Just another free Blogger theme

Minggu, 03 Mei 2026

Sudah cukup banyak, bahkan banyak banget, kata-kata itu kita produksi. Ya, bukankah, diblog ini pun, sudah puluhan, bahkan ratusan tulisan dilayangkan. Tetapi, itulah kenyataannya, bahwa banyaknya jumlah kata yang dilisankan, bukan berarti perubahan itu, sudah terjadi, dan pasti terjadi. Sekedar mengungkit beberapa derajat saja, dari posisi sebelumnya, pun, tidak banyak terasa. 


Sebelumnya, kita menyakini bahwa perubahan sosial atau revolusi itu, pun, terjadi dan bermula dari kata-kata. Karena ada kata, dan kata-kata, kemudian terjadilah perubahan sosial yang besar, disejumlah negara, seperti  Prancis, Inggris, dan juga negara kita, Indonesia.

Lantas "mengapa kali ini, kita meragukan kata-kata  tersebut ?". Pertanyaan yang harus kita jawab sendiri. Kita tidak bisa mengandalkan jawaban orang lain. Karena, baik pertanyaan itu, ataupun jawabannya, akan meminta pertanggungjawaban dari diri kita sendiri.

Soalannya, bukan pada kata-kata itu sendiri. Melainkan, terletak pada respon kita terhadap kata-kata tersebut. 

Seperti yang disampaikan sebelumnya. Kesadaran kita, akan kemampuan kita, untuk membedakan antara putus asa, dan perasaan gagal, adalah sebuah prestasi pribadi. Saya ingin sebut demikian. Keberanian kita, untuk meyakinkan diri, bahwa perasaan gagal itu, sangat berbeda dengan putus asa, merupakan keberhasilan kita dalam menyadarkan emosi, subjektivitas dan jiwa kemanusiaan itu sendiri.

Namun, semua itu, belum selesai. 

Keberhasilan itu, baru menjadi titik awal perjuangan. Keberhasilan kita dalam melakukan menyusun ulang kesadaran, terkait dengan kondisi emosional yang terjadi hari itu, adalah modal awal untuk melangkah.  Tahapan perjalanan lanjutannya, adalah melangkah, maju, melangkah terus maju, tidak boleh ada rasa lelah.

Kesadaran kita, terkait, pentingnya menghindari rasa putus asa, dan masalah yang dihadapi di tengah perjalanan bukan sebuah kegagalan, hanya sekedar ancaman, akan menjadi modal-dasar-psikologis kita, untuk berubah, manakala ditindaklanjuti dengan gerak, langkah atau tindakan.

Di level inilah, kita menemukan sejumlah ilustrasi yang terkait dengan kegagalan hidup, karena mengandalkan kata-kata saja.

Saat jelang Agustusan, selama Agustusan, atau selepas Agustusan, dapat dengan mudah kita menemukan puluhan atau ratusan spanduk peringatan hari kemerdekaan. Pada spanduk itu, tertera dengan jelas dan tegas mengenai tema-tema peringatan Agustusan. Tema itu, dari tahun ke tahun berbeda, dan diubah, sedemikian rupa, sesuai dengan hasrat dan gairah dari para panitia pelaksananya.

Sekali lagi, persoalannya, bukan soal tema. Tema peringatan itu sudah bagus. Persoalan lanjutannya, terkait dengan tindak lanjut dari tema tersebut, menjadi sebuah aksi nyata atau tindakan konkrit di tengah masyarakat.

Bila saja, tema adalah tema, dan sekedar menghiasi spanduk  perayaan, maka kata-kata itu, memiliki arti, tetapi kehilangan energi-geraknya. Padahal, sebuah kata itu, memiliki kekuatan energi kinetik yang sangat dahsyat. Sayangnya, kekuatan energi itu, tersimpan dan membeku dalam  bentuk dan ukuran huruf.  Tidak lebih dari itu. 

Bukan sekedar omon-omon. Itulah istilah yang popular di netizen.

Kata-kata yang dimaksudkan di sini, bukan sekedar ucapan, pernyataan, janji, atau sumpah setia. Kata-kata pun, hadir dalam bentuk yang beragam, seperti peraturan, perundangan, atau tata tertib. Semua itu, adalah karya manusia yang dilahirkan dalam bentuk teks, tulisan, atau kata-kata.

Sewaktu masih duduk di bangku sekolahan, bisa jadi kita, sering pergi ke perpustakaan. Perpusatakan sekolah, perpustakaan jurusan, perpustakaan fakultas, perpustakaan universitas, atau perpustakan daerah. Di perpusatakan itulah, numpuk, banyak banget, karya tulis ilmiah, buah pemikiran dari mahasiswa. Mahasiswa Sarjana, paska sarjana atau doktoral. Di hadapan tumpukan karya ilmiah itulah, persoalan yang kita omongkan ini, dapat diajukan. Kata-kata yang berserakan dalam karya ilmiah itu, berapa besar energi kinetiknya, sehingga bsia mengubah kenyataan dan kehidupan kita ?

Masih ada ganjalan, atau masih banyak pertanyaan terkait hal itu. Padahal, bila dicermati dengan seksama, perjalanan intelektual yang mereka lakukan itu, sudah sangat luar biasa. Memahami latar masalah, sampai mengunggah ragam teori untuk menemukan jawabannya.

Saat kita, mampu melahirkan sebuah kesimpulan, dan kesimpulan itu, dilahirkan dalam bentuk kata-kata, atau lebih luas, dalam bentuk pernyataan, maka didalamnya ada makna atau arti atau energi-kinetik. Supaya kekuatan energi yang dahsyat itu, memiliki nilai fungsi atau nilai praksis, maka menjadi kewajiban kita untuk melakukan upaya pemraktekan di dalam kehidupan sehari-hari. Karena hanya dengan cara serupa itulah, maka kata-kata akan menjadi makna dalam kehidupan nyata.

Bagaimana menurut pembaca ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar