Just another free Blogger theme

Kamis, 30 April 2026

Bila dicermati dengan seksama, atau maaf, mungkin, dengan pandangan sekilas, kenampakkan di klasemen Liga Utama Inggris dan Liga 1 Indonesia, ada kemiripan. Kemiripan. Boleh dibilang, kemiripan bukan berarti sama, dan sama hari ini, bukan berarti sama masa depannya.

Apa yang menjadi bahan perbincangan tersebut ?

Rabu, 29 April 2026

Sebelumnya, kerap tidak paham dan dibuat mengernyitkan dahi, bila disebutkan kata Yaman. Termasuk dengan pernyataan Presiden Prabowo, saat menyampaikan pidatonya, dan kemudian keluar pernyataan, sebagai respon terhadap kelompok tertentu yang kerap mengkritik kebijakan Pemerintah. kalau tidak nyaman, ya pergi saja ke Yaman.


Kira-kira, begitulah, makna umumnya.

Namun, dibalik itu semua, tentu, bagi sebagian orang  akan bertanya-tanya. Mengapa identitas negara itu, melekat dalam lisan politik bangsa Indonesia. Konsep 'Yaman", kadang menjadi bagian tak terpisahkan dengan Termul. Kedua kelompok ini, kerap kali menjadi narasi yang saling beraduhadapan di media sosial.

Selasa, 28 April 2026

Diingatkan seseorang, Leo Tolstoi sempat mengatakan, "Keluarga bahagia mirip satu dengan lainnya, keluarga tak bahagia tidak bahagia dengan jalannya sendiri-sendiri..." pada masterpiecenya, Anna Karenina.

Menurut penuturnya, pemaknaan terhadap kalimat ini, sangat mendalam dan meluas. Kita bisa saja mengatakan bahwa Leo Tolstoi memaksudkan diri untuk mengatakan bahwa keluarga yang bahagia itu, memiliki ciri yang mirip. Misalnya, memiliki kecukupan ekonomi, atau pola komunikasi dalam keluarga yang hangat. Tampaknya, untuk setiap keluarga yang memiliki dua kategori itu, akan merasakan sebuah kebahagiaan didalamnya. Itulah ciri yang miripnya.

Senin, 27 April 2026

Wacana dan narasi tentang kecerdasan manusia, terus mengalami pertumbuhan, perkembangan dan juga dialektikanya sendiri. Tidak mengherankan, bila dalam beberapa tahun terakhir, perbincangan mengenai kecerdasan manusia itu, selain melahirkan pandangan yang beragam, pun memiliki perhatian seksama, bahkan sampai melahirkan disiplin ilmu tersendiri, khususnya mengenai neuroscience.


Dalam dari perkembangan ilmu itu, perbincangan mengenai kecerdasan manusia, semakin dinamis, dan menarik untuk terus dibincangkan. Lantas, bagaimana agama, memberikan pandangan atau kontribusinya dalam wacana kecerdasan manusia ini ?

Tentu saja, umat Islam dengan keragaman latar belakang dan keilmuannya, dapat memberikan pertimbangan intelektual terkait kecerdasan manusia.  Namun, satu diantara narasi yang bisa digunakan, yakni merujuk pada sabda Rasulullah Muhammad Saw, terkait hal ini.

Minggu, 26 April 2026

Di media sosial, khusus kalangan GenZ, lagi viral lagu dengan judul Siti Mawarni. Viralitasnya, bukan saja karena enak di dengar, tetapi juga mengundang kekaguman dari ragam pihak terkait pesan yang hendak disampaikan kepada pendengar, atau peniikmat musiknya.


Betul. Syairnya tidak lebih dari dua bait. Disusun dalam bentuk pantun, senada dengan budaya  Melayu. Menurut Amin Wahyudi Harapan, sang pencipta lagu ini,  Siti Mawarni sendiri adalah tokoh fiktif. Bukan nama sebenarnya, dan tidak ada figur yang dirujuknya. Sekedar sebuah tokoh dalam lagu, dengan harapan memberikan tarikan kuat  mengenai pesan yang hendak disampaikan. 

Sabtu, 25 April 2026

Ada pertanyaan menarik terkait hal ini, apakah tes kekorupsian untuk ASN, menjadi sesuatu yang mendesak ?  Pertanyaan perlu diajukan, dengan tidak memaksudkan diri, tidak perlu. Sekali lagi, apakah tes serupa ini, adalah sesuatu yang mendesak untuk dilakukan kepada ASN di negara kita ? andai dianggap medesak apa alasannya ? 



Ada banyak hal yang bisa digunakan untuk memberikan tanggapan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait agenda ini.

Jumat, 24 April 2026

Momen ini, saya hendak gunakan untuk melakukan refleksi, terkait, ikatan atau hubungan antara kita dengan mitra. Maksud dari mitra ini,  kita akan gunakan untuk memosisikan pihak lain secara setara, dan bukan sebagai sasaran. Termasuk masalah benda, atau hewan.

Mungkin masih agak bingung dengan kalimat ini. Namun pembaca tidak akan mengalami kesulitan memahaminya, bila tersajikan contoh. Misalnya hubungan kita dengan gadget, hubungan kita dengan hewan piaraan, hubungan kita dengan pasangan hidup, hubungan kita dengan teman dekat, dan hubungan kita dengan klub olahraga kesayangan. Sejumlah hal di luar diri kita, yang kita hubungi itu, kita posisikan sebagai mitra dan bukan objek.

Mengapa disebut mitra, dan bukan objek ?

Kamis, 23 April 2026

Bisa jadi, inilah hasil dari diklat Pintar yang diselenggarakan Kementerian Agama. Model Diklatnya, online ada diplatform Pintar Kemenag. Temanya beragam. Dan tadi malam, mengikuti program Diklat dengan tema Kurikulum Cinta.


Semalaman tidur pulas. Tidak ingat apapun. Dalam tidur, seperti biasa, dan seperti orang lain saja. Bila tidak salah ingat, momen tidur sekitar pukul 21-an, dan kemudian terbangun kembali jelang shalat subuh. 

Rabu, 22 April 2026

Terlalu dini untuk menyebut sejumlah hal berikut sebagai aliran-politik Trump, atau Trumpisme. Tetapi, bila tidak segera disampaikan, khawatir kita pun, bisa terlena dengan situasi dan kondisi, sehingga menyebabkan proses pematangan dan kematangan demokrasi tertinggal.


Menyebutkan Trumpisme sebagai bagian dari transisi demokrasi, keliru. Setidaknya, bila ditetapkan dalam konteks keamerakserikatan. Karena, dunia memandang negara adidaya itu sebagai negara demokratis. Karena itu, apakah layak disebut Trumpisme sebagai fase transisi demokrasi, atau fase-demokrasi palsu (fake-democracy).

Selasa, 21 April 2026

Pepatah nenek, di kampung halaman, begitulah seorang tetangga berucap. "Hayam oge, kudu nyiar pacokeun ka luar, mung embung kalaparan mah..". Begitulah kira-kira pepatahnya. Pepatah dalam bahasa Sunda, dan masih teringat dalam benak sang penutur hingga kini. 



Pepatah tadi, secara umum, mengandung makna, "ayampun, untuk mendapat makanan, harus keluar kandang, kalau tidak mau kelaparan".

Apakah pepatah itu, masih berlaku ? Khususnya, bagi anak GenZ saat ini, disaat tradisi keluar kandang itu, menjadi sekedar sebuah opsi ? bagi anak GenZ, keluar kandang, bukanlah kewajiban dan tidak menjadi sebuah keharusan, untuk sekedar mengisi perut. 

Senin, 20 April 2026

Kekerasan teologis adalah konsep dasar yang digunakan untuk merujuk pada sikap, pikiran atau tindakan seseorang dalam memperjuangkan kepentingan dirinya, dengan memanfaatkan pemahaman agama, dihadapan lawan kelompoknya. Tindakan ini, kerap muncul di komunitas-komumitas keagamaan, baik di kelompok internalnya, maupun eksternal.


Secara sosiologis, gejala itu, memancing pertanyaan, terkait alasan pokok dari seseorang bisa terjebak dan atau tergoda untuk melakukan tindakan kekerasan teologis.  Pada realitanya kekerasan teologis itu, tetap akan menunjukkan fenomena tersendiri, disaat ada perbedaan karakter atau level komunitas yang berbeda.

Minggu, 19 April 2026


Pertanyaan ini saya ajukan di forum rapat dinas mingguan (10/04/2013), sesaat selepas pengesahan kedudukan sebagai wakil Kepala Humas di MAN 2 Kota Bandung, tahun periode 2009-2010. Seolah konyol, tetapi tetap menghantui pikiran. Karena ditempat yang berbeda kadang ada  budaya organisasi yang berbeda. Karena perbedaan budaya organisasi itulah, kemudian berdampak pada perumusan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang berbeda. Terkait hal inilah, saya merasa perlu untuk memberikan pengalaman bathin menjadi seorang wakil kepala bagian humas.

Sabtu, 18 April 2026

Di tengah masyarakat, eh, lebih tepatnya, di tengah-tengah obrolan orang kecil, jumlahnya pun tal seberapa, muncul pertanyaan, "lebih baik cepat menyelesaikan masalah, walaupun salah, atau biarkan masalah kecil terkatung-katung?"



Pertanyaan itu menggelitik. Disampaikan dalam forum kecil, di mode obrolan santai orang-orang pos ronda, saat jelang malam tiba. Sambil nyeruput kopi yang tersedia, dengan makanan seadanya, dan gaya bahasa pun seadanya, demikian pula, wawasan yang seadananya, tetapi pertanyaannya, kadang serius. Serius, melebihi nalar seorang pejabat negara.

Jumat, 17 April 2026

Ada yang menarik di awal 2026 ini. Sejumlah negara di Eropa, khususnya negara-negara di kawasan Eropa, seperti Spanyol, Inggris dan juga Prancis, menunjukkan sikap reaktif dan kritis terhadap ajakan, rayuan, kritikan atau keluhan dari Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.



Betul. Pembaca sudah paham. Bahwa sejumlah negara sekutu Amerika Serikat di NATO, memberikan respon beragam, dan cenderung menjaga jarak dengan sikap politik luar negeri Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, atau konflik dengan Iran kali ini. Ada yang menolak pangkalan militernya digunakan sebagai basis penyerangan ke Iran, dan ada pula yang menolak terlibat dalam pemblokadean Selat Hormuz.

Kamis, 16 April 2026

Memperhatikan perang, yang terjadi dalam dua bulan terakhir ini, antara Iran dan Israel-Amerika Serikat, memberikan godaan pemikiran terhadap kita semua. Khususnya bangsa Indonesia. Dari pengalaman itu, apa dan bagaimana, strategi pembangunan Indonesia ke depan ?


Pertanyaan ini, rasanya, menjadi sangat penting dan mendesak. Dengan maksud dan harapan, bangsa Indonesia, tidak boleh terlena, dan terninabobokan oleh kondisi,  sehingga, tidak mampu membaca zaman, dan mengantisipasi zaman.

Rabu, 15 April 2026

Di tahun 2013, kita pernah membicakan dua arah keberpihakan Indonesia. Saat itu, Pemerintah, seakan memiliki kecondongan pada upaya membangun afiliasi pembangunan dan politik gaya Indo-China. Naga-naganya, sangat sederhana. Dikit-dikit China. Dikit-dikit China, Pemerintah diduga oleh publik deketan dengan China.



Sejak Prabowo naik ke kursi kekuasaan, angin pergerakan afiliasi ini, kental dengan aura Amerika Serikatnya. Setidaknya, saat konflik Iran-Israel mengemuka, Prabowo masuk dalam lingkaran BoP (Board of Peace), pimpinan Donald Trump, dan beberapa hari kemudian, meletus perang Israel dibantu AS, dengan Iran.

Selasa, 14 April 2026

Apa yang lebih penting dari mendengar kritik ? 

Mendengar kritik itu bagus, tetapi yang lebih penting dari itu, adalah menyimak kritikan. Keterampilan yang terakhir ini, yakni menyimak kritikan, tidak bisa dilakukan sepintasan, dan tidak bisa dilakukan tanpa latihan. Seseorang yang tidak memiliki jam terbang menyimak kritikan, cenderung merespon sebuah kritikan dengan pendekatan reaktif, dan hal itu, dan sikap itu cenderung subjektif, bahkan, tidak memberikan dampak yang berarti bagi dirinya.


Dalam kehidupan di dunia ini, kita akan dihadapkan dengan banyak orang, banyak kepala, dan banyak pemikiran.  Pengalaman yang beragam dalam kehidupan ini, akan memberikan asupan informasi dan pematangan yang berbeda dan pada ujungnya, akan membentuk karakter pada seseorang secara khas.

Senin, 13 April 2026

Obrolan ini, sesungguhnya, sekedar obrolan kecil. Di ruang pimpinan sekolah. Membincangkan hal yang sama, serupa, seperti hari-hari lalu. Tidak jauh, dari masalah pendidikan, pembelajaran, atau pembinaan peserta didik. Karena itu, hampir bisa dipastikan, tidak ada sesuatu yang aneh, atau baru. Andaipun ada yang baru, sekedar nama oknumnya saja, masalahnya masih tetap serupa, yakni menyangkut ketiga hal tadi.


Termasuk obrolan hari itu, di tempat itu. Obrolannya tidak jauh dari ketiga masalah itu. Namun, beberapa saat kemudian, muncul pertanyaan yang unik. "bagaimana, formasi kabinet satuan pendidikan, akankah untuk tahun ini berubah ?"

Minggu, 12 April 2026

 Dua tahun sebelumnya, heboh sebuah pemberitaan politik. Ringkasan berita itu, kira-kira demikian, anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR dari Fraksi NasDem, Muslim Ayub, mengusulkan agar Pemilu digelar 10 tahun sekali, bukan 5 tahun. Usul pribadi ini didasari tingginya biaya politik (hingga Rp20 M) dan hutang kampanye, bertujuan memberi waktu bagi anggota legislatif mengembalikan modal. Usulan ini disampaikan dalam rapat Baleg, 30/10/2024, dan mendapat dukungan dari anggota Gerindra, Darori Wonodipuro.


Menyimak usulan itu, dan kemudian mencermati komentar netizen sejagat, ide dan usulan itu, seakan membongkar praktek dibalik sikap politiknya selama ini. Bisa dibayangkan, seorang calon anggota legislatif, bsia menghabiskan biaya kampanya sebesar IDR 20 M. Buat apa, kepada siapa, dan kapan dilakukannya ?

Sabtu, 11 April 2026

Pendidikan Indonesia tertinggal 128 tahun dari negara maju berdasarkan hasil pendidikan Harvard University, Lant Pritchett. Tentu ini bukan untuk mendegradasi optimisme bangsa, tapi sebuah refleksi pendidikan kita tidak sedang baik-baik saja.



Pernyataan ini, menguat dan menjadi salah satu berita yang viral di tengah masyarakat. Terkhusus lagi, di lingkungan dunia pendidikan. Walau agak tertinggal, namun, saya pun, termasuk orang yang dikagetkan dibuatnya.

Mengapa kaget ?

Jumat, 10 April 2026

"Tuh, Kan, Begitulah Israel !

Bukan kali pertama. Israel melakukan tindakan, yang menggaduhkan politik dunia. Tindakan penyerangan kali ini, tentu saja, bukan untuk yang pertama kalinya, dan juga bukan hal yang aneh. Begitulah, sikap dan tindakan politik Israel. ..."Kira-kira demikianlah, ucapan dari kelompok lawan politik Israel.


Tentu saja, saya akan setuju, bila kemudian, ada pandangan bahwa sikap terhadap tindakan Israel ini, akan membelah menjadi tiga kelompok. Satu kelompok mendukungnya, satu kelompok menolaknya, dan satu kelompok tak berpendapat, karena alasan tertentu.

Nah, bila demikian adanya, apa pemahaman kita, dan sikap kita terhadap tindakan Israel tersebut? akankah, kita memberikan dukungan, atau kritikan terhadap sikap dan tindakan Israel itu sendiri ?

Kamis, 09 April 2026

Selepas ada perjanjian Iran dan Amerika Serikat, kita melihat ada drama-global lainnya. Drama politik itu, dimainkan oleh Israel di satu sisi, dan pemain figuran lainnya di sisi lain. Pemain figuran itu, tentunya adalah Amerika Serikat. Pemain figuran itu, biasa disebut orang sebagai aktor yang memainkan peran pembantu.



Kesimpulan ini, terlalu menyederhanakan, dan disederhanakan. Tetapi, kita semua, publik, atau setidaknya, sebagai pembaca media sosial, dapat melakukan kajian kritis terhadap kesimpulan tersebut. Kebenaran terhadap pernyataan itu, dapat diuji realitas dan rasionalitasnya, secara bersama-sama.

Rabu, 08 April 2026

Berita menarik dalam dua hari terakhir ini, tampaknya bukan masalah gencatan senjatanya. Karena masalah gencatan senjata antara Amerika Serikat dengan Iran itu,  lebih mudah dipahami, dibanding masalah lainnya.  Kebutuhan dan harapan besar dunia itu, tidak pada masalah gencatan senjata itu sendiri, tetapi pada leganya nafas perdagangan minyak dunia.


Itu saja !

Kesimpulan ini, penting untuk dinarasikan. Sehingga, dunia, khususnya, kita yang berada di luar wilayah konflik memiliki pemahaman yang antisipatif terhadap realitas kehidupan kita hari ini.

Selasa, 07 April 2026

Tidak secara sengaja, pagi ini, membaca buku terjemahan dengan judul Seni Perang Sun Tzu. Buku itu ditulisnya oleh James Clavel. Buku klasik, terjemahan jadul.  Tetapi menarik untuk dikaji ulang, dan bahkan menurut sebagian pengamat, dan penelaah kepustakaan,  seni Perang Sun Tzu ini, masuk kategori karya legend di kelasnya.

Masa Iya sih?

Setiap orang dapat melakukan telaahan, baik kepustakaan, atau perbandingan, sehingga dapat membedakan kualitas kajian satu pemikir dengan pemikir lainnya.  Dalam hal ini, saya sendiri, melihat, bahwa kelayakan dan kepatutan buku sebagai legend, dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.



Pertama, tentu saja, buku yang ditulis dua setengah abad yang lalu, dan masih menarik untuk dibaca, adalah satu indikator penting dalam menilai kualitas pokok pikirannya. Tidak bisa diragukan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa penulisnya, dengan kecerdasan yang dimilikinya, mampu menuangkan gagasan dengan presisi dan memberikan makna yang  luar biasa, sehingga bisa relevan dengan kondisi zaman, di setiap zamannya.

Senin, 06 April 2026

 Apakah pernyataan ini, termasuk kategori sikap prematur ? 


Bisa jadi, tidak. Walaupun akhir dari peperangan antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat belum berakhir, namun, kemampuan Iran sampai hari ini, dapat dijadikan inspirasi dan sumber belajar bagi bangsa kita. Menurut penulis, tentunya, sudah bisa. Bisa dijadikan sumber bahan belajar.

Lha, bukankah, negeri Iran itu adalah Islam Syi'ah ?

Minggu, 05 April 2026

 Untuk memperjelas prosesi perkembangan ini, secara singkatnya, dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Adalah karakter (atau juga fase peradaban manusia awal), dimana kehidupan manusia masih di dominasi alam. Alam, masih banyak memberikan pengaruh pada budaya manusia. Dalam kajian geografi biasanya disebut dengan istilah fisis feterminisme.

2. Fase atau karakter kedua yaitu possibilisme (relasional). Antara manusia dan alam dengan saling mempengaruhi. Pengaruh kedua unsur ini akan muncul sesuai dengan konteksnya. Sulit memang untuk mengetahui besarnya sumbangan dari setiap unsur geosfera tersebut. Tetapi, pengaruh teknologi yang dimiliki oleh manusia akan turut membantu untuk menjadi indikator possibilitasnya tahap ini.



3. Tahap kematangan manusia, yang mampu mempengaruhi alam. Manusia mampu memilah dan memilih  peluang. Teori ini disebut juga dengan teori probabilisme.

4. Tahap keempat, yaitu determinisme teknologi. Kategori ini, bukanlah  manusia yang telah mendominasi alam, melainkan teknologi.  Armahedi Mahzar, menyebutnya dengan istilah “paraorganisme” (supra organisme). Yakni satu karakter teknologi yang mampu mengendalikan “psikologis manusia” dan kepribadian manusia, bahkan sekaligus pula menyeleksi manusia. Perhatikanlah kasus munculnya komputer. Atau teknologi Klonning.

Dalam kajian teknologi klonning, manusia bukanlah sesuatu hal yang menjadi hak otonomi Tuhan dalam mengaturnya, baik itu jumlah bayi yang terlahirkan atau pun kapan terlahirnya, termasuk jenis kelaminnya. Bahkan, lebih jauh dari itu, teknologi klonning ini mampu menjanjikan optimismenya ilmuwan untuk mampu merekayasa makhluk hidup “sesuai dengan rencana” para ilmuwan itu sendiri. Sisi ini, sudah mulai menggambarkan bahwa teknologi mampu menjadi titik selektor bagi kehidupan.

Sabtu, 04 April 2026

 Secara formal dalam KTSP (2004), khusus untuk tingkat SMA/MA, ditetapkan bahwa standar ketuntasan belajar Geografi itu, bila siswa memiliki kemampuan dalam (1) Memahami hakikat, objek, ruang lingkup, struktur, dan pendekatan Geografi, (2) Mempraktekkan keterampilan dasar peta dan memanfaatkannya dalam mengkaji geosfer, (3) Memahami pemanfaatan citra dan SIG sebagai wahana memvisualkan geosfer, (4)  Menganalisis dinamika dan kecenderungan perubahan unsur-unsur geosfer serta dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi, (5) Memahami pola dan aturan tata surya dan jagad raya dalam kaitannya dengan kehidupan di muka bumi, (6) Memahami sumber daya alam dan pemanfaatannya secara arif, (7) Menganalisis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan, (8) Menganalisis konsep wilayah dan pewilayahan dalam kaitannya dengan perencanaan pembangunan wilayah, pedesaan dan perkotaan, serta negara maju dan berkembang.


Suharyono (2000, dalam Mamat Ruhimat, 2009) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran geografi adalah (a) mengembangkan cara berfikir untuk dapat melihat dan memahami relasi dan interaksi gejala-gejala fisik maupun sosial dalam konteks keruangan, (2) menumbuhkan pengenalan dan cinta tanah air, serta menanamkan rasa cinta dan hormat pada sesama manusia, (3) memberikan kemampuan untuk membudayakan alam sekitar serta menanamkan kesadaran akan keharusan dan berusaha untuk dapat menikmati atau memanfaatkan alam sekitar, (4) mengembangkan keterampilan untuk melakakukan pengamatan, mencatatan, interpretasi, analisis, klasifikasi, dan mengevaluasi gejala-gejala alam dan sosial, (5) memupuk keterampilan deskripsi dan membuat peta, (6)  memupuk keterampilan membuat komputasi wilayah, (7) memupuk kesadaran ekologi, (8) menanamkan pengertian tentang potensi lingkungan dan kemungkinan usaha yang ada serta mengembangkan pandangan luas dan cita-cita yang rasional dalam memilih dan mengkreasikan lapangan kerja.

Jumat, 03 April 2026

Setelah menelaah problema kritis di atas, kita akan mencoba untuk melihat perkembangan pemikiran kegeografian, khususnya mengenai  hakikat kegeografian yang kita jelaskan di awal tulisan ini, dan kita tidak akan melihat perkembangan teorinya. Untuk mengakaji masalah yang terakhir ini, pembaca dapat menelaahnya tulisan Nathanael Daldjeoni mengenai “Perkembangan Filsafat geografi”. Buku tersebut, bermanfaat bagi kita untuk dijadikan pengantar dalam memahami tonggak-tonggak pemikiran kegeografian dari Herodotus sampai Hagget bahkan pemikiran kegeografi tahun 1970-an di abad 20-an sekarang ini.



Dengan tidak bermaksud untuk memotong bahasan, saat ini, kita hanyalah memfokuskan pada perkembangan akhir geografi dan tuntutan kontemporer pada disiplin ilmu geografi. Kenyataan ini, memang telah disadari sebagai salah satu kelemahan paper kita sekarang ini. Namun, hal tersebut itulah yang  penulis anggap sebagai satu problema penting di saat ini, sekaligus juga problema yang penulis lebih pahami dan mampu ditampilkan  pada kesempatan saat ini dibandingkan yang lainnya. Kendatipun begitu, bukan berati ketidakterbahasannya problema tersebut di atas, merupakan sabagai cacat-konsepsi, malahan penulis merasa yakin bahwa strategi ini adalah satu upaya yang strategis dalam menjawab beberapa tuntutan dan tantangan jaman hari ini. Sekaligus juga supaya menjadi bahasan yang berkelanjutan dan berkesinambungan  dengan tema-tema pemikiran berikutnya.

Kamis, 02 April 2026

Bila mencermati narasi yang muncul di media massa, tampaknya ada dua kategori narasi yang muncul. Narasi itu, memiliki intensitas yang berbeda, dengan aktor yang berbeda. Narasi itu, antara Iran dan Amerika Serikat, dan Iran dengan Israel. Kedua narasi itu, sejatinya, akan memiliki dua karakter dan implikasi yang berbeda.


Dua tema ini, menarik untuk dikaji secara cermat. Khususnya, membedakan antara yang terjadi dilapangan dengan yang terjadi di media massa. 

Rabu, 01 April 2026

Pertanyaan skeptis, yang biasa dan bisa dilontarkan, saat kita membincangkan masalah agenda perdamaian. Perdamaian antara Iran dengan Amerika Serikat/Israel.


Pertanyaan ini, penting untuk disampaikan. Karena narasi yang muncul di permukaan, khususnya di media Indonesia, pembicaraan perdamaian itu, tampaknya hanya dua arah, yaitu Amerika Serikat dengan Iran. Atau lebih tepatnya, narasi yang disampaikan Donald Trump dengan juru bicara Iran. Sementara, Pemerintah Israel tidak atau belum memberikan pernyataan yang mengarah pada kebutuhan untuk masuk ke meja perundingan.