Back to family. Kembali ke keluarga. Jadilah kita sebagai keluarga. Biarkan tetangga diisi oleh orang lain, dan bukan anggota keluarga kita. Hindarilah gejala paradoks hidup, yang ditandai dengan anggota keluarga menjadi tetangga, sedangkan tetangga menjadi anggota keluarga. Karena itu biarkanlah tetangga tetaplah tetangga, sedangkan kita adalah keluarga.
Di keluarga itulah, kita lahir, dan ditempat itu pula kita dibesarkan, membesarkan diri, dan menjadi besar, setidaknya besar fisik kita, dan cita serta harapan kita. Di keluarga negative, ada juga anggota keluarga yang dikecilkan keluarga, atau dikucilkan keluarga. Itu adalah bencana sebuah keluarga.
Pepatah mengingatkan kita, jangan sesali Dimana kita lahir, tetapi berbuat baiklah dan terbaiklah sebelum mati, karena kita tidak tahu, kapan dan di mana, dengan cara apa kita mati.
Kesadaran
ini menjadi sangat mendesak. Setidaknya untuk menyadarkan pikiran, dan perasaan
kita, mengenai siapa diri kita.
Walau kita
lahir dari sebuah keluarga, namun, kita kita pun, bukanlah ayah, bukan pula
ibu, atau paman, bibi, apalagi nenek dan kakek. Kita adalah kita, dan setiap
kita adalah diri kita sendiri.
Anggota keluarga memberikan sumbangsih yang nyata terhadap diri kita. Mulai dari ucapan, dan tindakan. Kemampuan Bahasa dan pilihan kata, atau intonasi pun, kadang dipengaruhi warnanya oleh gaya didik orang-orang yang ada di sekitar kita. Tetapi, ketahuilah kita, adalah kita. Walaupun ada kemiripan, namun saat berhadapa dengan orang lain, yang menerima resiko dari ucapan dan tindakan kita, yang paling utama adalah diri kita sendiri. Karena itu, kita bertanggungjawab penuh terhadap diri kita.
Anggota
keluarga pun, memberikan sumbangsih yang tiada hitungannya terkait dengan
perkembangan tubuh kita. Minuman dan makanan, nutrisi dengan segala nilai di
dalamnya, adalah bagian penting dari kebaikan mereka semua. Secara evolusi,
kemandirian kita dalam mengkonsumsi sesuatu, baik dari kemampuan fisiologisnya,
sampai pada kemampuan ekonominya,, berkembang dari ketergantungan pada
keluarga, sampai pada kemandirian di hari esok. Semoga demikian harapan kita !
Hal yang pasti dan menjadi pengalaman nyata kita. Sewaktu kecil, masih disuapin. Disuapin makannya, dan disuapin biaya hidupnya. Tumbuh kian membesar, kemampuan fisiologis mulai mandiri, dan bisa makan sendiri, tetapi kemampuan mental, intelektual dan finansial, sebagiannya ada yang sudah mulai dikuasai sendiri. Sehingga pada akhirnya, jelang dewasa, kemandirian utuh diharapkan bisa dimilikinya. Itulah evolusi manusia dan kemanusiaan.
Pengalaman
hidup serupa itulah, yang merangsang kita untuk berpikir dan memikirkan
mengenai diri kita. Siapa diri kita, dan apa kualitas asasi diri kita, sehingga
kemudian hari bisa disebut adiklah, kakaklah, ibulah, ayahlah, atau
kemudian menjadi seorang kakek atau nenek.
Pencarian pemahaman terkait hal ini, tentunya tidak bisa digantungkan pada orang lain. Bertanya kepada orang lain, adalah hak kita sebagai makhluk sosial, tetapi penemuan kesadaran dan pemahaman terkait diri kita sendiri, adalah sebuah perjalanan subjektif.
Iya.
Perjalanan ini, adalah perjalanan subjektif setiap insan. Di sebut demikian,
karena faktanya, orang bisa saja mengetahui sesuatu mengenai manusia dan
hakikat manusia, serta kemanusiaan, namun belum tentu mampu menemukan
kemanusiaan dirinya sebagai manusia. Hal itu, bergantung pada pengalaman
subjektifnya saat menjalani kehidupan.
Begitu pula sebaliknya. Bisa jadi, ada orang yang bukanlah seorang psikolog, bukan pula sebagai orang akademisi di mimbar kuliahan, namun karena perjalanan hidup yang dijalaninya, dia mampu menemukan sisi manusia dan kemanusiaan.
Adalah
Sidharta Gautama, misalnya. Lahir dari keluarga aristokrasi. Dibesarkan dalam
suasana keistimewaan status sosial, dan kemewahan duniawi. Namun, disaat
melihat kenyataan hidup yang memprihatinkan, kemudian malah menyentuh
nuraninya, untuk segera meninggalkan kemeriahan istana, menuju penceharana dan
kedamaian hidup.
Demikian pulalah yang dialami Ibrahim bin Adham, seorang Sufis dari kalangan Muslim. Kendati lahir dari keluarga bergelimang harta, namun saat berburu kemudian diingatkan oleh suara-alam yang hadir dalam batinnya, mengenai makna dan tujuan hidup, mengubah orientasi dan sikap hidup Ibrahim bin Adham menjadi insan suci, pencari jati diri.
Perjalanan
inilah yang mendorong kita untuk sampai pada kebutuhan dasar hidup kita hari
ini, yakni menghadirkan kesadaran mengenai diri.
TAHU DIRI
Itulah
pokok soal yang hari ini, perlu dicari, ditemukan, dihadirkan dan di
masyarakatkan. Banyak sudah, pengakuan manusia, mengenai banyak hal, tetapi
dilakukannya dengan selimut-kesadaran yang tidak tahu diri.
Penyakit umum, dan bisa terjadi pada diri kita, atau orang lain di tengah kehidupan kita ini, yakni ada orang yang memiliki kepribadian “diri yang tidak tahu diri”. Diri yang tidak tahu diri, ditandai dengan ketidakmampuan memahami diri, dan juga memahami situasi, serta tidak memiliki pemahaman mengenai batasan hak dan kewajiban.
Anak tidak
tahu diri. Sudah dibantu, malah memberikan respon negative kepada pemberinya.
Ibarat seekor buaya yang terjepit kayu, dan kemudian dibantu oleh sang kerbau,
yang menyelamatkannya. Sayangnya, selepas beban itu dijauhkan, malahan
dia menyergap kerbau yang menolongnya.
Ketidakmampuan diri dalam memahami potensi, kemampuan, atau bakat bisa menghantarkan orang pada sikap tidak tahu diri. Sudah tahu, tidak memiliki sayap, malah mencoba terjun bebas dari Gedung lantai 13 tanpa parasite. Dampaknya sangat jelas, mati dalam keadadan konyol.
Pribadi
yang hidup dengan posisi tahu diri, akan mampu menunjukkan kualitas penjalanan
kewajiban yang lebih baik, atau minimalnya setara dengan hak yang
didapatkannya. Ketidakmampuan orang menunjukkan kewajiban dengan sempurna,
adalah buah dari sikap tidak tahu diri, pada dirinya.
Dengan memahami sikap tahu diri, akan memberikan dorongan positif untuk menjadikan hidup dalam Gerak positif.
Konsep tahu
diri, tidak dimaksudkan untuk membunuh harapan dan cita. Justru dengan tahu
diri ini, seseorang memiliki keleluasaan untuk melakukan aksi dan
tindakannya dalam mewujudkan cita dan harapannya. Karena pada dasarnya, orang
yang tahu diri itu, adalah orang yang memiliki pengetahuan mendasar mengenai
potensi dan bakatnya. Oleh karena itu, dengan tahu diri, seseorang memiliki
ruang untuk bangkit dan memberdayakan, serta memerdekakan dirinya.

0 comments:
Posting Komentar