Kisah ini, adalah fakta. Tidak bisa diingkari, dan itu adalah objektif. Bahwa, terdapat informasi faktual, empirik serta objektif dalam temuan sains, bahwa faktanya tunggal, namun interpretasi yang dikembangkan, dan terpahami oleh manusia, beragam, malah bisa bertolak belakang.
Bagaimana mengatasi masalah serupa ini ?
Jawabannya, adalah 'terus melakukan kajian, sehingga menemukan teori yang mampu secara konsisten menjelaskan fenomena dimaksud!" itu saja. Dan itulah tekad, sainstis atau ilmuwan kita hari ini.
Untuk mengenalkan beberapa fenomena dimaksud, dan terus untuk melakukan kajian lanjutan, ada baiknya kita mengenali beberapa kasus berikut, yang sudah banyak dikenali dalam dunia ilmiah.
Pertama, teori yang dikenal dan terkenal adalah teori Bing Bang (Ledakan Besar). Alam semesta ini, hampir empat belas milyar tahun yang lalu, segala ruang, dan zat, dan energi itu berada dalam satu titik dengan ukuran seperteliun, lebih kecil dari titik yang ada dalam akhir kalimat ini. Itulah ungkapan Neil deGreis Tyson. Saking panasnya, secara bersama-sama, gaya-gaya dasar alam itu menyatu, dan kemudian meledak, yang kemudian disebutnya Teori Ledakan Besar (Bing Bang Theory).
Menarik untuk direnungkan. Sebuah ledakan besar, terjadi di awal mula sejarah perkembangan alam raya ini. Namanya sebuah ledakan, adalah ledakan. Namun, hal uniknya, dari ledakan itu, tampak komposisi dan struktur alam raya, yang harmoni dan serasi, sehingga menimbulkan relevannya untuk kehidupan manusia saat ini ?
Aneh tidak ? sebuah ledakan, tetap tidak menghasilkan chaos, malah menghasilkan cosmos atau keteraturan ? matahari dan bulan, bergerak dalam lintasannya, sehingga melahirkan keserasian dalam hitungan dan iklim ?
Kedua, fenomena cahaya. Kalangan fisikawan, sampai hari ini, masih saja, membincangkan fenomena cahaya dalam dua oknum, yakni sebagai gelombang dan partikel. Fenomenanya satu, yakni cahaya. Cahaya, sebagaimana yang dapat disaksikan oleh banyak orang awam. Namun, dalam telisikan kalangan ilmuwan Fisika, ternyata fenomena itu, melahirkan dua pandangan yang berbeda, yakni cayaha sebagai gelombang dan partikel.
Kembali lagi, pada soalan kita hari ini, apakah gejala ini, menjadi sesuatu yang aneh dalam kehidupan kita ?
Tentu, jawabannya, adalah gejala ini menunjukkan bahwa keragaman interpretasi atau pandangan manusia itu adalah wajar, dan alamiah. Hal ini menunjukkan ada sisi-perilaku alam yang belum kita ketahui bersama, atau belum ada formula tunggal dalam memahami fenomena itu. Karena sejatinya, fenomenanya bisa saja, sama, dan tunggal, namun interpretasi keilmuan terhadap fenomena itu terus berkembang, dan bahkan beragam.
Dalam konteks itulah dualitas, konsep dualitas, perlu dijadikan alternatif pemikiran dalam memahami realitas ini. Dualitas bukan dualisme, tetapi karakter beragam, yang ada dan menyebabkan eksisnya sesuatu hal. Tanpa ada dualitas, eksistensi-wujud itu, tidak ada. Hal ini menunjukkan bahwa wujud-realitas adalah bersifat konstruksi dari ragam esensi yang membentuknya.
Manusia bukan tubuh, dan manusia pun, bukan ruh. Manusia adalah makhluk yang menempati ruang-waktu, terdiri dari aspek fisik dan ruh. Ketiadaan satu diantara yang lainnya, menyebabkan eksistensi manusia dan kemanusiaannya, menjadi tidak ada.
Ah, gimana menurut pandangan pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar