Dua minggu terakhir. Monitor ini, ditinggalkan. Bukan berarti tidak menyentuhnya, tetapi tidak dimanfaatkannya sebagai media curhat. Alasan utama, saya mengalami derita fisik, batuk, dan demam, yang tak kuasa untuk mengekspresikan gagasan ke dalam tulisan.
Terasa, dunia ini berhenti. Eh, berhentik bersahabatan. Hanya untuk berharap, bisa istirahat sejenak pun, tak kuasa didapatnya. Batuk, dan dan demam, menghantuinyan. Ucapan rekanan yang lain, bulan ini, bulan kedua di tahun 2026, tengah mewabah superflu, atau virus nipah, atau apa lah sebutan lainnya.
Kesalahan diri ini, tidak mau konfirmasi ke ahlinya. Sehingga, sulit untuk memastikan kebenaran itu. Habis, indikasi yang dikisahkan sejumlah teman, tidak ada pada diri ini. Mereka mengatakan, batuk disertai dengan demam yang tinggi. Saya tidak merasakannya. Ada yang bilang lagi, superflu itu, batuk dengan flu yang akut, dan sakit pada tubuh, pun, demikian saya tidak merasakannya. Ada yang mengatakan, batuk di tambah dengan sakit tenggorokan. Seorang teman pun, mengatakan hal serupa itu, Apa yang saya rasakan, bukan demikian. CUma memang, tenggorokan gatal, yang kemudian merangsang untuk batuk.
Saya hanya merasakan, batuk dan demam saja. Itu pun, demammnya sudah berlalu, tempo hari. Hari ini, hanya batuknya saja, yang masih tersisa. Alhamdulillahnya, pada hari ke-12 ini, sudah mulai menunjukkan pemulihan dan penguatan imunitas diri.
Terkait hal itu, di kesempatan ini, ada waktu bisa menuangkan pengalaman pribadi ini, kembali ke dalam sebuah tulisan. Temanya, pun tidak jauh dari pengalaman dalam dua minggu terakhir ini, yakni mengenai sakit.
Ya, betul. Apa yang saya alami, sejatinya adalah sakit-personal, atau sakit yang dialami oleh seseorang, atau pribadi. Ada yang menular, tetapi dampak dan kondisinya lebih menunjukkan sakit-personal atau perorangan. Orang yang luka ke senjata tajam, demam, batuk, gak enak badan, adalah beberapa contoh dari sakit personal.
Hal yang paling mengerikan adalah sakit sosial (social illness). Sakit sosial yang kita maksudkan adalah hilangnya kondisi imunitas sosial dalam menjaga keberlangsungan kehidupan secara objektif, dan rasional sesuai konvensional.
Kita pernah mendapat sajian akademik yang luar biasa dari Erich Fromm, tentang masyarakat sehat (the sane society). Bagi Erich Fromm, ideologi kapitalisme hari ini, telah menyebabkan manusia terasing (alienasi), narsis dan konsumeris. Dampak praktis dari karakter itu, adalah manusia saling meniadakan dan menindak pada manusia lainnya. Manusia kehilangan sisi kemanusiaannnya.
Lanjutan dari kasus ini, perdebatan mengenai keadaan bangsa dan negara kita, ada yang mengira tengah terjadinya sakit-konstitusional. Apa yang dimaksudkannya ?
Komentar publik terhadap situasi ini, misalnya, hukuman kepada koruptor trilyunan, sekedar 6 tahunan, sedangkan orang yang mencuri barang dengan taksiran tak lebih dari 1 jutaan pun, bisa sampai dihukum penjara 5 tahunan.
Ada lagi kasusnya, lebih ekstrim lagi, pembegal bisa bebas, sedangkan yang dibegal, diancam penjara.
Seorang guru, melakukan pendisiplinan kepada peserta didik dihadapkan pada penjara, sedangkan anak yang melanggar hukum pendidikan, dianggap sebagai hal biasa. Pada ujungnya, banyak tenaga pendidik yang berhadapan dengan masalah hukum, akibat tindak ketegasannya dalam penegakkan disiplin ini.
Dalam konteks itulah, situasi ini, dapat diduga (mungkin istilah ini lebih aman untuk konteks bangsa kita hari ini) ada situasi yang sakit dalam konteks penegakkan hukum di negara kita. Itulah sakit konstitusional !
Tidak usah bertanya, mana yang lebih baik dari kondisi semua itu. Hal yang penting bagi kita, bila kita tengah mengalami serupa itu, mau tidak mau, pribadi kita, harus merenungkan ulang, dan berusaha untuk sehat kembali !
bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar