Bermula dari status di media sosial, seorang anak melontarkan kata-kata kasar terhadap pihak sekolah, atau mungkin lebih spesifiknya terhadap guru. "Si Anj*ng, rapat....". Itulah hardikannya. Sontak saja, status itu menyebar di tengah-tengah masyarakat dan terlebih lagi tenaga pendidik dan kependidikan. Karena dengan hadirnya kalimat itu jua, pihak sekolah kemudian mencoba untuk melakukan refleksi dan koreksi terhadap kejadian itu.
Bagi sebagian orang memancing kegundahan, kemarahan, dan emosional. Tetapi, Saat isu itu menyebar dan kemudian mampir ditelinga guru BP/BK, narasi berubah. Dari aura kebencian kepada si pembuat status, menjadi sebuah tantangan psikologis untuk melakukan penelaahan mengenai latar kisah, yang memantik kejadian itu.
Keluarga anak ini, berada dalam situsi keluarga yang 'retak secara psikologis'. Bukan karena perceraian, tetapi sejak kecil, sang Anak ditinggalkan sang Ibu. Diperkirakan masih sekolah SD kelas akhir, sang Ibu meninggal dunia. Orangtuanya itu meninggalkan dua anak, yaitu dirinya dan kakak perempuan. Selanjutnya, Ayah sang Anak menikah lagi. Namun, takdir menentukan lain, ibu tiri Anak ini pun, meninggal dunia, dia tidak meninggalkan anak. Kisah terus berlanjut, Ayahnya menikah lagi. Ibu tiri kali ini, adalah perempuan yang tinggal tak jauh dari rumah Anak ini. Entah karena alasan apa, Anak tinggal bersama kakaknya, dan neneknya, sedangkan Ayahnya tinggal di rumah istri terakhirnya itu. Di lain pihak, Kakak saat ini, sudah dewasa dan menjadi tenaga honorer di tempat yang agak jauh, sehingga terpaksa harus pergi pagi, dan pulang agak larut sore. Perhatian sang Ayah masih ada, yaitu dengan tetap mengantarkan Anak pergi sekolah, namun tidak pernah tinggal di tempat tinggal anaknya.
Ketika masuk di sekolah lanjutan atas, dia menunjukkan sikap yang sangat unik. Merasa pernah juara saat mengikuti lomba olimpiade sains yang diselenggarakan secara online, kemudian dia berambisi untuk mengikuti cabang olimpiade yang beragam. Sejumlah cabang dia coba jajaki, seperti olimpiade Matematika, Kimia, keagamaan, dan juga ilmu kebumian. Namun, karena pelaksanaannya offline, hasil akhir dari perlombaan itu, masih nihil. Dia mengalami kegagalan dalam konteks akademik itu, bahkan menurut sejumlah tenaga pendidik pun, dari hasil belajar di kelas, kemampuan kognitifnya tidak terlalu istimewa.
Pada akhir kasus, diawal tahun pelajaran ini, muncul berita, bahwa dia melontarkan kekerasan verbal kepada tenaga pendidiknya, dengan ucapan yang sangat di luar nalar, dan sulit dipercaya itu terjadi di dunia pendidikan saat ini.
Sehubungan hal ini, muncullah pertanyana, gejala psikologis apa yang sedang terjadi pada anak serupa ini ? apakah hal ini, masuk kategori sebuah tindakan kriminal, atau penyimpangan psikologis ?
Pada bagian pertama, kita akan memanfaatkan teori relasi objek (object relation theory), yang merupakan cabang lanjutan dari teori psikoanalisis. Dalam teori ini, yang dimaksud objek adalah orang, baik terhadap diri atau citra diri (objek internal), maupun orang lain (objek ektsernal). Berdasarkan teori ini, perkembangan dan pertumbuhan kematangan seorang individu, tidak berada di ruang hampa, tetapi hadir dalam konteks atmosfer psikologis yang terjadi dalam sejarah hidupnya.
Memanfaatkan informasi awal itu, dapat disampaikan bahwa atmosfer psikologis Anak mengalami kekecewaan yang beruntung, atau peristiwa kehilangan yang beruntun. Anak itu mengalami trauma kehilangan yang beruntun. Kehilangan itu, bermula dari kehilangan ibu kandung, ibu tiri, perhatian kakak, dan juga perhatian Ayah. Semua itu, bergandengan secara berkelanjutan, yang menjadi bagian krusial dalam atmosfer kehidupannya.
Kehilangan ibu kandung, potensial merusakan ikatan utama atau jangkar kenyamanan hidup. Hilangnya ibu kandung, menyebabkan anak kehilangan fondasi kasih sayang atau primary attachment (ikatan utama), yang menjadi dasar pelindung kasih sayang (basic trust).
Kehilangan ibu tiri, dalam batasan tertentu, bisa memantik munculnya sikap penolakan (rejection). Anak mungkin merasa bersalah, dan merasa bahwa dirinya adalah "penyebab perginya orang-orang tersebut". Trauma ini, akan menjadi penyebab berkelanjutannya rasa kebersalahan dan kehilangan yang sudah terjadi sebelumnya.
Kehilangan perhatian kakak. Sang Kakak, bisa dimaknai sebagai orang yang berusaha mengatasi hidup, dan melanjutkan perjuangan hidup secara mandiri, namun dia melupakan posisi dan kondisi adiknya, yang kehilangan perhatian ibu, ayah dan dirinya sendiri.
Kehilangan perhatian Ayah, dengan lebih memperhatikan istri baru, dibandingkan keluarga awalnya. Pada ujungnya, anak merasa kehilangansosok Ayah yang menjadi sandaran dan andalan hidupnya.
Pada konteks ini, di berhadapan dengan situasi 'kehilangan figur yang baik" (good figure), dan lebih banyak dihadapkan pada figur yang buruk. Kakak yang tidak perhatian, Ayah yang kehilangan perhatian dan kasih sayang, ibu tiri kedua yang tidak peduli, dan mungkin juga, sekolah yang tidak peka terhadap kebutuhan psikologisnya.
Apakah dengan demikian, anak ini tengah mencari perhatian, atau berusaha mencari ruang ekspresi dan identitas diri ? Dalam situasi inilah, therapi psikologis dari seorang tenaga pendidik dan konselor menjadi sangat penting untuk dikedepankan, dan bukan untuk menghakimi sang Anak itu sendiri !

0 comments:
Posting Komentar