Just another free Blogger theme

Kamis, 03 September 2026

Angka sering kali diidentikkan dengan kebenaran mutlak. Di ruang-ruang kelas, laboratorium, hingga buku teks sains, deretan angka berdiri sebagai saksi bisu objektivitas. Ketika seseorang berkata, “Data tidak pernah berbohong,” kita cenderung langsung mengangguk setuju. Angka dianggap sebagai cerminan paling murni dari realitas tanpa bias emosi.



Namun, keyakinan naif ini mulai goyah ketika kita bergeser dari laboratorium sains murni ke arena politik dan kebijakan publik. Di tangan para elite, birokrat, dan juru kampanye, statistik tidak lagi duduk tenang sebagai alat ukur yang dingin. Ia telah bertransformasi menjadi komoditas politik—sebuah instrumen tawar-menawar, alat pukul lawan, sekaligus kosmetik ampuh untuk mempercantik citra kekuasaan.