Just another free Blogger theme

Jumat, 13 Oktober 2017



Hasil gambar untuk sumberdaya lokalBagi seorang guru, potensi lokal sejatinya dapat dijadikan sebagai sumber belajar atau bahan ajar. Lebih tepatnya lagi, kita bisa menerapkan model pembelajaran berbasis sumberdaya lokal.

Silakan saja, kalau ada yang mau menggunakan istilah pembelajaran kontekstual. Tetapi, dalam konteks ini, kita lebih melihat sisi sumber bahan ajar. Dengan sumberbahan ajar yang berorientasi lokal, maka kita sebut model pembelajaran berbasis sumberdaya lokal, dan tidak menggunakan istilah pembelajaran kontekstual.

Dalam pembelajaran kontekstual, bisa jadi, kita menggunakn bahan ajar dari luar atau bahan ajar mengenai luar. Hanya saja, dalam proses pembelajarannya disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Bahan ajar itu  diadaptasi sesuai kebutuhan lokal, sehingga disebutnya pembelajaran kontekstual. Hal itu berbeda dengan pembelajaran berbasis sumberdaya lokal.

Pada pembelajaran berbasis sumberdaya lokal (local resources based learning), seorang tenaga pendidik memanfaatkan sumberdaya pembelajaran yang ada di daerah setempat. Mulai dari materinya, metode, atau tata ruang tempat belajarnya. Semuanya diharapkan dapat bernuansakan daerah.

Bahan ajar yang bisa disampaikan kepada peserta didik, tersedia melimpah di sekitar kita. Terlebih kalau pelajaran geografi, biologi, sosiologi, antropologi, PKn, bahasa dan agama. Untuk pelajaran yang lain pun, sangat mudah ditemukan di daerah setempat. Hal yang perlu dilakukan adalah kecermatan seorang tenaga pendidik, dalam mengolah bahan ajar lokal (local material) sebagai bahan ajar yang akan diangkat dalam proses pembelajaran.

Di daerah pegunungan, kita bisa mengidentifikasi ragam tanah, ragam tanah, keadaan cuaca, dan jenis matapencaharian masyarakat. Bahan ajar lokal itu, akan sangat berguna bagi peserta didik. Selain mengenali gejala yang ada di sekitarnya, juga akan meningkatkan kepekaan dan kepedulian terhadap gejala sosial dan gejala alam di sekitarnya.

Sunan Kalijaga, dikenal sebagai wali sanga yang memiliki pendekatan budaya yang luar biasa. Beliau paham akan tradisi Jawa, dan berniat untuk bisa medakwahkan Islam terhadapnya. Tanpa harus beraduhadapan, dia mampu mengembangkan model dakwah dengan seni, sehingga bisa diterima oleh masyarakat Jawa saat itu. Pendekatan inilah, yang saya sebut model pembelajaran, atau sosialisasi nilai, yang berbasiskan pada budaya lokal. Dengan kata lain, keunikan budaya lokal, hendaknya dapat dijadikan modal untuk proses penyampaian informasi atau pembelajaran.

Tidak kalah pentingnya lagi, yaitu tata ruang tempat belajar. Selama ini, kita berada di tempat belajar yang hampir seragam. Pengalaman kita, sejak sekolah dasar, menengah maupun perguruan tinggi, kita berada di tempa belajar yang sama, yaitu bentuk bangunan kaku, dengan ukuran 6x6 atau 8x8 m. Tidak lebh dan tidak kurang dari itu.

Mungkin saat kita belajar di pendidikan pra sekolah atau pendidikan usia dini. Beberapa tempat belajar PAUD, ada yang memanfaatkan rumah pribadi, sebagai tempat belajar.  Pilihan itu agak unik, karena memiliki nuansa, memberikan spirit ‘rumah  belajar’ atau ‘belajar seperti di rumah’ atau  ‘rumahku adalah tempat belajarku’ (baity madrasaty). Selain itu, tempat belajar kita, memiliki nuansa dan bentuk yang sama. Kaku, dengan ukuran baku.

Jika kita  mau sedikit berinovasi. Tempat belajar itu sesungguhnya bisa beragam. Pada sekolah alam, misalnya, mereka bisa belajar di luar kelas. Selain itu, ada juga yang bisa memanfaatkan ruang masjid, rumah, atau tempat lainnya sebagai tempat belajar.

Model pembelajaran bebasis sumberdaya lokal, memiliki spirit untuk bisa memanfaatkan ruang-ruang geografik yang ada di daerah setempat sebagai tempat belajar. Belajar tidak selamanya harus di gedung bernama “kelas”. Itulah yang kita maksudkan di sini.
Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar