Obrolan kita sebelumnya, ternyata tidak semuanya berjalan. Atau, lebih tepatnya, sedang mengalami perubahan. Setiap anggota keluarga, dalam keluarga kita, entah pengaruh pendidikan, pergaulan, atau pengaruh media sosial. Kita tidak secara pasti menyebutkan faktor spesifik yang menyebabkan adanya perubahan budaya demokrasi dalam keluarga tersebut.
Gejala yang tampak dan terasa oleh kita bersama, perubahan itu, terjadi secara serabutan, dan tak terstruktur. Setiap orang merasa berhak untuk melakukan apapun, dengan atasnama demokrasi. Setiap fungsi, dilakukan oleh siapapun dengan mengatasnamakan hak. Karena merasa demokrasi, setiap orang bisa melakukan apapun dan dimanapun. Tanpa ada perhitungan kepatutan. Kemudian, siapapun dalam melakukan fungsi apapun, karena merasa berhak.
Dalam situasi itu, chaos, paradoks, anarkhi, dan kebebasan bercampur, dan hampir bisa tidak bisa dipastikan. Aneh ya, hampir bisa tidak bisa dipastikan. Atau, hampir tidak bisa, bisa tidak dipastikan. Entahlah, kalimat mana yang paling tepat.
Pada ujungnya, sang kepala keluarga pun, malah ikut-ikutan gaya bicara anak balita, yang mengomentarinya gaya teman bermain di luar rumahnya. Anak-anak sudah mulai dewasa berpikir, kepala keluarga malah menggunakan pikir kekanak-kanakannya. Orang tua seakan bicara seperti anak kecil, yang sekedar ngomong tak mengerti maknanya, dan arah bicaranya. dan anak muda, bicara ilmiah, namun dinilai sok pintar oleh kelompok lainnya.
Zaman kita ini. Semua orang bisa berperan sebagai politisi, dan bicara politik. Emak-emak memainkan peran sebagai kelompok penekan (pressure group). Kalau emak-emak bergerak, katanya, merupakan gerakan nurani dalam demokrasi. Tetapi, emak-emak di zaman ini pun, ternyata ditunggangi kepentingan. Umumnya emak-emak ini, paling suka ditunggangi, kali ini, malah berubah peran lebih suka menunggangi kepentingan, apakah itu menunggangi kaum tua, apalagi menunganggu kaum muda.
Nada suara kelompok emak-emak ini, lebih nyaring dari sebelumnya. Bila di masyarakat, dulu dikenal, ucapan emak-emak itu "saciduh metu saucap nyata", atau sangat makbul, maka di era pembuncahan ini, suaranya tidak terkontrol lagi. Nekad janji mau buka pakaian dalam, telanjang lah, atau ucapan-ucapan yang dulu dianggap kotor bagi lisan emak-emak, kini sudah mulai akrab dimulutnya.
Tokoh dewasa, semula diharapkan menjadi pribadi yang diharapkan mampu menjadi pandito. Dengan pengalaman hidup dan kekuasaan yang pernah dimilikinya di masa muda, serta wawasan serta perenungan hidup yang semakin matang, diharapkan memiliki kearifan dan kebijakan yang mendalam. Pada fase seperti ini, malah muncul orang-orang tua, dengan pikiran kolot, dan malah melahirkan kegaduhan. Kegaduhan sosial, politik, dan ekonomi kebangsaan.
Kaum akademisi, sejatinya menjadi kelompok kritis dan mandiri, dalam menyampaikan gagasan. Kelompok ini dianggap sebagai kelompok menengah yang matang dan dewasa dalam berpendirian, kini seperti bayi yang baru belaja bicara. Omongannya diatur dan teratur, seperti yang disuapi yang mamih-politiknya. Ilmuwan menjadi penurut, bak hewan peliharaan. Galak dalam penampilan, tetapi suaranya lembut, dan bahkan terasa menyayat hati, seakan menyuarakan derita ketidakberdayaan yang tidak tersuarakan selama ini.
Dalam situasi inilah, kesempatan kita untuk bertanya, dan mempertanyakan kembali, perjalanan demokrasi kita. Demokratisasi yang selama ini, berjalan dan dijalan, apakah masih ada dalam rel-harapan nurani kebangsaan kita, atau malah sudah melenceng jauh dari mimpi gerakan reformasi yang pernah dilontarkan secara kolektif di tahun 1998-an ?
TIdak mudah untuk menjawab soal seperti ini. Setiap orang akan memiliki pandangannya sendiri. Bahkan, pandangan ini, kerap kali disesuaikan dengan posisi, kondisi atau sudut kekuasaan yang sedang dimilikinya. Ibarat, Donald Trump, kendati dunia mengetahui bahwa Amerika Serikat dan Israel yang duluan menyerang Iran, namun tetap saja, memosisikan Iran sebagai terdakwa, dan membanggakan Israel sebagai negara yang teraniaya, yang harus terus dibela. Kendati Eropa sudah mengambil posisi netral, karena merasa tidak ada kepentingannya untuk menyerang negara berdaulat, yakni Iran, namun Amerika Serikat menganggapnya, Negara Eropa tidak ada jiwa solidaritas terhadap anggota NATO, yang sedang kewalahan melawan negara Iran.
Demikian jugalah, kita, dan elit bangsa kita. Semua pihak, akan merasa berhak dan juga berkewajiban membela diri, untuk membenarkan posisi kedemokratisannya, dan keberpihakannya kepada rakyat. Ya, pada ujungnya, ketika kita kehilangan orientasi demokratisasi, dan indikasi kedemokrasian, maka hanya opini dan pemainan narasi yang dianggap akan menjadi pembela sikap politiknya sendiri.
Bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar