"Aduh, aku repot nih, gak ada waktu..!", ungkap seseorang yang merasa menjadi orang paling sibuk sedunia.
"maaf, belum selesai, waktunya hak cukup..", adalah ungkapan lain, yang menunjukkan sikap dan pemahaman yang sama, terkait waktu.
Iya, kita memang aneh. Eh, maksudnya, saya. Mungkin, yang lain, pembaca, sudah ada yang mampu memanfaatkan waktu yang ada, untuk menyelesaikan masalah hidup dan kehidupan. Tetapi, seperti yang dialami orang tadi, dan saya sendiri, kadangkala merasa kesulitan untuk bisa mengerjakan banyak hal, karena masalah waktu juga.
Persoalan klasiknya, adalah sama, manajemen waktu !
Lha, memangnya waktu, bisa kita atur ?
Tentu, tidak. Kita, tidak akan mampu mengatur waktu. Karena, keberadaan waktu, ada di luar kuasa. Waktu, yang merupakan salah satu aspek filosofis dalam kehidupan manusia, ada, dan berjalan dengan sendiri. Saat Tuhan sudah menciptakan waktu, maka sang waktu berjalan, tanpa bisa dihentikan.
Tersebab alasan itulah, Islam menegaskan bahwa terkait dengan waktu atau ajal itu, manusia tidak bisa meminta untuk menyegarakannya, dan atau menangguhkannya. Waktu itu, bersifat egois, dia bergerak sendiri dan tidak bisa dikontrol manusia.
Bila demikian adanya, bagaimana kita memahami dan merespon masalah waktu itu ?
Percayalah dan ketahuilah, bahwa waktu yang dimiliki setiap orang itu, sama. Kita yang sedang membaca, mereka yang sedang tetiduran, atau orang yang sedang bermain, memiliki waktu dengan jumlah yang sama. Orang yang hidupnya merasa kekurangan, orang yang merasa berkecukupan, atau kekayaannya standar saja, memiliki jumlah jatah waktu harian yang sama, yakni 24 jam sehari-semalam.
Lantas, mengapa, ada kehidupan yang berbeda diantara kita? tentu, saja, benar, waktu itu, bukan masalah angka atau jumlah, melainkan masalah manusia merespon ketersediaan waktu itu sendiri.
Adalah Brian Tracy, yang memopulerkan kepada kita, mengenai prinsip Makan Kodok di pagi hari (eat that frog). Konsep atau prinsip ini, diterapkan untuk melatih kita, dalam memanfaatkan waktu. Nilai praktis dari prinsip ini, yaitu selesaikan dulu masalah berat, besar, atau yang memantik malas atau jijik Anda lakukan.
Andai saja, kodok adalah simbol masalah besar, maka, selesaikanlah masalah besar sedari pagi, biar siang dan sore harinya, kita lebih mudah menjalani.
Andai saja, kodok dianggap makanan yang tidak disukai, maka selesaikan masalah-masalah yang dianggap paling tidak disukai. Misalnya, pekerjaan berat, pekerjaan melelahkan, pekerjaan yang jelimet, atau pekerjaan yang kompleks. Selesaikanlah masalah itu, terlebih dahulu, biar waktu tersisa, dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ringan dan lebih mudah.
Andai saja kodok itu dianggap sebagai makanan yang tidak enak, maka selesaikan pekejaan yang selama ini, dianggap sebagai tugas yang tidak mengenakkan.
Bila masalah-masalah itu, sudah bisa diatasi maka waktu tersisa, dapat dimanfaatkan secar maksimal, dengan penuh keceriaan. Andai hal terburuk sudah bisa dilewati, maka kenyamanan akan dapat dinikmati.
Jangan-jangan, hal serupa itu jugalah, yang bisa menggambarkan, "kerja keras selagi mudah, santai ceria di usia tua".

0 comments:
Posting Komentar