Just another free Blogger theme

Senin, 27 Juli 2026

Bila menggadekan harta kepada orang lain, Anda masih memiliki kesempatan untuk membayar utang di kemudian di hari. Tetapi, bila Anda menggadekan nasib kepada orang lain, maka yang terjadi yaitu jeratan utang budi di sepanjang hayat.

 

Karena merasa tidak mampu membayar utang, banyak orang yang menggadekan barang-barang milikinya kepada orang lain, termasuk ke rentenir. Mereka bermimpi, bahwa dengan menggadekan barang tersebut, dia bisa membayar utang, dan terbebas dari utang.  Berbagai barang digadekan, satu persatu digadekan, dengan maksud membebaskan diri dari utang.
Dengan cara menggadekan barang, mungkinkah orang tersebut terbebas dari utang ? jawabannya, “mungkin”, sepanjang  dia melakukan usaha lain, selain menggadekan barang. Jika dia menggadekan barang sambil bekerja mencari nafkah tambahan, impian untuk terbebas dari jeratan utang akan dapat diwujudkan. Tetapi, bila tidak sambil berusaha, maka impian itu akan menjadi mimpi di siang bolong.

Teknik penggadean atau menggadekan, sesuatu hal, sejatinya, kenyamanan dan ketenangannya bersifat sesaat. Karena untuk waktu beberapa saat kemudian, dia harus sudah memikirkan strategi atau cara ekstra dalam mengembalikan pinjaman dan meraih kembali barang yang tergadekan. Bila saja, tidak mampu merancang atau menyusun strategi yang tepat, maka kegelisahan didapatkan sepanjang-hidupnya, dan barang miliknya pun, lepas dari tangannya.

Kendati demikian, kita tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa sistem ekonomi penggadaian adalah sesuatu yang tidak berguna. Ekonomi penggadaian ini, bersifat pertolongan pertama dalam kedaruratan. Karena itu, tidak boleh dijadikan kebiasaan atau hoby. Karena dengan menggadekan sesuatu, selain memerlukan mental untuk mengembalikan, namun beban bental pun, tidak terasa hadir dalam dirinya. Terlebih lagi, bila yang kita lakukan itu, adalah menggadekan nasib atau kehidupan.

Tak ubahnya seperti itu, bila menjadi seorang pelajar suka nyontek dalam kegiatan ulangan atau ujian di sekolah. Setidaknya, orang yang menjadikan cara nyontek sebagai kebiasaan hidup. Orang yang menjadikan nyontek sebagai kebiasaan hidup, tak ubahnya dia tengah menggadekan nasib kepada orang lain. Hal itu terjadi, karena jawaban, waktu, dan hasilnya, amat sangat bergantung pada orang yang dijadikan sontekannya.Keberhasilannya, sangat bergantung pada kebaikan orang lain. Bahkan, bila orang lain, yang dijadikan sandarannya sudah berani memutuskan tali-interaktifnya, maka nasib orang penyontek itu, akan terjun bebas ke dasar kegagalan.
Dalam konteks ini, dapat disederhanakan, bahwa bila menggadekan harta kepada orang lain, Anda masih memiliki kesempatan untuk membayar utang di kemudian di hari. Tetapi, bila Anda menggadekan nasib kepada orang lain, maka yang terjadi yaitu jeratan utang budi di sepanjang hayat.
Seperti dikemukakan sebelumnya, pernah Anda berfikir, bahwa diri Anda adalah lebih pintar dari orang yang dijadika sumber sontekan ? jika jawabanya, ‘Ya’, hal itu menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang merugi, karena sudah menggadekan nasibmu, kepada orang lain, Anda sudah menggadekan masa depan kepada orang, Anda sudah mengadekan kemampuan hebatmu pada orang lain !
Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar