terhadap kinerja profesi guru ini, begitu tinggi dan bahkan sangat tinggi. wajar bila bintik hitam di wajah kita pun, akan banyak dibicarakannya !
Tetapi, kalau sudah melecehkan profesi, nah, ini soal lain.
Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar