Entahlah. Secara pribadi, belum begitu yakin, terkait dengan apa yang akan terjadi di hari esok. Matahari akan tetap terbit seperti biasa, dari ufuk Timur. Di pagi, esok hari itu. Tampaknya, tidak akan ada yang unik. Tidak akan ada yang aneh. Dan tidak akan ada yang baru. Malam ini, bulan masih sembunyi, sedangkan matahari tengah bersiap ke peraduannya, untuk terbit kembali di pagi esok. Tetapi, kegelisahan jiwa, muncul seketika, semenjak beberapa menit terakhir tadi.
Jam layar komputer, masih menunjukkan pukul 21, lebih delapan menit. Itulah waktu saat huruf terakhir ini, ditik. Kemudian, seiring huruf demi huruf, waktu berjalan, menuju malam, dan menjemput besok pagi. Momen yang masih ada dalam bayangan, dan sekedar samar-samar terjadi.
Jelas dan betul. Sungguh, masih sangat samar. Samar dalam pengertian, tidak mengerti, mengenai apa yang akan terjadi, dan apa yang akan mewarnai langkah hidupku, ke masa depan. Perasaan dan keadaan jiwa yang hari ini terasa ini, kian mengukuhkan dugaanku sebelumnya, bahwa 'kegelisahan adalah bentuk dari kekurangan diri mendapatkan informasi terbaik terkait dengan masa depan'. Saat seseorang tidak mendapatkan informasi yang lengkap dan mumpuni, maka pada saat itu juga, kegelisahan terkait apa yang akan terjadi, hadir dalam jiwa kita.
Hal inilah yang saya rasakan saat ini. Karena ketidaktahuan mengenai apa yang akan terjadi di hari esok, dan apa yang akan menimpa di hari esok, kemudian menyebabkan adanya kegelisahan dalam jiwa. Kegelisahan adalah buah dari kehampaan dalam menebak sesuatu hal yang akan terjadi.
Seperti yang pernah disampaikan sebelumnya, "saya belum sempat pergi ke pasar, sehingga, belum ada komoditas yang saya beli dari pasar tersebut. Karena itu, sangatlah kecil kemungkinan, kalau saya harus membawa sesuatu hal dari pasar..."
Pernyataan yang terlalu kasar dan tendensius. Atau, bahkan, sangat kasar untuk diungkapkan. Tetapi, pernyataan itu, sesungguhnya, sekedar memvalidasi fenomena yang kerap menjadi bahan perbincangan publik, dan kemudian menjadi rahasia umum. Hukum transaksi, dalam berbagai hal, kerap terjadi, dalam kehidupan di negeri yang banyak dibincangkan itu.
Sehubungan hal itu, maka untuk menetralisir pandangan itu, saya kerap menggunakan pernyataan itu, sekedar untuk menjawab sejumlah pernyataan yang sering terdengar, "selamat, yah, semoga saja, hal itu bisa terwujud..."
Sebagai sebuah doa, dan doa itu disampaikan oleh saudara-saudaraku, senasib sebagai pegawai di sebuah instusi sosial, tentu saja, proses rotasi, mutasi dan atau promosi, adalah sesuatu yang dianggap hak bagi setiap pegawai atau karyawan, walaupun kadang terkait hal yang satu ini, kerap kali terdengar dan terbaca sekedar bayangan.
Namun bila dikaitkan dengan pernyataan itu, yang secara substansi pun, mengandung makna doa, maka rasanya, tidak ada kewajiban dan sangat naif, kemudian kalau saya harus melarang mereka mendoakan sesama saudaranya.
Sekedar untuk membangun citra diri yang kerap kali dihadapkan pada berita simpangsiur suara dan keputusan politik, maka saya kerap menggunakan pernyataan tadi. Tetapi, argumen itu pun, kemudian kerap kali dikritik habis oleh sesama yang lainnya, dan juga beberapa senior yang berada di beberapa pucuk pimpinan dalam piramida kekuasaan.
"jangan anggap, semoga orang, seperti yang dicurigai banyak orang. Di setiap awan yang gelap, masih ada kilatan petir yang terang, dan juga permata air hujan yang bening. Sayangnya, kedua gejala itu, kerap kali dilupakan banyak orang, dan tertutupi oleh pandangan umum yang sudah mengeras dalam benak masyarakat.."
Seorang senior, yang kini sudah pensiun, sempat meneguhkan, "jangan putus asa, masih ada harapan, karena tidak selamanya awan mendung. Akan datang pada waktunya, cahaya matahari menyinari bumi. Di situlah, rezeki pun, akan tiba..!" nasihatnya, beberapa waktu lalu, sebelum purna tugas.
Waktu terus melaju. Bola mata, yang biasanya meredup, detik-detik ini, malah kian liar. Seakan terkena atmosfer yang ekstrim, sehingga tidak merangsangnya untuk ke peraduan. Namun, hukum alam menghampiri diri ini juga. Dengan perjalanan ekspresi dan tuangan curahan hati yang terlontarkan di monitor ini, keraguan mulai sedikit sirna. Hanya saja, patut untuk diakui, kegelisahan yang ada dalam jiwa ini, malah kian menguat. Memuncak dalam pengertian, menebak apa yang akan terjadi.
"Ya, Tuhan, selama ini, aku memanjatkan doa, semoga pilihanku dan juga Takdir-Mu, tetap memberikan ruang dan jalan terbaik buatku melangkah ke masa depan..."
Pasrah adalah langkah terakhir, saat Takdir Tuhan, belum tampak dan menyakinkan. Namun, harapan mendapatkan hal terbaik, tetap ku panjatkan, sampai matahari tiba menyinari langkahku di esok hari !!.
Malam ini, adalah malam penentuan (lailatul qadr), terkait dengan apa yang akan terjadi hari esok. Tidak ada langkah yang dapat ku lakukan lagi, kecuali pasrah pada Takdir-Mu, yang Maha Mengetahui, hal terbaik buat perjalananku di masa-masa mendatang....
Semoga !

0 comments:
Posting Komentar