Just another free Blogger theme

Jumat, 19 Juni 2026

Pernahkah merasakan, atau melihat, ada anak yang mengalami kegelisahan menjelang liburan panjang ? atau, ada adik atau kakak, yang merasakan kegalauan untuk penentuan rencana dalam mengisi liburan panjang ?



Mungkin saja, satu diantara ragam kejadian itu, ada yang tersaksikan, terasakan atau teralami dalam kehidupan seseorang.  Waktu libur sudah diumumkan, dan waktu libur sudah tiba. Bila saja, semua itu sudah dirasakan, namun penentuan pilihan kegiatan dalam mengisi liburan belum tiba, ada diantaranya yang merasa kegalauan dengan situasi serupa itu. Terkait hal ini, muncul pertanyaan dasar, mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana resolusinya ?

Terkait hal ini, kita bisa membincangkan masalah ini, dari sudut geografi manusia (human geography). Bidang kajian ini, memiliki potensi untuk membantu menjelaskan dinamika psikologi manusia, dalam kaitannya dengan konteks keruangannya sendiri.

Imajinasi kebutuhan liburan, sejatinya dipengaruhi oleh dua hal pokok, yakni ada kalender hidup dan kebutuhan jeda dari pekerjaan rutin. Tampaknya, tidak akan ada pikiran untuk berliburan, bila kehidupan kita masih tradisional yang diimbuhi dengan ketiadaan kalender hidup. Bagi kelompok ini, setiap hari adalah sama, dan diisi dengan kegiatan rutin belaka. Andai pun ada kegiatan khusus, lebih merupakan kegiatan ritual seiring dengan kepercayaan, atau adat dan budayanya.

Kebutuhan untuk berliburan pun, dimiliki oleh mereka yang memiliki kegiatan rutin, baku dan menetap. Karena ada kegiatan itulah, maka kemudian dia merasakan ada tuntutan hidup untuk bisa istirahat, atau mengambil hak dan jatah untuk bersantai ria (leasure time). Dengan alasan serupa inilah, maka kemudian merangsang imajinasi adanya keinginan untuk liburan.

Agenda liburan yang diimajinasikan umumnya muncul dalam ilustrasi untuk mengunjungi lokasi atau tempat di luar kerutinan. Misalnya berkunjung ke saudara, atau objek wisata. Jenis dan ragam destinasi wisata, bisa dipilih sesuai dengan kemampuan, waktu dan imajinasi yang diharapkannya.

Dalam konteks inilah, kegalauan sebagaimana yang dilustrasikan diawal paragraf ini, potensial terjadi. Kegalauan itu, hadir tersebabkan adanya kesenjangan antara waktu, impian dan kemampuan finansial yang dimilikinya. Kegalauan inilah yang bisa disebut holiday affect (efek liburan).

Holiday Affect yang kita maksudkan ini adalah kondisi emosi terkait dengan godaan imajinasi estetika destinasi wisata yang terjadi pada seseorang saat berhadapan dengan momen liburan. Anak yang mengimajinasikan pantai pangandaran, wisata Ancol, Taman Safari, Kebun Binatang, Taman Air,  Bioskop dan atau sejenisnya, merupakan fenomena dari holiday affect

Bila ditelaah secara kritis, setidaknya ada lima alasan, seseorang mengalami gejala holiday affect. Pertama, kejenuhan ruang (space saturation). Akibat dari kegiatan rutin yang dialami dan dijalani selama ini, seorang pekerja akan merasakan jenuh dengan rutinisme di kantornya. Pengalaman belajar di sekolah yang berkelanjutan, potensial melahirkan kejenuhan ruang bagi seorang pelajar di kelas dan sekolahnya.  Pun demikian adanya, anggota keluarga yang terus menerus di rumah, potensial akan melahirkan kejenuhan rumah dalam dirinya.

Kedua, kebutuhan rekreatif. Lanjutan dari kejenuhan ruang, menuntun seseorang untuk berusaha mencari suasana keruangan yang baru. Ke luar kamar, ke luar rumah,  ke  luar wilayah, ke luar daerah, termasuk ke luar negeri. Semua itu adalah pillihan untuk mengobati kejenuhan ruang. Agenda rekreatif itu, dianggap menjadi obat untuk mendapatkan kesegaran ruang (space freshness), yang diharapkan mampu menginjeksi kondisi kejenuhannya. 

Ketiga, gerak sebagai terapi (movement as therapy). Kegelisahan yang dirasakan individu tadi, akan dapat diobati dengan melakukan pergerakan atau mobilitas.  Bangun dari keterbaringan. Beranjak dari duduk. pergi ke luar ruangan, dan atau melakukan perjalanan yang tidak biasa. Semua itu, merupakan rangkaian kegiatan yang dijadikan pilih manusia untuk menghilangkan kejenuhan.

Piknik atau wisata merupakan fenomena sosial yang diraskan dan dialami manusia dalam mengatasi kejenuhan. Karena itu, momen tibanya liburan menjadi 'hantu  kalenderan' (calendar ghost) yang bisa datang kepada siapapun. Anak-anak yang mengalami kegelisahan dan mengeluhkan tidak jelasnya waktu liburan, adalah contoh sosiologis dari orang yang mengalami gangguan dari hantu kalender liburan.

Keempat, destinasi menjadi referensi kesegaran (this destination is a benchmark for freshness). Sejumlah destinasi, dan ragam apapun jenisnya, akan menjadi referensi yang dianggap mampu untuk memenuhi kebutuhan itu. Destinasi serupa itu, tidak mesti mahal atau jauh. Hal itu, lebih merupakan sesuatu hal yang diselaraskan dengan kemampuan, waktu dan finansial setiap orang.

Terakhir, fenomena ini menunjukkan adanya gejala kebutuhan untuk melakukan penyegaran keruangan secara berkelanjutan (continous spasial refresh). Kebutuhan ini, akan menjadi rekomendasi praktis dalam mengisi hidup, baik di kamar, di rumah, di kelas, atau di wilayah. 

Seorang anak akan merasa jenuh, bila posisi dan penataan ruang kamar  tidur tidak berubah. Kaku dan baku selamanya. Karena itu, dalam mengisi liburan akademik, dapat mereka lakukan dengan cara melakukan penataan ulang, sehingga kejenuhan ruang dapat diatasi, dan kembali meraskan kebugaran ruang.

Bagaimana menurut pembaca ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar