Just another free Blogger theme

Jumat, 02 Oktober 2026

Iya, saya setuju. Kecerdasan Buatan atau Artifical Intelligence, bisa membantu memudahkan kita dalam bekerja, bahkan, bisa membantu kita dalam berpikir. Ini adalah pengalaman hidup kita, di zaman kita hari ini. Sesiapapun kita, dalam posisi apapun kita, sudah bisa merasakan hal itu.Baik untuk kepentingan pribadi, sosial, karir atau pun ekonomi. Pokoknya, banyak pekerjaan kita, di zaman kita hari ini, sudah mendapatkan bantuan dari kecerdasan Buatan tersebut.


Pertanyaanya, dan khususnya, hal ini disampaikan kepada para guru, orangtua dan pembelajar pada umumnya, "apakah AI bisa menggantikan proses pembelajaran?" Pertanyaan sederhana dan klasik, dan mungkin banyak orang yang sudah melontarkannya, dan juga memberikan komentarnya terhadap pertanyaan itu. Namun, sekali muncu lagi pertanyaan itu, maka banyak ragam tanggapan terhadap pertanyaan tersebut.

Tanpa bermaksud untuk menjawab pertanyaan itu, kita lebih tertarik untuk melanjutkan pemikiran yang sudah dismapaikan sebelumnya. Tema pemikiran yang disampaikan itu, yakni terkait dengan pentingnya mengembangkan mode pembelajaran  organis.

Sampai pada titik ini, saya teringat dan diingatkan oleh Emile Durkheim dalam Sosiologi. Pada konteks itu, dia menjelaskan bahwa hubungan antar manusia itu, ada yang bersifat organis, dan ada yang bersifat mekanis. Makna yang diajukanya, solidaritas organis terbentuk  karena nilai kesadaran kolektif dan budaya, sedangkan solidaritas mekanis cenderung kaku, karena disusun dan dibentuk oleh pembagian tugas yang formal. Misalnya, karena ada struktur organisasi dan pembagian kerja. Faktualnya sangat sederhana, orang akan kaku di lingkungan mekanis, sedangkan di solidaritas organis cenderung baur.

Terkait hal ini, saya akan menggunakan makna organis itu, sebagai perilaku yang disadari oleh diri sendiri, dan bersifat natural. Jika ada bicara, lebih disebabkan karena ekspresi saja, dan bukan karena ada tekanan dan tuntutan dari luar. Sedangkan makna mekanis, adalah terbentuknya karena ada algoritma yang terbentuk didalamnya.

Bila seseorang menggunakan AI, dan kemudian terbiasa dengan AI, maka pola pikirnya akan bersifat mekanis. Ada algoritma yang kaku dan baku dalam berpikir. Deritanya, nilai kebebasan berpikir, inovasi dan kreasinya menjadi terbatas, karena terkendala algoritma yang dimilikinya.

Itulah yang dimiliki sistem komputasional, dan itulah yang disebut dengan kecerdasan AI. Maka oleh karena itu pula, wajar, bila kemudian, secara algoritmis, seorang pembelajar sekedar mengikuti algoritme AI-nya saja, dibanding dengan kebutuhan ekspresi pemikirannya sendiri.

Kebutuhan kita hari ini, pada dasarnya, bukanlah berpikir mekanis. Kebutuhan kita hari ini, adalah pemikiran yang organis. Yakni, sebuah pemikiran yang diharapkan tumbuhkembang dari fondasi kesadaran diri, dan dengan keaslian pikiran yang dimilikinya. Karena sesungguhnya, setiap kepala itu,memiliki keunikan dan keorisinal dalam berpikir. Untuk bisa menumbuhkembangjkan keasliannya itu, mau tidak mau, harus dilakukan secara sadar di dalam kelas.

Dalam rangka mendukung hal serupa itulah, maka dibutuhkan model pembleajran organisi, yakni pembelajaran yang memberikan ruang leluasa dan luas, untuk memaksimalkan potensi kecedasan naturalnya sendiri ! 


Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar