Just another free Blogger theme

Selasa, 17 Mei 2022

 


Tidak banyak yang bisa menjadi bahan cerita.  Kisah –sebut saja, Mulyadi atau dipanggil Yadi, menjadi salah seorang alumni yang bisa menjadi bahan cerita di sini.

Mulyadi dikenal sebagai anak yang pemalas. Setidaknya itulah, cap banyak orang terhadapnya. Selama berseragam Aliyah, kebiasaannya hanya main, senda gurau, bahkan sesekali membuat iseng kepada teman-temannya. Kegiatan itu, hampir dilakukan setiap hari, sehingga melalaikannya sebagai seorang pelajar.

“Mana tugas?!” tanya seorang guru

“kok, gak ada catatan materi sedikitpun..!” guru yang lain memberikan komentar terhadap kegiatan hariannya.

“Kemana aya, datang kok telat..” sambung wali kelas yang tengah memberikan pembinaan.

“gimana mau kuliah, kalau nilainya seperti ini terus..!” tukas guru mata pelajaran peminatan dihadapan Yadi, yang memegang lembaran hasil ulangan.

Kisah serupa itu, atau komentar dan tanggapan serupa itu, sering dia dengar di dalam kelas. BAhkan, teman-temannya pun, merasa sudah biasa. Telinga teman-temannya sudah tidak merasa aneh, dengan ragam komentar, tanggapan atau celotehan guru terkait dengan Mulyadi selama belajar di Aliyah waktu itu.

Hemat kata, selepas lulus dari Aliyah, Mulyadi menjadi Cadi (asisten) mincing di sebuah kolam-bisnisan tetangga. Maklum, mincing menjadi bagian dari hobinya, maka kemudian, profesi mincing ini menjadi salah satu kegiatan hariannay setelah lulus madrasah.

Tugasnya tidak banyak. Sesekali sekedar memberikan advise umpan ikan, memasang umpan ke kail, dan menyimpan ikan, atau memberikan makanan dan minuman kepada para pemancing. Tugas dan profesi itu, Mulyadi jalani hampir setengah tahun terakhir, selepas lulus  dari madrasah.

Suatu hari, ada rombongan dari pegawai perbankan terhormat di Negeri ini.  Mereka datang dari Ibukota Negara, dengan membawa tidak kurang 10 orang pegawai di perbankan tersebut. Maksud dan tujuannya, sudah pasti dan jelas, yaitu unuk menyalurkan hobi sambil melepas penat, rutinisme mingguan selama ini. Hobinya, ya itu yadi, mancing di kolam pemancingan.

Interaksi antara cadi dan pemancang sangat intens. Terlebih dengan jumlah peserta pemancingnya cukup banyak. Tak pelak lagi, Yadi, sebagai anak muda di kolam pemancingan itu, dengan cekatan dan santun-makulum lulusan madrasah, dapat memberikan layanan baik dan terbaik kepada para tetamunya.

Satu diantara tetamunya itu, ada pejabat perbankan, yang berpengaruh.  Memperhatikan gerak-gerik, dan cara kerja anak muda di kolam pemancingan itu, dia tertarik dengan kinerjanya tersebut.

“kamu masih sekolah?” tanyanya, yang kemudian dijawab Yadi, “sudah lulus,..”

Mendengar jawaban tersebut, kemudian, pejabat perbankan itu, memberikan tawaran kepada Yadi untuk menjadi supir pribadi, dan bekerja di Jakarta. Mendengar tawaran itu, sontak saja, Yadi merasa terkesan, dan menyanggupi tawaran pekerjaan tersebut.

Tidak lama dari itu, hanya berselang beberapa hari, berbekal kartu nama yang diberikan pejabat perbankan itu, Yadi berangkat ke Jakarta dengan maksud dan tujuan mengadu nasib sebagai supir pribadi, dan meninggalkan tugasnya sebagai cadi di kolam pemancingan.

Entah bagaimana cerita selanjutnya.

Suatu saat, di media sosial muncul, akun bernama Mulyadi dengan status yang cukup gagah.  Dalam pengakuannya, tiga tahun terakhir, dia sudah berada di posisi sebagai pengawal pengiriman uang ke berbagai daerah di Jawa Barat. Padahal profesi sebelumnya, hanya seorang supir pribadi, dan kemudian naik pangkat menjadi satpam perbankan, dan  kini menjadi pengawal pengiriman uang yang akan didistribusikan ke lembaga keuangan lainnya.

Di sinilah, nasib yang unik. Dia mampu menjajalani hidup sukses. Kendati tidak kualiah di perbankan, namun dia mampu menjadi salah satu pegawai perbankan terhormat di Ibukota negara, dengan jabatan sebagai pengawal (sekuriti) pengiriman uang ke lembaga bank. Menurut  informasi, gajinya pun sudah cukup tinggi, terlebih lagi, di lembaga perbankan di ibukota negara. Tentunya sudah diatas UMR, atau 5 juta rupiah perbulannya, sudah pasti ada ditangannya, untuk tahun 2020-an ini.

Itulah  kebahgaiaan kami sebagai tenaga pendidik, yang telah membesarkannya, kendati mungkin, selama sekolahnya kerap merenddahkan kemampuannya. Sebagai tenaga pendidik pun, kadang kami  merasa malu, mungkin kesuksesannya itu, bukan buah dari pembelajaran kami, tetapi lebih karena keberuntungan yang dia miliki.

Akhir kisah, baru saja, dua hari lalu, bertepatan dengan hari hipertensi di 2022, jantung ini dibuatnya berdetak.

“Yadi sudah Kembali ke kampung halaman, dan dia kini nganggur..”, tutur sang pembawa berita.

“Lha..?” kaget dibuatnya, “kenapa?” tanyaku.

Menurut pengakuannya, sebagaimana yang disampaikan ke si penutur, sifat malas belajarnya muncul. Di suruh belajar dan kuliah lagi oleh pimpinannya, malah malas-malasan, dan akibatnya, Yadi berhadapan dengan situasi yang tidak terpikirkan sebelumnya. Dia gagal testing. Dampak lanjutannya, akibat ada rasionalisasi,  akhirnya Yadi pun tersingkir dan dikeluarkan dari pekerjaannya.

Apa ?

Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar