Sebuah keprihatinan bersama, khususnya mereka yang ada di dalam kelas. Guru-guru, kerap kali berhadapan dengan generasi bisu. Bukan bisu karena tidak bisa bicara, namun bisu karena tidak terbiasa bicara. Diam adalah pilihan utama anak-anak, murid, siswa atau mahasiswa. Dengan diam mereka merasa nyaman, justru dengan bertanya, mereka merasa tidak nyaman.
Aneh. Memang kehidupan aneh.
Baru saja terjadi. Dengan gaya yang sebenarnya tidak unik, dan bukan hal baru. Siswa membentuk kelompok, dengan jumlah anggota 6 orang. Mereka membuat makalah, dan makalah itu, wajib dipresentasikan. Presentasinya, untuk kali ini, bukan dihadapan rekan sekelasnya, tetapi dihadapanku sendiri.
Pada mulanya mereka ceria, dan merasa senang plus bangga. Khususnya, karena mendapat waktu penting untuk presentasi langsung dihadapan guru. Namun, keceriaan itu, rupanya hanya berlangsung beberapa menit saja. Karena setelah memasuki ruang diskusi, mereka mulai banyak bertanya-tanyan, dan bingung bersama.
Mengapa hal itu terjadi ? iya, betul, karena ada diskusi atau pertanyaan detil dan spesifik, terhadap makalah yang dibuatnya.
Pembaca mungkin sudah tahu. Bahwa kebiasaan anak-anak sekarang adalah memanfaatkan AI untuk membantu penyelesaian tugas. Mereka melakukan hal itu, bukan sekali dan juga bukan untuk mata pelajaran tertentu saja. Hampir dipastikan, banyak hal, di dalam kehidupan hariannya ini, mereka melakukan hal itu, dengan memanfaatkan teknologi tercanggih kali ini.
Namun sadarkah mereka melakukan hal itu ? atau apakah mereka melakukan hal itu, dengan pertimbangan dan sikap kritis yang dimilikinya ?
Untuk menemukan jawaban yang akurat terkait hal ini, tampaknya, kita masih mengalami kesulitan. Setidaknya, karena perlu melakukan kajian intensif dan berkelanjutan, serta membutukan banyak respon, sehingga menemukan jawaban yang lebih baik. Hanya saja, sekedar untuk membantu jawaban kali ini, kita bisa melakukan pengecekan praktis, aytau uji petik terkait pertanyaan itu.
Di sinilah, saya merasakan dan menemukan sedikit jawabannya. Makalah yang dibuatnya, saya coba dengarkan, dan mereka bacakan secara lambat. Dengan maksud, untuk mengembangkan model membaca pemahaman.
Luar biasa. Pengalaman luar biasa. Mereka membuat makalah dengan pernyataan yang luar biasa, dengan kosa kata yang sangat kaya. Makalah itu, dibuatkan degan kekayaan kosa kata, sebagaimana yang dimiliki AI itu sendiri.
Mencermati hal serupa itulah, pikiran ini tergelitik. Kemudian, saya mencoba untuk menjadi pakar tafsir atau pakar semiotika. Saya melakukan dialog dengan mereka dengan bertanya dan mempertanyakan setiap kata yang digunakannya. Istilah yang digunakan dalam makalah itu, ada istilah bahasa Asing, bahasa Indonesia, atau bahasa teknis keilmuan.
Sekali lagi, saya menemukan pengalaman unik. Kesimpulan yang didapat dari pengalaman itu, "tidak semua bahasa yang digunakan dalam makalah, benar-benar di pahami pembuat makalah". Makalah yang dibuat, lebih banyak berupa cipy paste dari hasil googling yang kemudian disajikan kepada pengajarnya. Dampaknya, sangat jelas, mereka tidak selalu paham dengan maksud dan makna yang tertuang dalam makalah itu.
Berdasarkan pengalaman itulah, maka sudah perlu rasanya, kita mengembangkan model pembelajaran, yang tidak bersifat mekanis, melainkan organis, yakni menyusun karya ilmiah hasil dari pemikiran sendiri, dan bukan dari praktek googling !!! Dengan cara itulah, berpikir, menjadi keterampilan organis manusia, dan bukan keterampilan mekanis !

0 comments:
Posting Komentar