Just another free Blogger theme

Kamis, 05 Februari 2026

Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada diri kita, persoalan sakit itu, hendaknya menjadi bagian penting dari momen untuk refleksi. Lha, kok bisa begitu? 



Inilah soalnya.

Ada empat kategori manusia, dilihat dari sudut pandang sosiologi kesehatan ini. Keempat kategori itu, satu diantara yang lainnya, akan menunjukkan pola respon yang  berbeda terhadap dirinya dan lingkungannya.

Pertama, orang sakit dan sadar bahwa dirinya sedang sakit. Orang seperti ini, dapat dikategorikan sebagai orang yang sadar, bahwa dalam dirinya ada penyakit (diseases),  misalnya bakteri atau virus, yang kemudian menyebabkan dirinya merasa sakit. Kategori pertama ini, sangat lah baik, dan 'sehat secara mental'.  Disebut demikian, karena dirinya sudah tahu secara objektif, dan sadar, terhadap kondisi dirinya. Dampaknya, sangat mudah ditebak, akan berusaha mencari cara therapi atau langkah-langkah penyembuhan.

Kedua, orang sakit, tetapi tidak sadar atau tidak mau tahu bahwa dirinya sakit. Indikasi sosialnya sangat sederhana, kendati batuk-batuk berat, dan flu, namun dia tetap saja, berkeliaran. Dia tidak mau tahu dengan orang yang ada di sekitarnya, yang penting aktivitasnya tidak terganggu, dan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Sementara, orang lain, yang ada di sekitarnya, kekhawatiran akan tertular tidak pernah mau dipedulikan.

Kondisi orang kedua ini, sangat mengkhawatirkan. Satu sisi, dirinya, luput dan lupa untuk menjadi upaya penyembuhan, karena dirinya merasa sedang baik-baik saja. Pada sisi lain, kelakuannya itu membahayakan orang lain, selain bisa menular, bisa merusak tatanan sosial lainnya. Itulah bahayanya.

Bisa dibayangkan bersama. Jika seorang pejabat negara, tidak merasa sedang sakit, dan merasa baik-baik saja, maka program dan kebijakannya akan dijalankan sesuai dengan hasrat-politiknya semata. Komentar dan kritik dari lingkungannya, dianggap tidak ada, dan tidak bermakna apa-apa, karena merasa programnya sudah benar, sesuai dengan impainnya sendiri.

Ketiga, orang tidak sakit, tetapi merasa sakit. Orang serupa ini, mengalami masalah mental atau psikologis. Secara objektif, tidak luka atau polutan atau benda asing dalam tubuhnya, yang  menyebabkan dirinya sakit. Namun, jiwa dan pikirannya merasa sakit. 

Kategori ketiga ini, butuh layanan kesehatan mental.  Untuk kategori pertama, sakit secara objektif, namun sehat secara mental. Sedangkan, untuk kategori ketiga, sehat secara objektif, namun sakit secara mental.

Sama serupa, jika ada yang menganggap, negara kita sedang dalam gelap, padahal lagi terang, orang bisa menilainya sakit mental, karena masalah kekalahan politik. Jika negara kita ini, sedang dalam kondisi sehat, dan sejahtera, tetapi disebut miskin dan terbelakang, mungkin, disebutnya tengah mengalami sakit mental secara kolektif.

Terakhir, orang yang sehat prima, yakni sadar bahwa dirinya sedang tidak sakit. Secara objektif, tidak ada sakit dan penyakit, dan secara mental, dia memiliki mental yang sehat, yakni sadar bahwa dirinya sedang dalam keadaan fit.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar