Pertemuan antara 15 orang mahasiswa dengan wakil presiden tempo hari menarik untuk dibincangkan. Di beritakan, sejumlah mahasiswa itu berasal dari aliansi Mahasiswa Bersatu beberapa perguruan tinggi di sekitaran Jakarta. Dalam hal ini, ada sudut pandang yang belum banyak dibicarakan dalam memahami fenomena perilaku keruangan politik tersebut. Sudut padang yang dimaksudkan itu, adalah perspektif Geografi Kritis.
Dari sudut pandang ini, pertemuan politik itu masuk dalam kategori fenomena perilaku keruangan, dan bahkan cenderiung menunjukkan adanya anomalia ruang aktivitas politik.
Istana dan ruang istana dapat dimaknai sebagai ruang tradisional. Di ruang istana ini, hadir penghuninya, dengan atribust dengan aura kekuasaannya. Akumulasi benda fisik dan aktor yang ada di sekitarnya, membentuk sistem kekuasaan tradisional di ruang fisik, dan mempekuat aura kekuasaan pemiliknya. Wakil Presiden, dalam hal ini, adalah pemilik kendali kekuasaan bagi seluruh elemen kekuasaan di ruang Istana.
Saat hadirnya sejumlah mahasiswa, sebut saja misalnya ada 16 mahasiswa yang datang ke ruangan ini, maka setidaknya ada lima gejala keruangan yang terjadi. Kelima gejala itu, kemudian secara bersamaan membentuk citra keruangan dari pelaku politik pada Istana itu sendiri.
Pertama, peralihan, pergeseran atau transformasi ruang. Kedatangan mahasiswa yang masuk ke dalam ruang Istana menunjukkan adanya gerak-kesadarna manusia untuk menjalani proses perubahan ruang, yakni dari ruang terbuka dan lapangan, ke ruang Istana. Fenomena ini, dapat disebutnya sebagai transformasi keruangan.
Kedua, terjadinya penyusutan skala. Ada dua gejala penyusutan skala dalam kejadian itu, yakni (1) skala kuantitatif suara politik, yaitu dari publik ke perwakilan, dan (2) skala geografi, yakni dari ruang terbuka ke ruang istana. Penyusunan skala keruangan ini, tentu saja, memberikan pengaruh nyata terhadap makna dan citra politik yang terjadi.
Ketiga, terjadinya proses pendisiplinan tubuh (body politics). Ekspresi politik mahasiswa di lapangan, saat melakukan demontrasi jauh lebih ekspresif dibandingkan dengan ekspresi politik mahasiswa dalam Istana. Disadari atau tidak, mahasiswa yang datang ke dalam istana, dipaksa untuk mengubah gesture dan bahasa tubuhnya sesuai dengan ruang-politik yang tersedia, dan pemiliki kekuasaan dalam ruang Istana tersebut.
Keempat, sehubungan hal itu, fakta politik lanjutannya adalah adanya penundukkan tubuh oleh ruang istana. Suasana demontrasi di luar Istana, yang dianggap berisik, kemudian diredakan oleh atmosfer-ruang politik Istana. Ruang Istana, seakan menjadi ekologi politik yang berdaya untuk menaklukkan suara bising demonstran dan juga sikap liar dari tubuh-tubuh demonstran.
Kelima, pada akhirnya, proses interaksi antara Demonstran dengan pemilik ruang-kuasa Istana itu, menjadi bagian penting dari proses penundukkan emosi dan juga penurunan tensi kemarahan publik terhadap istana.
Istana Penguasa, seperti Istana Wapres, Istana Presiden, Istana Gubernur dan atau Istana Kelurahan, pada dasarnya adalah simbol dari ruang-politik tradisional. Undangan demonstran ke ruang-ruang penguasa itu, tentu saja memiliki kepentingan dan tujuan politik, khususnya dalam konteks penaklukan reaksi politik berbasis ruang-fisik kekuasaan. Pengundangannya, khususnya dengan cara mengundang perwakilannya, adalah bagian dari praktek isolasi politik satu kelompok demonstran dari kelompok publik lainnya.
Selepas ada pemisahan kekuatan politik itu, kemudian skenario penguasa bergerak, yakni melahirkan tampilan citra politik yang diharapkan menjadi kontra-politik terhadap persepsi politik yang ada di tengah-tengah kaum demonstran.
Di lapangan terbuka, termasuk di ruang maya, ada narasi bahwa penguasa imun-kritik, dan ruangnya kedap-kritik dari luar ruangan. Dalam ruang Istana, adalah ruang (space) yang aman dan nyaman bagi penguasanya, dan memancing kemarahan bagi kalangan demonstran. Dalam konteks itulah, kemudian publik, yang diwakili kalangan Netizen membuat ruang tandingan, baik di lapangan demonstrasi maupun di ruang digital.
Sejumlah kekecewaan yang dialami masyarakat, dijadikan konten narasi untuk membangun citra tandingan, dan pengoreksi kepada narasi yang ada dalam ruang Istana. Kasus kegagalan penegakkan hukum, kesenjangan sosial, kenaikan harga BBM, dan juga kemuakan terhadap kemunafikan sikap dan tindakan politisi, menjadi warna-citra buruk yang terbangun dan dibangun di ruang-terbuka, termasuk di ruang digital.
Sayangnya, adegan kebersamaan perwakilan Mahasiswa dengan penguasa itu, memberikan citra adanya 'penurunan suhu atmosfera' politik, dan sekaligus membangun citra tandingan, sebagaimana yang dirasakan masyarakat pada umumnya. Pada konteks inilah, maka kemudian algoritme skeptisisme dari masyarakat, mulai terkoreksi. Setidaknya, terkoreksi untuk waktu sementara. Tensi skeptisisme itu, akan berubah kembali, pada saat ada faktor lain yang bisa memantik kenaikan suhu narasi yang dibangun dan terbangun di tengah masyarakat.
Melalui kajian ini, setidaknya dapat disampaikan bahwa (1) pertemuan mahasiswa dengan penguasa, merupakan bentuk peralihan ruang-gerakan politik, dari terbuka ke ruang-terkendali, yaitu dalam istana, (2) pada saat yang bersamaan, ada potensi penundukkan ekspresi dan narasi politik oleh pemilik ruang (penguasa Istana) terhadap keluasan gerak politik mahasiswa, (3) foto kebersamana dengan penguasa, melahirkan ada citra-penurunan tensi politik antara publik dengan penguasa. Apapun isi dan hasil dari pertemuan itu, namun dengan beredarnya foto kebersamaan mahasiswa itu, memberi kesan keberhasilan penguasa dalam menurunkan ketegangan politik untuk sementara.
Bagaimana menurut pembaca !!!

0 comments:
Posting Komentar