Di media sosial, khusus kalangan GenZ, lagi viral lagu dengan judul Siti Mawarni. Viralitasnya, bukan saja karena enak di dengar, tetapi juga mengundang kekaguman dari ragam pihak terkait pesan yang hendak disampaikan kepada pendengar, atau peniikmat musiknya.
Dengan pesan yang nyata, dan jelas, serta tegas. Ditujukan kepada pemerintah, dan ajakan kepada publik, untuk melakukan satu gerakan sosial dalam menentang dan memberantas perdagangan narkoba, khususnya di Labuhan Batu, Sumatera Utara.
Tentu saja, bagi kita, yang jauh dari hiruk pikuk fenomena itu, bertanya-tanya terkait gejala dimaksud. Namun, dengan kasus serupa itu, dan juga ragam ulasan yang muncul ke permukaan itu, setidaknya ada beberapa point penting yang perlu dicermati dengan seksama.
Pertama, publik hendaknya terus kritis. Khusus untuk urusan Sumatera Utara ini, dalam dua bulan terakhir ini, menjadi pemberitaan menarik di media massa. Sebelumnya, kita menemukan berita, pernyataan Kementerian Dalam Negeri, Tito Karnavian, mengatakan SUMUT adalah Semua Urusan Mengenai Uang Tunai.Pernyataan itu, bukan sekedar guyonan. Pernyataan itu, hendaknya dijadikan bagian penting dari sebuah kritik, terhadap kinerja pemerintah dan juga budaya birokrasi di lingkungan Pemerintahan. Fenomena "SUMUT" itu, selain memberikan iklim investasi yang buruk, pun, akan menjadi preseden buruk dalam membangun kinerja pemerintahan di masa yang akan datang.
Kedua, melalui lagu Siti Mawarni ini, publik disadarkan terkait kinerja kepolisian atau penegakkan hukum. Masalah narkoba pun, tidak jauh dari masalah uang tunai. Pendapatan yang bisa menggiurkan, atau istilah Siti Mawarni-nya itu, bisa menjadi kaya raya, bukan hal mustahil menarik hasrat-penguasa konyol untuk menjadi back-up bisnis narkoba ini. Tentu saja, seperti yang diungkapkan Tito Karnavian, semua urusan mengenai uang tunai, atau bahasa di lapangannya yaitu setoran.
Ketiga, dengan viralnya Siti Mawarnai menunjukkan kegelisahan publik sudah pada titik puncak. Kegelisahan ini, menunjukkan kegelisahan yang kompleks. Satu sisi, gelisah karena bisnis ini sudah menjadi wabah di masyarakat, dan menyebabkan kerusakan moralitas serta ekonomi masyarakat. Pada sisi lainnya, kegelisahan dan geramnya publik, karena pemerintah tidak melakukan tindakan nyata.
Viralnya Siti Mawarni, bukan sekedar publik berani melakukan kritik sosial kepada realitas sosial, tetapi berani mengungkapkan secara terbuka, kepada publik. Releasenya Siti Mawarni menunjukkan keberanian publik dalam membuat kreasi seni dengan nada kritik sosial.
Publik tentunya paham, selain Siti Mawarni, ada pula channel GItaris Gadungan, yang membuat sejumlah lagu kritik sosial yang aktual dan faktual. Penciptanya, bukan saja peka tehadap masalah sosial, melainkan juga berani menunjukkan kritik terbuka secara kreatif terhadap lingkungan yang ada sekarang ini.
Keempat, memang belum ada pengalaman empirik, gerakan sosial bisa berawal dari sebuah lagu. Walaupun lagu dan grup musik, dapat memobilisasi massa untuk bisa bergerak secara politis. Namun, pengalaman historik kita, terkait hal ini, sangat terbatas. Dengan kata lain, apakah dengan viralnya Siti Mawarni ini, akan menjadi momen gerakan sosial di masyarakat, terkait pemberantasan penyakit sosial ini ?
Semoga demikian. Setidaknya, semoga dengan Viral Siti Mawarni ini, membangunkan kesadaran aparat, untuk keluar dan bergerak melakukan tindakan nyata, dalam melawan mafia perdagangan narkoba ini.
Bagaimana menurut pembaca ...


0 comments:
Posting Komentar