Just another free Blogger theme

Minggu, 28 Januari 2018



Hasil gambar untuk angin pangandaran beach“brak…bruk..brak..srrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr”
Itulah suara gemuruh dan gertakan ragam benda berjatuhan. Kaca pintu hotel bergetar, seng atap, berkelabatan sambil tiada hentinya mengalunkan suaranya. ‘rek…rek….prang.!”
Kedua bola mata anakku, terbelalak. Saat dia melihat, daun dan ranting berterbangan di luar jendela. Dahan pohon bergoyak dan  bahkan berkoyak. Ujung daun pepohonan, sudah pasrah menerima kenyataan, untuk digoyang ke sana ke mari oleh gerakan angin tidak ada kompromi dengannya.

Disamping itu, deburan ombak pantai, terlihat oleh kedua anakku, menganga, seolah ingin melahap mentah-mentah apapun yang ada di depan matanya. Deburan demi deburan, sudah tak terhitung jumlahnya. Kelihatan sekali, mereka beriringan, seperti ombak dewasa yang keluar dari kandangnya. Tidak ada riak yang mengiringi, ombak yang ada, lebih kelihatan iringan ombak embah-embahnya.

Matahari yang sejatinya harus sudah tenggelam. Sore itu, malah seolah menyisakan kedipannya di ujung barat.  Lembayung senja, yang biasa kelihatan indah, di sore itu, malah kelihatannya seram dengan warna memerah. Entah marah, entah menahan kantuknya yang harusnya sudah tiba, tapi terganggu oleh deburan ombak yang anarkhis di sore itu.

“ayah, ada apa ?” pekik anakku yang besar, “suaranya serem, anginnya besar sekali…” paparnya,  lagi, sambil mengurungkan niat membuka pintu hotel Pangandaran, tempat menginap malam itu.
Kami sangat beruntung. Berada di lantai cukup tinggi untuk melihat ke sekitar hotel. Berada di  lantai V606, sebuah hotel berbintang yang berdiri tegak kokoh di ujung lokasi wisata Pangandaran. Dari hotel inilah, bibir pantai Barat Pangandaran  netra sangat jelas, sedangkan pantai timur tidak kurang dari 500 m, atau cukup memakan waktu kurang dari 15 menit.

Tidak ada imajinasi yang ekstrim dari pikiran anakku. Kedua anakku yang turut serta dalam wisata kali ini, hanya termangu di dalam kamar, sambil menggambarkan ketakutan akan ganasnya alam, yang diwarnai oleh kelakuan pohon,  dan gemuruh badai.

Lain cerita dengan anak-anakku. Imajinasiku, menerawang pada kejadian tsunami waktu lalu. Pangandaran adalah salah satu lokasi di Indonesia, yang pernah mengalami tsunami. Kejadian alam yang pernah meluluhlantaikan kawasan wisata Pangandaran. Bahkan, imajinasinya ini kemudian liar, mengingat kembali pada emta hari yang lalu, saat ada gempa yang menimpa kawasan Lebak Banten. Pantai Selatan Jawa Barat, dan kini pun, kami berada di Pantai Selatan Jawa Barat.

Tidak bisa diingkari. Rasa takut itu hadir, dan kemudian berkembang dalam pikiran dan asa. Memang, tidak ada kaitannya antara angin dengan tsunami. Sungguh, tidak ada kaitannya antara tsunami dengan angin. Kecuali bila kita membayangkannya ada badai tornado atau taipun terjadi di Pangandaran, maka bukan hal mustahil, akan ada kejadian menghamburkan air lautan ke kawasan permukaan.

Bayangan inilah yang kemudian memaksa, nalar spiritual seorang hamba yang terdesak, bergetar, dan melantunkan doa kepada Penguasa Alam. Diakui atau tidak, disadari atau tidak,  bukan hanya anak-anak yang merasa takut dengan keadaan itu. Saya sendiri pun merasakan, bahkan, saat bersua dengan teman-teman serombongan yang malam itu menginap di hotel tersebut, melaporkan hal yang serupa. Takut tsunami, takut badai, ngeri, takut sesuai yang menyeramkan terjadi di malam itu.

“aku malam,  langsung baca Yasin..” ungkapnya. Entah darimana  pikirannya, dia mengaku sebagai muslim, tetapi menganggap bahwa, di malam Jum’at, di kawasan Pangandaran suka terjadi sesuatu yang menyeramkan. Arwah korban Pangandaran, katanya, suka hadir di malam Jum’at, dan hadir dalam bentuk tiupan angin. “karena, itu, saat angin kencang terjadi itu, aku baca yasinan, biar berhenti”, ungkapnya, sambil menerangkan salah satu bab dalam Kitab Suci Umat Islam, yang disebutnya surat Yasin.

Kendati sama-sama muslim, saya termasuk kurang bisa memahami nalar itu. Lagi pula, malam kejadian itu, bukanlah malam Jum’at, tetapi malam sabtu. Sehingga penjelasan sahabatku itu, hanya dianggap angin lalu, mirip dengan imajinasi anakku yang sebelumnya.

Apa yang saya lakukan di malam itu ? lari ? tidak mungkin. Menangis ? buat apa ?! hal pasti yang saya lakukan hal itu, adalah menjaga kesadaran, supaya tidak panic, dengan tetap mengamati keadaan lingkungan sekitar. Walaupun tampak berlebihan, namun, sebagai bentuk kesadaran yang dihadirkan hari itu. Saya merasa tenang. Berada di hotel kokoh, dengan posisi di lantai tertinggi.

Dalam pengalaman yang lalu, ini upaya penenangan diri, tinggi tsunami di Pangandaran tidak lebih dari 3 m. itu artinya, ada dibawah lantai tempat tinggal. Kemudian, ketahanan gedung yang kami tinggali pun, pernah teruji sebelumnya. Bahkan, dengan rasionalisasi yang konyol seperti itu, saya pribadi berusaha untuk tenang, dan menenangkan kedua anakku. Sambil waspada, barangkali ada peringatan dari pihak berwenang, saya pun, memantai perkembangan cuaca melalyi medua elektronik.

“badai angin menerpa pantai selatan, terjadi di Madiun..” itulah running teks, pada sebuah media.Kendati tidak nyambung dengan lokasi kami berdiri, namun informasi ini, menjadi rujukan nalar untuk kami di sore itu.
Seiring waktu. Angin di luar pun, mulai reda, malam pun kembali sunyi. Saya pun tersenyum, dan bisa menutup mata dengan tenang, mengisi malam itu dengan lelap.
Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar