Saat kita melakukan perjalanan, hadirlah kelelahan dalam diri ini. Keringat bercucuran, kebugaran menurun, nafas terengah-engah bahkan seakan terasa hendak berhenti. Dalam pikiran dan benak, bukanlah kunang-kunang yang mungil, namun bintang-gemintangan, seakan turun dan runtuh ke dalam tubuh.
Agh....membuncang sudah, perasaan, pikiran dan lemahnya tenaga dalam tubuh. Rasanya, ingin berhenti, dan duduk terkulai, bahkan, terbaring sudah di tengah perjalanan, entah dimana posisinya. Tak tahu sudah. Hal penting, adalah berhenti, dan tidak ingin melakukan perjalanan lagi.
Perasaan inilah yang kini dirasakan. Mungkin orang lain pun, pernah merasakannya, atau, jangan-jangan hanya sayalah yang merasakan hal serupa ini, saat tengah melakukan perjalanan.
Perjalanan yang dimaksud, boleh jadi, hiking ke gunung, ke pantai, atau ke kebun yang terjalan. Semua itu, adalah perjalanan fisik. Tetapi, ada juga perjalanan sosial, yakni proses membantu orang, mendidik, melayani masyarakat, dan lain sebagainya. Semua itu, adalah perjalanan hidup, atau sebuah aktivitas yang akan membutuhkan proses berkelanjutan, dan berkepanjangan.
Ada juga yang menjadi sebuah perjalanan emosional. Seseorang yang sedang belajar membaca, akan merasakan beban berat seperti diawal tulisan. Seseorang yang sedang melatih diri untuk berenang, pun demikian adanya. Kadangkala, kelelahan dan kefrustasian hadir di tengah perjalanan.
Sepasang suami istri, yang dihari perkawinan penuh dengan sukacita, dibersamai dengan impian indah setinggi langit, bisa jadi di tengah perjalanan merasakan, sebuah kelelahan. Lelah melayani suami, dengan kebutuhan biologis dan emosionalnya, yang kadang tidak tertahankan. Sedangkan sang suami, lelah menghadapi istrinya, yang tiap hari mengeluhkan dan mengomel mengenai kebutuhan dirinya, dan keluarganya. Di tengah perjalanan itu, kelelahan, nafas perjalanan keluarga terengah-engah, dan pusing delapanpuluh keliling hadir di setiap saatnya.
Bila sudah demikian adanya, satu diantara sekian pertanyaan akan muncul dalam benak seorang pejalan itu. Akan berlanjut terus menghadapi kenyataan ? ataukah berhenti di tengah jalan ? apakh ini adalah sebuah kegagalan, atau sebuah ancaman kegagalan ?
Sejatinya, bila kita ada waktu dan mau bertanya kepada panitia kegiatan, eh panitia kehidupan, tentu jawabannya sudah ada realistis.
"Ayo, kalian belujm gagal, masih ada waktu, untuk terus meraih garis finis kehidupan..."
Lha, memang apa yang dimaksud kegagalan ?
Para panitia mengatakan, boleh saja, kita mengartikan kegagalan itu, adalah ketidakmampuan kita dalam berjalan menuju finis kehidupan. Terserah, apapun nama garis akhir perjalanan itu, apakah keluarga sakinah, karir, wisuda pendidikan, atau masuk surga sekalipun. Semua itu, adalah contoh dan keragaman garis finish dalam perjalanan hidup. Dengan kata lain bila gagal, atau kita berhenti dalam upaya mencapai garis akhir perjalanan itu, maka boleh disebut sebagai sebuah kegagalan.
Lantas, bagaimana status perjalanan kita, bila kita merasakan hal-hal seperti yang dirasakan hari ini ?
Sang Panitia, mengatakan, "jangan bilang kegagalan, karena kita semua masih ada dalam perjalanan. Perjalanan menuju akhir kehidupan. Semua orang masih seperti itu. Sepanjang, masih ada nafas kendati tersendat-sendat, sepanjang masih ada gerak langkah yang kaki kita ajukan, maka perjalanan masih berproses, dan bukan sebuah kegagalan...".
Tapi, bagaimana, dengan semua perasaan yang ada saat itu ?
Perasaan itu, adalah subjektif. Menurunnya kebugaran dan kelelahan bisa jadi objektif dan ril. Tetapi, semangat yang ada dalam diri kita, adalah hasil olahan pikiran, dan perasaan kita. Istirahat saja sejenak, dan renungkan langkah strategis untuk merancang langkah selanjutnya, adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan bersama.
Kelelahan dan menurunnya motivasi adalah ancaman, bahkan bisa jadi, sebuah godaan yang bisa menghantarkan kegagalan, tetapi bukan kegagalan itu sendiri.
Nah, bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar