Just another free Blogger theme

Selasa, 19 Mei 2026

Apa yang terjadi pada media massa kita saat ini ? Entahlah. Mungkin itu pun adalah satu manfaat baik bagi masyarakat. Tetapi, bisa jadi juga, menjadi satu hal yang menjemukan buat masyarakat. Pertanyaan ini, pertama kali saya lontarkan di 16 Mei 2013. Khususnya, saat ada sejumlah kejadian sosial yang mengkhawatirkan publik, dan juga menjadi perbincangan publik. Kisanya, kira2 seperti ini.


Kasus Eyang Subur dengan Adi Bing Slamet, begitu panjang dan bahkan bisa menjemukan. Progres penyelesaiannya begitu lama.  Sampai saat ini, belum kelar juga. Hal yang uniknya lagi, setelah beberapa minggu media tidak bisa mengakses rumah dan isi rumah Euyang Subur, kemudian euporia publikasi “isi rumah” Eyang Subur pun menguat. Hebatnya lagi, istri Eyang Subur yang berjumlah 8 (delapan) orang pun, turut menjadi ‘selebritis’ media.
Lain lagi dengan Ahmad Fathanah.  Tersangka kasus Suap Impor Sapi ini ini, diberitakan secara besar-besaran mengenai kasus. Bahkan, yang banyak menjadi perhatian publik saat ini, bukan (saja) kasus korupsi AF-nya, tetapi juga perempuan cantik di sekitar kasus korupsi itu. Sang Istri AF sendiri tampilannya cantik. Tetapi, profil yang paling populer adalah profilnya Vitalia Sesha. Model cantik dan seksi.
Apa yang terjadi pada media kita saat ini ?  tetapi inilah kehebatan media. Media mampu mengubah masalah menjadi berekah. Karena dirundung masalah Arya Wiguna, lawan Eyang Subur malah menjadi selebritis. Istri-Istri Eyang Subur pun menjadi “selebriti”, dan kini orang pun banyak yang tahu, kenal dan familiar dengan model Vitalia Sesha.
Bila ada kasus poligami, media khususnya Komnas HAM Perempuan, biasanya sigap menangapi kasus ‘pelanggaran’ terhadap derajat perempuan. Tetapi untuk kasus yang menimpa Eyang Subur ini, media dan Komnas Perempuan, tampaknya kurang serius membicarakannya. Mungkin, karena Eyang Subur bukan public figur dalam definisi mereka, atau mungkin karena perkawinan  “poligami luar biasa” , istilah yang digunakan Rita, salah satu istri Eyang Subur, bukan dianggap sebagai bagian dari pelanggaran derajat  perempuan.
Pertanyaan yang memang layak diajukan itu, bukan sekedar apa yang terjadi dengan media kita, tetapi apa yang sedang terjadi dengan masyarakat kita ?

Pemberitaan besar-besaran oleh sebuah media mengenai rencana Eyan Subur menjadi Presiden, pun menjadi liputan khusus. Seirus memberitakan, serius mencalonkan ? apakah ini adalah berita serius, atau rencana yang serius ?

Perkembangan selanjutnya, sebagaimana yang kita rasakan hari ini (2026), media massa begitu getol memberitakan banyak hal, dinamika politik luar negeri, perjalanan kepala negara, dan lain sebagainya. Tetapi, sangat minim membincangkan masalah kegelisahan dan keresahan yang dialami masyarakat kecil. 

Dolar memang tidak butuhkan warga desa, tetapi dinamika dolar di pentas global, sangat terasa, pada harga cabe dan garam di dapur orang kampung. 

Pun demikian adanya. Majelis Ulama Indonesia, reaktif terhadap kasus ikan sapu-sapu di pantai Jakarta, namun tidak begitu terdengar terberitakan responnya terhadap anomalia oknum elit agama, yang melakukan tindakan pelecehan seksual.

Pelecehan kepada simbol negara, dapat dengan mudah direspon para penegak hukum. tetapi pelecehan pada objek nyata pemilik kedaualatan, malah diabaikan. Ingat, Garuda, Bendera dan Istana adalah simbol kedaulatan negara. Sekedar simbol. Nama dari sebuah simbol, adalah media yang mewakili sesuatu yang nyata atau ril, jadi pemilik kedualatan dan makna kedaulatan rakyat itu sendiri, adalah kemerdekaan rakyat, atau rakyatnya sendiri.

Memang kita ini, dibuat pusing, menggangu simbil kedaulatan negara kita, bereaksi  keras, tetapi pemilik kedualatannya di lecehkan (baca : rakyat), cenderung cuek bebek....

 

.

 

 

 


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar