Just another free Blogger theme

Jumat, 16 Juni 2023

Dalam kehidupan kita, tidak selamanya kita ingat sesuatu  hal. Tidak selamanya pula, kita memahami sesuau hal. Mungkin jadi, kita pernah belajar atau mempelajari sesuatu, tetapi dalam satu waktu kita kerap dihinggapi khilap, dan tidak mengingatnya lagi. Atau juga, mungkin jadi kita sudah pernah mendengar sesuatu hal, melihat sebuah kejadian, tetapi kemudian kita lupa terhadap ragam kejadian tersebut. Dalam situasi serupa ini, kehadiran seorang teman, menjadi sangat penting dalam mengingatkannya Kembali.


Pada satu kasus, kita memiliki pengetahuan, pemahaman atau kesadaran tertentu. Tetapi, karena kita hilap dengan  prinsip hidup, kadang kita melanggar perjanjian, melanggar aturan, norma atau etika dalam hidup dan kehidupan ini. Maka tidak mengherankan bila kemudian ada teman, sahabat atau saudara kita  yang mengingatkan kita, atau menasehati diri kita.

Bagaimana Islam memberikan panduan, terkait dengan teknik, Upaya atau strategi saling  menehati dalam kehidupan sehari-hari ?

Pertama, pendekatan rasional. Pada surat al-‘Ashr, Allah Swt berfirman :

﴿ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ ٣ ﴾ ( العصر/103: 3)

kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.  (Al-'Asr/103:3)

Menurut ayat ini, demi waktu, sesungguhnya manusia di dunia ini ada dalam kerugian. Untuk keluar dari situasi kerugian tersebut, disebutkan, yakni kecuali mereka yang “….orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”. Di akhir kalimat, ada penjelasan bahwa untuk menjadi pribadi yang beruntung atau tidak merugi, yakni membangun tradisi saling menasehati.

Asal kata “tawasha’u”  yaitu washa, yang mengandung makna mewasiatkan, mewarsikan, atau meninggalkan pesan.  Karena itu, tawashau mengandung makna saling mewasiatkan, saling mewariskan atau saling meninggalkan pesan. Memberi pesan kepada orang lain, sama dengan mewariskan pesan. Seorang orang tua, bisa mewariskan harta atau kekayaan kepada anak cucunya, tetapi orangtua pun bisa mewariskan pesan kepada  generasi mudanya.

Catatan menariknya, pesan Qur’an yang pertama dalam ayat ini, yakni mengembangkan model saling mewasiatkan atau saling menasehati dalam kebenaran (watawashau bil haqq). Sementara itu, nilai-nilai al-Haqq dalam Islam adalah :

﴿ اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ ࣖ ١٤٧ ﴾ ( البقرة/2: 147)

Kebenaran itu dari Tuhanmu. Maka, janganlah sekali-kali engkau (Nabi Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.  (Al-Baqarah/2:147)

Dengan kata lain, konten dan teknik pewaisatan pesan dan nilai kehidupan itu, hendaknya adalah sesuatu hal yang selaras dan sesuai dengan pesan-pesan Ilahi, sebagaimana yang tertuang dalam al-Qur’an.

Kedua, pada tahapan selanjutnya, yakni melakukan tradisi saling mewasiatkan nilai kehidupan dengan kesabaran (wa tawashau bi shabr). Tidak mudah untuk menjadi guru. Tidak mudah untuk menjadi orangtua.  TIdak mudah untuk menjadi mentor. Serta tidak mudah untuk menjadi sahabat yang bisa memberikan masukan kepada sahabat kita.

Seseorang yang Tengah khilap atau lupa diri, atau terbuai dengan hasrat-nafsunya, cenderung menilai benar dan baik terhadap pilihan laku dan kehidupannya. Karena itu, dia akan berusaha keras untuk mempertahankan pilihan hidupnya. Di situasi serupa itu, maka pesan, nasihat atau peringatan dari sahabatnya sendiri pun, bahkan dari orangtuanya pun, sulit untuk bisa dipahami dan cenderung untuk ditolaknya.

Sehubungan hal itu, maka langkah kedua yang perlu dilakukan itu, adalah saling menasehatinya dengan penuh kesabaran. Sabar dalam menasehati, sabar dalam mendidik, sabar dalam mengingatkan, atau sabar dalam membimbing merupakan langkah kedua yang harus dilakukan seorang muslim.

Kalau kita tidak sabar, maka cita-cita untuk memberikan nasehat atau membimbing, atau meluruskan orang yang kita cintai supaya bisa Kembali ke jalan yang lurus, akan mengalami kegagalan. Kendati mereka keras kepala, atau bandel dan membangkang, tampaknya kesabaran kita untuk terus memberikan nasehat akan menjadi kunci terbukanya peluang kebaikan dan perbaikan di masa depan.

Nilai kesabaran menunjuk pada aspek emosi, jiwa, atau perasaan orang-perorangan (individu). Dengan kata lain, saling menasihati itu, selain mengedepankan konten (nilai kebenaran), juga perlu melibatkan kemampuan pengendalian emosi, yakni nilai kesabaran. Kadang-kadang, nilai kesabaran inilah, yang hilang dalam praktek pendidikan, pembelajaran, atau pembinaan. Banyak diantara kita, yang kerap mengedepankan menu instan, ingin cepat-cepat selesai, cepat berhasil, atau cepat mendapatkan hasilnya. Padahal, proses pembelajan atau perubahan mental dan mindset, tidak bersifat instan, untuk kesabaran untuk bisa meraih hasil yang maksimal,

Terakhi, selepas melakukan nasehat dengan penuh kesabaran, ada kunci terakhir, yakni dengan penuh kasih sayang. Allah Swt berfirman :

﴿ ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِۗ ١٧ ﴾ ( البلد/90: 17)

Kemudian, dia juga termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta saling berpesan untuk berkasih sayang.  (Al-Balad/90:17)

Surat al-Balad memberi keterangan mengenai beberapa sifat dari orang-orang mukmin, orang baik atau golongan kanan (Ashhabul yamin) atau ashhabul maimanah. Ciri dari kelompok kanan ini, yakni saling menasehat dalam kesabaran dam juga dalam kasih-sayang.

Sekedar refleksi, saling berpesan untuk berkasih-sayang menunjukkan nilai psikologi sosial atau sosialitas kebersamaan. Orientasi nilai ketiga ini, menekankan pada upaya membangun keharmonian sosial. Rasulullah Muhammad Saw pun berpesan, kendati berbeda agama, sepanjang tidak mengajak kepada kemusyrikan, pada seorang anak masih tetap memiliki kewajiban untuk berbakti kepada orangtuanya.

Dari Asma’ binti Abu Bakr radlyiallaahu ‘anha ia berkata : Pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ibuku (yang saat itu dalam keadaan kafir) mengunjungiku karena rindu. Lalu aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : “Apakah aku harus menjalin silaturrahim dengannya?” Nabi Menjawab : “Ya”

Kemudian, ada firman Allah Swt ::

﴿ وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ ١٤ وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ١٥ ﴾ ( لقمٰن/31: 14-15)

14.  Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.

15.  Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Ku kamu kembali, lalu Aku beri tahukan kepadamu apa yang biasa kamu kerjakan.  (Luqman/31:14-15)

Implikasi dari pemetaan konseptual ini, kita dapat menarik inspirasi bahwa model ini bisa diterapkan dalam konteks pendidikan, pembinaan atau pelatihan. Sebagai tenaga pendidik, konsep ini, bisa dikembangkan dalam konteks pembelajaan di kelas.

Untuk praktisnya, ada beberapa point penting yang perlu dikedepankan dan ditekan di sini. Pertama, ke tiga konsep itu, menggunakan kata ‘saling’. Hal ini menunjukkan bahwa proses pendidikan, pembelajaran dan juga pelatihan, tidak  bersifat satu arah, melainkan saling interaktid. Dalam proses dan perjalanannya, senantiasa akan feedback, umpan balik atau masukkan terhadap proses dan kegiatan yang dilakukan.

Kedua, masalah konten (nilai-nilai kebenaran) menjadi prioritas pertama. Saling menasihati mengenai kontens, yakni nilai kebenaran, dihadirkan pada bagian awal. Untuk tahapan selanjutnya, adalah penanaman dan pengedepan nilai-nilai emosional (kesabaan), dan kemudian sosial (kasih-sayang).

Hari ini, kita berhadapan dengan anak milenial, yang konon memiliki karakter berbeda, kelihatannya prinsip sabar dan kasing sayang menjadi penting. Karena anak milenial tidak suka di doktrin, dipaksa atau diatur oleh orang lain.....


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar