Just another free Blogger theme

Rabu, 06 Mei 2026

Bila seorang ayah, bermimpi ingin mendapatkan keluarga yang rukun, dan  harmoni, tentu ada pikiran untuk melakukan penataan. Penataan peran, fungsi dan tugas pokok dari setiap  anggota keluarga. Dirinya akan berusaha mengatur tugas dirinya, pun demikian kepada pasangannya, serta terhadap anggota keluarga yang lainnya. Pandangan itulah yang disebut sebagai pandangan strukturalisme.


Untuk kebutuhan hal itulah, seorang pimpinan keluarga, bisa jadi, menerapkan sebuah disiplin keluarga yang ketat. Setiap orang yang melakukan pelanggaran tugas pokok dan fungsinya, akan ditegur dengan seksama, dan dikembalikan pada habitatnya. Bila saja, si pelaku itu, terus ngeyel dan tidak mau mengubah kebiasaannya, bisa jadi, ada yang diberikannya tindakan penertiban.

"kamu, harus ucapkan salam kepada kakakmu, dan juga hormat pada orangtuamu.." itulah, diantara teguran yang dilakukannya. Sebuah penegakkan disiplin normatif, dan juga sebagai bentuk pendisiplinan keluarga.

"Ayah marah kepadamu, kamu tidak mendengar perintah ayah dan ibu.." itu adalah teknik  lain. Nada dan penekanan lebih keras dibanding sebelumnya. Sebagian menyebutnya sudah sampai pada level marah.

Tidak semua anggota keluarga menyukai teknik ini. Tetapi teknik pendisiplinan, akan hadir dan muncul dalam setiap kultur komunitas, yang bermimpi dan berharap adanya upaya penertiban. Upaya penertiban, bisa diajukan pada norma keluarga, nilai yang dianut, atau regulasi dan perundangan yang berlaku di lingkungan masyarakat itu.

Penguasa dan pemerintah yang memiliki kesadaran strukturalisme, pun, akan demikian adanya. Kegelisahan melihat adanya chaos demokrasi di tengah masyarakat, atau dalam keluarga, memancing dirinya untuk menemukan jalan alternatif dalam penerbita tatanan sosial di lingkungan keluarga atau masyarakat.

Hanya saja, pendekatan yang terlalu refresif, seringkali memancing pemrotesan dari publik. Dengan alasan untuk membangun ketertiban umum, atau ketertiban nasional, penguasa menggunakan model refresif terhadap warga negaranya. Buah dari tindakan itu, kadang melahirkan tindakan-tindakan anarkis dari penguasa, dan menjadi  korban adalah rakyat sipil.

Tindakan refresif dari penguasa, dalam keluarga, maka  yang jadi korban adalah psikologi anak dan pasangan hidupnya.  Dalam konteks itulah, istilah tindakan kekerasan dalam rumah tangga terjadi, dan seperti itu pula, tindak kekerasan dalam negara marak terjadi.

Kritik terhadap situasi ini, kelompok lain memandang bahwa perbedaan pendapat adalah hal wajar dalam demokrasi. Perubahan dan pergeseran permainan peran, bisa jadi, adalah bagian dari dinamika hidup. Karena itu, dibutuhkan interpretasi atau penafsiran ulang terhadap makna tugas pokok dan fungsi setiap elemen kemasyarakatan.

Revolusi pemaknaan itu, terjadi mulai zaman Rasulullah Muhammad Saw, setidaknya demikianlah pemahaman penulis hari ini. Maksud dari revolusi pemaknaan itu, Rasulullah Muhammad Saw memberikan ketegasan bahwa pemimpin itu adalah pelayan, dan bukan penguasa. Seorang pemimpin itu bertugas sebagai pelayan (ra'iyah), dan akan dimintai pertanggungjawaban atas praktek pemaksimalan layanannya kepada anggota keluarganya.

Di sinilah kita menemukan revolusi pemaknaan. Pemimpin itu bukan penguasa, tetapi pelayan anggota, pelayan warga, atau pelayan publik. Karena itu juga, sangat tepat bila kemudian peran pemerintah itu adalah pelayanan publik (public service), bukan penguasaan publik, dengan segala tindak refresifnya.

Dalam konteks ini, kita perlu pahami bahwa sayap ketertiban dan sayap kebebasan, adalah dua hal penting dalam kehidupan masyarakat. Penertiban atau pendisiplinan dengan tindakan kekerasan dan pengerasan, adalah  tidak diharapkan. Demikian pula, kebebasan secara anarkhis, adalah kondisi yang tidak diinginkan.  Karena itu, adalah mudah dipahami, bila kemudian, pengelolaan keluarga, atau pengelolaan negara, adalah sebuah panggung seni, dan membutuhkan jiwa seni dalam mengelolanya.

Lha mengapa demikian ? karena, memainkan dua sayap itu, supaya bisa bergerak penuh irama, harmonis dan kepatutan, membutuhkan kehalusan dan kesabaran jiwa dalam mengelolanya. Hanya mereka yang mampu mengendalikan emosilah, yang akan mampu memainkan sayap-sayap kemimpinan dengan baik dan seksama. 

Kiranya demikian....

bagaimana menurut pembaca...


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar