Just another free Blogger theme

Kamis, 15 Desember 2016


Hasil gambar untuk angry birdMarah. Marah lagi. Kelihatannya, seringkali marah. Kedengarannya, hobi banget menarik suara secara keras. Mungkin, bagi si pelaku, ada kepuasan tertentu dengan perilakunya tersebut. Tetapi, bagi orang lain, termasuk saya sendiri, kadang merasakan ada sesuatu yang aneh. Mengapa ada orang yang suka marah-marah ?


Dalam diri ini, kerap ingin mengajukan pertanyaan, "apakah marah menjadi cara ideal untuk meluruskan sikap orang lain ?", apakah seorang ibu marah-marah, sudah merasa yakin bahwa dengan cara itu, perilaku anaknya akan berubah ? apakah seorang guru yakin, bahwa dengan marah perilaku siswanya akan berubah ke arah yang lebih baik ?
Saya sendiri merasa ragu dengan jawaban-jawaban itu. Hanya saja, ada beberapa prasangka yang ingin diajukan di sini, sebagai bahan renungan kita bersama.
Pertama, marah mengandung makna, bahwa suara lembut dan halus kita sudah tidak kedengar, dan tidak didengar. Kita kerap memberikan nasehat dengan suara lembut dan halus. Tetapi, si pendengar tidak mau mendengarnya. Mereka mendengarkan tetap tida mendengarnya. Karena itu, marah adalah upaya si pemarah menaikkan volume dengan maksud supaya bisa mendengar dan mendengar.
Kedua, secara psikologis, marah menunjukkan renggangnya jarak psikologis diantara dua orang atau lebih. Kalau lagi berbincang berduaan, orang yang berpacaran lebih mengambil cara dengan suara lembut dan halus. Pasangan suami istri, jika sedang bercinta akan berkomunikasi dengan bahasa  lembut dan halus. Hal ini menggambarkan bahwa marah, atau nada tinggi, merupakan indikasi renggangnya jarka psikolois diantara kedua belah pihak.
Ketiga, marah diartikan sebagai langkah terakhir untuk mencoba melakukan ikhiar merubah persepsi atau perilaku orang lain. Kendati kita sebut usaha terakhir, tetapi pilihan ini pun,  lebih bersifat tentatif ata hipotetik. Si pemarah, merasa yakin atau terobsesi bahwa dengan marah, diharapkan orang lain mengerti, atau mengubah perilakunya.
Terakhhir, marah dapat dan perlu diposisikan sebagai gejala kebuntuan komunikasi. Seseorang yang sudah masih memiliki alernatif komunikasi, dia akan berusaha melakukan cara lain selain marah. Tetapi, jika dia merasa tidak ada  lain cara menyampaikan pesan, atau tidak ada cara lain memberikan pengaruh kepada orang lain, maka marah akan menjadi pilihannya.
Berdasarkan pertimbangan itulah, layak jadinya bila kita mengajukan pertanyaan, "apakah marah adalah cara terbaik mengubah perilaku orang ? Jika Ya, teruskanlah marah, tapi jangan  kesal dan menyesal !"
Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar