Just another free Blogger theme

Sabtu, 08 Juli 2023

Ini bukan soal diskriminasi. Pernyataan ini pun, tidak dimaksudkan untuk menjadi preseden. Tidak. Pernyataan ini, lebih sekedar memberikan gambaran untuk mengajak kita, mencoba berpikir dewasa, dan atau bijak dalam mensikapi sesuatu hal, khususnya dengan kedewasaan dan kematangan seseorang dalam dunia kerja. 


Hanya itu, setidaknya, itulah yang menjadi beban pikiran yang kini mengendap dalam pikiran ini.

Pada mulanya ada sebuah pertanyaan, sederhana, namun mengundang pemikiran yang komplek. Sederhana, tetapi mengandung sebuah kekhawatiran yang sangat kuat. "apa argumentasi saya, bila nanti ada komentar, kenapa anak baru bisa naik jabatan, sedangkan pegawai seniornya masih tetap berkuat atau berkubang di jabatan yang sama...?" 

Pertanyaan terbuka, yang datang dari lisan seorang pejabat. Pejabat yang saya maksudkan ini, memang bukan pejabat tingkat puncak-menjulang. eh, maksudnya, bukan pejabat negara, pejabat pemda, atau perusahaan multinasional. Nggak. Pertanyaan itu memang muncul dari lisan seorang pejabat negara di sebuah lembaga pemerintahan. Walaupun tidak tinggi level pemerintahannya, tetapi sang penutur adalah pimpinan di lembaga tersebut.

Eh, udah tahu kan ? 

Ya, pasti deh, pembaca paham yang saya maksudkan. Karena latar belakang penulis adalah seorang tenaga pendidik, dan penulis hadir dalam situasi perbincangan itu, ya pastilah, pimpinan yang saya maksudkan adalah kepala sekola atau kepala madrasah. Untuk menyebutkan kata ini, kok jelimet banget ya...

Maaf, lumayan untuk memperpanjang tulisan, biar tidak keburu  habis aja, kan teman2 bisa mengisi waktu sambil mengembangkan imajinasi.

Betul. Situasi diskusi saat itu, terjadi saat ada dalam suasana  penyusunan dan pembagian kerja di dunia pendidikan kendati demikian, bisa jadi, pertanyaan itu, tidak akan jauh berbeda dengan atmosfera organisasi di lembaga-lembaga lainnya.

Kembali pertanyaan tadi, saya termasuk bisa memaklumi, jika ada pegawai muda usia merasa khawatir dicibir oleh seniornya sebagai orang yang melangkahi hak kalangan senior. 

Saya bisa memaklumi, jika diantara pimpinan ada yang masih mengedepankan susduk (susunan dan kedudukan) jabatan dalam sebuah organisasi, sehingga memosisikan senior jauh lebih perlu diperhatikan dibandingkan dengan guru muda usia lainnya.

Namun, dalam situasi serupa itu pula, saya melihat bahwa zaman sudah berubah, atau setidaknya zaman sedang berubah. Mohon dicatat, zaman sedang ber-UBAH, bukan ber-UBAN. Maknanya bagi kita, ada spirit perubahan ke arah yang lebih, bukan kearah yang lebih menua. Satu diantara kebaikan yang dimaksudkan itu adalah orang lebih memperhatikan kematangan kerja, daripada pengalaman kerja.

Bisa jadi, ada orang yang sudah memiliki masa kerja lama, dan puluhan tahun. Namun, bila pengalaman kerja tidak dijadikannya sebagai moment perbaikan diri, maka tak ubahnya hewan unta, selama apapun di tengah gurun sahara, tak akan pernah bisa haji atau umrah. 

Terkait hal ini,  jabatan atau amanah, adalah beban yang harus diemban oleh mereka yang kompeten. Sementara kompetensi, tidak ada kaitannya dengan usia dan masa kerja. Kompetensi lebih merujuk pada kematangan kerja, atau kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah. Untuk hal yang  terakhir ini, tidak pernah mengenal umur. Siapapun dan berapapun umurnya, ada yang memiliki potensi kemampuan bersikap matang, kendati mungkin umurnya belum  tua secara kalender !

Bagaimana menurut pembaca ! 

 


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar