Pernahkah Anda melihat seorang anak muda yang matang matanya terpaku pada layar ponsel saat nongkrong di kafe? Jari mereka melakukan scrolling tanpa henti, seolah sedang memburu sesuatu yang tidak berwujud. Di balik layar digital yang gemerlap itu, ada sebuah kecemasan massal yang sedang mengintai Generasi Z. Fenomena ini populer dengan sebutan FOMO atau Fear of Missing Out. Secara sederhana, FOMO adalah rasa takut yang akut akan tertinggal dari tren, informasi, atau momen seru yang sedang dinikmati orang lain.
Secara ilmiah, FOMO bukan sekadar istilah gaul. Jurnal psikologi modern mengategorikan FOMO sebagai bentuk kecemasan sosial yang dipicu oleh paparan media sosial secara masif. Ketika Gen Z melihat pencapaian atau kesenangan orang lain di Instagram atau TikTok, otak mereka melepaskan hormon kortisol yang memicu stres. Mereka merasa hidup mereka kurang menarik dibandingkan orang lain.
Namun, jika kita membedah fenomena ini lebih dalam melalui kacamata etika-agama, FOMO sebenarnya adalah manifestasi modern dari penyakit spiritual kuno: hilangnya kendali atas hasrat dan pudarnya rasa syukur.
Pertama, Screen Time Ekstrem dan Kecemasan Kompulsif. Ciri paling nyata dari Gen Z yang terkena FOMO adalah durasi penggunaan gawai (screen time) yang tidak wajar. Mereka memeriksa ponsel setiap beberapa menit sekali, bahkan saat bangun tidur di sepertiga malam atau di tengah-tengah aktivitas penting. Secara psikologis, ini disebut dengan perilaku kompulsif yang digerakkan oleh dopamine loop. Setiap kali ada notifikasi baru, otak mendapatkan asupan dopamin instan, yang membuat mereka ketagihan untuk terus mengecek layar.
Dalam sudut pandang Bhagavad Gita (2:62), kondisi ini digambarkan dengan sangat presisi: "Ketika seseorang terus-menerus memikirkan objek-objek indra, keterikatan pada objek-objek itu tumbuh; dari keterikatan muncul keinginan, dan dari keinginan muncullah amarah/kegelisahan."
Gen Z yang FOMO terjebak dalam keterikatan pada "objek indra digital" (unggahan orang lain). Akibatnya, pikiran mereka menjadi liar, tidak tenang, dan selalu diwarnai kecemasan jika tertinggal satu berita saja.
Kedua, Sindrom "Validasi Instan" Melalui Gaya Hidup Flexing. Anak muda yang terjangkit FOMO sering kali memaksakan diri untuk mengikuti standar hidup orang lain yang mereka lihat di media sosial. Mereka harus membeli kopi mahal, datang ke konser berbiaya tinggi, atau memakai pakaian dari merek ternama demi bisa membuat konten Story. Mereka butuh pengakuan berupa likes, views, dan komentar untuk merasa "ada" dan dihargai di kelompoknya.
Di dalam kitab Dhammapada (Bab I: Ayat 9-10), disinggung mengenai orang yang memakai jubah kuning (simbol kesucian/status) tetapi hatinya masih penuh noda dan tidak memiliki pengendalian diri. Dalam konteks modern, Gen Z sering memakai "jubah buatan" berupa status sosial digital, padahal batin mereka kosong. Dhammapada mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari luar atau dari pujian orang lain, melainkan dari kesucian pikiran dan tindakan kita sendiri. Mencari validasi dari luar adalah fatamorgana yang melelahkan jiwa.
Ketiga, Ketidakmampuan untuk Menikmati Momen Saat Ini (Present Moment). Pernahkah Anda makan bersama seorang teman Gen Z, dan sebelum makanan disentuh, makanan tersebut harus "diberi makan" ke kamera ponsel terlebih dahulu? Bahkan saat berada di tempat wisata yang indah, mereka sibuk mencari sinyal dan sudut foto terbaik, alih-alih menghirup udara segar atau menikmati pemandangan dengan mata kepala sendiri. Mereka hadir secara fisik, tetapi pikiran mereka mengembara ke dunia maya, memikirkan bagaimana reaksi pengikut (followers) mereka nanti.
Dalam tradisi Tasawuf, konsep ini bertentangan dengan prinsip Ibnu al-Waqt (anak waktu saat ini). Seorang sufi diajarkan untuk menjadi manusia yang hidup sepenuhnya di saat ini, bersyukur atas apa yang ada di hadapannya (huzur). Tokoh tasawuf terkemuka, Al-Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa penyakit hati bersumber dari angan-angan yang panjang (thulul amal) dan ketidakmampuan mengendalikan nafsu untuk selalu tampak lebih di mata makhluk. FOMO mencabut Gen Z dari akar kenyataan saat ini, membuat mereka gagal menikmati berkah hidup yang nyata.
Keempat, Doomscrolling dan Membandingkan Diri Secara Kronis (Social Comparison). Ciri keempat adalah kebiasaan doomscrolling, yaitu perilaku terus-menerus membaca atau melihat berita dan unggahan yang buruk atau memicu rasa tidak aman (insecure). Gen Z yang FOMO sering membandingkan bab pertama kehidupan mereka dengan bab pertengahan kesuksesan orang lain yang tampak sempurna di media sosial. Hal ini menurunkan rasa percaya diri dan memicu depresi.
Secara ilmiah, ini memicu distorsi kognitif. Dalam Bhagavad Gita (18:35), dijelaskan tentang kecerdasan atau keteguhan dalam sifat kegelapan (Tamasika), di mana seseorang tidak bisa melepaskan ketakutan, kesedihan, kedukaan, keputusasaan, dan ilusi. Doomscrolling adalah bentuk nyata dari jebakan energi Tamas ini. Pikiran diikat oleh ilusi dunia digital yang seolah-olah nyata, sehingga menghasilkan kedukaan dan rasa rendah diri yang tidak perlu.
Kelima, Pengeluaran Impulsif dan Terjebak Konsumerisme Digital. FOMO tidak hanya menyerang mental, tetapi juga dompet. Fenomena "racun TikTok" atau tren belanja impulsif sering kali menjebak Gen Z. Mereka membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan, hanya karena barang tersebut sedang viral atau dipakai oleh pembuat konten idola mereka. Mereka takut dianggap "kuno" jika tidak memiliki barang tersebut.
Ajaran Tasawuf sangat menekankan konsep Zuhud (mati raga terhadap duniawi) dan Qana'ah (merasa cukup dengan pemberian Tuhan). Sifat konsumerisme akibat FOMO adalah bentuk dari nafsu Ammarah—nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan dan ketidakpuasan. Syekh Abdul Qadir al-Jailani sering menasihati agar kita meletakkan dunia di tangan, bukan di dalam hati. Ketika dunia masuk ke dalam hati lewat perantara FOMO, manusia menjadi budak dari benda-benda materi, kehilangan kemerdekaan jiwanya.
Keenam, Kehilangan Identitas Diri dan Menjadi "Pengikut Buta". Ciri terakhir dan yang paling berbahaya adalah hilangnya orisinalitas diri. Demi memenuhi tuntutan tren yang berganti setiap minggu, Gen Z yang FOMO rela mengubah gaya bicara, selera musik, pandangan politik, hingga prinsip hidup mereka agar sesuai dengan apa yang sedang populer. Mereka kehilangan kompas internal dan menjadi pengikut buta (blind followers) dari algoritma media sosial.
Dhammapada (Ayat 160) menegaskan: "Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri. Siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan mengendalikan diri sendiri dengan baik, seseorang akan memperoleh pelindung yang sulit dicari."
Ketika anak muda menyerahkan kendali dirinya pada tren luar, mereka kehilangan pusat spiritual mereka. Mereka menjadi rapuh karena kebahagiaan mereka digantungkan pada tombol refresh aplikasi digital.
Menghadapi gempuran FOMO, sains dan spiritualitas sebenarnya menawarkan obat yang sama: kembali ke dalam diri. Secara psikologis, Gen Z perlu melatih mindfulness dan mempraktikkan detoks digital secara berkala.
Secara spiritual, ketiga tradisi besar yang kita bahas memberikan jalan keluar yang selaras:
- Tasawuf menawarkan konsep Muraqabah (kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi kita), sehingga kita tidak lagi haus akan perhatian manusia.
- Bhagavad Gita mengajarkan Nishkama Karma (bertindak tanpa terikat pada hasil atau pujian), membebaskan jiwa dari beban ekspetasi sosial.
- Dhammapada mengajak kita melatih Sati (perhatian murni), agar kita sadar penuh bahwa pikiran yang terkendali adalah sumber kebahagiaan tertinggi.
Sudah saatnya Gen Z mengubah FOMO (Fear of Missing Out) menjadi JOMO (Joy of Missing Out)—sebuah kegembiraan dan kedamaian karena berani tertinggal dari hal-hal yang tidak penting, demi bisa terhubung kembali dengan esensi jiwa, sesama manusia secara nyata, dan Sang Pencipta.
-o0o-
Tulisan ini, dibuat AI

0 comments:
Posting Komentar