Just another free Blogger theme

Sabtu, 02 Mei 2026

Sebagaimana yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa perasaan yang ada itu, adalah adanya ancaman kegagalan hidup. Perasaan itu, hinggap dalam diri seseorang, saat sedang melakukan perjalanan, menuju sebuah cita yang diharapkan.



Pengalaman emosional, jelas bukan sebuah kegagalan, tetapi ada ancaman kegagalan. Perasaan sudah gagal, dikala pertandingan belum usai, sejatinya lebih merupakan sebuah keputus-asaan. Padahal kita semua tahu, sebuah pertandingan itu, memiliki waktu. Waktunya itu, sudah ditentukan. Hasil akhir itu, bukan diawal pertandingan, atau ditengah pertandingan.  Hasil dari sebuah pertandingan itu, adalah peluit akhir waktu sudah berbunyi.

Bagi yang suka menyaksikan sepakbola, tentu sudah paham dengan penjelasan itu. Waktu tanding itu adalah 2x45 menit. Itu pun adalah normal. Normal waktu. Setiap pemain akan menjalani pertandingan selama itu.

Bila di tengah  pertandingan, tim kita sudah kemasukan goal lebih dari satu, sebut saja, misalnya 2 goal, maka perasaan kita sudah mulai goyah. Seperti yang dirasakan Bobotoh, saat Persib bertandang ke Bhayangkara FC, di minggu lalu. Dalam kurun kurang dari 30 menit, sudah tertinggal 2 goal. 

Bagi yang menyaksikan, tentu sangat menyesakkan. Bagi sang penonton lawan, sangat membanggakan. Situasi itu, membuncah dalam jiwa. Para pendukungnya memiliki rasa dan perasaan yang unik, saat menyaksikan situasi serupa itu.

Lantas, apa yang dirasakan seorang pemain ?

Di sinilah, yang disebut dengan mental. Mental bertanding. Mental kuasa dan berusaha. Orang yang menyebutnya mental juara, tetapi hal yang penting mental berusaha, dan tidak langsung putus asa.

Bila saja, dalam situasi itu, sudah ada perasaan gagal dalam diri seorang pemain, dan kemudia menghantuinya, akan memberikan dampak nyata, baik kepada pikiran, emosi dan juga fisiknya. Perasaan mulai melelah, pikiran tidak fokus, dan juga tenaga, seakan-akan langsung turun dang nge-drop. 

Bila kondisi itu, dibiarkan dan bahkan menguasa tubuh sang pemain,  sehingga mendorongnya tidak berusaha untuk bertahan dan memperbaikinyan, padahal waktu pertandingan masih panjang, maka tentu hal itu, menunjukkan bahwa mental juara kita belum hadir, dan jiwa putus asa, masih mengendap. 

Di sinilah, bahayanya. Siapapun kita, apakah kita berprofesi sebagai  pemain bola, pemain basket, pelajar, orang tua, guru, atau apapun status sosial kita. Semua status sosial yang kita sandang hari ini, adalah status sebagai pemain, dalam sebuah pertandingan. Lapangan tandingnya, tentu saja, ada di arena pertandingan sosialnya masing-masing.

Sejumlah masalah dan kesalahan, dan atau ancaman yang hadir saat  itu, bukan sebuah indikasi kegagalan. Semua itu adalah ancaman yang menguji pada mentalitas kejuangan dan perjuangan dalam mengikuti irama permaian.  Seorang guru, tengah bertanding di arena pendidikan. Jika melihat, anak didiknya belum disiplin, malas belajar, atau malah melawan sang guru, maka mentalitas juara dari sang guru sedang diuji. Sekali lagi, bila kemudian dia pasrah, "ah, sudahlah, biarin aja, anak orang lain inih, biarin aja nakal juga." ungkapnya, sambil meninggalkan arena pendidikan itu, maka si guru tersebut, bukanlah pendidik bermental juara ! 

Seperti yang diketahui bersama, permainan Persib-Bhayangkara masih terus berjalan, sampai akhir waktu pertandingan. Hasil akhirnya, publik sudah tahu, pertandingan itu, dimenangkan Tim Persib dengan skor 4-2. Hasil yang sangat luar biasa, dan buah dari kemampuan bertahan dan semangat juang, walau sudah mengalami kegagalan di awal pertandingan.

Waktu pertandingan itu, formalnya 2x45 menit. tetapi, kita semua pun, paham, bila ada berbagai kendala dan halangan nonteknis, maka perpanjang waktu ke injury time, bisa diberikan dalma waktu pertandingan. Waktu tambahan itu, kadang 3 menit, 5 menit, bahkan ada juga yang sampai 10 menit. Kemenangan di awal pertandingan, tidak menjadi garansi akan menjadi sebuah kemenangan di akhir tanding, karena waktu injury time masih panjang.  

Bencana, bahkan kerap kali terjadi, di masa-masa babak tambahan atau waktu tambahan tersebut !

Kalau kegagalan atau kecolongan di masa waktu tambahan, maka itulah, bencana mulai menghampiri.

Maka karena itu, perjuangan harus terus dilakukan, kendati waktu hanya tinggal satu menit saja. Karena uniknya, waktu pertandingan itu, bisa jadi, masih bisa menghargai proses perjalanan usaha yang dilakukan seorang pemain.

Perhatikan dengan seksama, seorang pemain basket. Dia tahu, waktu tinggal 2 detik lagi. Maka karena itu, dia langsung lempar bola dari jarak jauh, melengkung ke atas, sehingga waktu perjalanan 2 detik itu, diisi oleh perjalanan bola di udara. Bola sudah l epas dari tangan  pemain, dan kemudian melesat keudara, kemudian masuk ke dalam ring. Itulah yang disebut buzzer beater.

Bila kemudian, bola itu masuk dalam keranjang, dan waktu sudah menentukan lewat dari keharuannya, maka masuknya bola ke dalam kerangjang itu, masih tetap dihitung sebagai nilai. dan itulah perjuangan titik darah penghabisan.

Karena itu, manfaatkan waktu yang ada dan tersisa, karena apa yang terjadi hari ini, belum jadi sebuah kegagalan, baru ancaman kegagalan. tetapi, bila ancaman kegagalan di terngah perjalanan itu, sudah dianggap kegagalan, maka yang ada itu, sejatinya bukan kegagalan, tetapi putus asa dalam menghadapi kenyataan.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar