Just another free Blogger theme

Kamis, 04 Februari 2021

 


Seorang petani, bekerja di sebuah kebun. Sedari pagi hari, sang petani ini sudah mencangkuli tanah beberapa petak di kebun tersebut. Dia bekerja tidak sendirian. Ada lima atau enam petani yang lain pun turut bekerja di tempat tersebut. Seperti hari-hari yang lainnya, pada hari itu si petani memiliki kewajiban untuk bekerja di lading sang Majikan, selama 10 jam, yaitu mulai dari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Kendati demikian, si Majikan tidak melarang bila ada yang datang bekerja lebih pagi, dan pulang agak telat. Malahan, tuan Majikan memberikan nilai lebih kepada mereka yang memiliki semangat kerja yang tinggi, juga menjunjung tinggi produktivitas.

Tak ayal lagi, berdasarkan pengalamannya dia bekerja, sang petani kita ini, datang lebih pagi dari pada rekanan kerja yang lainnya. Dalam benaknya, tertanam keinginan untuk menunjukkan hasil kerja yang baik, sehingga lahan kebun Majikannya tersebut dapat ditanami secara baik, yang pada akhirnya akan menghasilkan hasil kebun yang melimpah. Pada bayangan petani kita ini, bila hasil kebunnya melimpah, dan Majikan bahagia dengan hasil pertaniannya, bukan hal yang mustahil akan ada limpahan rijki kepadanya juga. Oleh karena itu, motivasi dasar seperti ini, menjadi sesuatu hal yang kuat dalam jiwanya untuk terus bekerja keras selama satu minggu ini.

Untuk sekedar diketahui, para petani di kebun ini diberi upah sesuai dengan kehadiran dan diberikannya setiap seminggu sekali. Kendati demikian, kadang pula Si Majikan  memberikan upah lebih, bila hatinya sangat berkenan terhadap hasil pekerjaan para pegawainya.

Pada hari kemudian, hari berbagi upah pun tiba. Setiap orang dipanggil, satu per satu. Si A mendapat upah sekian, karena bekerja sekian hari dengan semangat kerja bernilai demikian. Si B mendapat upah segitu, karena bekerja selama seminggu dengan semangat kerja seperti itu. Terus berulang sampai pada  gilirannya saudara kita ini.

Sang Petani kita ini, terdiam diri. Termenung sejenak. Setelah beberapa menit menanti, namanya tidak pula dipanggil-panggil. Kemudian dengan penuh kepercayaan diri, dia maju ke depan  menghadap Majikannya dengan tujuan untuk meminta upah.

“Tuan, kenapa saya tidak dipanggil ? kenapa saya belum juga dikasih upah,  padahal saya sudah bekerja di kebun tuan  selama seminggu kemarin, tapi kenapa tidak diberi upah ?” pintanya dengan penuh harap.

Mendengar ungkapan seperti itu, si Majikan sedikit kerung (mengkernyitkan dahi) tanda sedang berfikir. Kemudian bertanya, “benarkah kamu bekerja di kebun saya ?”  mendengar pertanyaan itu, si Petani mulai sumringah dan kemudian menganggukkan kepala tanda mengiyakan pertanyaan Majikannya. “Tapi, kenapa tidak ada nama kamu didaftar karyawan kami ? mungkin kamu salah tempat, salah kebun, atau salah Majikan. Saya mohon maaf, bukan tidak ingin memberikan upah pada anda yang sudah bekerja di kebunku, tapi mungkin kamu salah alamat, karena namamu tidak ada daftar pegawainya”. Subhanallah. Mendengar jawaban seperti itu, si petani ini terkaget-kaget. Dengan perasaan sedih dan duka dalam jiwa, kemudian orang ini pergi menuju rumahnya sendiri.

 

Registrasi dan pengakuan

 Kisah di atas memberikan sebuah keterangan, bahwa dalam mencari pengakuan seseorang perlu melakukan registrasi. Langkah hidup seperti ini, layak dan perlu dilakukan, dengan maksud supaya dalam langkah hidupnya di masa yang akan datang tidak mengalami kekeliruan langkah dan strategi. Cobalah bayangkan, apa jadinya jika kita sudah melakukan berbagai tindakan yang seperti orang lain, seprti manusia pada umumnya, tapi kemudian ketika akan meminta upah dari kerja tersebut, kita ditolak dengan dinyatakan sebagai orang yang tidak terdaftar dalam daftar karyawannya ?

Masyarakat Sunda menyebutnya, inilah yang disebut dengan hese cape teu kapake. Mungkin benar, secara pribadi anda sudah merasakan ada kepuasan diri telah melakukan banyak aktivitas, tapi aktivitas seperti ini tidak mendapat pengakuan dari orang yang dianggapnya sebagai majikan. Seorang lelaki usia 15 tahunan, ikut belajar di kelas, bahkan juga ikut mengerjakan soal ujian akhir nasional. Namun yakinlah, bila nama dan identitas dirinya tidak tercantum dalam daftar tetap peserta ujian akhir nasional, maka dia tidak memiliki hak untuk mendapat nilai, dan tidak berhak untuk mendapatkan ijazah. Mengapa ? jawabannya sangat sederhan, karena tidak terdaftar sebagai anggota ujian akhir nasional di sekolah tersebut.

Bila demikian adanya, mungkinkah kita akan mendapatkan pahala dari Allah Swt atas berbagai perbuatan kita di dunia ini ? Akankah kita dapat meminta imbalan kepada Allah swt atas berbagai amal selama ini ?

Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab, namun mudah untuk direnungkan. Artinya, penulis tidak bermaksud untuk menjawab pertanyaan ini, karena dalam hemat penulis memiliki kesulitan makna yang sangat tinggi. Namun penulis memiliki harapan besar untuk mengajak melakukan perenungan terhadap pertanyaan ini.

Dengan menggunakan analogi kasus si Petani itu, dan atau siswa yang meminta nilai kepada panitia ujian akhir, sesungguhnya kita dapat merenungkan substansi dari pertanyaan tersebut tadi. Benar bila kita katakan, bahwa masalah keagamaan tidak dapat disederhanakan sebagaimana yang dialami oleh sang Petani. Namun kisah ini, sesungguhnya dapat mengantarkan kita pada perenungan hidup dan makna hidup kita selama ini. Sederhana, kasus kecil dan kasus sederhana ini, sedikit banyak dapat dijadikan sebagai landasan awal untuk menemukan makna hidup yang lebih tepat.

 

Registrasi ilahiah

 

Tidak ada pengakuan, bila tidak ada pendaftaran (registrasi). Inilah pelajaran pertama yang dapat dipetik dari kisah si petani atau anak usia 15 tahunan tersebut.  Sebuah pengakuan dan atau tuntutan akan hak, bukanlah karena kewajiban yang sudah dilakukannya. Melainkan lebih karena adanya pengakuan dan pendaftaran yang sudah dilakukannya.

Si petani sudah melakukan kewajiban hidupnya untuk mengelola kebun, dan si lelaki usia 15 tahun sudah melaksanakan kewajibannya dalam mengerjakan soal. Namun kenapa mereka tidak mendapatkan hak upah (petani) atau ijazah (lelaki) ? hak dan kewajiban memang sesuatu hal yang datang berbarengan. Cuma sayangnya,  kita hilap mengartikan kewajiban. Kedua orang yang tengah kita bicarakan itu, adalah contoh orang yang salah paham terhadap kewajiban.

Dalam  kasus kita, kewajiban itu bukan perbuatan yang dilakukan seseorang yang berkesesuaian dengan orang yang akan kita contoh.  Kewajiban itu bukan tindakan seperti itu. Mungkin dalam pandangan si Petani kewajiban dirinya adalah mengelola kebun sebagaimana 5 rekanan yang lainnya, dan si lelaki usia 15 tahunan menganggap mengerjakan soal ujian adalah kewajiban dirinya. Sudah sangat jelas, persepsi dan pandangan seperti ini sangat tidak tepat. Atau minimalnya, persepsi serupa itu merupakan contoh pandangan yang tidak pada tempatnya.

Pada kontek kita ini,  kewajiban itu muncul karena kita memiliki status. Dengan adanya status tertentu, orang memiliki peran, sementara dengan adanya peran tersebut yaitu lahirnya hak dan kewajiban. Oleh karena itu, kewajiban belajar dan mengikuti ujian itu, adalah kewajibannya orang yang memiliki status sebagai pelajar, dan mendapatkan ijazah adalah haknya orang yang sedang belajar. Bekerja di kebun adalah kewajibannya sang petani, dan mendapatkan upah adalah haknya seorang karyawan yang sudah melaksanakan kewajiban. Oleh karena itu, kewajiban dan hak erat kaitannya dengan status seseorang dalam kelompok tersebut .

Sampai saat ini, kita mengakukan diri sebagai orang yang sudah melaksanakan amal ibadah. Dalam satu hari satu malam, kita sudah melaksanakan sholat, dzikir, tadarusan, shaum, infaq shodaqoh serta amal jariah yang lainnya. Tindakan-tindakan ini sudah kita lakukan. Dengan penuh kesadaran diri,  dan penuh kesungguhan, kita  lakukan semua hal tersebut dengan maksud untuk mendapatkan pahala dari Allah Swt.

Berbagai hal yang kita lakukan ini, merupakan tindakan yang kita lakukan, sebagaimana orang lain pun banyak melakukannya.  Melihat orang lain sholat jum’at maka kita pun sholat jum’at, melihat orang lain infaq shodaqoh kita melakukan hal yang sama. Pada intinya, berbagai hal yang kita lakukan itu, kita lakukan sebagaimana orang lain pun melakukannya.

Pada akhirnya, bila suatu waktu tiba, dan waktu itu adalah saatnya orang mendapatkan pahala sebagaimana yang Allah janjikan kepada hambanya, maka seluruh manusia pun berkumpul di sana. Mereka berbaris dengan harapan kena panggilan untuk menerima upah atas amal hidupnya di muka bumi.

Allah Swt berjanji, bahwa di yaumil akhir itu, akan ditampakkan segala amal perbuatan manusia. Barang siapa mengerjakan kebaikan, kendatipun sebesar biji zarrah, maka dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa melakukan satu kejahatan kendatipun sebesar biji zarrah, diapun akan melihatnya pula[1]. Janji inilah yang dipegang oleh manusia yang berkumpul di padang mahsyar saat itu. Dengan harap-harap cemas, mereka menanti pembagian upah kehidupan. Apakah kitab kerja di dunia lalu itu, akan diberikannya dari sebelah kanan, atau sebelah kiri ? misteri ini masih teka-teki.

Di luar masalah itu, ada satu hal yang perlu kita cermati dengan seksama. Khususnya terkait dengan masalah kita kali ini, akankah kita termasuk orang yang kena panggil oleh Allah Swt dan kemudian mendapatkan upah atas berbagai tindakan kita di dunia ini ?

 

Scenario jawaban

Ada dua kemungkinan mengenai jawaban ini. Dan dari berbagai jawaban tersebut, mungkin salah satunya dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang muncul dalam jiwa kita.

Pertama, scenario paling buruk yaitu kita tidak akan mendapatkan apa-apa atas berbagai tindakan yang kita  lakukan selama di dunia ini. Mengapa ? untuk sekedar informasi, mungkin jadi scenario ini terjadi karena kita memang tidak pernah registrasi kepada Allah Swt untuk mengabdikan diri kita sebagai hamba Allah.

Secara kodrati kita adalah hamba Allah. Namun pernah kita melakukan regsitrasi terhadap Allah Swt untuk menjadi hamba-Nya ? pernah setiap amal kita ini, ditujukan untuk Allah Swt ? pernah berbagai tindakan yang kita lakukan itu sebagai wujud bakti kita kepada Allah ?

Islam memberikan arahan. Bahwa inti dari ibadah itu adalah la ilaha ila allah, tiada tuhan selain Allah, tiada majikan hidup selain Allah, tiada tuan yang wajib dijunjung tinggi selain Allah. La maqshuda ilallah, jangan ada tujuan lain kecuali untuk Allah, jangan ada arahan lain selain menuju Allah, jangan ada maksu lain selain kepada Allah. Untuk sekedar contoh, dengan dua arahan ini sesungguhnya kita dapat bertanya atas berbagai tindakan kita di muka bumi. Adakah amal kita  kemarin itu, ditujukan untuk Allah atau untuk hawa nafsu ? ibadah yang kemarin kita lakukan ini apakah untuk memenuhi tugas kita sebagai hamba Allah atau hanya untuk memenuhi gengsi pribadi ?

Subhanallah. Jika amalan kita ditujuan untuk memuaskan hawa nafsu, gengsi pribadi, pacar, mertua, atau bos di kantor, maka kenapa minta upah kepada Allah Swt ? mengapa menuntut haknya kepada Allah Swt ? apa tidak malu, bila bekerja di pabrik si A tetapi minta upah ke si B ? apa tidak salah alamat, bila kita minta upah ke pabrik si C ?

Penulis khawatir, dengan kejadian seperti ini, karena akherat itu adalah wilayah kekuasaan Allah (maliki yaumiddin)[2], maka kita akan terusir dari tempat yang dimuliakannya, dan kepada kita disediakan tempat di daerah yang tidak sesuai dengan harapan kita. Di akherat itu, kita tidak bisa memilih majikan yang lain. Syetan sudah tidak memiliki kekauasaan. Bos pabrik yang didunia punya kekuasaan, di sana sudah kehilangan kewenangannya. Hawa nafsu manusia pun, mati seketika. Maka satu-satunya yang berkuasa di yaumil akhir itu, adalah Allah Swt. Dimana kita akan tinggal, bila pahala dan pengakuan dari Allah Swt tidak kita dapatkan ?

Scenario kedua, mereka akan mendapatkan syafaat dari Allah Swt terhadap statusnya hari itu. Tidak aneh, dalam kehidupan dunia ini pun, kadang ada orang yang mendapatkan anugerah upah dadakan akibat tindakannya terhadap orang lain. Kendatipun tidak kenal, tetapi bila suatu saat memberikan pertolongan pada seseorang di tengah jalan yang sedang mendapat kesusuhan, maka bukan hal mustahil dia pun mendapat upah atas tindakannya tersebut.

Kejadian seperti ini, bisa saja terjadi pada manusia di akherat nanti. Setidaknya, Allah memberikan jaminan, bahwa kelompok majusi, shabi’in, dan nasrani sepanjang mengharapkan ridlo Allah, takut kepada-Nya, dan melaksanakan amal sholeh, maka kendatipun mereka tidak mengenal Islam akan mendapatkan berita gembira di akherat. Kelompok orang ini, dalam Islam dikategorikan sebagai kelompok orang yang bukan Muslim namun memiliki status yang sama disisi Allah Swt, dan mereka mendapatkan pahala, serta tidak ada kekhawatiran dan juga mereka tidak (perlu) bersedih.[3]

 

Harus daftar ke mana ?

         

Setelah memahami hal tersebut, maka renungan yang terpenting lagi adalah mengetahui tempat pendaftaran, kapan dan ke mana ? pertanyaan-pertanyaan ini penting buat kita saat ini. Minimalnya,  memahami pertanyaan ini dimaksudkan untuk mengetahui kejelasan kita dalam tata kehidupan di dunia saat ini. Karena tanpa mengetahui hal ini, maka sejatinya kita belum memiliki kejelasan diri mengenai status kita di dunia.

Hal yang pertama, harus ditentukan dari sekarang. Kita mau daftar menjadi apa, muslimkah, yahudi, Kristen, ataukah mau menjadi kelompok penganut kepercayaan ? bila pertanyaan ini sudah terjawab, maka kita lanjutkan pada tahap yang kedua, yaitu kepada siapa kita mendaftar. Dalam kesempatan ini, akan diuraikan tentang pendaftaran kepada Allah Swt.

Pada hakikatnya, setiap manusia sudah pernah mendaftarkan diri menjadi hamba Allah. Hal ini terungkap dalam firman Allah Swt, yang menyatakan ketegasan dan kejelasan status seseorang. Alastu bi robbikum ? bukankah Aku adalah Tuhanmu ? kemudian di jawab oleh ruh manusia di alam barzah dengan kalimat, “ya kami bersaksi demikian, bahwa engkau alah Tuhanku”. Ini artinya, bahwa kita sudah mendaftarkan diri sebagai hamba Allah Swt.  Tahap inilah yang penulis sebut sebagai registrasi transcendental, pendaftaran hakiki yang dilakukan manusia di hadapan Allah Swt.

Persoalan ini, tahapan kehidupan manusia berbeda. Perjanjian itu dulu dilakukan di alam arwah dan dilakukan dengan ruh manusia. Sementara tahap kehidupan manusia kemudian berganti, dan kini manusia hidup di dunia (alam fana). Mirip dengan masa studi, seorang siswa harus registrasi. Mirip dengan STNK seorang pemilik kendaraan harus memperpanjang STNK. Dan begitu pula dengan kehidupan manusia di dunia. Manusia pun dituntut untuk melakukan registrasi, sehingga berbagai tindakan didunianya tetap diakui sebagai bagian dari penghambaan dirinya kepada Allah Swt.

Untuk melakukan registrasi hidup ini, seorang muslim berkewajiban untuk mengawalinya dengan Bismillah. Kandungan makna dari kalimat bismillah, adalah sebuah pengakuan sadar dari seseorang bahwa apa yang dilakukannya tersebut dilandasi oleh kepatuhan dan ketaatannya pada Allah Swt. Kalimat ini mengandung makna bahwa perbuatan kita dilakukan atas nama Allah, dan bukan atas nama harta, jabatan, hawa nafsu atau pun variable hidup yang lainnya.

Kalimat Bismillah adalah kunci untuk melakukan registrasi kepada Allah, sehingga Allah mencatatkannya sebagai amal ibadah. Dengan kata lain, dengan Bismillah di setiap awal kegiatan, sesungguhnya orang tersebut sudah menekadkan diri untuk mengabdi kepada Allah dan menjadikan perbuatannya sebagai bagian dari ibadah.

Oleh karena itu, ucapkan Bismillah sebelum baca buku, karena itu tandanya registrasi kepada Allah. Ucapkan Bismillah sebelum tidur, karena itu tandanya registrasi kepada Allah. Ucapkan Bismillah sebelum makan, karena itu tadanya registrasi kepada Allah. Dengan Bismillah itulah, kita sudah mendaftarkan diri kepada Allah sebagai hamba Allah, dan kelak kemudian hari atau pada saat ini pula kita berhak untuk memanjatkan doa untuk mengharapkan pahala dari Allah Swt.

Pada konteks inilah, kita dapat menemukan pentingnya niat dalam berbagai tindakan. Sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya (innamal ‘amalu bi niyat). Sehubungan dengan ini, niat yang dikemukakan di setiap awal perbuatan adalah bentuk registrasi ilahiah manusia dalam hidup. Bila niat hijrah itu adalah untuk mendapatkn harta rampasan, maka imbalan yang akn didapatnya yaitu harta rampasan itu semata. Sedangkan bila hijrah itu adalah untuk mendapatkan ridlo Allah, maka Allah Swt jualah yang akan memberikan imbalan kepadanya. Bila niat sholat itu adalah mendapat perhatian dari mertua, maka pujian mertua itulah yang akan kau dapatkan, dan Allah Swt tidak akan memberikan pahala apapun terhadap sholat yang dilakukannya, karena orang itu sudah mendaftarkan amal sholatnya untuk mertuanya semata.

Dalam Islam ditegaskan, Allah Swt tidak mau dipersaingkan dengan majikan lainnya. Tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya (laisa kamistlihi syaiun) atau setara dengan-Nya (wa lam yakun lahu kufuan ahad)[4].. Oleh karena itu, manusia harus  memiliki perilakunya tersebut, diniatkan (diregistrasikan) untuk dipersembahkan kepada Allah Swt atau selain itu. Karena hanya dengan seperti  inilah, sebuah amalan mendapat pengakuan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Swt.

 

Penutup

 

Ulasan ini, tidak bermaksud untuk memberikan resep pendaftaran ilahiah yang jitu. Uraian ini, hanya untuk mengajak hati dan pikiran kita dalam merenungkan perjalanan hidup ini. Kita khawatir, atau setidaknya penulis khawatir, kita belum terdaftar sebagai hamba Allah akibat niat ibadah itu bukan dialamatkannya kepada-Nya. Karena sesungguhnya, mungkinkah kita mendapatkan hak bila kita tidak memiliki status tertentu yang membuatkan berkewajiban dalam melaksanakan sesuatu ?

Namun demikian, untuk menjadi awal dalam melakukan kegiatan di dunia ini, ada dua cara registrasi ilahiah yang dapat dilakukan manusia. Pertama, yaitu dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, dan kedua yaitu memantapkan niat untuk ibadah. Kedua hal tersebut, merupakan pintu awal menyambungkan (koneksitas) antara seorang hamba dengan Tuhannya. Inilah yang disebut dengan registrasi ilahiah mengenai berbagai hal perbuatan manusia.

 

-o0o-

 

 

 



[1] Qs. Al-Zalzalah (99) :7-8

[2] Qs. Al-Fatihah (1) : 4

[3] Qs. Al-baqoroh : 62

[4] Qs.al-Ikhlas : 4

Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar