Kasus Eyang Subur dengan Adi Bing Slamet, begitu panjang dan bahkan bisa menjemukan. Progres penyelesaiannya begitu lama. Sampai saat ini, belum kelar juga. Hal yang uniknya lagi, setelah beberapa minggu media tidak bisa mengakses rumah dan isi rumah Euyang Subur, kemudian euporia publikasi “isi rumah” Eyang Subur pun menguat. Hebatnya lagi, istri Eyang Subur yang berjumlah 8 (delapan) orang pun, turut menjadi ‘selebritis’ media.
Apa yang terjadi pada media kita saat ini ? tetapi inilah kehebatan media. Media mampu mengubah masalah menjadi berekah. Karena dirundung masalah Arya Wiguna, lawan Eyang Subur malah menjadi selebritis. Istri-Istri Eyang Subur pun menjadi “selebriti”, dan kini orang pun banyak yang tahu, kenal dan familiar dengan model Vitalia Sesha.
Pertanyaan yang memang layak diajukan itu, bukan sekedar apa yang terjadi dengan media kita, tetapi apa yang sedang terjadi dengan masyarakat kita ?
Pemberitaan besar-besaran oleh sebuah media mengenai rencana Eyan Subur menjadi Presiden, pun menjadi liputan khusus. Seirus memberitakan, serius mencalonkan ? apakah ini adalah berita serius, atau rencana yang serius ?
Perkembangan selanjutnya, sebagaimana yang kita rasakan hari ini (2026), media massa begitu getol memberitakan banyak hal, dinamika politik luar negeri, perjalanan kepala negara, dan lain sebagainya. Tetapi, sangat minim membincangkan masalah kegelisahan dan keresahan yang dialami masyarakat kecil.
Dolar memang tidak butuhkan warga desa, tetapi dinamika dolar di pentas global, sangat terasa, pada harga cabe dan garam di dapur orang kampung.
Pun demikian adanya. Majelis Ulama Indonesia, reaktif terhadap kasus ikan sapu-sapu di pantai Jakarta, namun tidak begitu terdengar terberitakan responnya terhadap anomalia oknum elit agama, yang melakukan tindakan pelecehan seksual.
Pelecehan kepada simbol negara, dapat dengan mudah direspon para penegak hukum. tetapi pelecehan pada objek nyata pemilik kedaualatan, malah diabaikan. Ingat, Garuda, Bendera dan Istana adalah simbol kedaulatan negara. Sekedar simbol. Nama dari sebuah simbol, adalah media yang mewakili sesuatu yang nyata atau ril, jadi pemilik kedualatan dan makna kedaulatan rakyat itu sendiri, adalah kemerdekaan rakyat, atau rakyatnya sendiri.
Memang kita ini, dibuat pusing, menggangu simbil kedaulatan negara kita, bereaksi keras, tetapi pemilik kedualatannya di lecehkan (baca : rakyat), cenderung cuek bebek....
.

0 comments:
Posting Komentar