Just another free Blogger theme

Senin, 04 Mei 2026

Sejatinya, cukup banyak informasi yang bisa digunakan untuk menjadi bahan informasi bagi kita. Salah satu, informasi yang bisa digunakan itu, adalah informasi hidup dan kehidupan kita di keluarga.


Setiap orang, tentu sudah punya pengalaman memiliki keluarga. Baik sebagai  anak, kepala keluarga, atau salah satu anggota keluarga. Orang jomblo adalah ketidakberkeluargaan diri sebagai kepala atau ibu rumahtangga, tetapi  dirinya sendiri secara sosial pernah mengalami sebagai anggota keluarga. Karena itu, setiap orang, pasti pernah menjadi anggota keluarga.

Salah satu pengalaman menjadi anggota keluarga itu, adalah berinteraksi dengan adik kecil kita yang masih bayi, kakak, paman, bibi, orangtua, dan juga nenek atau kakek. Satu diantara sekian anggota keluarga itu, adalah anggota atau pihak keluarga, yang pernah berinteraksi dengan kita.

Masih ingatkah kita, kalau berbicara atau berbicang dengan mereka semua ?

Tidak banyak yang diingat. Tidak masalah. Kita beruntung, memiliki otak dan ingatan yang terbatas. Sebab, kalau ingatan kita kuat, dan bisa mengingat semua hal yang pernah terlihat, terdengar, terucapkan atau terjalani, maka tentu akan membuat beban mental, beban pikiran dan beban psikologis sendiri. Kita bakal dipusingkan oleh informasi sampah yang numpuk di pikiran, padahal sudah tiada guna lagi.

Kendati banyak yang terlupakan, tapi secara umum, ada yang masih teringat, dan atau malah diingat. Misalnya, di hari-hari istimea, baik lebaran, natalan, tahun baruan, atau hari ulangtahun, muncul sosok kakek dan nenek yang tercitrakan sebagai pribadi yang bijak dan sangat  peduli kepada kita. Ucapan kakek-nenek kita itu, sangat bijak dan menyejukkan, bahkan sangat memanjakan kita. Ucapannya, bukan saja, keluar sebagai kata-kata, tetapi tampil dalam sikap dan perbuatannya. Hampir dipastikan, banyak cucu-cicit yang mendambakan kehadiran Kakek Nenak yang ceria dan menyayangi.

Sosok ini, kita sebutnya, sebagai pribadi yang sudah matang, dan memiliki kemampuan menampilkan ucapan dan kata-kata, dalam sikap dan perilakunya. Dampaknya, mampu menghadirkan kekharismaan dihadapan orang lain. Dalam konteks kebangsaan, bisa jadi, kelompok ini, adalah pribadi yan sudah banyak makan asam garam, dan tampil bijak sebagai pendeta (mandeg pandito).

Kita, bangsa Indonesia, pernah memiliki sosok serupa ini. Selain ada sejumlah pahlawan nasional, untuk sekedar menyebutkan contoh, kita memiliki BJ Habibie, Nurcholish Madjid, Gus Dur, Baharudin Lopa, dan masih banyak lagi. Mereka adalah tokoh bangsa, yang mampu menampilkan diri sebagai figur berkharisma dan teladan bagi masyarakat Indonesia. 

Sosok kedua, yang kerap berinteraksi dengan kita, adalah orangtua kita. Mereka berdua adalah orang baik. Tentu.  Banyak yang memiliki pemahaman seperti ini. Khusus bagi mereka yang mengalami masalah dengan orangtua, akan berpikiran terbalik dengan hal itu. Tetapi, umumnya, orang akan memberikan apresiasi positif terhadap kedua orangtuanya.

Perbedaan dengan Kakek-Nenek, orangtua tampil dengan pandangan yang rasional dan realisti. Bila saja, kita berharap akan sesuatu hal, maka orangtua, akan berusaha untuk memberikan tantangan argumentasi dan alasannya. Bila saja, argumentasi kita lemah, dan tidak ada alasan yang meyakinkan, maka permohonan kita akan ditolak.

Kisah dan pengalaman itu, kerap kali berbeda dengan Kakek-Nenek, yang kerap kali lebih mengedepankan emosi dan empatinya.  Kakek-Nenek itu, baik bangeeett. Tetapi, kalau meminta sesuatu ke orangtua, harus saja, ada alasan kuat, dan kerap kali harus berdebat dulu. Ya itulah, orangtua yang kerap realistis dan rasional.

Sekali lagi, dalam konteks kebangsaan ini, kelompok yang kerap berpikir realistis dan rasional ini, adalah mereka  yang masih berkuasa. Dengan kekuatan dan kewenangan yang dimilikinya, mereka mengeluarkan kebijakan dengan kalkulasi yang mereka pahami. Rakyat yang berkebutuhan atau memiliki kepentingan, akan dihadapkan pada argumentasi kebijakan yang dimiliki penguasa itu sendiri.

Kalau kakak kita, kadang jadi provokator, dan kadang juga cuek. Kalau ada kepentingannya, kerap kali memanfaatkan sikap kita, untuk menjadi aktor dalam memperjuangkan hak dan kepentingannya, dihadapan orangtua. Pun demikian, kalau ada kakek-nenek. Tetapi, kalau soal ke Kakek-Nenek, sang kakak, kadang masih berani untuk melakukannya sendiri. 

Selain ada yang menjadi provokator, ada pula kakak yang cuek, tidak peduli dengan kepentingan kita. Ucapannya, kadang mengiyakan, tetapi tidak memberikan bantuan. Itulah dia. Cuek bebek....Untuk kelompok ini, dapat kita cari bersama dalam kehidupan harian kita.

Nah, persoalan lain ada pada adik kita yang masih kecil, atau balita. Mereka baru belajar bicara. Berbeda dengan diri kita, atau yang lainnya. Pembicaraan kita, sarat dengan kepentingan. Pembicaraan orangtua, dimuati oleh analisis akan kemampuan. Sedangkan  Pembicaraan Kakek-Nekek, diselimuti oleh kebijakan dan pengabdian.

Karakter pembicaraan dan ucapan adik kita, yang masih bayi, adalah permainan kosa kata, tanpa dibebani oleh pemaknaan, dan refleksinya dalam kehidupan harian. Adik kita, bisa bicara, apapun dikatakannya, tanpa dibebani dengan kepentingan untuk mewujudkannya.

Dalam konteks inilah, dimanakah posisi kita ? apakah kita adalah generasi anak-anak, yang baru bisa ngomong doang, tanpa ada kemampuan untuk merealisasikannya ? apakah kita adalah generasi anak-anak yang belum matang dalam bertutur dan berpikir sehingga dikenali sebagai generasi cuap-cuap ?

Bagaimana menurut pembaca ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar