Just another free Blogger theme

Kamis, 07 Mei 2026

Back to family. Kembali ke keluarga. Jadilah kita sebagai keluarga. Biarkan tetangga diisi oleh orang lain, dan bukan anggota keluarga kita. Hindarilah gejala paradoks hidup, yang ditandai dengan anggota  keluarga  menjadi tetangga, sedangkan tetangga menjadi anggota keluarga. Karena itu biarkanlah tetangga tetaplah tetangga, sedangkan kita adalah keluarga.


Di keluarga itulah, kita lahir, dan  ditempat itu pula kita dibesarkan, membesarkan diri, dan menjadi besar, setidaknya besar fisik kita, dan cita serta harapan kita. Di  keluarga negative, ada juga anggota keluarga yang dikecilkan keluarga, atau dikucilkan keluarga. Itu adalah bencana sebuah keluarga.

Pepatah mengingatkan kita, jangan sesali Dimana kita lahir, tetapi berbuat baiklah dan terbaiklah sebelum mati, karena kita tidak tahu, kapan dan di mana, dengan cara apa kita mati.

Kesadaran ini menjadi sangat mendesak. Setidaknya untuk menyadarkan pikiran, dan perasaan kita, mengenai siapa diri kita.

Walau kita lahir dari sebuah keluarga, namun, kita kita pun, bukanlah ayah, bukan pula ibu, atau paman, bibi, apalagi nenek dan kakek. Kita adalah kita, dan setiap kita adalah diri kita sendiri.

Anggota keluarga memberikan sumbangsih yang nyata terhadap diri kita. Mulai dari ucapan, dan tindakan. Kemampuan Bahasa dan pilihan kata, atau intonasi pun, kadang dipengaruhi warnanya oleh gaya didik orang-orang yang ada di sekitar kita. Tetapi, ketahuilah kita, adalah kita. Walaupun ada kemiripan, namun saat berhadapa dengan orang lain, yang menerima resiko dari ucapan dan tindakan kita, yang paling utama adalah diri kita sendiri. Karena itu, kita bertanggungjawab penuh terhadap diri kita.

Anggota keluarga pun, memberikan sumbangsih yang tiada hitungannya terkait dengan perkembangan tubuh kita. Minuman dan makanan, nutrisi dengan segala nilai di dalamnya, adalah bagian penting dari kebaikan mereka semua. Secara evolusi, kemandirian kita dalam mengkonsumsi sesuatu, baik dari kemampuan fisiologisnya, sampai pada kemampuan ekonominya,, berkembang dari ketergantungan pada keluarga, sampai pada kemandirian di hari esok. Semoga demikian harapan kita !

Hal yang pasti dan menjadi pengalaman nyata kita. Sewaktu kecil, masih disuapin. Disuapin makannya, dan disuapin biaya hidupnya. Tumbuh kian membesar, kemampuan fisiologis mulai  mandiri, dan bisa makan sendiri, tetapi kemampuan mental, intelektual dan finansial, sebagiannya ada yang sudah mulai dikuasai sendiri. Sehingga pada akhirnya, jelang dewasa, kemandirian utuh diharapkan bisa dimilikinya. Itulah evolusi manusia dan kemanusiaan.

Pengalaman hidup serupa itulah, yang merangsang kita untuk berpikir dan memikirkan mengenai diri kita. Siapa diri kita, dan apa kualitas asasi diri kita, sehingga kemudian hari bisa disebut adiklah, kakaklah, ibulah, ayahlah, atau  kemudian menjadi seorang kakek atau nenek.

Pencarian pemahaman terkait hal ini, tentunya tidak bisa digantungkan pada orang lain. Bertanya kepada orang lain, adalah hak kita sebagai makhluk sosial, tetapi penemuan kesadaran dan pemahaman terkait diri kita sendiri, adalah sebuah perjalanan subjektif.

Iya. Perjalanan ini, adalah perjalanan subjektif setiap insan. Di sebut demikian, karena faktanya, orang bisa saja mengetahui sesuatu mengenai manusia dan hakikat manusia, serta kemanusiaan,  namun belum tentu mampu menemukan kemanusiaan dirinya sebagai manusia. Hal itu, bergantung pada pengalaman subjektifnya saat menjalani kehidupan.

Begitu pula sebaliknya. Bisa jadi, ada orang yang bukanlah seorang psikolog, bukan pula sebagai orang akademisi di mimbar kuliahan, namun karena perjalanan hidup yang dijalaninya, dia mampu menemukan sisi manusia dan kemanusiaan.

Adalah Sidharta Gautama, misalnya. Lahir dari keluarga aristokrasi. Dibesarkan dalam suasana keistimewaan status sosial, dan kemewahan duniawi. Namun, disaat melihat kenyataan hidup yang memprihatinkan, kemudian malah menyentuh nuraninya, untuk segera meninggalkan kemeriahan istana, menuju penceharana dan kedamaian hidup.

Demikian pulalah yang dialami Ibrahim bin Adham, seorang Sufis dari kalangan Muslim. Kendati lahir dari keluarga bergelimang harta, namun saat berburu kemudian diingatkan oleh suara-alam yang hadir dalam batinnya, mengenai makna dan tujuan hidup, mengubah orientasi dan sikap hidup Ibrahim bin Adham menjadi insan suci, pencari jati diri.

Perjalanan inilah yang mendorong kita untuk sampai pada kebutuhan dasar hidup kita hari ini, yakni menghadirkan kesadaran mengenai diri.

TAHU DIRI

Itulah pokok soal yang hari ini, perlu dicari, ditemukan, dihadirkan dan di masyarakatkan. Banyak sudah, pengakuan manusia, mengenai banyak hal, tetapi dilakukannya dengan selimut-kesadaran yang tidak tahu diri.

Penyakit umum, dan bisa terjadi pada diri kita, atau orang lain di tengah kehidupan kita ini, yakni ada orang yang memiliki kepribadian “diri yang tidak tahu diri”.  Diri yang tidak tahu diri, ditandai dengan ketidakmampuan memahami diri, dan juga memahami situasi, serta tidak memiliki  pemahaman mengenai batasan hak dan kewajiban.

Anak tidak tahu diri. Sudah dibantu, malah memberikan respon negative kepada pemberinya. Ibarat seekor buaya yang terjepit kayu, dan kemudian dibantu oleh sang kerbau, yang menyelamatkannya. Sayangnya, selepas beban itu dijauhkan,  malahan dia menyergap kerbau yang menolongnya.

Ketidakmampuan diri dalam memahami potensi, kemampuan, atau bakat bisa menghantarkan orang pada sikap tidak tahu diri. Sudah tahu, tidak memiliki sayap,  malah mencoba terjun bebas dari Gedung lantai 13 tanpa parasite. Dampaknya sangat jelas, mati dalam keadadan konyol.

Pribadi yang hidup dengan posisi tahu diri, akan mampu menunjukkan kualitas penjalanan kewajiban yang  lebih baik, atau minimalnya setara dengan hak yang didapatkannya. Ketidakmampuan orang menunjukkan kewajiban dengan sempurna, adalah buah dari sikap tidak tahu diri, pada dirinya.

Dengan memahami sikap tahu diri, akan memberikan dorongan positif untuk menjadikan hidup dalam Gerak positif.

Konsep tahu diri, tidak dimaksudkan untuk membunuh harapan dan cita. Justru dengan tahu diri ini, seseorang memiliki keleluasaan untuk melakukan aksi dan  tindakannya dalam mewujudkan cita dan harapannya. Karena pada dasarnya, orang yang tahu diri itu, adalah orang yang memiliki pengetahuan mendasar mengenai potensi dan bakatnya. Oleh karena itu, dengan tahu diri, seseorang memiliki ruang untuk bangkit dan memberdayakan, serta  memerdekakan dirinya.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar