Jalan tetap terbuka, dan tetap ada. Masalah pokoknya, adalah apakah setiap orang tahu, paham dan mau memanfaatkan jalan tersebut ?
Di hari pertama sekolah, atau hari masuk ke kampus, apapun jenjang pendidikan dan dimanapun tempat belajarnya, maka pertanyaan ini patut untuk di kedepankan. Sebelumnya, dalam tulisan terdahulu, kita sudah menjelaskan mengenai sadar diri atau tahu diri, maka di kesempatan kali ini, perlu untuk dipertegas lanjutan perjalanannya, adalah dengan mengajukan pertanyaan retoris bagi diri kita semua.
Mau kemana kita ? fa aina tadzhabun ?
Adalah sebuah kerugian waktu, bila kita sudah berada di pinggir perjalanan, namun tidak melanjutkan perjalanan. Peluan ada, tetapi tidak dimanfaatkan. Itulah gambaran orang yang sudah berdiri di perjalanan dan bahkan di terminal kendaraan, namun tidak melanjutkan perjalanan, akibat tidak tahu tujuan hidupnya.
Adalah sebuah kerugian hidup, bila kita sudah tahu arah perjalanan, namun tidak mau melanjutkan perjalanan. Kesempatan sudah terbuka, peluang sudah ada, namun tidak dimanfaatkan.
Adalah sebuah kerugian diri, manakala sudah tahu diri, sadar posisi, namun tidak memiliki misi. Itulah gambaran dari orang yang masih berada dalam keraguan dan kebingungan. Di pinggir jalan, berdiri membisu, tidak tahu arah, dan tidak tahu langkah selanjutnya. Hal yang dia lakukan, hanya menghabiskan waktu dengan penuh keraguan dan kebingungan.
Sehubungan hal itu, maka jelaslah sudah bagi kita, bahwa selepas kita tahu diri, siapa diri kiat sesungguhnya, maka hal yang perlu diakukan hari ini, adalah mengenai cita, harap, hasrat, mimpi atau tujuan. Mau kemana kita ? sehingga dengan memiliki jawaban terhadap pertanyaan itu, maka selanjutnya, kita akan dapat melangkah pada tahapan selanjutnya, dengan mencari jawaban mau apa dan apa yang harus dilakukan !!!
Tidak jarang kita temukan. Anak-anak kita, sudah duduk di sekolah SMA/SMK/MA kelas XII, di penghujung jenjang pendidikan anak-anak, dan berada di pintu keremajaan. Namun, saat ditanya, mau kemana selepas belajar di jenjang pendidikan ini, mereka tampak kebingungan.
"entahlah, belum tahu, Pak ?" jawaban polos, yang diliputi kegundahan. Walau tidak menunjukkan kegundahan yang nyata, namun tampak jelas, dia berada dalam ketidakpastian, dengan selimut keraguan yang hadir dalam jiwanya.
Secara manajerial, penetapan visi dan misi, menjadi sangat penting. Menetapkan tujuan, atau cita-cita, menjadi sangat penting, karena akan berkaitan dengan apa yang akan kita lakukan. Bila tidak ada tujuan, maka seseorang tidak akan bisa melanjutkan langkah dan kegiatannya.
Jika saja, sebuah hadis menegaskan bahwa Rasulullah Muhammad Saw, memesankan, bahwa segala sesuatu tergantung pada niat, maka di surat at-Takwir ayat 26, Allah Swt berfirman mengenai pentingnya menetapkan tujuan, "mau ke mana kita ?".
Sehubungan hal ini, maka dapat dikatakan, bahwa gerak perilaku orang itu, setidaknya dilandasi oleh dua hal, satu sisi, oleh niat yang dimiliki, dan sisi lain oleh cita-cita yang diimpikannya. Niat itu ada dalam diri, sedangkan cita-cita adalah target yang hendak diraih. Kedua hal ini, menjadi sangat penting, khususnya dalam mendinamiskan cita dan gerak langkah kita.
Niat adalah dorongan yang hadir dalam diri kita, sedangkan tujuan adalah hasil yang hendak diraih, posisinya masih di luar. Misalnya, niatnya belajara matematika, tujuannya untuk menjadi ahli matematika. Niatnya belajar dengan giat, tujuannya supaya bisa masuk perguruan tinggi yang diinginkan.
Sehubungan hal ini, maka niat saja tidak cukup, kamu butuh tujuan. Sadar diri saja, tidak cukup, kamu butuh misi. Dengan dua hal itu, insya Allah, kita akan memiliki dinamika hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

0 comments:
Posting Komentar