Just another free Blogger theme

Kamis, 18 Juni 2026

Tidak ada yang baru di sekolah itu. Setiap hari dan setiap minggunya tetaplah serupa itu. Termasuk hari Senin ini, pagi ini. Seorang anak, yang beranjak dewasa, jelang usia 16 tahunan, tiba di sekolah, dan berada di depan kelas. Ada pembuncahan yang akut dalam jiwanya. Antara harapan mengenai keberhasilan dan kesuksesan di masa depan, dengan kekhawatiran pragmatis di depan matanya.



Hari itu, dia berjalan menuju pintu kelas. Pintu kayu, terbuat dari kayu jati, dan diukir sederahana oleh pembuatnya.  Kesederhanaan desain pintu kelas itu, terbayang kompleks dan jelimet dalam benaknya. Pun demikian adanya, warna coklat pintu itu, malah tampak abu-abu bagi matanya.  Masih ada kebingungan dan kekhawatiran yang mendalam terhadap posisi dan nasib dirinya saat ini.

Iya, betul, Fatimah yang saat ini, beranjak dewasa, duduk di kelas XI jenjang pendidikan menengah. Berjalan melambat, mendekati pintu kelasnya, dengan persiapan mental dan fisik, untuk memasuki kelas, yang sudah dihuni oleh rekan-rekan sekelas dan juga gurunya.  Terbayang sudah, pertanyaan pertama dari sang Guru yang sudah ada dikelas, dan pandangan puluhan pasang mata, menatapnya, sekaligus mengajukan pertanyaan, kenapa dan mengapa hari ini, terjadi pada dirinya ?

-o0o-

Selamat datang di lingkungan pendidikan, salah satu pilihan kelas, yang ditakdirkan untuk menjadi tempat berakivitas bagi Fatimah dalam 3 tahun ke depan. Kelas adalah ikon lembaga pendidikan formal. Kelas adalah juga ikon identitas yang tersematkan pada setiap individu yang ada di dalamnya. Karena masuk dan menjadi anggota di dalam kelas itulah, kemudian melahirkan adanya label-keruangan pada Fatimah  dan juga rekan-rekan yang lainnya. 

"Kamu, sekarang kelas XI, bukan lagi anak SD..." ungkap yang lainnya.

"Kamu, sekarang masih kelas XI, bukan mahasiswa..." pekik satu pihak lagi.

Perjalanan Fatimah hari itu, menjadi satu bagian penting dalam sejarah hidupnya, dan menjadi salah satu tahapan hidup yang harus dialami Fatimah, dan juga rekan-rekan yang lainnya. Kelas dan lembaga pendidikan, menjadi fase keruangan yang membentuk identitas bagi dirinya, dan juga bagi rekan-rekan yang lainnya. Karena duduk di kelas itulah, kemudian, Fatimah harus menyandang sejumlah identitas keruangan baru. Identitas ruang SD, sudah dilewati dan identitas Mahasiswa atau orang dewasa, belum tiba terhadapnya.

Perlu juga dipahami, kelas adalah ruang khusus, dan dan ruang tercipta serta direncanakan. Kelas adalah ruang mikro dengan segala bentuk adikuasa yang sudah diciptakan. Diciptakan oleh guru, lembaga pendidikan, yayasan pendidikan atau pemerintah pada umumnya. Di dalam kelas itu, tubuh manusia (peserta didik) dikondisikan, sesuai dengan tujuan pendidikan yang diciptakan pemerintah, yakni menjadi peserta didik yang diharapkan dapat tumbuhkembang sesuai dengan visi dan misi pendidikan.

Dalam konteks itulah, Antropologi Keruangan Kelas (spatial antropologhy of the class) menjadi relevan untuk dibincangkan. Terkhusus karena di dalam fenomena keruangan itu, ada beberapa fenomena keruangan kritis, yang perlu dinarasikan secara seksama.

Pintu kelas adalah dinding pemisah antara ruang publik dengan ruang-terkondisikan (conditioned space). Sejumlah norma pendisiplinan hadir dan diciptakan oleh lembaga pendidikan, dengan maksud dan tujuan untuk membatasi gerak peserta didik. Bahkan di dalma kelas ini, untuk sekedar menari, menyanyi, atau berolahraga, menjadi sesuatu yang dibatasi, sepanjang praktek pembelajaran formal lain sedang berlanjut. Peserta didik, dikondisikan untuk duduk, bersiap belajar, atau diskusi sesuai dengan model atau praktek pembelajaran yang sudah ditentukan sang pendidik.

Di jenjang perguruan tinggi pun, tidak jauh berbeda. Saat dosen masuk ke ruang perkuliahan, secara serta merta, tubuh mahasiswa terkarantina oleh mekanisme kekuasaan kelas. Atau begitu sebaliknya, disaat sang Dosen sudah ada di ruang perkuliahan, dan ada sejumlah mahasiswa yang baru tiba ke ruang kuliah itu, maka dikala pintuk ruang kuliah terbuka dan mahasiswa hendak masuk ke dalamnya, maka seluruh ekspresi kemanusiaan yang semula ditunjukkan di luar ruang kuliah,  berubah secara dramatis dibatas pintu kuliah.

Di sinilah, tampak jelas bahwa pintu kelas atau pintu ruang kuliah menjadi lubang-lorong wajtu, yang memisahkan antara ruang publik yang terbuka menjadi ruang-terkondisikan. Setiap orang yang masuk ke dalamnya, akan menyesuaikan diri, sesuai dengan tanda-tanda kekuasaan kelas. Setiap peserta didik dan juga tenaga pendidiknya, akan menyesesuaikan diri dengan aura kelasnya. 

Hal demikian akan berbeda jauh, kendati Pak Imran adalah seorang guru atau seorang dosen, tetapi saat berada di warung tegal, saat makan siang, maka pola komunikasi Pak Imran dengan generasi muda yang lainnya (andai berstatus sebagai mahasiswa pula), pola komunikasinya relatif lebih cair dibanding di dalam kelas. Terkecuali bila ada sekelompok orang yang bermental-terkondisikan, maka karakter kelasnya, akan tetap terbawa-bawa ke luar kelas.

Kita akan merasakan ada benturan narasi, antara di dalam kelas dengan ruang kelas. Sebut saja Eko. Eko adalah seorang siswa yang gemar bermain futsal, sejumlah tropi kejuaran sudah pernah didapatnya, walaupun dia akui, level kejuaraannya tidak pernah tinggi-tinggi, setidaknya level pemerintah daerah sudah pernah didapatnya. Tetapi, Eko dikenali guru mata pelajaran eksak, sebagai pemalas dan bodoh, karena tidak mampu mengejaskan soal ulangan yang dijalaninya, dan nilai rapot pendidikannya relatif sangat rendah.

Sejumlah guru, memberikan label, Eko sebagai anak pemalas, dan hobinya bolos atau main saja. Mereka tahu, EKo bisa main futsal, tetapi harapan sang Guru, harusnya seimbang antara futsal dengan pelajaran di kelas. Sementara yang pelatih, menganggap Eko sebagai striker genius di lapangan.

Di sinilah, ada dua narasi yang berbeda. Kecerdasan peserta didik, ada yang dianggap sebagai bagian penting dalam menyelesaikan masalah mata pelajaran, dan pada sisi lain, kecerdasan adalah kemampuan diri dalam mengembangkan potensi dan bakat sendiri sehingga bisa digunakan dalam memecahkan masalah kehidupannya.

Problemanya, Eko masuk dalam kategori peserta dididk yang berhasil atau gagal ?

Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar